JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
39



"TARI."


"BAPAK."


Tari segera berlari menuju ke arah Panglima Jayadri. Mereka berpelukan, Panglima Jayadri tidak henti berucap syukur karena putrinya ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Selama proses penyisiran Panglima Jayadri telah pasrah dengan keadaan putri bungsunya nanti. Segala syukur dia ucapkan setelah dapat melihat dan memeluk sang putri saat ini dengan keadaan yang baik-baik saja.


"Wahai Sang Pencipta Alam Semesta, terimakasih karena telah memberi kesempatan kepadaku untuk dapat bertemu dan memeluknya dalam ke adaan baik-baik saja, puji syukurku untuk Sang Pencipta Alam Semesta."


"Bapak, tadi Tari keseret air terus masuk sungai kecil. Tari mencoba berenang tapi tidak mudah karena air sangat deras dan banyak."


"Iya nak, syukurlah kamu tidak apa-apa Tari."


"Bagaimana anak Panglima bisa ikut dengan kalian di dalam goa ini?"


"Dia tersangkut di dahan pohon itu mas Asdi, terus teriak minta tolong. Aji melihatnya dan langsung menolongnya."


"Saat sungai kecil meluap, Tari berada di dahan pohon itu yang menjuntai ke sungai kecil dan berpegang pada dahan pohon itu mas Asdi, lalu Aji menariknya ke atas pohon dan membawanya ke goa ini."


"Terimakasih anak-anak. Dan kamu Aji namamu nak?"


"Kaliaji Panglima."


"Terimakasih karena telah menyelamatkan putriku, tadi pasti arus airnya sangat deras sekali bukan. Kamu anak yang pemberani Kaliaji."


"Bapak, ini teman Tari dan seumuran sama Tari. Tadi yang menenangkan Tari di dalam goa dia Pak. Namanya Asih, adiknya mas Aji."


"Namamu Asih nak?"


"Kalasih Panglima."


"Mereka anak-anak yang bapak Kastiar Panglima."


"Oya pantas saja. Namamu indah sekali Kalasih, terimakasih nak karena menenangkan putri ku. Dan terimakasih juga untuk..?"


"Jupri Panglima."


"Du Du DUDUNG PANGLIMA. Ma a af saya gugup."


"Tidak apa-apa. Dudung, Jupri, Kaliaji, dan Kalasih. Saya akan selalu mengingat nama-nama kalian."


"Baik semua anak dusun Undayan sudah ditemukan Asdi?"


"Sudah semua Sultan 4 anak tiga laki-laki dan 1 perempuan sudah cocok."


"Kita sebaiknya segera kembali ke daerah pengungsian, mereka sepertinya kelaparan dan kedinginan."


"Dan untuk korban jiwanya Sultan?"


"Korban jiwa?"


Anak-anak tersebut tidak tahu menahu bahwa yang hanyut bukan hanya Tari saja. Saat mereka melihat kearah enam tubuh kaku yang berada di bebatuan tepi sungai kecil seketika mereka murung dan merasa bersalah.


"Apa mereka seumuran dengan kita Ji?"


"Kemungkinan iya Pri, bila dilihat mereka bukan orang dewasa."


"Kenapa kita tidak mendengar teriakan-teriakan mereka tadi, kalau kita dengar kita bisa menyelamatkan mereka juga kan Ji?"


"Iya, kenapa aku juga tidak memperhatikan sungai kecil tadi. Bila kita tahu kita bisa menyelamatkan mereka."


"Ini bukan salah kalian anak-anak. Kalian kemungkinan memang tidak dapat menyelamatkan mereka, karena bisa jadi begitulah nasib mereka. Ingat kalian manusia dan masih anak-anak pula bagaimana bisa tahu nasib orang lain. Kami saja yang sudah dewasa juga tidak tahu nasib akan membawa kita kemana. Begitupun mereka dan jawaban atas pertanyaan kenapa kalian tidak dapat menyelamatkan mereka berenam dan hanya bisa menyelamatkan Tari hanya satu yaitu Takdir. Karena takdir adalah urusan Sang Pencipta Alam Semesta. Hanya beliau yang tahu dan dapat membuatnya bukan?"


Anak-anak tersebut menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penjelasan dari Sultan Lor.


"Baik mari kita kembali ke pengungsian, orang tua kalian sangat mengkhawatirkan kalian semua."


"Pengungsian?"


"Iya Dung seluruh dusun kita diterjang banjir air laut utara, tapi tenang dusun kita baik-baik saja hanya terendam air sekitar 1 meter."


"Tidak hanya dusun kita yang diterjang banjir, 4 dusun lainya juga, dusun Elit otomatis karena paling dekat dengan Tanggul, lalu dusun Demar, dusun Gelaman dan dusun Jungkar."


"Wah berarti kita bakalan tidur di tenda-tenda lagi dong kayak dulu?"


"Iya, untuk beberapa hari ke depan sampai air yang menggenang dusun kita surut Dung."


