JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
45



"Mak, Asih istirahat sebentar ya belajarnya. Boleh ya Mak?"


"Baru juga mulai dah mau istirahat?"


"Kan kalau disekolah juga ada istirahat Mak."


"Iya istirahatnya jam 9.30 setelah masuk kelas jam 7.00 bukan, ini kamu mulai belajar jam 8.00 jam 9.00 dah minta istirahat. Asih pikir Mamak ndak (tidak) tahu jadwal sekolah kamu Nduk."


"Hehehe kirain Mamak ndak (tidak) tahu."


"Mamak tahu semua jadwal sekolah kamu sama Mas mu Nduk."


"Wah Mamak keren, jangan-jangan Mamak bisa nerawang kayak Mbah Buri ya Mak?"


"Nerawang? Ndak (tidak) perlu bisa nerawang kalau cuma tahu jadwal sekolahmu Nduk."


"O lha terus Mamak tahu dari mana?"


"Dari kertas yang kamu tempel di lemari kamu Nduk."


"Kertas jadwal sekolah Asih Mak?"


"Iya kan disitu ada jadwal semua pelajaran beserta waktu istirahat."


"Iya juga ya, kirain Mamak kaya Mbah Buri."


"Emang kenapa kalau Mamak bisa kaya Mbah Buri?"


"Nanti Asih bakal buka jasa nerawang nomor kaya Kang Muntar Mak. Lumayan kan bisa dapat duit banyak hehehe..."


"O kamu mau jadiin Mamak duku togel hah sini kamu Mamak jewer kamu Nduk."


"Bercanda Mak, ampun Asih belajar lagi deh oke."


"Kamu tu ya ada-ada saja. Ya sudah ayo belajar lagi."


Ditengah gurauan ibu dan anak tersebut angin semilir memasuki rumah mereka seakan memberi sebuah kabar akan terjadi sesuatu nantinya. Seketika Asih diam mematung membuat sang Ibu khawatir.


"Ada apa Nduk?"


"Ada orang jahat yang sedang menuju Dusun kita Mak."


"Orang jahat Nduk? Siapa?"


"Konco Borok, dia yang punya Konco Borok Mak."


"Konco Borok? Itu cuma dongeng Nduk, Konco Borok ndak (tidak) nyata. Itu dongen nenek moyang kita dulu supaya ndak berteman dengan kebencian."


"Ndak (tidak) Mak, Konco Borok ada Mak. Orang jahat itu yang punya. Angin utara yang bilang ke Asih Mak, supaya kita bersiap dan berhati-hati Mak."


"Tunggu Nduk, Mamak akan panggil beberapa petugas Kesultanan yang ada di sekeliling rumah kita. Kamu tenang dulu dan duduk disini mengerti Nduk."


"Injeh (iya) Mak."


Segera Ratna keluar dari rumah mencari beberapa petugas Kesultanan Lor yang ditugaskan di sekeliling rumahnya. Dia tahu bahwa Asih tidak berbohong tentang apa yang dia katakan tadi. Melihat raut pucat terlihat Asih sangat takut dengan apapun yang akan datang ke Dusun Undayan nantinya. Dilihatnya 2 pemuda yang sedang duduk-duduk di bale bambu, dia mengenali salah satu pemuda tersebut sebagai orang yang menjemput mereka tadi malam segera dia menghampirinya.


"Bisakah salah satu kalian menyampaikan pesan anak perempuanku kepada Sultan Lor. Semakin cepat semakin baik, karena sepertinya akan ada sesuatu yang buruk datang ke Dusun kami segera."


"Sendiko dawuh Bu Kastiar saya akan secepat mungkin menyampaikan kepada Sultan Lor."


"Anakku berkata seseorang yang jahat akan datang ke Dusun kami hari ini, dia memiliki Konco Borok bersamanya."


"Konco borok? Bukankah itu hanya..."


"Sampaikan saja itu kepada Sultan Lor segera mungkin beliau pasti jauh lebih tahu apa yang harus kami perbuat."


"Baik Bu Kastiar saya akan segera sampaikan kepada Sultan Lor, dan saya juga meminta anda dan nona Asih untuk tetap berada di rumah saja hingga saya kembali. Yatno segera hubungi yang lainnya dan suruh mereka menambah personil anggota di seluruh Dusun Undayan. Bila Konco Borok itu benar adanya maka yang akan datang pastilah manusia paling Jahat di seluruh Alam Semesta bukan."


"Saya permisi Bu Kastiar. Silahkan anda kembali ke kediaman tenang saja ada banyak petugas yang berjaga di sekeliling Dusun Undayan."


