JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
DUA BELAS



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


Di tenda kerajaan atas bukit, sedang bersiap rombongan dari Yang Mulia Ibu Suri. Terlihat banyak sekali dayang yang sedang mempersiapkan segala hal untuk Yang Mulia Ibu Suri. Sang Ibu Suri sendiri sedang berada di dalam tenda dengan beberapa dayang nya.


"Apakah penampilanku sudah bagus Mbok Yem?"


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, anda sungguh menawan."


"Kau itu paling bisa menyanjungku. Aku ingin terlihat sempurna dihadapan rakyatku yang aku cintai."


"Anda selalu menawan dan sempurna Yang Mulia Ibu Suri, tidak ada yang dapat menandingi anda."


"Hari yang indah semoga selalu menjadi indah bukan begitu Mbok Yem?"


"Benar Yang Mulia Ibu Suri, dan desa Saeedah menambah keindahannya."


"Benar desa ini sungguh luar biasa, kau bisa bayangkan bagaimana nantinya desa ini bila dikembangkan oleh kerajaan. Ini akan melebihi desa Syurtan, aku yakin itu."


"Alam di desa Saeedah masihlah murni Yang Mulia Ibu Suri, jadi desa ini masih memiliki banyak hal yang dapat di lestarikan."


"Lestarikan? Gunakan kata yang tepat Mbok Yem, bukan di lestarikan tetapi dikembangkan mengerti."


"Maaf Yang Mulia Ibu Suri, Hamba hanyalah dayang yang sudah tua dan tidak begitu pintar sehingga masih sering keliru Yang Mulia Ibu Suri. Mohon maaf karena hamba masih sering salah memilih kata Yang Mulia Ibu Suri."


"Kamu ini, selalu saja salah memilih kata. Tapi tidak apa-apa perasaan hatiku sedang baik maka aku akan memaafkanmu. Tapi aku memang tidak pernah bisa marah lama kepadamu Mbok Yem. Karena kamu salah satu orang yang paling aku percaya."


"Hormat hamba Yang Mulia Ibu Suri, terimakasih atas kepercayaannya."


"Mbok Yem kau akan menjadi salah satu orang yang akan menyaksikan bagaimana luar biasannya JAWANAKARTA. Negara kita yang tercinta ini akan menjadi yang terbaik di Nusatamara dan akan menjadi yang termaju di seluruh dunia. JAWANAKARTA akan menjadi negara ADIKUASA tidak hanya di Nusatamara tapi di seluruh dunia."


"Injeh (iya) Yang Mulia Ibu Suri. Hamba akan sangat menantikannya."


"Ini akan menjadi sejarah baru negara ini bahwa, dibawah kepemimpinan anakku yang paling tersayang. Raja Dimas Kanjeng Damaruni Bramantoro Harjobuminingrat JAWANAKARTA akan mencapai titik puncaknya. Namanya akan dikenal diseluruh dunia, dan akan disegani oleh seluruh orang. Bukankah begitu Mbok Yem."


"Injeh (iya) benar Yang Mulia Ibu Suri."


"Maka proyek ini haruslah berhasil. Aku akan memastikan semuanya akan berjalan dengan sempurna dan tidak boleh ada kendala apapun."


"…"


"Kenapa kamu tidak menjawabku Mbok Yem."


"Maafkan hamba yang Mulia Ibu Suri. Injeh (iya) hamba setuju."


"Nah begitu apa selain kau mulai pelupa juga mulai tuli Mbok Yem?"


"Sedikit Yang Mulia Ibu Suri, harap anda memaklumi karena hamba sudah tua."


"Sebaiknya selepas kita kembali ke kerajan ada baiknya kau berkunjung ke Klinik Kerajaan. Aku tidak ingin kau kenapa-napa. Karena kau Sutiyem masih harus di dekatku untuk waktu yang lama. Aku tidak mau berganti kepala dayang yang baru karena itu merepotkan. Jadi periksakanlah dirimu setelah kita kembali ke kerajaan mengerti."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, hamba akan menjaga kesehatan hamba dengan baik."


"Hormat hamba Yang Mulia Ibu Suri, didepan ada Panglima Dronota ingin menghadap."


"Baiklah suruh dia masuk Yun."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."


"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri, semua sudah bersiap. Apakah anda menginginkan turun ke desa sekarang Yang Mulia Ibu Suri."


"Tunggu sebentar Panglima aku masih bersiap. Aku harus berpenampilan yang terbaik untuk bertemu rakyatku bukan. Ayo para dayangku segera selesaikan sanggul rambutku, sunggu aku sudah tidak sabar bertemu dengan rakyatku."


"Kalau begitu saya akan menunggu Yang Mulia Ibu Suri didepan. Permisi Yang Mulia Ibu Suri."


"Panglima Dronota."


"Sediko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."


"Semuanya sudah siap dan tidak ada masalah bukan? Tidak boleh ada yang terlewat kita harus mempersiapkan semuanya untuk rakyatku di desa yang indah ini."


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, sebenarnya ada sedikit masalah. Tapi kami sudah dapat mengatasinya."


"Masalah? Masalah apa Panglima Dronota?"


