
"Kok tiba-tiba rasanya jadi gerah gini ya, padahal kita dibawah pohon rimbun lho."
"Bener Pri, terus juga kalau dilihat-lihat mataharinya juga ndak (tidak) terik-terik amat ya. Kok gerah banget rasanya."
"Itu tandannya mau hujan mas Dung."
"Hujan gimana dek Asih lihat ini cerah berawan dan ndak (tidak) kelihatan mendung gitu kok, ndak (tidak) mungkin hujan."
"Tapi kata bapak kalau badan kita kerasa gerah padahal matahari sedang tidak kelihatan katanya itu salah satu tanda-tanda mau hujan mas Dung."
"Emang iya Ji?"
"Iya benar."
"Kok bisa?"
"Kalian sudah tahukan proses terbentuknya awan? Nah ketikan akan hujan awan akan mengeluarkan uap panasnya agar bisa terbentuk air hujan. Energi panas yang dikeluarkan awan saat itu yang membuat kita merasa gerah dan panas sebelum hujan turun."
"O gitu ya Ji. Kamu memang pintar Ji, tahu segalanya."
"Ya iyalah mas nya siapa dulu, mas nya Kalasih."
"Iya dek Asih."
"Tunggu apa menurutmu benar habis ini bakalan turun hujan Ji?"
"Belum tahu kalau di rasa dari gerahnya kemungkinan bakal turun hujan ada."
"Kalau benar bakalan turun hujan bisa gawat kita Ji, disini terlalu berbahaya saat hujan datang."
"Eh tapi sekarang kan masih cerah liat, walau sedikit berawan tapi bukan awan mendung. Masa kita balik ke dusun ikan aja belum dapat."
"Menurutmu gimana Ji?"
"Kalau hujan itu memang berbahaya untuk kita memancing tapi kalau dilihat di langit masih cerah berawan kayaknya belum akan hujan Pri."
"Terus kita gerah karena apa Ji?"
"Aku juga ndak (tidak) tahu Pri, lha terus gimana enaknya kita pulang ke dusun apa disini dulu nanti kalau kelihatan mendung baru balik ke dusun?"
"Emangnya kamu mau balik dusun Pri?"
"Belum mau sih Dung, kan belum dapat ikan tar ndak (tidak) jadi makan ikan bakar aku."
"Ya udah kita mancing dulu saja sebentar lagi, lagian kalau hujan katanya ada gua yang bisa buat kita berlindung."
"Iya ada di atas itu, guanya lumayan luas dan ada batu besar yang melindungi gua itu dari air sungai kecil jika meluap."
"Ya sudah kita tar ke gua itu aja dulu kalau dah terlanjur hujan."
"Tapi kayaknya kita harus segera naik ke gua itu deh mas."
"Kenapa dek?"
"Lihat di sana itu."
"Wah awannya hitam banget di utara sana, wah pasti bakalan hujan badai itu."
"Gimana Ji, kita pulang sekarang aja apa gimana?"
"Kalau pulang sekarang akan berbahaya Pri, jalan menuju dusun kita kan menyusuri sungai kecil kalau benar hujan badai akan terjadi bisa jadi sungai kecil akan meluap."
"Lalu kita harus gimana?"
"Kita bereskan semua peralatan mancing kita dan segera mungkin menuju gua yang kamu maksud tadi. Setidaknya kita bisa melalukan perlindungan seperlunya saat kita sudah berada di gua itu. Jadi ayo segera bergegas bereskan semua."
"Oke Ji."
"Siap Ji."
"Adek kamu tunggu di dekat jalan menuju gua dulu, mas mau beresin ini dulu. Hati-hati jalan ke sana nya batunya banyak yang tajam, mengerti."
"Iya mas Aji."
Mereka segera bergegas membereskan peralatan pancing mereka. Awan hitam yang semakin terlihat membuat mereka ingin segera sampai di gua itu sesegera mungkin.
"Semua sudah beres?"
"Sudah Ji."
"Dalam perjalan ke gua nanti ambil kayu kering sebayak mungkin bila ada sesuatu yang bisa dimakan ambil juga. Kita ndak (tidak) tahu berapa lama hujan itu akan berlangsung jadi tidak ada salahnya untuk membuat persiapan."
"Siap Ji."
"Adek kamu jalan di belakang mas, ikuti jalan mas mengerti dan jangan lupa pegang baju mas."
"Iya mas Aji."
Mereka berjalan dan memanjat agar segera sampai di gua tersebut. Gua yang letaknya cukup tinggi yang mampir setara dengan daerah Dusun Elit itu memiliki akses yang lumayan mudah. Seperti telah terbiasa didatangi oleh manusia jalan setapak sedikit terbentuk mempermudah mereka untuk segera menunju gua tersebut. Di sepanjang jalan juga terdapat beberapa tanaman dan buah yang dapat di konsumsi, itu dapat menjadi perbekalan mereka selama berada di dalam gua. Setelah sekitar 20 menit berjalan awan hitam akhirnya telah tiba di atas mereka.
"Sebaiknya kita segera bergegas awan hitam sudah sampai disini."
"Ayo lebih cepat lagi kita akan segera sampai."
Setelah beberapa saat sampailah mereka di gua tersebut. Tidak di sangka gua tersebut yang terlihat kecil dari luar ternyata cukup luas didalamnya. Dan gua tersebut memiliki cekungan yang dapat melindungi mereka dari air hujan dan air sungai yang meluap. Gua tersebut adalah pilihan tepat bila hujan badai benar akan terjadi.
