JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
28



Di luar balai Dusun Undayan, terdapat banyak anak kecil hingga remaja yang sedang melakukan pemanasan. Mereka adalah anak-anak muda yang sedang berlatih seni beladiri asli warisan JAWANAKARTA yaitu Pencak Silat. Mereka adalah generasi muda yang sangat menghargai warisan dari leluhur dan selalu menjaga dan melestarikan segala budaya dan warisan yang ditinggalkan oleh leluhur mereka. Salah satunya adalah Pencak Silat seni bela diri asli dari JAWANAKARTA yang dikenal hingga negara-negara utara dan selatan. Ditengah banyaknya seni beladiri dari berbagai negara di dunia seni Pencak Silat tetap di lestarikan oleh generasi muda yang ada di Dusun Undayan.


"Mang Gani kita jadi tampil di Pesta Budaya Dusun kita?"


"Jadi to Le. Mang ada apa kok kita ndak (tidak) jadi tampil?"


"Katanya kita mau digusur Mang jadi kemungkinan Pesta Budaya ndak (tidak) jadi di adakan."


"Itu masih belum pasti Le, jadi kita akan tetap pada jadwal yang telah dibuat."


"Sugeng Ndalu (selamat malam) PakLek Gani."


"Wengi (malam) Le, kamu sudah sampai Kaliaji eh ada Kalasih cah Ayu kamu ikut kesini Nduk?"


"Injeh (iya) PakLek."


"Yo wis (ya sudah) kamu lihat di samping lapangan sama Sri dan Lasmi."


"Injeh (iya) PakLek."


"Kamu Le Kaliaji ikut barisan dan mulai pemanasan ya Le."


"Injeh (iya) PakLek."


"SEMUA PERHATIAN. KALIAN LAKUKAN PEMANASAN DENGAN BENAR AGAR TIDAK ADA LAGI YANG MENGALAMI CEDERA. MENGERTI."


"MENGERTI MANG GANI."


"Aji, mrene wae (sini saja) pemanasane (pemanasan nya). Kamu dah tahu kalau SD Dusun kita diliburkan sementara Ji?"


"Sudah, tapi baru tahu ikie mau (ini tadi). Memang sebenarnya ada apa sama SD Dusun kita Pri?"


"Katanya mau di gusur buat jalan proyek nanti, soalnya letaknya pas di samping jalan utama."


"Di gusur? Bukannya masih wacana Dusun kita mau di gusur Pri?"


"Aku juga kurang tahu Ji, tapi kemarin katanya sudah datang beberapa orang Dusun Elit yang datang membawa surat resmi dari Kerajaan."


"Membawa surat resmi dari Kerajaan?"


"Iya Ji, katanya pihak kerajaan telah menyetujui kesepakatan yang ditawarkan Dusun Elit kepada warga Dusun kita."


"Tapi bukanya itu ndak (tidak) adil untuk warga Dusun kita kan Ji, Pri?"


"Iya Dung, sangat malahan. Untuk warga yang asli leluhurnya berasal dari Dusun ini, itu sangat tidak adil. Selain mereka harus pergi dari tanah leluhur mereka kompensasi dari Dusun Elit juga tidak cukup untuk mereka membeli rumah baru."


"Lalu apa ada solusi dari Kesultanan Lor Pri?"


"Belum tahu Ji, karena hari ini itu mereka datangnya dadakan dan kata mereka mau memberi peringatan kepada warga Dusun kita untuk bersiap-siap dulu. Karena beberapa perwakilan Dusun Elit telah menyerahkan surat resmi kerajaan ke Kesultanan Lor."


"Itu bukan peringatan, tapi ancaman aku yakin itu."


"Sudahlah Dung kita serahkan segala permasalahan ini kepada orang dewasa saja, kita masih terlalu kecil untuk ikut campur."


"Tapi Pri, seperti yang aku bilang tadi pagi. Kalau keluargaku diusir dari sini kami ndak (tidak) punya tempat lagi untuk tinggal. Bagaimana aku bisa tenang Pri."


"Marah dan kecewa wajar Dung, tapi ingat amarah hanya akan memperburuk segalanya. Amarah tidak akan pernah menjadi solusi Dung, benar kata Japri kita masih terlalu kecil untuk dapat mengatasi permasalahan ini, serahkan saja masalah ini kepada orang dewasa Dung. Dan kita bisa bantu lewat doa, pasrahkan saja pada Sang Pencipta Alam Semesta."


