
Lor (Utara)
SANG DARANI LOR
Tet tet tet...
"YANG MULIA IBU SURI MAHARANI TELAH HADIR. SEMUA BERI HORMAT."
"HORMAT KEPADA YANG MULIA IBU SURI."
Yang Mulia Ibu Suri melangkah keluar dari kereta kencana dengan sangat anggun. Kebaya berwarna merah dengan kombinasi manik-manik berwarna emas menambah kesan anggun pada Yang Mulia Ibu Suri. Tidak lupa mahkota emas dengan 3 buah permata dari batu jamrud membuat siapapun yang memandangnya akan tahu bahwa wanita anggun itu bukanlah orang biasa.
Berjalan anggun dan perlahan dengan senyum manis tersemat pada bibirnya, Yang Mulia Ibu Suri Maharani melangkah memasuki balai desa Saeedah. Seluruh warga desa telah membungkuk memberi hormat tidak ada satupun yang berani mengangkat kepala hingga Yang Mulia Ibu Suri telah sampai di kursi kerajaannya.
"Aku telah menerima hormat kalian, angkatlah kepala kalian."
"SENDIKO DAWUH Yang Mulia Ibu Suri."
Warga desa Saeedah serempak mengangkat kepala dan langsung memandang ke arah Yang Mulia Ibu Suri. Seketika semua orang terpesona dengan ke anggunan Yang Mulia Ibu Suri, beliau yang duduk dengan anggun terlihat sangat mempesona. Kursi singgasana kerajaan sangat cocok untuk Yang Mulia Ibu Suri terlihat mewah dan menawan. Seluruh warga desa Saeedah seakan terhipnotis akan kehadiran Yang Mulia Ibu Suri. Seluruh mata tertuju kepada ibu dari sang Raja JAWANAKARTA tersebut, tidak ada yang dapat mengalihkan perhatian mereka selain Yang Mulia Ibu Suri.
"Selamat Pagi rakyatku desa Makmur dan Beruntung senang sekali aku bisa datang ke desa yang indah nan cantik ini. Aku sangat berterimakasih atas apa yang telah kalian semua siapkan untukku. Aku sangat tersanjung kalian menghias balai desa dengan sangat cantik. Aku sangatlah suka terimakasih."
"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri. Kami seluruh warga desa Saeedah sangatlah tersanjung atas kedatangan Yang Mulia Ibu Suri yang berkenan hadir ke desa kami yang sangat jauh dari kerajaan. Saya selaku kepala desa Saeedah ingin menghaturkan (menyampaikan) beribu-ribu terimakasih kepada Yang Mulia Ibu Suri."
"Sama-sama kepala desa, aku juga senang bertemu dengan rakyatku semua. Dan lihatlah betapa indahnya desa Saeedah ini kalian sangat beruntung sekali tinggal di desa seindah ini."
"Terimakasih Yang Mulia Ibu Suri. Silahkan menikmati hidangan sederhana asli dari desa Saeedah. Semoga anda menyukainya Yang Mulia Ibu Suri."
"Tentu aku akan menyukainya kepala desa. Ini adalah hasil bumi dari negara kita, sudah semestinya saya akan suka dan bangga kepada sumber daya alam negara kita."
"Benar Yang Mulia Ibu Suri, ini adalah hasil bumi asli desa kami. Semua ditanam dan dirawat dengan baik kami tidak pernah melupakan ajaran leluhur bahwa semua yang ada pada alam semesta harus kita rawat dan jaga karena sejatinya Sang Pencipta Alam Semesta pemiliknya dan atas kemurahan hatinya meminjamkan kepada kita maka sudah sepantasnya kita menjaga dan merawatnya."
"Itu benar sekali kepala desa, tapi apa kalian tidak merasa kesulitan selama ini. Lihatlah desa seberang mereka telah menggunakan inovasi baru dari perkembangan kemodernan, mereka tidak lagi berlama-lama dalam menanam mengolah lahan dan dapat memaksimalkan sektor pertanian mereka. Mereka sangat terbantu karenanya."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, kami memang masih menggunakan cara lama dalam bertani. Kami masih tetap menggunakan warisan leluhur dalam menjaga dan merawat desa kami. Kami sangat menikmatinya Yang Mulia Ibu Suri, karena setiap warisan dari leluhur kita sangat bermakna untuk kehidupan seluruh warga desa.
Dan setiap ajaran yang diajarkan oleh leluhur selalu untuk kebaikan semua."
