
Sementara di goa, mereka berlima telah membuat api unggun untuk menghangatkan mereka. Didalam goa juga ada beberapa persediaan makanan yamg mereka kumpulkan dari sekitar goa. Tidak banyak memang tapi dapat membuat pengganjal perut mereka hari ini. Asih dan Tari duduk di batu besar yang berada di bagian terdalam goa. Tari sudah terlihat lebih baik, dia sudah tidak sepucat saat diselamatkan Aji tadi.
"Kamu mau makan buah pisang Tari?"
"Boleh?"
"Tentu boleh, ini makanan memang dipetik untuk kita makan Tari."
"Terimakasih Asih."
"Sama-sama. Kamu dari dusun Elit ya Tari?"
Tari mengangguk.
"Kamu kelas berapa Tari?"
"Kelas 4 SD."
"Wah sama aku juga kelas 4 SD kita seumuran. Kamu pasti sekolah di sekolah dusun Elit itu ya?"
"Iya."
"Sekolah gedong yang bagus banget itu terus lapangannya gede banget, kayak stadion. Mungkin kalau di hitung gedenya sama kayak dusun kami."
"Kamu iri sama sekolah Tari dek Asih?"
"Ndak kok mas Jupri, Asih bersyukur sama apa yang sekarang Asih punya. Cumakan sekolah Tari beda banget sama sekolah Asih, lapangan cuma seuprit belum lagi kelasnya juga cuma ada 6. Kadang Asih berpikir gimana rasanya sekolah di sekolah gedong itu."
"Ndak usah pingin sekolah di sana dek Asih, percuma sekolah gedong dan bagus tapi ndak diajarin tata krama sama sopan santun. Jadinya cuma anak-anak sombong yang ndak kalah maunya menang sendiri."
"Suut Dudung, jangan bicara begitu."
"Eh... Maaf Tari maksudku bukan kamu, keluarga Panglima Jayadri ndak pernah sombong, baik malah sama warga dusun kami. Maksudku warga yang lain, yang sombong-sombong itu."
"Ndak apa-apa kok, Tari juga tahu bahwa banyak warga dusun Elit yang memang jahat."
"Mereka juga jahat sama keluarga kamu Tari?"
"Kadang-kadang, paling seri sama Ibu. Mereka sering ndak sopan sama Ibu mas."
"Mereka ndak sopan sama Ibu kamu Tari?"
"Iya mas mereka ndak pernah mau mendengarkan Ibu kalau Ibu sendiri ndak sama Bapak. Kalau ada Bapak mereka jadi baik sama Ibu, terus dengerin Ibu sopan sama Ibu. Tapi kalau Bapak ndak ada mereka akan nyuekin Ibu terus ndak sopan juga sama Ibu."
"Wah warga dusun Elit memang luar biasa sudah sombong, mau menang sendiri ditambah munafik. Semoga Sang Pencipta Alam Semesta segera menyadarkan mereka sebelum terlambat."
"Kayaknya mereka ndak akan pernah sadar Dung, mau di peringati berapapun dan apapun sama Sang Pencipta aku yakin mereka akan tetap seperti itu. Mereka kan tidak takut akan apapun, ingat manusia yang tidak takut apapun mereka akan menjadi lebih mengerikan ketimbang jurik alias setan."
"Sudah jangan dibahas lagi, kita mengobrol yang lain saja. Jangan malah ngomongin orang, itu ndak baik."
"Iya Kaliaji."
"…"
"…"
"Menurutmu badai nya akan berhenti kapan Ji?"
"Ndak tahu Dung, bisa sebentar lagi bisa sampai besok. Ndak ada yang tahu jelas soal alam bukan, terserah alam mau selesai kapan kita cuma bisa nunggu."
"Bentar lagi mas Dung."
"Bentar lagi apa dek Asih?"
"Bentar lagi, badai nya selesai. Tugas mereka sudah selesai."
"Maksudnya?"
"Kamu tahu dari mana dek Asih?"
"Ya gitu mas, Asih kaya ada yang ngasih tahu kalau badai nya bakalan berhenti sebentar lagi, katanya tugas mereka sudah selesai."
