JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
35



"Kamu tidak apa-apa, tenang saja sekarang kamu aman. Kita berada di gua yang dapat melindungi kita dari meluapnya air di sungai kecil. Lebih masuk kedalam kamu dapat lebih hangat didalam. Dek Asih aja dia duduk di batu bersamamu."


"Iya mas Aji. Sini kamu sama aku duduk sini ndak (tidak) apa-apa kita aman disini."


"Aji lihat air sungai semakin tinggi dan warna air sungai semakin biru, ada apa ini sebenarnya?"


"Aku juga tidak tahu Pri, bila dilihat warnanya itu seperti air laut. Tapi itu mustahil sekeliling pesisir pantai utara telah dibangun tembok beton sebagai tanggul agar air laut tidak masuk."


"Bila air itu benar air laut, apa mungkin ada bagian tembok yang bocor atau lebih parah roboh?"


"Kalau roboh berarti bahaya Dung, Dusun kita benar-benar jadi danau nanti."


"Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita sekarang fokus saja untuk berlindung di sini. Dan kalau masalah ini benar adanya kita harus persiapan untuk bermalam disini. Karena memperbaiki tembok bendungan akan membutuhkan waktu yang lama. Kita berdoa saja ini hanya masalah sepele, tanpa ada kerusakan pada tembok tanggul."


"Benar, semoga saja tidak demikian."


"Kita nyalakan api dulu, sepertinya hujan juga belum mau berhenti. Kumpulkan kayu yang kita bawa tadi."


"Iya Ji."


"Siap Ji."


"Tenang saja kita akan aman disini. Kalau boleh tahu namamu siapa?"


"… Tari."


"Tari? Namaku Kalasih, panggil aku Asih aja."


Sambil berharap-harap cemas ke 5 anak tersebut mulai mempersiapkan diri untuk kondisi terburuk. Bila memang terjadi sesuatu pada tembok tanggul itu bukan perkara yang mudah. Letak Dusun Elit dan Dusun Tanggul memang persis berada di pesisir utara. Selama ratusan tahun tanggul itu telah di bangun untuk melindungi daratan dari terjangan air laut utara. Tembok tanggul itu amat berarti bagi seluruh daerah pesisir utara, tempo tanggu itu adalah tumpuan perlindungan bagi mereka.


Di saat anak-anak tersebut masih berlindung di gua, terjadi keributan yang besar di kawasan pintu tanggul. Banyak orang hanyut karena air laut utara yang menerjang apapun di daratan. Banyak juga yang dapat menyelamatkan diri berlari ke kawasan yang lebih tinggi. Air yang datang dalam hitungan menit telah memporak-porandakan seluruh kawasan yang dilewatinya. Beberapa prajurit pengawal Panglima dan petugas kesultanan bahu membahu ikut mengatasi permasalah yang ada. Nihil pintu kanal utara adalah pintu terkokoh yang pernah ada tidak mudah untuk ditutup. Hanya petugas teknisi tata ruang kantor kesultanan Lor yang dapat mengatasinya.


"Pintu kanal tidak dapat ditutup kembali Panglima."


"Bagaimana bisa, bila tidak segera ditutup air akan semakin banyak yang masuk ke daratan, itu berbahaya. Kita tidak pernah dapat menghitung debit air laut bukan. Air akan masuk tidak ada habisnya."


"Kita tunggu teknisi dari kantor tata ruang saja Panglima. Mereka yang tahu bagaimana cara mengatasi pintu kanal utara."


"Tapi Sultan Lor, kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi ini akan membahayakan warga dusun-dusun di pesisir utara. Bila air tidak segera berhenti masuk daratan Dusun Undayan bisa berubah menjadi danau semua terendam air."


"Anda tenang saja Panglima, warga Dusun Undayan telah kami evakuasi sebelum pintu kanal utara di buka. Mereka telah aman, dan kami telah menghubungi kantor tata ruang kesultanan Lor, mereka dalam berjalanan ke sini."


Tak berselang beberapa lama terdengar suara mobil besar dari arah selatan. Bantuan akhirnya datang, teknisi dari tata ruang kesultanan Lor berusaha menerjang masuk ke daerah pintu kanal utara. Terdengar seseorang berteriak untuk segera bekerja.


