JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
ENAM BELAS



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


"E... "


"Katakanlah Nduk cah ayu (anak cantik) ndak (tidak) apa-apa."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, menurut saya.."


"ADEK"


"Mas Garda."


"Giyanta."


"Mamak."


Giyanta berlari kearah Mamak dan memeluknya, dia menangis di pelukan Mamaknya.


"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri, perkenalkan saya Ratri ibu dari Gardapati dan Giyanta. Semoga Yang Mulia Ibu Suri diberkati oleh seluruh alam semesta."


"Terimakasih Ratri, kau sungguh luar biasa memiliki anak-anak yang cerdas dan hebat."


"Matur sembah nuwun (terimakasih banyak) Yang Mulia Ibu Suri."


"Gardapati si sulung yang pemberani cerdas dan pintar jangan lupa dia juga gagah berapa usiamu Le cah bagus (anak ganteng)?"


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, saya 15 tahun."


"Luar biasa kau baru berusia 15 tahun, dan aku telah mendengar dari kepala desa tentang inovasi mu membuat saluran irigasi dari waduk agar sawah kalian tidak kekeringan saat musim kemarau dan tidak terkena banjir saat musim hujan. Bagaimana kau bisa memikirkan hal itu Le?"


"Nyuwun sewu Yang Mulia Ibu Suri, saya hanya melihat kesempatan yang dimiliki oleh desa kami. Letak kami yang sangat strategis diapit oleh 2 waduk dan 2 kali (sungai) akan sangat menguntungkan dalam segi perairan, maka saya analisis kemungkinan dan merencanakan hanya itu yang saya perbuat. Sedangkan untuk hasil dari semua saluran irigasi desa kami tetap warga desa lah yang melakukannya. Jadi terimakasih atas pujian Yang Mulia Ibu Suri, saya rasa warga desa yang lebih berhak mendapat pujian."


"Luar biasa kau Le Gardapati, sudah pemberari, cerdas dan rendah hati bahkan Giyanta yang baru berusia 12 tahu telah tahu peraturan kerajaan luar biasa sekali anak-anakmu Ratri pasti kamu sangatlah bangga pada mereka."


"Puji Pemilik Alam Semesta, sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri semua ibu pastilah bangga kepada anak-anaknya begitu pula dengan saya. Saya juga sangat menyayangi mereka melebihi apapun di dunia ini."


"Ya benar begitulah kasih seorang ibu kepada anak-anak mereka, aku pun tahu bagaimana perasaan seorang ibu. Kita harus bisa merawat dan menjaga anak-anak kita walaupun itu harus mengorbankan jiwa dan raga. Kadang demi anak, kita sebagai ibu bahkan bisa berbuat yang jauh dari kata nalar bukan. Begitulah seorang ibu mereka akan melakukan apapun demi anak-anak mereka."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."


"Oya Gardapati aku ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kondisi anak rusa yang terluka oleh para prajurit kerajaan aku dengar bahwa kau yang menemukan anak rusa tersebut."


"Benar Yang Mulia Ibu Suri, saya yang menemukan anak rusa tersebut dengan kondisi kaki belakang kanannya tertancap anak panah. Dan saat saya tinggalkan anak rusa tersebut untuk mencari obat, saat saya kembali para prajurit tersebut telah mengikat anak rusa tersebut. Sepertinya mereka juga ingin menyantap anak rusa tersebut."


"Wah wah sungguh aku sangat kecewa dengan tingkah dari para prajurit kerajaan ini, aku sangat malu dibuatnya seorang abdi kerajaan melanggar hukum kerajaan dan dengan bangganya masih mengenakan seragam kerajaan. Cepat lepaskan semua yang dipakai oleh para prajurit yang bersalah itu. SEKARANG!"


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."


"Tidak ada keistimewaan kepada siapapun apalagi seorang abdi kerajaan semua sama bila dia berbuat kejahatan dan melanggar hukum maka dia juga akan mendapat hukuman yang setimpal, atau bahkan lebih karena seharusnya seorang abdi kerajaan yang bekerja untuk kerajaan tidak sepantasnya melanggar hukum kerajaan."