"Tugas?"
"Iya mas, katanya badai datang karena ada yang menyepelekan alam mereka mau ngasih pelajaran sama manusia-manusia itu."
"Kamu kok... "
"Sebaiknya kita mulai membakar singkong yang kita dapat tadi, apa kalian tidak lapar?"
"Tentu lapar Aji, kamu tahu saja. Ayo kita bakar singkong-singkong yang kita dapat tadi."
"Iya hujan-hujan gini enak makan yang anget-anget."
Mereka bergegas memasukan singkong yang mereka dapat di sekitar goa tadi. Mereka tidak menyadari bahwa obrolan telah di alihkan oleh Kaliaji. Orang yang mendengarkan adiknya tadi akan berpikir dek Asih ngelantur atau lebih para mengira gila. Tapi seluruh keluarganya tahu bahwa yang di katakan sang adik adalah benar. Karena Kalasih memang anak yang istimewa, seluruh keluarganya tahu bahwa sedari kecil Asih dapat berbicara dan mendengarkan alam. Itu mungkin termasuk hal konyol untuk manusia bukan. Tapi benar adanya sang adik berkali-kali benar dalam memprediksi alam. Dan sudah menjadi kesepakatan keluarga bahwa hal tersebut harus di rahasiakan dari yang lainnya. Hanya Bapak, Mamak, Mbah Kung, Mbah Putri dan dia yang tahu akan hal itu.
"Kayaknya hujan dah berhenti deh. Coba Dung kamu lihat gih."
"Oke siap."
Benar saja hujan telah berhenti badai pun telah pergi, entah bagaimana awan hitam hilang dalam sekejap. Cuaca kembali normal lagi, tidak terlalu panas dan juga tidak mendung.
"Benar badai sudah pergi dan hujan pun berhenti."
"Kita bisa segera pulang berarti."
"Sayangnya belum bisa Pri."
"Kenapa Dung?"
"Sungai masih meluap dan luapan nya cukup tinggi jalan setapak kita menuju dusun tidak kelihatan tergenang air."
"Benarkah?"
"Iya lihat itu."
"Kita tidak tahu seberapa tinggi air itu dari sini, terlalu berbahaya untuk turun sekarang."
"Lalu bagaimana sekarang Ji? Apa kita akan berada di sini semalaman?"
"Tidak ada jalan lain Dung. Kita bahkan tidak dapat melihat jalan setapak itu bukan, itu berarti luapan air sungai kecil cukup tinggi di jalan setapak itu."
"Ini sudah mau gelap Ji, apa kita akan benar-benar menginap disini?"
"Asih bisa bantu mas Aji."
"Ndak dek, ingat pesan Bapak sama Mamak."
"Tapi kalau nunggu surut bukannya akan lama mas, lihat airnya banyak sekali."
"Tetap ndak bisa dek."
"Kalian berdua ngomongin apa sih?"
"Iya aku kok ndak mudeng, kamu juga Pri?"
"Iya Dung. Emang Asih bisa bantu apa dek?"
"Bikin airnya pergi dari..."
"Dek Asih."
"…"
"Ji sebenarnya ada apa sih, dari tadi kamu kayak ndak suka kalau kita dengerin dek Asih ngomong. Kamu dari tadi kayak mengalihkan pembicaraan terus lo. Kamu pikir aku ndak nyadar."
"Bukan apa-apa Pri, kita tunggu saja sampai surut sungainya baru kita pulang ke dusun. Titik ndak boleh dibantah."
"Mas Aji."
"Kamu kenapa sih Ji."
"Iya sebenarnya ada apa?"
Seketika Asih berdiri dan berjalan ke mulut goa di berdiri di sana dengan mengacungkan kedua tangannya.
"Dek, mas bilang jangan. Ingat Bapak sama Mamak ngelarang kamu melakukan itu."
"Tapi Asih mau segera pulang mas, Asih sudah lapar singkong tadi cuma mengganjal perut Asih saja."
"Tetap itu bukan alasan yang benar untuk melakukan itu."
