
Legenda dari seluruh penjuru tanah JAWANAKARTA tidak pernah hilang ataupun berganti. Sedari dulu saat nenek moyang kita tinggal di tanah JAWANAKARTA, tanah negara ini sangatlah istimewa. Segala yang nyata adalah nyata dan yang tidak nyata dapat menjadi nyata di tanah ini. Banyak yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan bahkan tidak masuk dalam nalar manusia terjadi di tanah JAWANAKARTA. Tanah yang dikenal sebagai tanah istimewa yang diberkati oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Segala hasil sumber daya alam yang berkualitas dan melimpah ruah selalu dapat dihasilkan oleh tanah JAWANAKARTA. Tapi juga dikenal sebagai tanah dengan segala peraturan dan ketentuan sendiri yang wajib di taati siapapun yang ingin hidup di atas tanah JAWANAKARTA. Bila ada yang melanggar atau merubah aturan sama seperti sebuah kesepakatan dilanggar bisa dipastikan akan ada konsekuensi yang harus dibayar. Manusia tetaplah manusia di mata Sang Pencipta Alam Semesta sama seperti ciptaan beliau yang lain. Tidak ada keistimewaan untuk manusia di mata Sang Pencipta Alam Semesta, manusia sendiri yang merasa bahwa mereka istimewa. Jauh lebih istimewa sehingga dapat berbuat segala sesuatu dengan seenaknya sendiri. Dan itulah penyakit yang sejatinya menyerang manusia dari waktu ke waktu. Merasa istimewa, bertingkah sesuka hati, dan berakhir merusak tatanan alam semesta dengan segala pikiran yang katanya keistimewaan yang Sang Pencipta Alam berikan kepada mereka. Pikiran yang mereka banggakan karena hadiah dari Sang Pencipta Alam Semesta kepada mereka, justru menjadi penghancur diri mereka sendiri dan Alam Semesta. Ketamakan, kesombongan, dan ketidaktahuan diri menjadi awal hancurnya kaum manusia itu sendiri. Ingatlah selalu bahwa Alam Semesta bukan hanya tempat tinggal para manusia, manusia hanya sebagian kecil dari Alam Semesta. Seperti roda yang berputar manusia pun akan berada di bawah dititik dimana mereka akan sadar bahwa mereka bukanlah yang istimewa.
"Nyuwun sewu Raden, Panglima Junedi ingin menghadap Raden."
"Suruh beliau masuk Patih Rono."
"Sendiko dawuh Raden."
Di sebuah salah satu ruangan di istana megah di pusat negara JAWANAKARTA masuklah seorang laki-laki yang gagah dengan seragam dinasnya. Saat laki-laki itu memasuki ruangan segera dia bersimpuh memberi hormat kepada laki-laki lebih muda yang telah menunggunya. Dengan berjalan jongko dia mulai mendekat kearah laki-laki muda tersebut.
"Panglima Junedi matur menghadap Raden Bastur."
"Silahkan duduk Panglima Junedi."
"Matur Sembah nuwu Raden."
"Patih Rono siapkan jamuan untuk Panglima Junedi."
"Sendiko dawuh Raden."
"Baik Panglima apa sudah ada kemajuan dengan apa yang aku minta kepadamu?"
"Sendiko dawuh Raden. Saya telah mengunjungi Gunung puser seperti perintah anda. Tapi..."
"Tapi apa Panglima?"
"Seluruh padepokan seakan tutup mulut bila saya bertanya tentang Ruwatan Raden."
"Ya tentunya mereka akan tutup mulut karena Mbah Ageng pastilah tahu bahwa akulah yang menyuruh Panglima mencari tahu soal Ruwatan ini."
"Ada beberapa juga kejanggalan yang saya lihat di padepokan Raden."
"Apa itu Panglima?"
"Seluruh curuk di Gunung Puser telah dijaga oleh anggota padepokan dan lagi bukan sembarang anggota yang menjaga Raden. Penjaganya adalah anggota terkuat salah satunya Mpu Joyomadrid."
"Mpu Joyomadrid? Berarti memang benar akan terjadi sesuatu di tanah kita Panglima seperti yang aku lihat di mimpiku."
"Lalu anda akan bagaimana Raden? Apakah anda akan memberi tahu Kanjeng Raden Suryabagus?"
"Entahlah Panglima, sepertinya tidak."
"Nyuwun sewu Raden kenapa tidak?"