"Wah asyik ni."


"Asyik? Kamu ndak salah ngomong Dung?"


"Ndak (tidak) Pri, kamu emang ndak (tidak) ingat dulu. Kita tidur bareng-bareng satu tenda, makan juga bareng-bareng walau makanannya dikit. Itu kan asyik Pri, masak kamu ndak (tidak) senang waktu itu."


"Ya bukan begitu juga Dung. Banjir itu musibah seasyik-asyiknya di tenda pengungsian tetap lebih asyik di rumah kita sendiri."


"Apa iya Ji?"


Aji hanya menjawab dengan tertawa pertanyaan Dudung barusan.


"Dasar Dudung Mardung binti Kasdung."


Semua orang ketawa melihat Jupri yang menyebut nama lengkap Dudung. Begitupun dengan Sultan Lor, dia tahu bahwa anak-anak ini adalah anak yang baik dan menyenangkan. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka malah tumbuh dengan didikan yang baik yang nantinya akan membawa mereka menjadi orang baik.


Flashback end.


"Bila itu benar mereka, sungguh alam semesta tidak pernah keliru dalam memilih kesatrian nya. Mereka akan menjadi anak-anak yang hebat, semoga dengan ini takdir baik akan menyelimuti JAWANAKARTA."


"Bapak apa Asih sudah ndak (tidak) bisa sekolah?"


"Besok kamu belajar di rumah dulu ya, tadi pak Yusman memberi informasi bahwa kalian tidak libur tetap sekolah hanya belajar diganti di rumah."


"Sama saja libur itu pak."


"Beda dong, kalau libur kalian tidak memilik kewajiban untuk belajar bukan. Tapi kalau belajar di rumah kalian wajib buat belajar walaupun harus belajar sendiri di rumah."


"Dek Asih nanti belajar sama Mamak di rumah, Bapak tenang saja."


"Ya, enakan di sekolah belajarnya Bapak."


"Kenapa? Mamak mu ndak (tidak) bisa mengajarnya?"


"Bukan Pak, cuman Mamak itu kalau ngajarin galak...


"Bapak sama dek Asih bisik-bisik apa, ngomongin Mamak ya?"


"Ndak (tidak) Mak, Asih cuma bilang kalau di sekolah kan banyak temennya jadi belajarnya ndak (tidak) bosan. Iya kan Pak?"


"Iya betul Mak."


"Kenapa Mamak denger galak-galak?"


"Bu Inun kadang galak Mak kalau ngajar."


"Pantes saja bu Inun galak, kalau yang di ajar nakal-nakal kaya kamu."


"Asih ndak (tidak) nakal Mak."


"Iya ndak (tidak) nakal cuman susah di bilangin iya kan."


"Sudah-sudah. Kamu gimana Le, sudah ada gambaran sekolah dimana?"


"Belum pak, Aji masih bingung."


"Jujur kamu mau sekolah dimana sebenarnya?"


"Sebenarnya Aji mau... "


Tok tok tok (suara pintu diketuk)


"Permisi."


"Iya, sebentar."


"Siapa malam-malam datang ke rumah kita Pak?"


"Bapak juga ndak (tidak) tahu. Kamu tolong buka pintunya Le!"


"Injeh (iya) Pak."


Pintu di buka, dua orang berseragam kantor Kesultanan Lor masuk kedalam.


"Dengan Bapak Kastiar?"


"Benar itu saya, ada apa ya Pak?"


"Bisakah anda bersama seluruh keluarga anda ikut kami ke kantor Kesultanan Lor?"


"Sekarang?"


"Iya Pak, sekarang."


"Ada apa ya Pak kok malam-malam begini diminta datang ke kantor Kesultanan Lor."


"Kami juga kurang tahu Ibu, kami hanya menjalankan tugas untuk membawa anda sekalian menghadap Sultan Lor."


"Sultan Lor ingin bertemu kami sekarang."


"Benar Pak Kastiar, beliau telah menunggu anda sekeluarga. Maaf mobil kami ada di jalan masuk dusun, karena mobil tidak dapat masuk jalanan dusun jadi kita harus jalan sebentar menuju depan dusun. Apa kalian sudah siap?"


"Bisakah anda menunggu sebentar, biarkan anak dan istriku bersiap-siap dulu."


"Silahkan bersiap-siap pak akan kami tunggu."


"Kalau begitu silahkan masuk, silahkan ditunggu di dalam, maaf kalau rumahnya kecil."


"Tidak apa-apa Pak Kastiar terimakasih."


"Kaliaji dan Kalasih kalian segera bersiap pakai baju yang paling bagus ya Le, Nduk."


"Injeh (iya) Mamak."


"Injeh (iya) Mamak."


"Sebaiknya kamu juga segera bersiap Dek, kasihan kalau mereka menunggu terlalu lama."


"Injeh (iya) Kang Mas."


Bersambung...