"Bisakah anda juga memberi tahu suami saya, untuk Aji dia akan pulang setelah matahari di atas kepala tapi suami saya baru akan pulang saat matahari hampir tengelam. Sejujurnya saya hanya ingin seluruh keluarga saya berkumpul sebelum kemungkinan buruk terjadi."


"Tentu Bu Kastiar saya akan mengutus orang untuk segera memberi tahu Pak Kastiar."


"Terimakasih."


"Itu memang tugas kami Bu Kastiar dan saya tidak tahu apakah ini bisa sedikit meringankan kekhawatiran Ibu. Percayalah bahwa Sang Pencipta Alam Semesta selalu bersama orang-orang baik. Dan saya tahu bahwa keluarga Kastiar adalah keluarga yang baik."


"Terimakasih Pak Petugas, itu cukup menenangkan saya."


"Sama-sama Bu Kastiar."


"Wahai Sang Pencipta Alam Semesta, bila memang harus terjadi hal buruk nantinya hamba mohon kuatkan kami untuk menghadapinya dan tentunya hamba juga mohon lindungilah kedua anak-anak hamba."


Waktu terus bergulir hari telah memasuki tengah hari, di sebuah kelas yang berada di lingkungan SMP Darmabakti terlihat beberapa anak-anak sedang asyik mengobrol secara di depan papan mading sekolah SMP Darmabakti. Di sana banyak sekali brosur pengenalan Sekolah Menengah Atas yang di sengaja di tempel pada papa mading sekolah guna berbagi informasi bagi anak-anak yang akan melanjutkan sekolah ke tingkat SMA.


"Ada brosur SMA Antasari Pri, sekolah yang mau kamu masuki setelah lulus SMP nanti. Kayaknya profil sekolahnya bagus Pri."


"Jelas bagus Dung, SMA Antasari itu peringkat ke 3 terbaik sekota Lor. Ya walaupun masih kalah sama SMA Elit dan SMA Bartuwar kan tetep saja bagus Dung karena peringkat 3."


"Yang peringkat 1 dari 2 SMA itu yang mana Pri? SMA Elit apa SMA Bartuwar?"


"SMA Bartuwar lah Dung, kamu tahu SMA Bartuwar itu SMA peringkat pertama se JAWANAKARTA, kalau sama SMA Elit Jauh. Kamu tahu kan Dung setiap kota pasti memiliki sekolah terbaik mereka bayangkan seberapa bagusnya SMA Bartuwar sampai di nobatkan sekolah terbaik peringkat pertama di JAWANAKARTA."


"Sebaiknya kamu masuk SMA Bartuwar Ji, aku jamin kamu pasti langsung diterima di sana."


"Bener kata Dudung Ji, selain itu SMA itu dekat dengan rumah Mbah Utimu bukan?"


"Aku masih belum mikirin mau nerusin dimana."


"Eh bukannya sebulan lagi kita dah ujian Ji, jadi dah saatnya kita mikirin dimana kita lanjut sekolah nantinya."


"Iya Pri cuman..."


"Mas Kaliaji, saya diberi pesan Bu Narti katanya Mas Kaliaji ditunggu Bu Narti di ruang BK."


"Ruang BK? Aji tok Dek?"


"Iya Mas Jupri, sekarang kata Bu Narti."


"Baik terimakasih Dek."


"Sama-sama Mas Kaliaji, saya permisi ke kelas dulu."


"Iya Dek silahkan."


"Kenapa kamu dipanggil ke ruang BK Ji? Kamu bikin salah?"


"Kalau kamu dipanggil ke ruang BK berarti bener kamu buat salah Dung, tapi kalau Aji yang di panggil ke ruang BK belum tentu dia buat salah malah mungkin dia dapat hadiah."


"Hadiah kamu ikut lomba lagi Ji di kelas 3 kok aku ndak (tidak) tahu kamu ikut lomba."


"Dudung Mardung binti Kasdung kamu tahu ndak (tidak) tentang perumpamaan Hah jadi anak polos kepolosan kamu. Dah Ji ndak (tidak) usah dengerin Dudung lagi sana ke ruang BK Bu Narti pasti dah nunggu kamu, Dudung biar aku yang urus."


"Hehehe oke Pri, aku ke ruang BK dulu sampai nanti Pri, Dung."


"Oke sip my prend. Dudung Mardung binti Kasdung ayo kita masuk kelas bentar lagi bel masuk kelas bunyi."


"Oke deh Pri."


"Gitu dong nurut sama Mas Jupri."


Bersambung..