JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
24



Pagi yang cerah menyinari daerah pemukiman padat penduduk di pusat kota. Suara hiruk-pikuk terdengar sebagai melodi pengantar di pagi hari. Kepulan asap terlihat hampir di setiap rumah tanda bahwa sang pemilik rumah tengah memulai aktivitas pagi mereka.


"Mamak lihat buku gambar Asih?"


"Memang biasannya kamu taruh mana Nduk?"


"Biasannya Asih taruh di atas meja Mak, jadi satu sama buku lainya. Kok sekarang bisa ndak (tidak) ketemu."


"Cari dulu yang bener, kamu mungkin ndak (tidak) lihat saja Nduk."


"Sudah Mak, tapi dimeja ndak (tidak) ada juga."


"Ni buku gambar kamu Dek."


"Lho kok buku gambar Asih ada di Mas Aji?"


"Kemarin Mas liat dimeja depan, terus Mas bawa masuk takut kehujanan nanti basah bukunya."


"O iya kemarin Asih kan menggambar di depan sambil nunggu Bapak pulang hehehe lupa Asih."


"Udah ketemu Nduk?"


"Sampun (sudah) Mak. Asih ternyata ketinggalan diluar kemarin lupa bawa masuk kamar, untung dibawa masuk Mas Aji."


"Kamu tu teledornya ndak (tidak) pernah hilang. Sekarang kamu siapkan dulu semua perlengkapan sekolah kamu Nduk."


"Injeh (iya) Mak."


"Aji kamu sudah selesai siap-siapnya Le?"


"Sampun (sudah) Mak."


"Mamak minta tolong kamu panggil Bapakmu didepan kita sarapan sama-sama."


"Injeh (iya) Mak."


"Semua sudah siap buat sarapan?"


"Sampun (sudah) Bapak."


"Kalau gitu mari sarapan biar nanti kalian ndak (tidak) telat masuk sekolahnya."


"Injeh (iya) Bapak."


"Le Aji kamu sudah lihat brosur sekolah yang Bapak berikan kemarin?"


"Sampun (sudah) Pak."


"Gimana kamu berminat sekolah di sana?"


"Sepertinya Aji sekolah negeri saja Pak, walau agak jauh ndak (tidak) apa-apa."


"Kenapa Le? Kamu ndak (tidak) suka sekolah di tempat kerja Bapakmu itu?"


"Bukan ndak (tidak) suka Mak hanya, di sana terlalu mahal."


"Kamu ndak (tidak) perlu khawatir Le Bapak sudah bilang sama salah satu guru di sana. Selama nilai kamu bagus kamu bisa masuk gratis. Tinggal nanti bawa rapot kamu saja bisa langsung masuk sekolah itu, karena kamu kan selalu rangking 1."


"Boleh Aji memikirkannya dulu Pak? Aji mau fokus ke ujian dulu."


"Tentu Le, itu cuma referensi buat kamu dulu, jadi kamu sudah tahu kalau kamu bisa sekolah ditempat bagus juga."


"Sekolah negeri juga bagus Pak buktinya Asih sama Mas Aji tetap bisa rangking 1 terus, ya kan Mas."


"Betul sekali Dek."


"Nah gitu dong akur, lihat Pak mereka lagi akur seneng lihatnya ya Pak."


"Iya Mak."


"Tapi yang Asih bilang benar kan Mak?"


"Iya Nduk cah ayu (anak cantik) kamu benar sekali. Kalau kamu lebih nyaman di sekolah negeri juga ndak (tidak) apa-apa Le, yang sekolah kamu jadi kamu yang tahu enaknya bagaimana. Yang penting pesan Mamak kalian rajin sekolah mengerti."


"Injeh (iya) Mak mengerti."


"Injeh (iya) Mak."


"Ya sudah ayo lanjut sarapannya lalu segera berangkat sekolah kalian dan Bapak berangkat kerja."


"AJI, AJI."


"IYO ENGKO SEK TUNGGU (ya bentar tunggu dulu)".


"Konco-koncomu (teman-temanmu) udah manggil Le."


"Injeh (iya) Mak."


"Ya sudah sana berangkat, hati-hati pas nyeberang jalannya nanti."


"Injeh (iya) Mak, Aji berangkat dulu Pak."


"Iya hati-hati yo Le."


"Injeh Pak. Aji berangkat dulu ya Mak."


"Iyo Le Ngati-ati (hati-hati)."


"Mas berangkat dulu Dek."


"Iya Mas, jangan lupa."


"Lupa apa Dek."


"Sepatunya diajak kenalan nanti sama teman-teman Mas hehehe"


"Kamu lho Dek ada-ada saja."


"Pak, Mak, Aji berangkat."


"Iya Le."


"Iya Le."


"Kamu juga segera habiskan sarapannya terus berangkat sama Bapakmu, nanti telat."


"Injeh (iya) Mak."


"Kalau Aji mau sekolah di tempat Bapak dia ndak (tidak) perlu berangkat pagi-pagi seperti ini nanti."