"Benar yang dikatakan Aji Dung."


"SEMUA SUDAH SELESAI PEMANASAN SEKARANG BUAT FORMASI MERPATI TERBANG KITA AKAN SEGERA MULAI LATIHAN."


"BAIK MANG GANI."


Malam yang dingin mengiringi latihan Pencak Silat dari anak-anak muda Dusun Undayan. Anak-anak generasi penerus bangsa yang belum tahu arti kejamnya duni mereka hanya tahu bahwa dunia adalah tempat yang indah dan aman tanpa tahu dan memikirkan akan hari esok. Ya benar itulah anak-anak, mereka berhak atas kebahagiaan dan keamanan dan mereka tidak boleh dilibatkan dalam berbagai permasalahan. Karena kewajiban seorang anak adalah bahagia.


"Bagaimana ini Sultan, kita sudah tidak dapat menolong warga Dusun Undayan. Surat ini jelas mengatakan bahwa kerajaan memberi hak penuh kepada Dusun Elit untuk menggusur Dusun Undayan."


"Aku pun juga tidak tahu Tris, kamu tahu bukan titah kerajaan adalah mutlak bagi kita bila kita menolak surat tersebut kita bisa disebut pemberontak dan berkhianat."


"Tapi apa kita akan diam saja melihat warga Dusun Undayan digusur Sultan."


"Tentu tidak Tris, bagaimana aku akan bisa hidup tenang bila melihat ketidak adilan tepat didepan mata langsung Tris."


"Lalu apa anda telah memiliki solusi Sultan."


"Ada tapi masih belum pasti Tris."


"Maksud Sultan? Maaf saya banyak bertanya hanya saja melihat perwakilan Dusun Elit tadi masih membuat saya marah Sultan. Mereka hanyalah manusia tapi lihatlah mereka terlalu sombong untuk ukuran manusia."


"Tidak apa-apa Tris siapapun orang baik yang berhadapan dengan mereka pasti akan memiliki amarah atas tingkah mereka tadi. Yang tidak memiliki amarah hanya mereka yang memiliki kesombongan dan pemikiran yang sama."


"Lalu apa rencana anda Sultan."


"Aku telah berbicara kepada Sultan Kidul tetang migrasi ke kota Kidul."


"Migrasi Sultan, anda akan memindahkan warga Dusun Undayan ke Kota Kidul Sultan?"


"Ya Tris, harga tanah di sana masih terhitung murah terlebih di sana masih banyak tanah lapang. Mereka bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak dari pada di Kota Lor."


"Apakah itu bisa Sultan, maksudnya pihak Kota Kidul mau menerima rencana anda Sultan?"


"Sultan Kidul telah memberi ijin, akan tetapi pihak Kesultanan Kidul masih belum memberi kepastian letak tanah kosong untuk Dusun Undayan. Karena aku meminta dipersiapkan lahan maksimal 1 hektar."


"1 hektar itu sangat luas Sultan. Sedangkan besar Dusun Undayan tidak sampai setengah hektar."


"Benar Tris tapi apa kamu lihat bagaimana kondisi Dusun Undayan, Dusun tersebut terlalu padat. Mereka bahkan tidak memiliki fasilitas umum yang memadai."


"Tapi bagaimana dengan ganti rugi lahan kepada Kota Kidul Sultan. 1 hektar bukalah sesuatu yang sedikit bila dihitung menggunakan mata uang."


"Maka dari itu Tris, aku telah menghubungi Sultan Kidul untuk mempercepat pencarian lahan untuk migrasi Dusun Undayan. Karena kita baru bisa bertindak menolong mereka saat kita telah memiliki lahan pengganti untuk Dusun Undayan."


"Maaf Sultan saya kurang mengerti maksud Sultan."


"Tris lihatlah surat resmi kerajaan itu, pada poin bila pihak pertama dan kedua tidak mencapai mufakat hingga akhir, maka pihak pertama dan pihak kedua harus."


"Menerima solusi apapun yang ditawarkan pihak Kesultanan Lor sebagai penanggungjawab wilayah Kota Lor. Dan baik pihak pertama dan pihak kedua wajib untuk menerima dan menjalankan solusi tersebut. Jadi maksud Sultan, Sultan akan memberi solusi migrasi untuk warga Dusun Undayan dengan meminta kompensasi pembayaran tanah kepada Dusun Elit?"