"Ya ajaran dan warisan leluhur memang baik untuk kita, tapi bila kita bisa melakukan inovasi yang nantinya lebih menguntungkan kita bukankah itu sesuatu yang bagus kepala desa. Manusia itu diberi akal pikiran agar kita bisa menggunakannya tentunya dengan bijak, bila manusia bisa memanfaatkan segala hal dengan baik dan bisa untuk kepentingan bersama bukankah itu juga salah satu ajaran warisan leluhur kita kepala desa."
"Injeh leres (iya benar) Yang Mulia Ibu Suri, itu adalah salah satu ajaran leluhur kita, untuk selalu mementingkan kepentingan bersama dari pada kepentingan individu."
"Benar bukan. Lantas kenapa desa ini masih sangat primitif, lihatlah desa-desa seberang mereka telah berkembang dan lebih maju. Apa kalian tidak menginginkan desa kalian seperti desa lainnya."
"Tentu bila itu baik untuk desa kami, kami akan menginginkannya Yang Mulia Ibu Suri."
"Kalau begitu apa kalian mau menerima tawaran dari kerajaan, pasti kalian telah bertemu dengan perwakilan kerajaan sebelumnya bukan. Aku harap mereka menjelaskan dengan baik, tentang tawaran dari kerajaan. Sejujurnya aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman, seperti tadi pagi."
"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, maksud anda bagaimana? Kesalahpahaman dengan kami? Bagaimana mungkin kami memiliki kesalahpahaman dengan anda Yang Mulia Ibu Suri."
"Ya kepala desa. Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada seluruh rakyatku yang ada di desa Saeedah ini. Tadi malam beberapa prajurit kerajaan telah melanggar peraturan kerajaan, mereka memburu seekor induk rusa di hutan lereng gunung. Tidak hanya memburu induk rusa kemudian disantap tetapi mereka juga melukai anak rusa. Bila tidak ada anak muda pemberani yang menegur para prajurit yang bersalah itu, mungkin aku tidak akan tahu dan berujung malu dengan apa yang telah para prajurit ku lakukan."
"Sediko dawuh Yang Mulia Ibu Suri. Sejujurnya saya tidak tahu tentang apa yang anda bicarakan. Kami malah tidak tahu bila telah terjadi perburuan di hutan lereng gunung Mprau tadi malam."
"Oya, apa anak muda itu belum melapor padamu kepala desa. Tadi setahuku anak muda itu sempat berdebat dengan prajurit kerajaan dan sangat berani sekali menegur para prajurit. Panglima Dronota siapa tadi nama dari anak muda pemberani itu?"
"Sendiko dawoh Yang Mulia Ibu Suri, nama anak itu Gardapati."
"Wah mas Garda. Giyanta mas Garga kangmas mu itu, mas Garda itu emang pemberani terus ganteng lagi. Wah kamu beruntung bisa liat mas Garda tiap hari Giya."
"Eh Lastri, mas Garda memang pemberani tapi ganteng kayaknya gak deh. Gantengan pak Panglima itu hehehe... "
"Gardapati. Benar Yang Mulia Gardapati adalah anak dari desa kami, dia memang anak yang pemberani dan juga cerdas. Gardapati bahkan yang membantu kami membuat saluran irigasi dari waduk agar sawah desa kami tidak kekeringan saat musim kemarau dan kebanjiran saat musim penghujan."
"Wah luar biasa ada anak muda sehebat itu, membantu membuat saluran irigasi seharusnya hanya bisa dilakukan oleh insinyur kerajaan, wah sungguh luar biasa desa Saeedah ini. Selain kekayaan alam dan keindahan alamnya desa ini juga memiliki anak-anak yang luar biasa."
"Gardapati adalah salah satu generasi muda desa kami yang sangat hebat. Berasal dari keluarga yang sudah dikenal dari generasi ke generasi yang taat pada kepercayaan, memegang teguh budaya dan memelihara adat warisan leluhur. Semua warga di desa mengenalnya Yang Mulia Ibu Suri."
"Lalu dimanakah anak muda yang hebat itu aku ingin bertemu dengannya. Serta aku berdiskusi tentang hukuman yang pantas untuk para prajurit yang bersalah itu."
"Kita belun melihat Gardapati sejak pagi tadi pak kepala desa."
"Kalau begitu Daryan, dimana Daryan? Tadi aku sempat berbincang dengannya, sekarang dimana dia?"