"Sudah Pak biar Aji fokus ujian dulu nanti kita bicarakan lagi sama Aji. Mamak tahu Bapak pingin anak kita mendapat pendidikan terbaik kan."


"Iya Mak, Bapak pingin anak-anak kita sekolah yang tinggi biar ndak (tidak) jadi seperti Bapaknya yang cuma tukang sampah."


"Tenang Pak Asih nanti bakalan jadi dokter, jadi nanti Bapak ndak (tidak) usah kerja lagi. Kata bu guru kalau jadi dokter uang Asih bakalan banyak."


"Maksudnya gimana Mak?"


"Kamu benar Nduk jadi dokter itu bisa membuat kita banyak uang karena biaya berobat itu mahal dan badan sehat memang mahal harganya. Tapi ndak (tidak) semua orang punya uang untuk berobat. Jadi Mamak lebih suka kamu jadi dokter yang lebih mementingkan menolong tanpa memikirkan imbalan. Itulah kenapa pekerjaan sebagai dokter bisa disebut pekerjaan mulia Nduk."


"Oalah gitu ya Mak, tapi kalau nanti Asih dapat pasien orang kaya Asih juga ndak boleh nolak kan Mak. Jadi nanti kalau pasien Asih orang nya kaya Asih minta biaya yang mahal kalau orang ndak (tidak) punya nanti Asih akan obati gratis tenang saja Mak."


"Iya Nduk."


"Sudah ayo kita berangkat Nduk, nanti kamu telat sekolahnya. Bapak pergi dulu Mak."


"Iya Pak hati-hati."


"Asih berangkat sekolah dulu Mak."


"Iya hati-hati Nduk, nanti pulang langsung pulang lho mainnya setelah ganti baju sama makan siang mengerti."


"Injeh (iya) mengerti Mamak."


"O ya Pak nanti ada pertemuan RT di rumah Mang Yadi, kemarin Tarno kesini ngasih undangan Mamak lupa bilang Bapak semalam."


"Jam berapa Mak pertemuannya?"


"Jam 7 malam nek ndak (kalau tidak) salah. Kok tumben pertemuan lagi Pak, bukannya baru minggu kemarin sudah ada pertemuan RT?"


"Ndak tahu Mak, kalau sampai ada pertemuan dadakan pasti ada yang mendesak. Ya sudah Bapak sama Asih berangkat dulu ya Mak."


"Injeh (iya) Pak."


"Da da Mamak."


"Iya ingat hati-hati Nduk."


Pagi yang cerah mengiringi anak-anak Dusun Undayan untuk berangkat ke sekolah. Letak Dusun yang berada dipusat kota dan diapit oleh 2 kawasan kompleks Dusun Elit menjadikannya minim sarana umum. Sarana umum penunjang di Dusun Undayan sendiri hanya ada sebuah sekolah dasar (SD) dan sebuah puskesmas pembantu yang bila dilihat letaknya sebenarnya tidak layak karena berada di bawah jembatan kereta api. Karena di apit oleh Dusun Elit, Dusun Undayan pun serperti kekurangan lahan, ditambah padatnya penduduk yang tinggal di Dusun Undayan menjadikan Dusun sangat padat. Sehingga membuat Dusun tersebut terlihat kumuh dan tidak layak huni. Karena mini lahan Dusun Undayan tidak memiliki sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Bila anak-anak Dusun Undayan telah lulus dari SD mereka akan melanjutkan bersekolah diluar Dusun yang letaknya cukup jauh dari Dusun Undayan. Walaupun sebenarnya di Dusun Elit juga terdapat sekolah-sekolah yang sangat bagus dan berkelas, tapi tidak pernah ada gambaran keinginan dari anak-anak Dusun Undayan untuk bersekolah di sekolah Dusun Elit. Kebanyakan mereka tidak ingin berurusan dengan kalangan elit karena hampir semua orang dari Dusun Elit sangat tidak bersahabat dan sombong. Ditambah lagi biaya sekolah yang mahal tidak dapat di jangkau oleh warga Dusun Undayan.


"Sepertinya setelah lulus SMP ini aku akan masuk SMA Antasari."


"SMA Antasari kan ada di Dusun Mbaru jaraknya 3 Dusun dari sini apa ndak (tidak) kejauhan kamu Pri?"


"Ndak (tidak) juga kalau aku tinggal di rumah Mbah Buyut ku."


"Kamu mau tinggal sama Mbah mu Pri?"


"Kayaknya. Habis gimana lagi nanti kalau Dusun benar-benar digusur kan aku sama keluargaku pindah ke tempat Mbah Buyut ku."


"Emang Dusun mau digusur Pri?"


"Kamu belum dengar Ji dari Bapakmu?"


"Belum memang kenapa kita mau digusur?"


"Dusun Elit mau perluasan kawasan, jadi katanya nanti Dusun Elit Wetan mau digabung sama Dusun Elit Kulon jadi satu Dusun Elit gitu."


"Terus apa hubungannya sama Dusun kita Pri mereka yang mau gabung kenapa kita digusur?"