"Benar Tris hanya itu yang bisa aku berikan untuk melindungi warga Dusun Undayan. Bila aku tetap mempertahankan mereka di tempat itu hanya akan semakin menyudutkan mereka. Orang-orang Dusun Elit akan terus mencari cara untuk mengusir warga Dusun Undayan."


"Lalu bagaimana kalau warga Dusun Undayan menolak untuk migrasi Sultan?"


"Kita harus memaksa mereka Tris, walaupun kita bisa dianggap jahat dan berpihak pada Dusun Elit tapi hanya ini satu-satunya solusi untuk warga Dusun Undayan."


"Saya akan membantu meyakinkan warga Dusun Undayan Sultan. Besok perwakilan dari Dusun Undayan pasti datang kemari dan saya sendiri yang akan menemui mereka dan menjelaskan semuanya kepada mereka Sultan."


"Tidak Tris, biar aku saja yang menemui mereka dan menjelaskan segalanya ke mereka."


"Tapi Sultan, anda tidak perlu..."


"Perlu Tris, aku adalah Sultan Lor pemimpin dan penanggungjawab wilayah Kota Lor. Jadi sudah semestinya aku yang menemui mereka, karena mereka adalah salah satu tanggungjawab ku bukan."


"Baik Sultan, besok saya akan mendampingi Sultan, saya akan membantu sebisa mungkin agar mereka mau bermigrasi ke Kota Kidul."


"Terimakasih Tris."


"Sultan tidak perlu cemas segala niat baik pasti akan dimengerti oleh orang-orang baik. Dan saya yakin warga Dusun Undayan adalah orang-orang yang baik."


"Semoga Tris."


Tok tok tok (suara ketukan pintu)


"Permisi sebentar Sultan."


"Ada apa Sari?"


"Maaf Pak Trisno, ada berita penting dari Dusun Tanggul mereka meminta untuk segera disambungkan kepada Sultan Lor."


"Tunggu sebentar."


Trisno berlari masuk kedalam kantor Sultan Lor.


"Sultan ada berita penting dari Dusun Tanggul, mereka ingin segera disambungkan kepada anda Sultan."


"Segera sambungkan Tris."


"Baik Sultan."


Trisno mengangkat gagang telepon dan menghubungi Sari di meja resepsionis.


(Dalam sambungan telepon)


"Halo Sari, segera sambungkan."


"Baik Pak Trisno."


"…"


"Halo apakah sudah terhubung dengan Sultan Lor?"


("Silahkan Sultan.")


"Halo kepala Dusun Tanggul, saya Sultan Lor bagaimana?"


"Selamat malam Sultan Lor, maaf menghubungi malam-malam ada berita yang harus saya sampaikan kepada anda."


"Tidak apa-apa Kepala Dusun Tanggul, saya akan selalu siap kapanpun anda hubungi saya karena sayalah yang minta bantuan kepada anda dan para Kepala Dusun Kota Lor. Apakah sudah ada kemajuan Kepala Dusun Tanggul."


"Kemungkinan kita telah menemukan Sang ANDARA LOR dan Sang DARANI LOR Sultan."


"Kalian telah menemukanya?"


"Masih kemungkinan Sultan kita perlu memastikan nya terlebih dahulu."


"Lalu dimana mereka Kepala Dusun Tanggul."


"Di Dusun Undayan Sultan. Mereka adalah anak-anak dari keluarga Kastiar salah satu warga dari Dusun Undayan."


"Mereka berada di Dusun Undayan? Dan bagaimana kalian akan memastikannya Kepala Dusun Tanggul?"


"Kami memiliki beberapa pusaka peninggalan Sang DARANI LOR Sultan, pusaka itu yang akan membuktikan apakah benar anak tersebut adalah Sang DARANI LOR."


"Tunggu sebentar apakah Kepala Dusun Undayan telah menerima berita dari Dusun Undayan?"


"Maaf Sultan, bagaimana maksud anda saya kurang mengerti."


"Bisakah anda menanyakan kepada Kepala Dusun Undayan apakah dia telah menerima kabar tentang Dusun Undayan."


"Baik Sultan saya akan tanyakan mohon tunggu sebentar."


"…"


"Maaf Sultan kepala Dusun Undayan belum menerima kabar apapun dari Dusun Undayan. Sejujurnya kami memang mengadakan rapat yang sangat tertutup."