"Aku juga tidak tahu Panglima, seperti ada yang melarang ku untuk memberi tahu Kang Mas, ditambah lagi Kang Mas Suryabagus akan segera naik tahta. Dengan sedikit informasi yang aku miliki apakah akan ada yang percaya denganku. Dan kamu juga tahu Panglima seberapa bencinya Ibu Suri kepadaku, bila aku salah langkah bisa saja Ibu Suri akan menghabisi ku."
"Dan lagi Panglima entah kenapa, aku selaku bermimpi bertemu Ayahanda. Beliau selalu mengatakan agar aku hanya diam dan melihat saja. Aku tidak mengerti arti mimpi itu, dan lagi aku juga tidak berani meminta juru tafsir mimpi untuk menafsirkan mimpiku. Jujur aku tidak tahu siapa yang ada di pihak ku dan siapa yang tidak berada di pihak ku. Begitupun dengan Kang Mas Suryabagus, beliau selalu baik kepada ku tapi tetap saja seperti insting aku selalu berhati-hati didepan beliau. Kami memang seayah tapi tetap saja kami beda Ibu. Aku tidak pernah bisa menebak isi pikiran Kang Mas Suryabagus."
"Raden bila boleh saya sarankan, akan lebih baik anda tetap berada di kediaman hingga acara penobatan selesai. Itu jauh lebih aman untuk anda, dan bila anda menginginkan sesuatu cukup panggil lah saya. Tidak akan ada yang curiga saat saya mengunjungi anda Raden, saya hanya Panglima dengan pangkat rendah dan lagi tidak akan ada yang curiga bila seorang Paman mengunjungi keponakannya bukan."
"Terimakasih Paman Junedi."
"Nyuwun sewu Raden jangan panggil saya dengan itu, anda adalah anak Raja tidak boleh memanggil rakyat biasa seperti saya Paman."
"Tapi Paman adalah Paman saya bukan."
"Raden."
"Baiklah Panglima. Aku hanya bercanda, dan satu hal lagi yang ingin aku minta bantuan Panglima."
"Sendiko dawuh Raden, silahkan bertitah."
"Bisakah Panglima menemui Panglima Jayadri dan berikan ini kepada beliau, ingat jangan sampai ada yang tahu. Aku tidak ingin memberi kesempatan Ibu Suri untuk menghukum ku. Bawalah beberapa perhiasan ini juga untuk Budhe Wati bilang ini hadiah dari mendiang Ibu untuk Budhe yang baru bisa diantar sekarang."
"Sendiko dawuh Raden. Bila boleh saya tahu apa sebenarnya isi gulungan ini Raden, bukan sesuatu yang dapat membahayakan anda kan Raden."
"Tenang saja Panglima, itu bukan sesuatu yang dapat membahayakan ku. Itu hanya sebuah hadiah kecil yang tidak sengaja aku temukan di perpustakaan tua kerajaan. Dan itu mungkin akan sangat berguna untuk Panglima Jayadri nanti."
"Baik Raden saya akan segera memberikan ini kepada Kang Mas Jayadri dan Mbak Wati."
"Terimakasih Panglima. Mungkin hanya ini yang sekarang bisa aku lakukan hingga aku mendapatkan segala jawaban atas seluruh mimpiku nanti."
"Jangan terlalu mencemaskan hal itu Raden, saya akan terus mencari informasi tentang Ruwatan. Dan saya juga meminta anda untuk terus berhati-hati hingga hari penobatan Kanjeng Raden Suryabagus. Saat ini anda termasuk dalam bahaya, karena banyak orang berharap andalah yang menjadi Raja."
"Aku tahu Panglima, tapi sejujurnya aku tidak ingin menjadi Raja. Anda tahu bahwa aku lebih suka membaca, belajar dan tentunya berpetualang. Setelah Kang Mas Suryabagus naik tahta aku berencana akan mulai berkelana. Akan jauh lebih baik bila aku keluar dari kerajaan bukan."
"Sendiko dawuh Raden, saat anda berkelana mohon ajaklah saya Raden. Saya akan melindungi anda sekuat tenaga dan juga saya bisa menepati janji saya kepada Ibu anda untuk selalu melindungi anda."
"Apa Paman tidak berniat untuk menikah? Paman bisa menikah dan memiliki keluarga, tenang saja aku bisa menjaga diri."
"Tidak Raden, saya akan memilih menemani anda berkelana di luar sana terlalu berbahaya untuk anda ya walaupun sejujurnya jauh lebih berbahaya bila ada tetap berada di dalam Istana ini."
"Baiklah baiklah. Setelah acara penobatan Kang Mas Suryabagus mari kita berkelana Paman."
"Sendiko dawuh Raden, saya dengan senang hati akan menemani anda."
Bersambung.