"SENDIKO DAWUH YANG MULIA IBU SURI."


"Lantas Gardapati aku ingin meminta saran padamu, hukuman apa yang tepat untuk para prajurit yang bersalah ini? Katakan Le ndak (tidak) apa-apa."


"Tidak apa-apa Le, kamu anak yang cerdas dan pintar tentulah aku ingin mendengar saran darimu. Bagaimana?"


"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri terimakasih atas kepercayaan dari anda. Tapi bukankan kerajaan kita telah memiliki hukum yang berlaku, dan saya rasa hukum di kerajaan kita itu dapat menghukum para prajurit yang bersalah tersebut."


"Oya, kau tahu hukuman yang akan mereka peroleh bila masuk ke dalam pengadilan kerajaan Gardapati?"


"Sendiko dawuh, bila tidak salah saya tahu Yang Mulia Ibu Suri."


"Apa sebutkan lah."


"Sesuai undang-undang kerajaan no.383 tentang hewan yang dilindungi terdapat 3 pelanggaran dengan hukuman yang berbeda ke 1 melukai hewan yang masuk daftar dilindungi dikenakan denda sebesar 1 sawarna (39 gram emas) dan menjadi budak kerajaan selama 3 tahun. Ke 2 menjual dan membeli hewan yang dilindungi dikenakan denda 1 sawarna (39 gram emas) dan menjadi budak kerajaan selama 2 tahun. Dan yang ke 3 membunuh hewan yang dilindungi dikenakan denda 1 kati (754 gram emas) dan harus menjadi budak kerajaan seumur hidupnya. Setahu saya itulah hukuman bagi mereka yang melakukan pelanggaran kepada hewan yang dilindungi."


"Tapi itu baru undang-undang pelanggaran terhadap hewan yang dilindungi bagaiman dengan undang-undang untuk abdi kerajaan yang telah melanggar peraturan?"


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, saya tidak tahu tentang undang-undang untuk abdi kerajaan, karena saya bukanlah seorang abdi kerajaan."


"Benar undang-undang untuk abdi kerajaan tidak banyak diketahui oleh rakyat biasa, karena kerajaan memiliki sistem tersendiri untuk menghukum para abdi kerajaan yang berbuat salah. Itulah yang sering menjadi perdebatan para generasi muda karena mereka menganggap kami memperlakukan abdi kerajaan yang bekerja untuk kerajaan secara istimewa. Aku sudah berkali-kali meminta para dewan kerajaan untuk merubah sistem peradilan untuk abdi kerajaan agar lebih terbuka tapi mereka selalu memutar-mutar alasan yang tidak jelas dan enggan memberi jawaban. Aku pun ingin semua yang ada di kerajaan transparan agar seluruh rakyatku dapat lebih mengenal kerajaan jadi kalian bisa lebih percaya pada kerajaan."


"SENDIKO DAWUH YANG MULIA IBU SURI, KAMI AKAN TERUS PERCAYA DAN BERBAKTI KEPADA KERAJAAN."


"Terimakasih semua rakyatku aku sangat tersanjung dan terharu, sungguh aku sangat ingin semua terbuka dan dapat selaras tidak ada yang ditutupi ataupun diistimewakan. Maka aku ingin meminta pendapatmu Gardapati, kamu anak yang cerdas serta pintar dan seluruh desa menyetujuinya maka aku ingin bertanya padamu Gardapati hukuman apa yang cocok untuk mereka?"


"Sediko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, menurut saya hukum kerajaan sudah merupakan hukum yang tepat. Mereka terbukti bersalah dan saya rasa hukum kerajaan sudah dapat mengadili mereka."


"Tapi apakah itu benar-benar sesuai untuk menghukum mereka?"


"Saya rasa cukup Yang Mulia Ibu Suri, undang-undang tentang hewan yang dilindungi telah ada hukuman yang jelas dari setiap pelanggarannya, dan saya yakin itu sesuan dengan apa yang telah mereka langgar."