"Nyuwun sewu pak kepala desa, Bapak lagi pulang menjemput Mamak dan Mas Garda. Sepertinya Mas Garda belum turun dari alas (kebun) atas, soalnya Mamak akan ke balai desa bersama Mas Garda setelah pulang dari alas (kebun) atas. Karena Mamak dan Mas Garda belum datang ke balai desa, jadi Bapak pulang menjemput mereka."
"O begitu nduk cah ayu."
"Injeh (iya) pak kepala desa."
"Terimakasih Giyanta atas infonya."
"Sama-sama pak kepala desa."
"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri sepertinya anda belum dapat bertemu dengan Gardapati, tetapi anda dapat bertemu dengan adiknya terlebih dahulu. Ini Giyanta adik dari Gardapati."
"Oya wah adiknya pun juga pintar dan cantik. sini Nduk mendekatlah kepada ku, aku ingin berbincang denganmu."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."
Betapa kagetnya Giyanta dapat bertemu secara dekat dengan Yang Mulia Ibu Suri. Dengan gugup Giyanta mulai berdiri berjalan perlahan untuk menghadap Yang Mulia Ibu Suri. Dia masih tidak percaya, selama ini Giyanta hanya dapat mengagumi keluarga kerajaan dari cerita orang-orang tidak pernah sekalipun terpikir olehnya akan dapat berjumpa dan menghadap langsung ibu dari Raja JAWANAKARTA. Rasa senang, gugup dan takut menjadi satu tapi Giyanta tidak akan membuang kesempatan emas ini dengan percaya diri diapun berjalan menghadap Yang Mulia Ibu Suri.
Di kediaman Daryan.
"Mamak, Mamak.. "
"Iya Gardapati ada apa kenapa kamu teriak-teriak. Lho kenapa kamu ngos-ngosan ada apa Le?"
"Mamak kita harus segera ke balai, sekarang Mak."
"Tenang Le duduk dulu kamu kenapa, coba bicara pelan-pelan. Mamak ambilkan minum dulu tenang Le."
"Iya minum dulu kamu kelihatan kelelahan dan pucat kita akan ke balai desa setelah kamu minum. Minum dulu Le. Sudah tenang Le sekarang bicara pelan-pelan."
"Mak Gardapati juga bingung harus mejelaskan bagaimana tapi akan ada yang terjadi di balai desa nanti dan itu bukan sesuatu yang baik."
"Maksudmu bagaimana Gardapati?"
"Kangmas?"
"Gardapati tadi ke alas (kebun) atas bertemu dengan kakek-kakek yang Garda tidak kenal. Tapi beliau berkata bahwa Garda harus segera pulang ke desa sebelum terlambat. Beliau berkata takdir DARANI LOR, ANDARA LOR dan RUWATAN JAWANAKARTA. Garda tidak tahu semua itu Bapak. Beliau memperingatkan bahwa akan terjadi sesuatu pada desa dan itu bukan sesuatu yang baik Bapak."
"Kamu dan Mamak mu segeralah ke balai, cari Giyanta Bapak akan segera menyusul ke balai ada yang harus bapak siapkan terlebih dahulu."
"Ada apa ini Kangmas?"
"Sudah saatnya dek takdir itu sudah didepan mata."
"Takdir apa Bapak Garda masih tidak mengerti."
"Le cah bagus, dengarkan Bapakmu ini, kamu segera ke balai cari adikmu bawa dia pergi sejauh mungkin dari desa kita. Bapak serahkan adikmu ke kamu Le, jaga adikmu, lindungi adikmu dan rawat dia dengan baik mengerti."
"apa maksud Bapak, Garda masih tidak mengerti bisakah Bapak menjelaskan semua kepada Garda."
"Ndak (tidak) ada waktu Le, kita harus bergegas."
"Le Gardapati dengarkan Mamak mu ini, kamu sudah dewasa kamu anak yang hebat. Jaga adikmu lindungi dia dan ingatlah Mamak dan Bapak akan selalu menjagamu di manapun kalian berada. Bawalah ini bersama kalian bekal ini cukup untuk kalian berdua dalam beberapa hari."
"Mak Garda masih tidak mengerti ini semua."
"Percayalah Le semua ini sudah takdir seko seng gawe urip (dari yang membuat hidup) apapun yang terjadi Mamak hanya berpesan teruslah menjadi Gardapati anak Mamak dan Bapak. Jaga adikmu mengerti. Sekarang ayo kita harus segera ke balai desa."
