JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
34



Acara peresmian gorong-gorong kembali berlanjut walau hujan mulai deras menerjang. Setelah perform dari penyanyi ibu kota selesai sampailah mereka pada acara puncak yaitu demo alat yang mereka beli dari negara biru. Alat yang di gadang-gadang sebagai pemecah solusi banjir untuk kawasan Dusun Elit. Sebagian pengunjung acara memutuskan pulang karena hujan yang semakin deras, penyelenggara tetap pada jadwal semula untuk mendemokan alat penyedot air teknologi terkini dari negara biru. Dengan sikap sombong dan arogan para tetuah Dusun Elit segera memerintahkan teknisi dari negara biru untuk mempersiapkan semuanya. Salah satunya untuk membuka pintu kanal utara agar terdapat genangan air yang dapat disedot.


"Apa anda benar-benar yakin Pak Hasta. Ini laut lepas bila pintu itu di buka akan banyak air yang dapat masuk ke daratan."


"Tenang saja Sultan, kami memiliki teknisi handal dan jangan lupa alat penyedot ini memiliki kecepatan diluar nalar manusia. Kami membelinya dengan harga mahal dengan kualitas tinggi dari negara biru."


"Kami tahu bahwa alat anda mahal tapi bukan itu yang kami khawatirkan, ini air laut kita tidak dapat memprediksinya."


"Ada tidak perlu ikut campur Pak Juan, ini tidak ada urusannya dengan Dusun Undayan."


"Bagaimana ini tidak ada hubungannya saat pintu kanal utara dibuka air laut tidak hanya akan merendam Dusun anda saja tapi juga Dusun kami."


"Itu permasalahan anda bila anda tidak percaya dengan alat ini. Tapi kami warga Dusun Elit percaya akan kemampuan alat ini. Jadi jangan ikut campur disini, lihat saja kalau kalian mau."


"Kalian..."


"Sudah Pak Juan, mereka tidak akan mendengarkan kita."


"Sultan sebaiknya kita pergi ke tempat yang lebih tinggi dulu, bila mereka membuka pintu kanal daerah ini akan di terjang air laut pertama."


"Bagaimana dengan yang aku minta Trisno?"


"Utusan sudah menghubungi seluruh warga dusun Undayan sedang dievakuasi dan teknisi dari kantor tata ruang juga sedang dalam perjalanan kemari."


"Bagus, letak desa Undayan yang dikelilingi oleh Dusun Elit akan membutuhkan waktu hingga air laut sampai di Dusun Undayan. Semoga evakuasi dapat segera selesai, dan kita lihat apa yang akan mereka lakukan dengan alat kebanggaan mereka itu."


"Benar Sultan, mari kita segera bergegas berpindah ke daerah yang lebih tinggi."


"Tentu Trisno dan mari Pak Juan dan Pak Kasep kita harus segera menyingkir dari sini jangan khawatirkan warga Dusun Undayan tim evakuasi telah mengevakuasi mereka."


"Baik Sultan Lor."di "Hadirin yang terhormat mari kita langsung ke acara puncaknya, saat pintu kanal nanti kita buka. Kita akan melihat seberapa hebat alat ini dapat bekerja, jangan kaget anda sekalian bila nantinya hadirin sekalian akan melihat sebuah keajaiban. Alat sekecil ini akan dapat menaklukan air laut. Mari kita bersiap melihat. Baik teknisi buka pintu kanal sedikit saja agar air laut dapat masuk ke sini sehingga kita dapat melihat keajaiban alat ini."


