JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
31



"Selamat siang seluruh warga Dusun Elit, saya mengucapkan selamat datang kepada anda semua dalam acara pembukaan proyek gorong-gorong Dusun Elit, saya Donipamar selaku Direktur PT Pamarland sangat berterimakasih atas dukungan dan kepercayaan yang telah anda semua percayakan kepada kami. Saya berjanji tidak akan mengecewakan anda semua, saya akan membuat Dusun Elit menjadi Dusun yang tidak akan pernah terendam banjir mesti letaknya tepat berada di tepi laut utara, itu tidak akan jadi masalah. Kami akan mengatasinya saya jamin itu. Maka dengan peresmian saya akan menjelaskan pembuatan proyek gorong-gorong beserta manfaatnya. Hadiri yang terhormat silahkan perhatikan layar besar didepan."


Sebuah layar besar menampilkan video yang cukup panjang menjelaskan tentang pembuatan gorong-gorong dengan sangat terperinci. Visual video yang baik menambah daya tari bagi video tesebut. Semua warga yang hadir di acara tersebut terfokus pada video yang disuguhkan. Banyak di antara mereka berbincang sesekali dan memuji proyek tersebut. Seluruh audiens pun merasa senang dan setuju dengan proyek tersebut, dan bisa dipastikan bahwa proyek tersebut akan terlaksana dengan dukungan penuh warga Dusun Elit.


"Itulah adalah gambaran secara singkat proyek gorong-gorong PT Pamariland, bagaimana menurut anda sekalian apa ada yang kurang dari proyek yang kami siapkan tersebut?"


Salah seorang audiens mengangkat tangan untuk bertanya.


"Ya silahkan."


"Seberapa akurat keberhasilan proyek gorong-gorong ini?"


"Pertanyaan yang bagus tuan, ijinkan saya mengatakan bahwa segala peralatan dan teknisi proyek ini kami datangkan dari salah satu negara biru dimana letak negara tersebut hampir sama dengan letak negara kita langsung berhadapan pada laut lepas. Tapi di sana banjir tidak lagi pernah terjadi, warga negara biru sudah tidak lagi mengalami banjir hingga saat ini. Jadi saya akan mengatakan bahwa proyek ini akan berhasil 100% tidak akan ada yang dapat menganggu apalagi menggagalkan proyek ini sekalipun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena proyek ini telah sempurna dalam segala perencanaan dan saya jamin juga dalan pelaksanaannya."


Semua warga Dusun Elit merasa terkesan dengan apa yang telah di sampaikan oleh Direktur PT Pamariland. Semua bersemangat untuk menyambut proyek besar tersebut.


"HATI-HATILAH DALAM BERUCAP WAHAI BAPAK DIREKTUR YANG TERHORMAT, JANGAN TERLALU SOMBONG DENGAN RENCANA YANG DIBUAT OLEH MANUSIA."


Semua audiens terdiam dengan sebuah teriakan jawaban dari arah belakang mereka, serempak merekapun berbalik untuk melihat siapa gerangan yang menghancurkan kesenangan mereka. Diujung pintu masuk acara telah berdiri Sultan Lor bersama dengan Trisno dan 2 perwakilan dari Dusun Undayan. Mereka telah sampai di sana tepat saat video proyek gorong-gorong diputar.


"Siapa mereka menganggu saja, bagaimana bagian keamanan kenapa mereka tidak melakukan tugasnya dengan baik. Aku akan protes kepada Pak Saman agar keamanan kita diganti dengan yang lebih baik."


"Tunggu bukankah itu Sultan Lor, laki-laki yang berada ditengah-tengah itu."


"Iya benar itu adalah Sultan Lor, sebaiknya kita tidak melakukan hal gegabah dulu. Kita tidak mau kan proyek ini gagal karena kita menyinggung Sultan Lor."


"Alah tak masalah, warga desa kita ada yang keturunan kerajaan bukan, mereka jauh lebih berkuasa daripada seorang Sultan, dia hanya pekerja dari kerajaan sedangkan keluarga kerajaan adalah keluarga yang memiliki negara ini."


"Dasar bodoh, walaupun hanya pekerja tapi kamu tahu bahwa status mereka sama tingginya dengan keluarga kerajaan. Bahkan Sultan Lor memiliki status yang lebih tinggi, beliau masih keturunan darah biru dari raja-raja JAWANAKARTA. Lihatlah siapa yang menunduk untuk siapa."


Terlihat beberapa keluarga kerajaan yang tinggal di Dusun Elit menyambut dengan rasa hormat kepada Sultan Lor. Mereka mempersilahkan Sultan Lor untuk masuk kedalam acara.


"Benar kita tidak boleh gegabah, Sultan Lor bukan sembarang orang beliau masih disegani oleh seluruh keluarga kerajaan. Sebenarnya ada apa beliau kemari, apa mau merusak acara kita lihat beliau datang bersama warga Dusun bawah."


"Jaga ucapan mu disini Jupri, untuk saat ini kita tidak bisa sembarangan bicara. Satu kalimat penolakan dari Sultan Lor akan menghancurkan seluruh proyek. Ingat kekuasaan tertinggi tanah Lor tetap pada Sultan Lor, kerajaan masih belum mau ikut campur masalah kita. Bagaimana bisa dia tahu tetang acara ini? Apa dia punya mata-mata di dusun kita?"


"Sebenarnya Bang Hasta anu..."


"Ada apa Gunawan?"


"Saya yang memberi tahu Sultan Lor tentang acara ini."


"APA?"


"Maaf Bang Hasta, ini karena mereka meminta kita untuk datang mediasi dengan Dusun Undayan terus menerus. Jadi saya..."


"B***h kamu Gunawan, apa kamu tidak berpikir dulu sebelum berbuat HAH."