"Gua ini jauh lebih baik dari yang aku bayangkan. Kita akan aman berada disini bila badai datang."
"Iya Ji, pantas saja mas Asdi bilang kita aman mancing dibawah sana ternyata ada gua ini diatasnya."
"Ya sudah ayo kita mulai persiapan, pertama lebih baik kita kumpulkan beberapa batu ukuran tanggung sebelum hujan mulai turun."
"Buat apa Ji batu-batu itu?"
"Buat bendungan sisi kiri gua Dung, lihat cela itu. Cela itu bisa membuat air hujan masuk karena kontur batu yang didalam gua lebih rendah dari yang diluar gua bisa jadi sat hujan lebat air akan masuk kedalam gua,b bisa jadi banjir nanti dalam gua ini. Dek Asih kamu bawa makanan kita ini ke atas batu besar itu, hati-hati naiknya ya."
"Iya mas Aji."
"Ayo kita mulai kumpulkan beberapa batu."
"Oke Ji."
"Siap Ji."
Mereka bergegas mengumpulkan batu-batu yang dapat membantu membendung air hujan agar tidak masuk kedalam gua mereka.
Di atas mereka mulai terlihat beberapa orang yang juga sama paniknya dengan anak-anak tersebut. Pesta yang dilakukan secara outdoor tidak pernah membayangkan akan turunnya hujan. Langit cerah dan prakiraan cuaca yang mendukung membuat mereka berani melakukan pesta bertema outdoor. Tidak di sangkan pesta yang harusnya meriah harus segera dibubarkan karena tamu yang tak diundang yaitu hujan datang.
"Maaf pak Direktur langit sangat gelap sepertinya akan segera turun hujan."
"Kamu bilang hari ini cuaca akan cerah hingga malam, kenapa malah sekarang jadi sangat mendung."
"Maaf pak Direktur perkiraan cuaca memang telah menyebut selama bulan ini tidak akan turun hujan karena ini masuk puncak musim kemarau. Saya tidak tahu kalau akan meleset dari prakiraan cuacanya."
"Lalu kita harus bagaimana sekarang, acara ini belum mencapai puncaknya, bahkan artis ibu kota yang kita bayar mahal-mahal itupun belum tampil."
"Ini semua karena warga Dusun Undayan itu datang ke acara kita, lihat acara kita jadi berantakan mereka memanglah pembawa sial."
"Sudah jangan bicara omong kosong kamu, bagaimana mungkin warga dusun rendahan itu dapat membawa kita dalam kesialan apa hebatnya mereka."
"Tapi lihatlah bang Hasta, tadi cuaca cerah menyelimuti kita sekarang setelah mereka datang langit seketika menjadi gelap seperti badai akan segera datang."
"Bodoh bila kamu memiliki paham itu berarti sama saja kamu bilang bahwa mereka lebih hebat dari kita karena bisa mendatangkan kesialan untuk kita. Ingatlah Gunawan dalam kasta apa pernah ada sebuah cerita bahwa kasta rendah dapat mengusik kasta tinggi. Kita beda kasta dengan mereka jadi mana mungkin mereka membawa sial untuk kita, yang ada adalah sebaliknya kita lah yang akan membawa sial untuk mereka mengerti."
"Mengerti bang Hasta maaf, atas kesalahan saya saat berbicara."
"Oke sekarang yang harus kita lakukan adalah tetap pada rencana kita. Acara ini akan tetap kita lanjutkan sesuai rencana awal."
"Tapi hujan akan segera tiba pak Hasta, apa itu tidak menjadi masalah kita sedang berada di outdoor bukan?"
"Itu benar pak Doni, tapi ingat tujuan acara awal kita adalah memperkenalkan alat baru yang ada bawa dari negara biru bukan?"
"Benar pak Hasta, dan kita belum sempat memperkenalkan alat tersebut karena kedatang Sultan Lor."
"Maka kita harus tetap pada acara awal kita, tidak usah takut hujan dan badai yang belum terjadi. Dan justru kita dapat memanfaatkan hujan dan badai itu untuk demo alat itu bukan."
"Tentu pak Hasta, tapi akan menjadi masalah bila alat itu langsung dicoba dalam kondisi hujan lebat. Sungai kecil akan meluap sangat tinggi bila kanal pintu utara tidak dibuka maka bisa dipastikan Dusun Undayan akan terendam air."
"Tidak masalah justru baik untuk kita bukan, Gunawan sekarang aku akan bertanya kepadamu setelah hujan turun siapa yang akan sial kita ataukah warga bawah?"
"Dusun bawah bang Hasta."
"Maka dari itu jangan suka asal berbicara kamu, bagaimana mungkin kaum rendahan bisa menyebabkan sial kepada kaum berkasta tinggi. Ingat Gunawan status kita lebih tinggi dari mereka, jadi jangan pernah bandingkan kita dengan mereka."
"Maaf bang Hasta, saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Baiklah pak Doni saatnya kita lanjutkan acara ini dan mari kita nikmati acara selanjutnya."
"Baik pak Hasta. Kalian dengar semua kembali ke posisi masing-masing acara akan kita lanjutkan."
"Baik pak Direktur."
Segera terdengar pengumuman bahwa acara akan segera dimulai lagi, dengan suguhan hiburan artis ibu kota. Maka kembalilah antusias para hadirin tanpa memperdulikan alam sekitar. Awan hitam tidak lagi menjadi hal yang dikhawatirkan saat artis favorit mereka mulai beraksi.
Bersambung..