"Baiklah bilang kepada Kepala Dusun Undayan untuk segera bersiap datang ke kantor Kesultanan Lor secepat mungkin. Ada masalah mendesak yang harus segera ditangani, dan untuk keluarga Kastiar kirim informasi lebih lanjut tentang kelurga tersebut serahkan pada pihak Kesultanan kami yang akan mengevakuasi mereka dan menjaga mereka hingga kalian dapat memastikannya."


"Baik Sultan, saya akan segera sampaikan kepada Kepala Dusun Undayan dan juga segera mengirim informasi tentang keluarga Kastiar kepada anda."


"Baik saya tunggu informasinya dan jangan lupa siapkan segalanya agar kita dapat segera memastikan Sang Pancang Lor, agar kita dapat menyerahkannya kepada Mbah AGENG."


"Baik Sultan kami akan menyiapkannya dengan sebaik mungkin."


"Terimakasih Kepala Dusun Tanggul dan sampaikan juga terimakasih ku kepada Kepala Dusun yang lain."


"Baik Sultan, kalau begitu saya sudahi sambungan ini Sultan, saya akan segera mengirim informasi kepada anda Sultan."


"Baik Kepala Dusun Tanggul saya tunggu."


Sambungan telepon terputus.


"Bagaimana Sultan Lor?"


"Kita menemukannya Tris Sang Pancang Sang ANDARA LOR."


"Puji Kepada Sang Pencipta Alam Semesta, itu adalah berita bagus Sultan."


"Tapi kita masih harus memastikannya terlebih dahulu Tris."


"Bagaimana cara memastikannya Sultan."


"Para Kepala Dusun telah memiliki pusaka peninggalan Sang DARANI LOR dulu dan pusaka itu yang dapat memastikannya nanti."


"Lalu dimana Sang Pancang Lor berada Sultan?"


"Di Dusun Undayan Tris."


"Dusun Undayan, bukanya Dusun itu..."


"Benar Tris, dan adanya benar bahwa Sang Pancang lahir dari penderitaan dan ketidak adilan. Warga Dusun Undayan memanglah salah satu korban dari ketamakan sang penguasa bukan."


"Dan itu alasan kenapa para Pancang tidak pernah tertulis dalam sejarah negara kita Sultan, itu semua telah membuktikan bahwa setiap periode kekuasaan pasti akan ada masa kebobrokan yang akan menyengsarakan rakyat."


"Benar Tris, kita harus segera mengevakuasi mereka dari Dusun Undayan secepat mungkin. Kita harus menyelamatkan mereka dulu, karena dengan begitu kita baru bisa memastikan benar atau tidaknya mereka adalah Sang ANDARA LOR dan Sang DARANI LOR."


Tok tok tok (suara pintu diketuk)


"Masuklah."


"Permisi Sultan ini ada beberapa berkas yang dikirim dari Dusun Tanggul untuk anda Sultan."


"Bawa ke sini Sari serahkan kepada ku."


"Baik Sultan."


Sari berjalan masuk dan menyerahkan berkas itu kepada Sultan Lor.


"Kamu boleh kembali Sari dan terimakasih."


"Baik Sultan Lor, saya permisi."


Sultan Lor melihat berkas yang diterimanya dengan terkejut, dan segera memberi perintah kepada Trisno.


"Tris. Segera evakuasi keluarga yang ada diberkas tersebut ketempat yang aman. Aku serahkan mereka kepadamu jaga mereka dan pastikan mereka berada ditempat yang yaman. Setelah itu hubungi aku lamgsung dimana lokasi kalian nantinya. Dan urusan antara Dusun Undayan dan Dusun Elit kamu tidak perlu menemaniku. Cukup kamu fokus pada keluarga yang ada di berkas itu mengerti!"


"Mengerti Sultan."


"Maka sekarang laksanakan bawalah beberapa prajurit Kesultanan Lor untuk menemanimu. Ingat pilih yang dapat kamu percaya. Kita tetap harus waspada pada semua."


"Sendiko Dawuh Sultan, kalau begitu saya undur diri untuk menyiapkan semua. Permisi Sultan."


Trisno segera meninggalkan kantor Sultan Lor untuk menyiapkan segala perintah dari Sultan Lor. Sepeninggalan Trisno, Sultan Lor merenung dan menerawang.


"Kamu memang akan menjadi anak yang hebat Le, Kaliaji."


Bersambung...