Segera setelah aba-aba dari Direktur Utama pintu kana diturunkan. Seperti air bah seketika air laut berhamburan masuk daratan, berton-ton air tumpah ruah menerjang segala yang ada dihadapannya. Lokasi acara yang tadinya indah oleh dekorasi mewah berubah luluh lantah diterjang air laut utara. Tidak ada persiapan yang memadahi untuk berlindung mereka terlaku tamak dengan percaya pada alat buatan manusia itu. Jangankan menyedot air laut bahkan alat tersebut ikut tersapu air laut tidak dapat berfungsi lagi. Semua orang panik acara yang awalnya menyenangkan dan menggembirakan berubah menjadi mencekam. Banyak warga yang hanyut tersapu air laut utara. Mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di pelataran acara pun beberapa terguling dan hanyut diterjang air. Seperti tsunami yang menerjang daratan, air laut utara tidak dapat dibendung masuk menerjang daratan. Saat teriakan panik terdengar ditengah terjangan air laur utara, banyak orang tersapu hanyut terbawa air laut. Salah satunya Tari putri dari sang Panglima. Saat hendak menyelamatkan diri menuju daerah yang lebih tinggi tangan tari terlepas dari genggaman sang ayah tubuh kecilnya hanyut terbawa air. Sang ayah mencoba meraih tangan Tari tapi kekuatan air jauh lebih besar Tari terbawa air jauh dari sang ayah. Sang ibu berteriak kencang memanggil-manggil nama putrinya. Semua terjadi dengan cepat tanpa ada waktu manusia untuk bersiap. Itulah kekuatan alam, ingat alam bukan milik manusia melainkan manusia adalah milik alam sama seperti penghuni alam lainnya. Ketamakan dan kesombongan manusia yang akan menghancurkan manusia itu sendiri.


Beberapa kilometer dari tempat kejadian di sebuah gua yang berada di tepi pintu kanal terdapat 4 anak yang sedang berlindung dari hujan deras. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di atas mereka, tanpa berpikir bahwa keputusan mereka benar adannya dengan berlindung di gua tersebut. Bila mereka pulang bisa dipastikan mereka juga akan ikut tersapu air laut utara yang masuk saat pintu kanal utara dibuka.


"Lihat air sungai itu kenapa warna air sungai berubah?"


"Benar biasanya bila hujan deras air sungai akan berwarna coklat. Itu kenapa bisa berwarna biru seperti air laut."


"Itu memang air laut Pri."


"Apa kamu bilang Ji? Air laut? Bagaimana air laut bisa masuk ke sini, seluruh daerah utara telah di tutup tanggul-tanggul tinggi bukan."


"Mungkin ini jadwal banjir rob laut Pri."


"Tidak mungkin Dung, banjir rob itu tidak terjadi setiap tahun bukan, biasanya hanya terjadi 5 tahun sekali. Dan ingat tahun kemarin kita telah mengalami banjir rob."


"Aji benar Dung ini bukan banjir rob. Sepetinya ada yang tidak beres terjadi di pintu kanal."


"Apapun itu kita sebaiknya tetap berada disini teman-teman diluar terlalu berbahaya."


"Keputusan baik kita tidak pulang dulu ke Dusun, gua ini jauh lebih aman dari pada Dusun kita saat ini kurasa."


"Lalu bagaimana dengan warga Dusun Undayan, apa mereka baik-baik saja?""


"Kita berdoa saja Dung, sekarang hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita serahkan saja kepada Sang Pencipta Alam Semesta."


"Itu benar, semoga Sang Pencipta Alam Semesta melindungi keluarga kita."


Sejenak Kalasih mendengar suara minta tolong. Asih mencoba mendengarkan lagi takut bila dia salah mendengar.


"Tolong..."


Benar saja itu teriakan minta tolong, segera dia memberitahu sang kakak.


"Mas Asih dengar teriakan minta tolong."


"Kamu yakin dek?"


"Yakin mas coba kita tenang dulu sebentar nanti akan kedengaran."


Mereka berempat pun diam mencoba mendengarkan suara yang ada, dan sekali lagi terdengar suara minta tolong.


"Tolong..."


Mereka serempak mencari asal suara tersebut, walaupun suara tadi hanya terdengar sama karena tertutup suara deras sungai kecil. Mereka yakin bahwa itu adalah suara meminta tolong. Dengan segera mereka menyisir daerah sekeliling sungai kecil. Saat sedang fokus mencari di area sungai kecil Aji tidak sengaja melihat pohon besar yang menjorok ke arah sungai kecil. Di sana seorang gadis kecil bergelantungan di salah satu dahan yang mengarah pada sungai. Seketika Aji melompat keluar dari gua sambil berteriak ke pada adik dan 2 temannya.