"Beberapa prajurit kerajaan kita telah memburu rusa di wilayah desa Saeedah. Mereka tidak hanya memburu tetapi menyantapnya Yang Mulia Ibu Suri."


"Bagaimana bisa? Rusa adalah salah satu hewan yang dilindungi bukan. Apa ada rakyatku di desa yang tahu?"


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, seorang anak dari desa Saeedah justru yang menemukan anak rusa yang terluka oleh anak panah kerajaan."


"APA? APA SAJA YANG KAU LAKUKAN SAMPAI BAWAHANMU BERBUAT MASALAH KAU TIDAK TAHU PANGLIMA DRONOTA!"


"Hamba mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri."


"Panglima, apakah kau tahu bahwa aku ke desa ini demi Proyek MAHIKASVRAGA (bumisurga). Proyek ini akan membawa negara kita menjadi negara terhebat di seluruh Nusatamara. Nama JAWANAKARTA akan dikenal hingga ke seluruh dunia. Aku akan benar-benar marah bila masalah kecil ini akan mempengaruhi rencanaku."


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, saya benar-benar minta maaf atas masalah ini. Saya akan memastikan bahwa para prajurit yang terlibat akan mendapat hukuman yang setimpal."


"Hukuman yang setimpal, berapa bayak prajurit yang terlibat dalam masalah ini?"


"5 prajurit Yang Mulia Ibu Suri, dan ke 5 prajurit telah berada ditahanan. Saat kita telah kembali ke kerajaan saya akan pastikan mereka akan langsung dimasukan kedalam pengadilan kerajaan."


"5 prajurit. Tunggu Panglima Dronota sepertinya tidak perlu menunggu sampai kita kembali ke kerajaan. Aku punya cara untuk menghukum mereka."


"Maaf sebelumnya bagaimana anda akan menghukum mereka Yang Mulia Ibu Suri?"


"Kau akan tahu nanti Panglima Dronota, bawalah para prajurit yang bersalah ke desa bersama kita."


"Membawa para prajurit yang bersalah. Bagaimana maksud anda Yang Mulia Ibu Suri? Maaf saya masih kurang mengerti."


"Bawalah para prajurit yang bersalah bersama kita ke desa, bawalah seperti kalian membawa tahanan yang lainnya dan jangan lupa untuk tidak mengganti baju dan melepas atribut mereka. Mereka harus tetap menggunakan seragam kerajaan."


"Tapi Yang Mulia Ibu Suri, kita tidak mungkin mengarak mereka dengan seragam lengkap. Saat seorang abdi negara bersalah kita hanya boleh mengarak mereka dengan terlebih dahulu melucuti seragam dan atribut mereka. Bila tidak bukankah sama saja dengan mencoreng kerajaan kita Yang Mulia Ibu Suri."


"Aku memang akan menghukum dan mendepak mereka dari kerajaan, karena mereka tidak pantas menjadi bagian abdi kerajaan. Tapi bukankah memberi kesan yang baik perlu untukku saat ini. Kesan bahwa keluarga kerajaan selalu berlaku adil tidak pandang bulu siapa yang bersalah dia harus diberi hukuman walau seorang abdi kerajaan."


"Apa kau akan membantahku Panglima Dronota!"


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, saya tidak bermaksud membantah anda."


"Kalau begitu cepat siapkan semua seperti yang aku perintahkan dan jangan berani-berani kau membantahku lagi."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, saya akan mempersiapkan semua."


"Cepat pergi. Aku akan segera keluar kau tunggulah didepan."


"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri. Permisi."


"Dia sungguh benar-benar banyak bicara."


"Tapi bukankah apa yang dikatakan oleh Panglima Dronota benar adanya Yang Mulia Ibu Suri."


"Kau juga mau ikut-ikutan cerewet Mbok Yem?"


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, apa hamba salah berbicara lagi."


"Mbok Yem kau juga sama menyebalkan dengan Panglima Dronota. Aku juga tahu peraturan kerajaan bahwa seorang abdi kerajaan yang melanggar hukum akan diadili setelah dikeluarkan dari kerajaan. Kau meremehkan aku Mbok Yem. Aku adalah Ibu Suri kerajaan JAWANAKARTA. Kau tahu itu."


"Mohon maaf Yang Mulia Ibu Suri, hamba tidak bermaksud begitu."


"Sudahlah, aku akan memberitahumu sesuatu bahwa aku tidak ingin merusak citraku didepan rakyatku hanya karena masalah kecil seperti ini. Kau tahu bahwa aku harus mendapatkan desa ini bukan? Jadi karena prajurit kita memanglah bersalah mengapa kita tidak menghukum mereka. Kita hanya merubah tempat mereka akan diadili, bukan di pengadilan kerajaan tetapi di depan rakyatku. Sama saja bukan?"


"Jadi anda akan menghukum mereka pada saat berada di desa nanti Yang Mulia Ibu suri?"


"Benar sekali Mbok Yem, mereka bersalah jadi pantas dihukum dan itu juga bisa membuat citraku baik di mata rakyarku bukan."


"… Kalau boleh tahu hukuman seperti apa yang akan anda berika Yang Mulia Ibu Suri?"