"Tapi undang-undang itu memanglah pas untuk rakyat biasa sedangkang untuk para abdi kerajaan bukankah hukuman tersebut terlalu ringan untuk mereka. Seorang abdi kerajaan bekerja untuk kerajaan, tidak sepantasnya mereka melanggar hukum yang di buat oleh kerajaan bukan."


"Benar Yang Mulia Ibu Suri, tapi bukankah hukum abdi kerajaan jugalah ada maka silahkan gabungkan ke dua hukum tersebut, saya rasa itu bisa menjadi hukuman yang pas untuk mereka."


"Begitukah, kamu memanglah cerdas Gardapati tapi sejujurnya aku ingin kau berpartisipasi dalam memberi hukuman kepada mereka. Mungkin aku terlalu berekspetasi tinggi kau masilah anak-anak yang taat akan hukum. Baiklah aku terima masukanmu itu, tapi sepertinya aku akan menghukum mereka dengan caraku. Karena aku merasa mereka sudahlah amat keterlaluan."


"Maaf Yang Mulia Ibu Suri, saya rasa apa yang diutarakan oleh Gardapati benar adanya mari kita serahkan mereka kepada pengadilan kerajaan. Hukum kerajaan kita akan memberi mereka hukuman yang setimpal kepda mereka, saya yakin itu."


"Apa kau akan membantahku Panglima Dronota?"


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya Yang Mulia Ibu Suri hamba tidaklah bermaksud begitu."


"Cukup, apakah aku tidak boleh marah kepada mereka. Mereka melanggar hukum saat mengawalku sama halnya mereka melanggar hukum didepan mataku, kau tahu apa yang aku rasakan? Aku merasa mereka telah mencorengkan kotoran tepan di hidungku. Tidak bolehkah aku sangat marah kepada mereka Panglima Dronota?"


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri. Anda berhak marah andapun dapat menghukum saya juga, karena saya adalah Panglima pasukan tidak becus mengurus mereka. Saya benar-benar minta maaf kepada anda Yang Mulia Ibu Suri."


"Aku rasa itu bukan salahmu Panglima, mereka saja yang terlalu arogan dan sombong karena mereka merasa abdi kerajaan memiliki keistimewaan. Maka sebaiknya aku memberi pelajaran kepada mereka agar tidak ada lagi perilaku sombong dan semena-mena yang dilakukan oleh para abdi kerajaan. Apa kau masih ingin membantahku Panglima Dronota?"


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, saya tidak akan membantah anda. Silahkan beri titah anda Yang Mulia Ibu Suri."


"Seluruh rakyatku yang berada di desa Saeedah, aku sebagai Ibu Suri meminta maaf kepada kalian semua atas sikap lancang dari para prajurit ku. Aku tahu bahwa ini sudah sangat keterlaluan mereka sombong, arogan dan telah berbuat kejam dengan memburu hewan yang dilindungi bahkan memakan mereka. Dengan segala kerendahan hati aku benar-benar meminta maaf. Karena kesalahan yang dilakukan oleh para prajurit kerjaan ini kepada hewan hutan kalian, aku akan pastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal agar tidak akan terulang kembali. Melukai hewan dilindungi sudah menjadi kesalahan apalagi ini membunuh dan memakannya sangat-sangat bersalah. Maka dengan ini aku jatuhi hukuman PENGGAL."


Semua warga desa Saeedah kaget bukan kepala, mereka tahu bahwa hukuman penggal hanya diperuntukan oleh pengkhianat kerajaan. Hukuman penggal adalah hukuman terberat di JAWANAKARTA karena mereka akan dipenggal dihadapan seluruh rakyat dan kepala mereka akan di gantung sebagai peringatan agar tidak ada lagi yang berani berkhianat kepada kerajaan.


"Nyuwun sewu (permisi) Yang Mulia Ibu Suri, mohon ijin kepada anda bolehkah saya untuk ikut berbicara?"