JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
DUA PULUH SATU



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


"Adek ingat, Mas Garda akan selalu jagain adek, adek ndak (tidak) perlu takut ya."


"Mas, Mamak sama Bapak gimana?"


"Sudah Mamak sama Bapak pasti baik-baik saja. Ingat kata Mbah Uti dulu, orang baik itu selalu dijaga oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Kita tahu Mamak dan Bapak itu orang baik, jadi mereka pasti baik-baik saja karena yang jaga dan melindungi mereka Sang Pencipta Alam Semesta."


"…"


"Sudah anak-anak? Ayo kita harus bergegas, perjalan kita masih jauh anak-anak."


"Ayo dek kita harus siap-siap Mas akan antarkan adek ketempat semestinya adek berada."


Mereka segera berganti pakaian dan bersiap. Langit kian gelap, gelap yang benar-benar gelap karena hari mulai petang. Sisa dari badai masih terasa, hujan masih mengguyur dengan lebat malam pun kian dingin dan gelap. Setelah selesai berbenah dan bersiap ketiganya memulai perjalanan mereka. Dengan perlahan-lahan mereka mendaki lereng gunung Mprau, mereka tidak dapat menggunakan jalan setapak yang biasa dilalui oleh warga desa menuju lembah gunung Mprau. Jalan tersebut pastilah telah di jaga dan disisir oleh para prajurit kerajaan, alhasil mereka harus masuk hutan agar tidak tertangkap.


Jalan yang licin dan penuh semak belukar harus mereka lalui, terkadang mereka juga harus berjalan di tepi tebing. Tidak ada jalan lain mereka harus segera meninggalkan desa dan lembah gunung Mprau agar tidak tertangkap. Saat mereka telah sampai pada tebing terakhir dan batas akhir desa Saeedah ternyata mereka terlambat batas desa telah dijaga oleh para prajurit, mereka harus berhenti dan bersembunyi.


"Pripun niki (bagaimana ini) mbak Sari?"


"Kita sembunyi dulu Le Gardapati, kita ndak (tidak) bisa menerobos mereka begitu saja, kamu liat mereka sangat banyak."


"Kalau gitu gita ke tebing paling ujung saja mbak Sari di sana ada goa dan tempatnya rimbun."


"Baiklah kita ke sana dulu untuk istirahat dan menyusun rencana."


"Injeh (iya) mbak Sari."


Mereka berjalan perlahan-lahan menuju lereng paling barat gunung Mprau, Gardapati tahu bahwa di sana terdapat sebuah goa yang cukup nyaman ditempati dan tidak terlihat dari bawah karena tertutup oleh semak belukar. Perlahan-lahan mereka bertiga berjalan ke arah goa saat mereka semakin mendekati goa samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap. Seketika itu juga mereka berhenti dan bersembunyi. Di bibir goa terlihat 2 orang laki-laki dewasa sedang membersihkan semak belukar di bibir goa. Karena keadaan makin gelap tidak terlihat dengan jelas siapa mereka yang terlihat mereka tinggi dan gagah pas perawakan laki-laki dewasa.


"Berhenti dulu Le, kita ndak (tidak) bisa ke sana di sana terlalu gelap kita ndak (tidak) tahu siapa mereka apakah mereka orang biasa atau beberapa prajurit yang sedang menyusuri hutan mencari kita."


"Lalu kita haru bagaimana mbak Sari."


"Kita tunggu dulu disini sampai... "


"Siapa kalian? Tetap ditempat jangan bergerak!"


"Ada apa Yus?"


"Ada penyusup gelap."


"Mas Yustar?"


"Hapsari? Dek Sari."


"Kamu sedang apa disini?"


"Mas Yustar, sampeyan (anda) ndak (tidak) apa-apa?"


"Aku ndak (tidak) apa-apa dek, aku dan yang lainnya berhasil kabur keluar desa saat ada keributan tadi dan bersembunyi di goa ini, kalau aku tidak salah kalian juga sedang kabur dari sesuatu bukan?"


"Maaf Mas Yustar bisakah kami ikut bersembunyi bersama dengan kalian untuk sementara. Sari tahu Mas Yustar dan yang lain bukanlah orang jahat. Dapatkah kalian membantu kami?"


"Masuklah dulu ke dalam ini masih hujan kasihan anak-anak itu. Percayalah kami tidak akan melakukan apapun kami tahu cara berterimakasih Sari."


"Matur suwun Mas."


"Ada apa Yustar?"