"Kau akan melihatnya nanti Mbok Yem. Hahaha…


Apakah kondeku sudah selesai?"


"Sudah Yang Mulia Ibu Suri."


"Siapkan sepatu ku sekarang dan kita akan segera berangkat. Mbok Yem kau bersiaplah bersama beberapa dayang kalian akan menemaniku ke desa."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, hamba akan segera menyiapakan segalanya. Kalau begitu hamba permisi Yang Mulia Ibu Suri."


"Pergilah dan siapkan dengan segera. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan rakyatku."


Diluar tenda Yang Mulia Ibu Suri.


"Kadet Juan ada yang ingin aku katakan padamu ikutlah ke tendaku sekarang."


"Baik Panglima Dronota."


"Hormat Panglima Dronota saya Kadet Juanta menghadap."


"Masuklah Kadet Juan."


"Apakah ada masalah Panglima Dronota?"


"Ada perubahan formasi barisan Kadet Juan."


"Perubaha formasi barisan bagaimana Panglima?"


"Ya para prajurit yang melanggar hukum akan ikut kita pergi ke desa."


"Maksud Panglima, mereka di bebaskan dan akan ikut iring-iringan kita ke desa?"


"Mereka akan ikut kita ke desa bukan sebagai prajurit, melainkan sebagai tahanan. Lebih tepatnya kita akan mengarak mereka ke desa."


"Mengarak mereka ke desa? Bagaimana bisa Panglima. Bukankah mereka harus masuk ke pengadilan Kerajaan baru dapat dihukum Panglima. Dan mengarak bukankah juga sebuah hukuman. Bagaimana mereka sudah menerima hukuman sebelum masuk ke Pengadilan Kerajaan."


"Benar Kadet Juan itu adalah sistem hukum kerajaan kita. Tapi apakah sistem hukum itu masih berlaku bila yang memberi perintah adalah Yang Mulia Ibu Suri."


"Yang Mulia Ibu Suri yang memberi perintah Panglima?"


"Benat Kadet Juan, akupun juga tidak bisa berbuat apa-apa dalam sistem kerajaan bahwa keputusan Yang Mulia Ibu Suri sama mutlaknya denga keputusan Raja bila Raja tidak sedang berada ditempat. Dan bisa dilihat Raja sedang tidak bersama kita."


"Lalu akan seperti apa nasib ke 5 prajurit itu Panglima?"


"Akupun juga tidak tahu Kadet Juan, Yang Mulia Ibu Suri hanya memerintahkanku membawa mereka ke desa sebagai tahanan dan jangan lucuti seragam dan atribut mereka."


"Maaf Panglima itu tidak mungkin, peraturan kerajaan.. "


"Aku tahu Kadet, tapi itupun perintah dari Yang Mulia Ibu Suri."


"Maaf Panglima, apa sebenarnya rencana Yang Mulia Ibu Suri?"


"Akupun tidak tahu Kadet Juan, apapun itu bukanlah sesuatu yang bisa kita harapkan baik, kita tahu bagaimana Yang Mulia Ibu Suri itu."


"Apakah kita akan melaksanakan perintah Yang Mulia Ibu Suri Panglima?"


"Apakah kau ingin berkhianat kepada kerajaan Kadet Juan? Kau tahu bahwa perintah Yang Mulia Ibu Suri sama mutlak dengan perintah Raja. Kau mau dianggap membangkang dan berkhianat kepada kerajaan hah."


"Bukan begitu Panglima, saya hanya.. Anda tahu Panglima bahwa ini tidak sesuai dengan peraturan kerajaan bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yang Mulia Ibu Suri."


"Benar ini tidak sesuai dengan peraturan kerajaan tapi tidak menjalankan perintah Yang Mulia Ibu Suri juga termasuk pelanggaran hukum kerajaan bahkan dapat menjadi hukum berat karena bisa dianggap membangkang atau berkhianat kepada kerajaan."


"Jadi kita akan mengarak mereka tanpa melalui pengadilan kerajaan Panglima?"


"Benar, kita tidak punya pilihan bukan. Sebaiknya kau cepat mempersiapkan semua Kadet Juan sebelum Yang Mulia ibu Suri menjadi murka."


"Baik Panglima Dronota saya akan segera melaksanakannya. Permisi."


"Tunggu Kadet Juan, jelaskanlah dengan baik kepada para Prajurit dan suruhlah mereka untuk diam apapun yang akan terjadi, aku tidak ingin memikirkan kemungkinan yang buruk, tapi kita pun juga harus bersiap akan kemungkinan yang terburuk."


"Baik, saya mengerti Panglima. Hormat saya Panglima, saya permisi."


Segalanya pada dasarnya telah diatur oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Manusia boleh merencanakan tapi tetaplah Sang Pencipta Alam Semestalah yang akan menentukanya. Sama halnya dengan baik dan buruk, dimana satu manusia bisa menganggap hal baik tapi buruk untuk sebagian orang. Karena sejatinya manusia selalu ingin merasa benar sendiri. Maka sejatinya yang tahu baik atau buruk hanyalah Sang Pencipta Alam Semesta.