"Maaf mas Aji."
Saat tangan Asih mulai terangkat seketika air sungai kecil juga terangkat ke atas. Saat tangan Asih menggerakkan tangannya ke kanan air sungai juga mengarah ke kanan begitu saja seperti Asih bisa mengendalikan air sungai kecil. Semua yang melihat seperti terperanjat mereka tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. Bahkan Dudung yang berdiri paling depan mulai merasa pusing dengan apa yang dia lihat, seketika dia pingsan terlebih dahulu. Jupri masih bisa mengendalikan diri dengan berpegangan pada Aji yang berada di samping nya. Dia menatap Asih dengan tatapan tidak dapat di artikan terkejut, takut dan kagum.
"Ji bisa kamu cubit tanganku, kayanya aku lagi tidur sekarang terus mimpi deh lihat dek Asih jadi pengendali air kayak pacarnya avatar ang. Cubit Ji tolong."
"Ini bukan mimpi Pri, tapi aku harap kamu bisa menganggapnya mimpi sehabis ini."
"Kamu sudah tahu Asih bisa..."
"Dia adikku Pri, sedari kecil aku sudah melihatnya."
"Astaga Aji, ini bukan mimpi? Benar-benar bukan mimpi."
"Dek cukup, kamu membuat semua takut, lihat mas Dudung sampai pingsan."
"Maaf mas Asih ndak bermaksud..."
"Mas tahu kamu hanya ingin menolong kita untuk segera pulang, tapi kamu masih ingat apa yang Bapak katakan dek. Kamu anak istimewa, tapi keistimewaan mu itu tidak semua orang mengerti dek. Kamu ndak boleh memperlihatkan itu kepada siapapun kamu dah janji bukan sama Bapak sama Mamak. Ingat Mamak bilang kamu bisa jadi dalam bahaya kalau orang-orang tahu kemampuanmu ini dek."
"Maaf mas, Asih menyesal."
"Sekarang kamu masuk ke dalam duduk bersama Tari lagi dek."
Asih berjalan kembali memasuki goa, dia duduk kembali di samping Tari. Tari mendekat memegang tangan Asih seperti memberi semangat dan dukungan. Tari memang sempat takut dengan apa yang dia lihat tadi tapi sekarang dia tidak takut lagi. Dia tahu bahwa Asih anak yang baik juga periang dia suka berteman dengan Asih. Jadi dia tidak takut kepada Asih karena Tari menganggap Asih adalah temannya mulai dari tadi saat Asih menenangkan Tari.
"Pri bantu aku mengangkat Dudung, kita pindahkan dia ke tempat yang rata."
"Oke Ji, siap."
"Kamu sudah ndak apa-apa tapi?"
"Tenang aku ndak apa-apa tadi aku cuma kaget. Tapi sekarang sudah baik-baik saja. Ayo kita angkat kebo satu ini. Makan apa saja ni anak sampai berat gak ketulungan."
Aji dan Jupri memindahkan Dudung masuk kedalam goa yang lebih rata. Mereka membaringkan Dudung senyaman mungkin, agar Dudung tidak sakit pinggang saat bangun nanti. Setelah memastikan Dudung nyaman, mereka kembali duduk mengelilingi api unggun.
"Pri, bisakah... "
"Bisa Ji."
"Eh...?"
"Kamu mau minta aku merahasiakan ini dari semua kan?"
Aji mengangguk.
"Tenang Ji, kamu percayakan saja sama aku. Aku akan bersumpah kalau aku ndak akan cerita tentang yang terjadi barusan kepada siapapun, Alam akan menjadi saksi. Aku bersumpah demi Sang Pencipta Alam Semesta."
"Tari juga akan ikut bersumpah mas, Tari berjanji demi Sang Pencipta Alam Semesta tidak akan menceritakan apa yang Tari lihat tadi kepada siapapun."
"Terimakasih, terimakasih semua."
"Untuk Dudung kamu ndak usah ambil pusing, nanti saat sadar dia akan bilang bahwa dia mimpi kita iyakan saja biar cepat selesai hehehe."
Bersambung...