"Garda tidak mengerti tetang ini semua. Tapi Gardapati berjanji kepada Mamak dan Bapak bahwa Garda akan menjaga Giya dengan baik dan akan selalu menjadi Gardapati anak Mamak dan Bapak. Gardapati Janji."
"Anak Mamak memang anak-anak hebat, Mamak percaya bahwa anak-anak Mamak akan bisa menjalankan segala takdir mereka. Dan teruslah ingat bahwa Mamak dan Bapak selalu menyayangi kalian mengerti."
"Gardapati mengerti Mak."
Di balai desa.
"Sini Nduk cah ayu (anak cantik)."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda Yang Mulia Ibu Suri."
"Kamu pintar sekali Nduk cah ayu (anak cantik), kamu dan kakakmu akan menjadi generasi penerus yang hebat untuk JAWANAKARTA. Sini mendekat padaku cah ayu (anak cantik) aku ingin melihatmu dari dekat."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."
"Luar biasa kamu cantik Nduk, matamu indah. Aku sangat suka matamu Nduk, aku seperti melihat seluruh jagad raya pada mata indahmu ini. Kamu akan menjadi orang yang hebat nantinya."
"Terimakasih Yang Mulia Ibu Suri."
"Namamu siapa Nduk?"
"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri, nama saya Giyanta."
"Nama yang indah seperti anaknya."
"Terimakasih Yang Mulia Ibu Suri."
"Giyanta apa kamu mau menolongku?"
"Sediko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."
"Bawa para prajurit yang bersalah menghadap ku Panglima Dronota."
"Sendiko dawuh, Yang Mulia Ibu Suri."
"Bawa para tahanan ke sini sekarang!"
"SIAP PANGLIMA."
5 orang prajurit berseragam lengkap diikat bersama-sama memasuki balai desa Saeedah. Ke lima prajurit tampak pucat dan gelisah mereka seperti pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan mereka. Mereka sadar bahwa mereka bersalah, dan mereka pun tahu bagaimana watak dari Yang Mulia Ibu Suri tersebut. Mereka tahu bahwa sudah tidak ada harapan lagi untuk mereka.
"Giyanta Nduk cah ayu (anak cantik) kamu tahukan bahwa orang yang ada didepan kita adalah orang-orang yang bersalah. Mereka jahat memburu dan memakan Rusa, tidak hanya itu mereka juga melukai rusa kecil yang telah kehilangan induknya. Mereka benar-benar jahat bukan."
"Benar Yang Mulia Ibu Suri."
"Maka aku ingin bertanya kepadamu hukuman macam apa yang tepat untuk mereka yang jahat ini Nduk cah ayu (anak cantik)?"
"E... "
"Maaf Yang Mulia Ibu Suri menyela, tapi apa sebaiknya kita tidak menanyakan hukuman kepada anak kecil. Sepertinya saya rasa Giyanta baru berusia 12 tahun."
"Kenapa Panglima Dronota bukankah justru anak kecil akan lebih jujur menilai seberapa besar kesalahan mereka. Benar kan Nduk cah ayu (anak cantik)? Mereka bersalah apa ndak (tidak) Nduk?"
"Bersalah Yang Mulia Ibu Suri, rusa adalah hewan yang dilindungi oleh kerajaan. Dan sebagai abdi kerajaan mereka seharusnya tidak memburu dan memakan rusa karena peraturan kerajaan jelas melarang tetapi mereka tetap memburu dan memakan rusa jadi jelas sekali mereka bersalah"
"Anak cerdas, lihat Panglima anak sekecil ini saja tahu tentang peraturan kerajaan dengan jelas. Tapi mereka prajurit yang merupakan abdi kerajaan malah melanggar peraturan kerajaan. Lantas Giyanta Nduk cah ayu (anak cantik) hukuman apakah yang tepat untuk mereka?"
"E... "
NB: PERMOHONAN MAAF
saya selaku author JAWANAKARTA ingin meminta maaf karena sudah tidak up lebih dari seminggu. mohon maaf sebesar-besarnya dikarenakan author sedang berlibur di RS selama seminggu. berawal dari masuk angin biasa ditambah musim yang hujan-panas jadi masuk angin biasa menjadi luar biasa. tapi Alhamdulillah sekarang author sudah baik kan jadi InsyaAllah akan up seperti biasa.
sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya.
silahkan membaca episode selanjutnya Terimakasih. 🙏🙏🙏