JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
54



"Permisi, kami dari prajurit kerajaan ingin memberi tahu bahwa seluruh warga Dusun Undayan diminta untuk segera hadir di Balai Dusun dikarenakan Yang Mulia Kanjeng Ratu telah menunggu, kami minta segera ke Balai Dusun. Bila menolak kami akan memasukan nama kalian ke daftar orang yang berkhianat. Jadi saya sarankan untuk segera ke Balai Dusun segera."


"Baik pak, kami akan segera ke Balai Dusun, terimakasih atas pemberitahuannya."


"Sebaiknya sekarang Pak langsung ke balai dusunnya dari pada nanti anda sekeluarga malah di masukan daftar pengkhianat. Dan ajak juga seluruh keluarga anda karena semua wajib datang menyambut kehadiran Yang Mulia Kanjeng Ratu."


"Baik, saya panggil keluarga saya dulu. Apakah anda ingin masuk ke dalam rumah saya pak prajurit?"


"Tidak perlu, saya harus segera menyebar kabar kedatangan Yang Mulia Kanjeng Ratu. Permisi."


"Silahkan pak prajurit."


Setelah prajurit kerajaan beranjak dari depan rumahnya pak Kastiar segera masuk kedalam rumah.


"Bagaimana ini pak Junedi? Apa sebaiknya Asih dan Aji tetap di rumah bersama anda sedang saya dan istri saya pergi ke balai dusun? Para prajurit itu hanya memberi kabar tanpa memeriksa kedalam rumah jadi mereka tidak akan tahu bahwa saya punya dua anak."


"Itu terlalu berbahaya pak Kastiar, bila sampai data kependudukan dilihat oleh pihak kerajaan itu malah akan menimbulkan kecurigaan."


"Lalu bagaimana ini pak Junedi?"


"Sebaiknya kita tetap datang ke balai dusun sekarang dan Asih serta Aji juga kita ajak ke sana. Saya lihat Sultan Lor banyak menaruh orang-orangnya disekitar anda dan keluarga anda. Jika ada skenario terburuk kita tidak begitu terkepung karena kalah jumlah. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini hingga Sultan Lor dan Panglima Jayadri datang ke dusun ini untuk membantu kita."


"Baiklah pak Junedi, saya akan mengikuti arahan anda. Jujur saja saya tidak ingin apa yang saya baca dibuku itu terjadi tapi saya tahu itu takdir kedua anak saya. Saat ini saya hanya bisa pasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta Alam Semesta, akan jadi apa nanti saya serahkan pada beliau."


"Itu adalah cara yang benar pak Kastiar ingat kita hanya manusia, dan semua manusia sama saja di mata Sang Pencipta Alam Semesta. Karena sejatinya pembagian kasta hanya di lakukan oleh manusia itu sendiri Sang Pencipta Alam Semesta tidak pernah mengajarkan perbedaan kasta bahkan dengan maklum penghuni alam semesta sekalipun kita selalu diminta untuk saling menjaga dan menghormati bukan. Dan satu hal pak Kastiar percayalah segalanya ini takdir beliau dan beliau akan selalu bersama manusia-manusia yang masih percaya padanya."


"Ya pak Junedi, saya akan terus percaya dan memegang teguh kepercayaan saya kepada Sang Pencipta Alam Semesta."


Di gorong-gorong dusun Undayan rombongan Sultan Lor dan Panglima Jayadri telah sampai di rumah mang Kasep. Saat mereka akan keluar dari gorong-gorong terdengar percakapan beberapa prajurit dari sekitar rumah mang Kasep.


"Segera ke balai dusun sekarang kenapa warga dusun ini bebal sekali bila di kasih tahu, tinggal ke balai dusun apa susahnya."


"Sudahlah sabar saja, yang penting kita sudah jalankan tugas kita. Kalau mereka tetap ngeyel biarkan saja warga dusun ini masuk daftar pengkhianat semuanya."


"Benar kata Harto, kita jalankan saja tugas kita sekarang toh dusun ini juga bakalan hilang setelah ini."


"Jadi benar bahwa tidak ada kesempatan warga desa untuk mempertahankan dusun mereka."