"Tidak ada apa-apa, apa masih ada persediaan kain kering?"


"Masih, persediaan yang diberikan Mbok Yem tadi sangat banyak. Apa kamu membutuhkannya?"


"Iya, berikan 3 kain kering kepadaku."


"Nyuwun sewu Mas Parjo, maaf merepotkan."


"Dek Sari, kamu kenapa ada disini dan mereka bukannya..."


"Cukup Parjo biarkan mereka masuk dan istirahat dulu. Ayo masuk kedalam agar kalian bisa mengeringkan baju dan menghangatkan diri."


"Matur nuwun."


Goa di salah satu tebing gunung Mprau itu tidak terlihat dari bawah karena bentuknya yang menjorok kedalam serta banyaknya semak belukar yang rimbun seperti tebing pada umumnya yang di rambatti oleh semak belukar. Dalam goa yang cukup besar tersebut terdapat cukup banyak persediaan dan perlengkapan. Terdapat tenda, api unggun dan beberapa tumpukan bahan makanan. Disudut goa terdapat tumpukan rumput yang cukup tebal sehingga nyaman untuk duduk dan tiduran.


"Ini pakai kain ini untuk mengeringkan kalian dan apakah kalian sudah makan?"


"Belum Mas Parjo, tapi kami membawa perbekalan."


"Sudah simpan itu untuk nanti, makanlah ini aku tadi sudah memasak beberapa makanan tapi maaf bila rasanya tidak seenak masakan warung atau rumahan."


"Tidak apa-apa Mas Parjo ini sudah sangat membantu kami. Terimakasih."


"Tidak masalah. Makan dan istirahatlah sepertinya hujan masih belum mau berhenti."


"…."


"Apakah kalian tidak ingin bertanya sesuatu pada Sari."


"Tidak perlu Mas yakin kamu pasti punya tugas tersendiri kan Sari."


"Benar Mas, tapi sekarang jujur saja Sari bingung harus bagaimana."


"Tenanglah dulu makan dan istirahat kalian tidak bisa pergi sekarang hujan sangat lebat ditambah lagi dibawah sana terdapat banyak sekali prajurit kerajaan dan aku yakin mereka sedang tidak memburu kami, melainkan kalian yang mereka cari bukan."


"Tepatnya anak-anak pemberani itu, sebelum kami diminta untuk pergi oleh salah satu warga desa, kami sedikit melihat perselisihan antara kepala desa dengan Yang Mulia Ibu Suri. Lalu apa yang terjadi setelah itu saat kami tidak tahu karena kami harus pergi, sampai pada saat kami telah berada di tebing tertinggi gunung Mprau kami mendengar suara berdeham seperti sesuatu telah ambruk."


"Benar, seorang pria baik yang melepaskan ikatan kami dan meminta kami untuk bersembunyi dibelakang balai desa hingga kami bertemu dengan Mbok Yem."


"Mbok yem juga tahu kalian pergi Mas?"


"Ya Sari Mbok Yem lah yang memberi kita peralatan dan perbekalan untuk kami."


"Pria baik itu apakah anda tahu namanya Tuan?"


"Karsan kalau tidak salah."


"Pak Lek Karsan."


"Ya beliau yang melepaskan ikatan kami saat badai mulai menerjang desa. Beliau bilang dia membebaskan kami bukan karena kami tidak bersalah, kami sudah jelas bersalah. Tapi menurut beliau kami tidaklah pantas mendapat hukuman mati, segala hal dalam kehidupan wajib hukumnya adil untuk siapapun. Jadi beliau meminta kami pergi dan menebus kesalahan kami dengan berbakti kepada negara dan alam semesta."


"Lalu apa yang terjadi Sari?"


"Ceritanya panjang Mas Yustar, dan jujur Sari bingun mau cerita darimana. Semua terjadi begitu saja setelah Yang Mulia Ibu Suri membunuh Kepala Desa Saeedah."


"Demi Sang Pencipta Alam Semesta, Yang Mulia Ibu Suri benar-benar mengerikan."


"Jaga mulutmu Parjo. Seburuk-buruknya Yang Mulia Ibu Suri tetaplah Ibunda dari Raja JAWANAKARTA. Kita tidak bisa sembarangan membicarakannya."


"Maaf Yustar aku hanya tidak menyangka saja. Dan bagaimana bisa dulu kita benar-benar bangga bisa mengabdikan diri kepada mereka."


"Sudahlah Mas, lebih baik kita tidak membahasnya lagi. Apakah kalian hanya bisa kabur berdua saja?"