"Kalian semua tetap gua ingat jangan keluar, aku saja yang menyelamatkan anak itu."


"Tapi Ji lihat aliran sungai itu deras sekali itu juga bisa menghanyutkan mu. Itu berbahaya Aji."


"Iya mas Aji, jangan ke sana Asih takut mas."


"Dek kamu di sini dulu sama mas Dudung sama mas Jupri. Mas ndak (tidak) akan lama, dan tenang mas bisa berenang dengan baik ditambah dia gadis kecil sepertimu mas ndak (tidak) bisa membiarkannya hanyut. Percayalah mas akan kembali bersama gadis kecil itu, kamu doakan mas saja dek Asih. Mengerti."


"Iya mas."


"Dung, Pri. Titip dek Asih ya."


"Iya Ji hati-hati kamu."


"Iya."


Kaliaji berusaha sekuat tenaga turun dengan hati-hati. Hujan lebat membuat jalan tanah yang mereka naik ki tadi menjadi licin. Dengan berpegang pada dahan pohon di sepanjang jalan tadi akhirnya Aji akhirnya sampai dibawah dekat dengan pohon yang dipegang oleh anak perempuan tersebut. Dengan perlahan-lahan Aji memanjat pohon tersebut, kondisi pohon yang juga terkena air hujan membuatnya licin. Beberapa kali Aji tergelincir saat mencoba naik merangkak pohon tersebut. Setelah cukup lama berusaha akhirnya Aji telah sampai pada pangkal dahan yang menjorok ke sungai. Sejenak dia menimang-nimang seberapa kuat dahan ini bila dia menaikinya. Dahan di pangkal cukup besar dan kokoh permasalahannya semakin ke ujung semakin kecil dahannya ditambah terdapat beberapa cabang kecil yang berdaun dan di sanalah anak perempuan itu berada.


"Tidak ada jalan lain, aku harus ke ujung dahan ini. Anak itu seperti sudah tidak kuat lagi. APAKAH BISA MENDENGAR KU?"


Anak perempuan itu mengangguk.


"BAIK JANGAN KHAWATIR AKU AKAN MENOLONG MU, PEGANG ERAT-ERAT DAHAN ITU SAMPAI AKU BISA MENCAPAI TEMPATMU. MENGERTI."


Gadis itu mengangguk kembali. Kaliaji kembali merangkak menuju ujung dahan tersebut. Perlahan-lahan karena dia takut dahan tersebut akan akan patah. Setelah berusaha dengan susah payah, Aji mencapai ujung dahan tempat sang anak perempuan tersebut berada. Aji segera mengulurkan tangan kepada anak tersebut. Dengan susah payah anak perempuan tersebut meraih tangan Aji. Saat dirasa tangan mereka kokoh berpegangan Aji segera menarik anak perempuan itu ke atas dahan.


"Ayo kita harus segera bergeser ke dahan yang lebih besar, disini terlalu kecil dapat patah kapan saja."


Dengan badan yang masih gemetaran anak perempuan itu merangkak ke arah dahan yang lebih besar dibantu oleh Aji yang terus memeganginya. Mereka perlahan-lahan turun dari pohon dengan hati-hati.


"Kita harua segera naik ke atas sana, di sini tidak aman bisa kapan saja sungai kecil meluap. Apa kamu masih bisa berjalan?"


Anak perempuan itu mengangguk kembali.


"Pegang tanganku aku akan membawaku ke sana di gua itu ada adik perempuanku bersama 2 temanku sepertinya kamu sepantaran dengan adikku. Kamu akan aman di atas sana."


Kembali anak perempuan itu mengangguk, dia memegang erat tangan Aji yang membawanya ke atas menuju gua. Jalan licin berkali-kali membuat anak itu tergelincir, berkat bantuan dari Aji anak tersebut dapat segera sampai di gua. Saat mereka berada di bibir gua seketika air bah datang menerjang seperti tsunami menyasak segala yang ada. Telat beberapa menit saja bisa membuat Aji dan anak perempuan itu hanyut. Untung mereka sampai di gua tepat waktu itu membuat mereka aman.


Bersambung..