"Hei Dudung Mardung binti Kasdung. Lihat Dusun kita ini ada ditengah-tengah antara Dusun Elit Wetan dan Dusun Elit Kulon nah kalau mau digabung berarti kan yan lewat Dusun kita."


"Tapi kenapa harus digusur kan tinggal digabung saja sama Dusun kita bereskan ya ndak (tidak) Ji?"


"Ndak (tidak) segampang itu Dung, mereka ndak (tidak) akan mau bila kita masuk kalangan mereka. Ingat di Dusun kita tidak ada kalangan ningrat kita semua cuma orang biasa. Mereka ndak (tidak) akan sudi disandingkan dengan kita semua."


"Benar kata Aji, kamu tahu sendiri Dung seberapa sombong mereka terhadap kita. Makannya mereka akan mencari bagaimana caranya agar Dusun Kita bisa digusur."


"Lalu pihak RT dan RW bagaimana Pri?"


"Aku juga ndak tahu Ji, cuman kemarin hasil rapat RT di rumahku imbang antara yang mau digusur dan yang ndak (tidak) mau digusur."


"Memang apa yang ditawarkan Dusun Elit kalau kita mau digusur Pri?"


"Ganti rugi sebesar harga tanah kawasan elit."


"Wah lumayan kalau gitu, tanah dikawasan elit kan mahal-mahal."


"Iya Dung tapi tanah rumah kita kan ndak (tidak) besar-besar seperti kawasan elit. Lihat rata-rata rumah kita cuma 3-5 petak tetap ndak (tidak) banyak ganti ruginya nanti."


"Iya Ji kebanyakan yang nolak kemarin itu yang rumahnya cuma 3 petak. Mereka keberatan kalau harus cari rumah baru karena rumah sekarang mahal-mahal. "


"Kalau kayak kamu sama Aji masih mending Pri, masih punya nenek sama kakek di Dusun yang lain. Kalian bisa pindah ke sana ibaratnya balik kampung, nah aku sama keluargaku. Semua keluargaku kan ada di Dusun kita kalau nanti digusur bisa susah keluargaku."


"Ya seperti yang aku bilang tadi Dung kebanyakkan yang nolak yang senasib sama keluargamu Dung. Tapi ndak (tidak) ada salahnya kita buat siap-siap kalau nanti benar-benar digusur kamu tahu kan kerajaan kita itu ndak (tidak) pernah berpihak sama orang-orang seperti di Dusun kita. Makanya ibuku mau aku sekolah di SMA Antasari jadi setelah lulus nanti aku akan langsung mendaftar di sana. Kalau kamu Ji, mau ke Dusun Wunar tempat nenekmu. Di Sana juga ada SMA yang bagus apa namanya aku lupa?"


"SMA Bratuwar."


"Iya itu, kan katanya itu sekolah sistem militer sapa tau nanti kamu bisa jadi panglima Ji hehehe."


"Aku belum memikirkan Pri, mau fokus ujian dulu saja."


"Kalau Aji mah sekolah dimana saja kayaknya gampang orang dia pinter rangking satu terus. Bahkan aku yakin kalau dia nekat sekolah di SMA elit pasti juga bakalan diterima Pri."


"Benar juga, tapi kalau opsi terakhirmu tadi kayaknya pikir-pikir lagi deh kita dari Dusun Undayan mau masuk SMA elit. Aduh mending ndak (tidak) sekolah saja kalau aku."


"Benar, aku juga mungkin ndak (tidak) akan mau sekolah lagi serem tiap hari ketemu anak-anak sombong dan menyebalkan, ih amit-amit."


"Sudah ndak (tidak) usah dibahas lagi, sekarang mending kita fokus sama ujian kita nanti."


"Iya Ji."


"Siap Ji."


"AJI."


"Selamat pagi Ibu, Tari."


"Selamat pagi Le, kamu mau berangkat ke sekolah Ji?"


"Injeh (iya) Ibu."


"Mau bareng sama kita ndak (tidak) Mas Aji."


"Ndak (tidak) usah Tari, nanti merepotkan."


"Ndak (tidak) apa-apa Le, kebetulan Ibu mau nyusul ke kantor Bapak sehabis mengantar Tari. Sekolahmu searah sama kantor Bapak ayo ikut Ibu saja ajak juga teman-temanmu."


"Apa ndak (tidak) merepotkan Ibu?"


"Ndak (tidak) kalian juga ayo naik kita berangkat sama-sama."


"Tersuwun (terimakasih) Ibu."


"Sama-sama."


Di dunia itu pasti ada keanekaragaman individu, begitupun juga dengan sifat dan watak. Ada yang memiliki sifat dan watak buruk tapi ada juga yang memiliki sifat dan watak baik. Semua itu tergantung pada individu dari manusia masing-masing mau bagaimana mereka dalam hidup. Karena manusia selalu memiliki 2 pilihan, mau jadi baik atau buruk hanya manusia yang bisa tentukan.


Bersambung...