"Tidak kami kabur berlima, tiga diantara kami kembali ke desa untuk bertemu Panglima dan kami berdua diminta untuk berjaga disini."


"Panglima?"


"Ya, Panglima Dronota kami bersama beliau. Beliaulah yang mengevakuasi warga desa dan saat itulah kami bertemu disalah satu rumah desa saat kami dalam perjalanan keluar dari desa. Beliau meminta kami mecari tempat persembunyian terlebih dahulu dan melarang kami keluar dari desa Saeedah. Makan kamipun bersembunyi disini terlebih dahulu untuk membantu Panglima Dronota."


"Lalu apakah yang terjadi dengan desa kami Tuan?"


"Aku juga belum tahu, 3 temanku sedang ke desa untuk membantu Panglima Dronota."


"Dan mereka belum kembali lahi, jadi kami benar-benar belum tahu keadaan desa kalian Le."


"Tenanglah Gardapati, Panglima Dronota adalah prajurit sejati beliau akan selalu membantu orang yang benar dan yang membutuhkan."


"Apakah Panglima akan ke sini Mas Yustar?"


"Aku tidak tahu Sari, mungkin saja karena Panglima juga tidak memiliki tempat untuk bersembunyi."


"Bersembunyi? Kenapa Panglima Dronota harus bersembunyi?"


"Selain kalian Panglima Dronota juga salah satu buronan seperti kalian."


"Mas Dirwo."


"Kau sudah kembali, bagaimana desa?"


"Buruk, banyak sekali prajurit berjaga hampir diseluruh penjuru desa."


"Dan Yang Mulia Ibu Suri?"


"Beliau marah besar dan..."


"Dan apa Mas Dirwo..."


"Seluruh desa dipaksa menandatangani akta jual beli untuk seluruh tahan didesa dan bila ada yang menolak mereka akan dijadikan pengkhianat kerajaan. Dan untuk orang tua kalian..."


"Kenapa dengan orang tua kami tuan?"


"Orang tua kalian ditetapkan sebagai pengkhianat kerajaan dan jasad mereka..."


"Bapak Mamak hisk hiks hiks..."


"Bagaimana jasad orang tua kami tuan."


"Jasad mereka digantung di puing-puing balai desa bersama dengan jasad kepala desa, sebagai tanda peringatan untuk warga desa tidak menolak keinginan Yang Mulia Ibu Suri."


"Gardapati tenanglah, kamu tidak boleh kembali ke desa. Ingat Le tugasmu kamu harus menjalankan tugasmu untuk menjaga dan mengantar adekmu Le. Tenang."


"Tapi bagaimana dengan Bapak dan Mamak saya Mbak Sari."


"Tenanglah Gardapati Panglima dan dua temanku sedang berusaha untuk mengambil jasad mereka dan kepala desa dibantu oleh beberapa warga desa. Tapi kita tidak bisa gegabah karena bila Yang Mulia Ibu Suri tahu bahwa warga desa membantu kami itu akan berbahaya bagi warga desa."


"Tenanglah Gardapati."


"Injeh(iya) mbak Sari."


"Maka dari itu aku membutuhkan salah satu dari kalian untuk ikut denganku Parjo, Yustar kembali ke desa Saeedah. Kita membutuhkan tambahan orang untuk dapat menyelamatkan jasad mereka."


"Baiklah biar aku yang ikut dengamu Dirwo, biar Parjo berada disini untuk mengurus dan menjaga mereka. Benarkan Parjo?"


"Benar Dirwo, ajaklah Yustar membantumu biar aku yang menjaga mereka disini."


"Baiklah, kalian bertiga tetaplah disini dulu diluar sangat berbahanya ada banyak prajurit dimana-mana. Dan kamu Gardapati, kami memanglah pernah melakukan kesalahan atas desa kalian. Tapi harus kau ketahui bahwa kami tahu cara berterimakasih dan warga desa Saeedah adalah orang-orang baik dan kamitidak akan membiarkan mereka tersakiti oleh ketamakan orang-orang yang berkuasa. Jadi tunggulah disini aku berjanji akan mengistirahatkan jasad orang tuamu dan kepala desa dengan layak dan menyelamatkan warga desa lainnya."


"Terimakasih tuan."


"Dan Gardapati dan Giyanta sepertinya kita harus tetap disini dulu untuk beberapa saat, kita harus menyusun rencana ulang sambil menunggu satu lagi anggota yang akan ikut dengan kita."


"Maksud mbak Sari?"


Bersambung.