"Maaf Bang Hasta, saya hanya ingin menggertak mereka tapi tidak disangka mereka akan datang."


"Sudah-sudah sebaiknya kita menghadap Sultan Lor dulu, nanti kita cari cara untuk memberi pelajaran pada keb***han Gunawan."


"Ayo sebaiknya kita menghadap Sultan Lor. Pak Doni ikut kami, dan tenang saja kami akan tetap mempertahankan proyek ini."


Dibawah pintu kanal utara, ke tiga sahabat itu tengah asyik menyiapkan tempat untuk mereka memancing. Mereka duduk berjajar di batu besar yang berada ditepi sungai kecil, mereka segera memasang umpan dan melemparkan mata pancing ke sungai kecil.


"Kalau nanti dapat ikan besar kamu mau masak apa Pri?"


"Bakar Dung, sudah lama aku ndak (tidak) makan ikan bakar. "


"Kalau kamu Ji?"


"Terserah Mamak nanti mau masak apa, aku lebih suka tinggal makan."


"Bener itu kalau kita dapat ikan besar-besar dibikin apa aja pasti enakkan. Digoreng enak juga pasti."


"Enakkan dibakar Dung, dagingnya ndak (tidak) keras."


"Goreng enak Pri, apalagi dimakan sama sambel plecing wah enak banget itu."


"Dibakar juga enak Dung, sama sambel terasi nasi panas, wah nikmat sekali."


"Goreng Pri."


"Stop, sudah ikan aja belum dapat kok sudah pada ribut."


"Kalau kamu Ji suka digoreng apa dibakar?"


"Iya suka yang mana coba pilih."


"SUKA DIPEPES."


Semua pun terkejut mendengar sautan suara dibelakang semak-semak. Semua memasang tampang terkejut dan takut, karena yang menyahut barusan adalah suara anak perempuan sedangkan mereka bertiga adalah laki-laki.


"Itu tadi suara siapa Pri? Kok kaya suara perempuan."


"Iya Dung, kitakan semua laki-laki, jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa Pri?"


"Itu Dung.... Jurik penunggu pohon besar itu Dung."


"Demi Sang Pencipta Alam Semesta lindungilah kami dari segala jurik di sini. Pri aku merinding aku ndak (tidak) mau deket pohon itu."


"Eh jangan kesini tar jatuh kita di sini sempit Dung, kamu di sana ndak (tidak) apa-apa. Lagian dari kita semua kamu yang paling banyak dagingnya kan, pindah kesini pun tetep kamu yang bakal jadi target jurik nanti."


"Hiii ndak (tidak) mau aku, tolonglah aku takut banget ini, Aji kamu tukeran sama aku ya tolong ya Ji."


"Sudah jangan dengarkan Japri, Dung. Ndak (tidak) ada yang namanya jurik di sini."


"Lha terus tadi itu apa Ji?"


"Dek Asih."


"O dek Asih. Dek Asih siapa Ji?"


"Dudung Mardung Binti Kasdung. Kamu amnesia hah mang kita punya kenalan Asih sapa lagi kalau bukan Kalasih adeknya Kaliaji."


"O iya ya, Dek Asih kan adeknya Aji ya Pri. Lha kok dek Asih bisa di sini?"


"Itu yang mau aku tanyakan ke Dek Asih, Dung. Dek kamu mau sembunyi terus?"


"Hehehe Mas Aji hai."


"Ndak (tidak) usah hai segala, Mas mau tanya ngapain kamu di sini?"


"Ikut Mas mancing."


"Siapa yang ngizinin? Kamu dah izin Mamak?"


"Belum, Asih tadi langsung ngikutin Mas Aji jadi belum sempet izin Mamak."


"Adek kamu tau kan mancing di sini bahaya, terus ngapain kamu masih ngikutin Mas. Terus ndak (tidak) izin Mamak pula. Mamak pasti khawatir nyariin kamu Dek."


"Maaf Mas Aji, habis kalau Asih izin dulu pasti ndak (tidak) diizinin ikut. Asih mau ikut mancing ikan besar Mas, kan Asih pingin makan pepes."


"Sudahlah Ji, sudah terlanjur Dek Asih sampai sini biar dia di sini sama kita. Lagian kitakan bertiga pasti bisa jagain Dek Asih, kamu mau Dek Asih balek (kembali) sendiri ke Dusun Undayan. Dari sini Dusun kumayan jauh terus jalannya juga banyak rerumputan liar yang rimbun bisa-bisa malah nyasar Dek Asih nanti."


"Benar kata Japri, Ji. Biar Dek Asih ikut mancing sama kita dulu terus nanti pulangnya bareng kita."


"Boleh ya Mas, Asih janji akan nurut kata Mas Aji. Ya Mas."


"Ya sudah sini kamu, jangan jauh-jauh dari Mas terus ingat janjimu harus nurut sama Mas ndak (tidak) boleh ngeyel."


"Siap Mas beres. Tapi Asih boleh coba mancing ya Mas, pancingnya pinjam punya Mas Aji hehehe."


"Iya sudah sini duduk deket Mas nanti kamu boleh pinjem pancinganya."


"Makasih Mas Aji."


Saat sedang asyiknya dengan urusan masing-masing tanpa mereka sadari awan hitam di ujung laut utara sedang mengarah ke arah mereka. Tanpa ada yang tahu bahwa badai akan segera tiba di tempat mereka. Badai yang entah datang dari mana dikala cuaca cukup cerah pada hari itu, seperti pertanda sesuatu hal yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Harus selalu diingat bukan manusia hanya punya rencana tapi rencana itu terjadi atau tidaknya bukan manusia yang menentukan. Yang menentukan adalah Sang Pencipta Alam Semesta, pemilik dari seluruh alam semesta kita.


Bersambung....