"Tidak ada, kamu tahu kedatangan Yang Mulia Kanjeng Ratu sama saja pengukuhan bahwa proyek Dusun Elit tidak dapat di batalkan bahkan oleh Sultan Lor sekalipun."


"Maksudmu Darto?"


"Kalian tidak tahu seberapa licik warga Dusun Elit untuk menyingkirkan Dusun Undayan. Bahkan mereka telah merencanakan pembakaran masal bila hingga bulan depan proyek mereka belum berjalan."


"Pembakaran masal? Maksudmu mereka akan membakar Dusun Undayan? Gila yang namanya pak Hasta itu jelas bukan manusia lagi dia."


"Itulah mengapa sebaiknya warga Dusun Undayan mau menerima relokasi dusun dan pindah saja dari sini."


"Gila ya manusia kalau punya uang banyak ngerasa punya segalanya, tidak ada yang mereka takuti."


"Benar, makanya kita jangan pernah mau berurusan dengan orang-orang macam pak Hasta itu."


"Orang-orang seperti warga Dusun Elit itu tidak akan pernah takut pada apapun bahkan Sang Pencipta Alam Semesta sekalipun. Dan kamu ingat petuah leluhur kita dulu bahwa sampai kapanpun akan terdapat manusia-manusia tamak yang tidak akan takut pada apapun sekalipun itu Sang Pemberi Hidup maka jangan pernah kita berurusan apalagi dekat dengan manusia itu, karena pada akhirnya yang akan berurusan dengan manusia itu adalah Sang Pemberi hidup sendiri."


"Benar kita tidak perlu berurusan dengan manusia seperti pak Hasta karena aku yakin Sang Pencipta Alam Semesta yang akan mengurus manusia seperti itu."


"Sudah lebih baik kita segera sisir lagi beberapa rumah, ingat waktu warga berkumpul hanya 30 menit. Aku tidak tega melihat mereka harus kesusahan lebih dari ini bila tidak ikut aturan kerajaan."


"Benar ayo kita segera mengecek semua warga dan memaksa mereka ke balai dusun segera."


Di belakang rumah mang Kasep.


"Demi Sang Pencipta Alam Semesta di dunia ini benar adanya manusia tamak dan jahat seperti pak Hasta."


"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja Sultan Lor."


"Tapi apa ada jalan lainnya sepertinya benar yang di bilang prajurit kerajaan bahwa jalan terbaik warga Dusun Undayan menerima relokasi dusun."


"Tidak segampang itu Panglima, bila itu mudah tentunya permasalahan ini tidak akan sampai melebar ke pihak kerajaan."


"Rata-rata warga Dusun Undayan adalah keturunan asli dari tanah ini Panglima. Dari generasi ke generasi mereka mempertahankan tanah leluhur mereka bukan semata-mata karena tanah ini mahal ataupun tanah ini strategis melainkan karena ini tanah leluhur kami warisan kami. Tanah yang secara tidak langsung selalu kami janjikan untuk kami lindungi dan jaga. Bagaimana mungkin kami bisa menyerahkan tanah leluhur kami kepada orang asing yang jangankan mau mengenal tradisi kami mengenal kamipun tidak sudi."


"Semua akan ada jalannya Pak Juan ingat yang dikatakan para prajurit tadi. Manusia tamak, serakah dan tidak takut pada apapun itu tidak akan pernah bisa kita lawan karena sejatinya lawan manusia-manusia itu adalah Sang Pencipta Alam Semesta. Bila memang relokasi adalah jalan keluar terbaik warga Dusun Undayan saya sarankan terimalah. Dimana pun kalian nanti berada saya percaya kalian tidak akan pernah meninggalkan Kepercayaan dan tradisi meski kalian kehilangan warisan leluhur, saya yakin leluhur kalian akan tetap memberkati kalian dimana pun kalian berada nantinya."


"Benar yang dikatakan Sultan Lor, ingat warga Dusun Undayan masih memiliki jati diri orang JAWANAKARTA jadi dimana pun kalian berada nantinya saya yakin kalian akan selalu diberkati oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Sekarang mari kita segera ke rumah pak Kastir sebelum mereka semua di paksa menuju balai dusun saya butuh menginformasikan rencana kita dulu sebelum menjalankan. Mari semua sebelum terlambat."


Bersambung...