"Semua bergerak kita harus segera menutup pintu kanal dalam hitungan detik. Tidak ada waktu untuk melihat semua segera ke posisi masing-masing, kita butuh paling tidak 30 menit untuk penutupan pintu kanal dengan benar dan pas. SEMUA AYO MULAI."


"BAIK."


Semua teknisi bergerak maju dan menerjang air yang tidak ada habisnya semua bahu membahu untuk segera sampai pada raung kendali pintu kanal utara. Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab merawat dan menjaga tembok tanggul dan pintu kanal utara untuk tetap kokoh melindungi kawasan pesisir utara. Mereka tahu persis seberapa berbahayanya pintu kanal bila di buka.


"Siapa orang bodoh yang berani membuka pintu kanal utara tanpa memberi tahu kantor tata ruang. Dia mau cari mati hah."


"Berapa lama pintu kanal dapat di tutup Pak Petruk?"


"Sekitar 30 menit setelah kami bisa masuk ruang kendali pintu kanal Sultan."


"Tidak dapat lebih cepat Pak Petruk?"


"Itu sudah semaksimal mungkin Panglima. Pintu kanal ini memang mudah di buka, tapi saat ditutup itu membutuhkan waktu yang lama. Sekali di buka berton-ton air laut masuk dengan kecepatan tinggi ke daratan. Pintu kanal akan membutuhkan waktu melawan arus air laut utara Panglima dan itu tidaklah mudah."


"…"


"Bagaimana ini bisa terjadi Sultan, bagaimana orang-orang yang merasa kalangan terhormat dan pintar itu bisa sebodoh ini bermain-main dengan pintu kanal utara."


"Kami akan berusaha sekeras mungkin untuk segera menutup pintu kanal utara. Dan maaf Sultan Lor ini merupakan termasuk pelanggaran hukum, saya harap anda menindak secara tegas orang-orang bodoh tersebut Sultan."


"Tentu Pak Petruk, saya akan membuat mereka membayar mahal atas ke lancangan mereka hari ini."


"Apa terjadi jatuh korban Sultan?"


"Ada. Beberapa orang hanyut termasuk anak perempuanku."


"Apa itu benar Panglima?"


"Benar Sultan Lor, saat air bah dari laut masuk kami masih berada di area acara. Dan saya terlambat memegang tangan putri saya."


"Semoga tidak terjadi hal buruk pada putri anda Panglima, kita akan berdoa untuk semua yang telah hanyut agar mereka tetap baik-baik saja."


"Terimakasih Sultan."


Beberapa teknisi telah mencapai ruang kendali pintu kanal utara, dengan segera mereka bekerja menutup pintu kanal utara. Tidak seperti saat membuka menutup pintu kanal memerlukan beberapa trik, karena harus melawan arus air laut. Itulah yang tidak ketahui teknisi dari negara biru. Dia tidak pernah bersinggungan langsung dengan laut karena di negaranya hanya di kelilingi teluk. Kesalahan yang diambil oleh para tetua Dusun Elit karena terlalu percaya pada segala peralatan dan teknisi dari negara biru.


Teknisi yang telah sampai pada ruang kendali segera berkutat dengan beberapa tombol, suara berdesir serta suara besi bergesekan mulai terdengar. Perlahan-lahan pintu kanal mulai naik ke atas menutup jalan masuk air dengan perlahan-lahan. Karena semakin tinggi pintu itu menutup semakin besar tekanan air menyebabkan proses naik pintu membutuhkan waktu. Perlahan-lahan tapi pasti pintu mulai terangkat dengan sendirinya. Air masih bisa masuk saat pintu kanal mulai terangkat masuk tapi tidak sederas tadi. Saat air berangsur-angsur berhenti masuk, terlihat kekacauan yang telah terjadi. Ini bukan masalah sepele terdapat banyak orang yang terjepit badan panggung tidak sadarkan diri bahkan ada yang sudah membiru karena terlalu banyak meminum air. Segera beberapa prajurit dan petugas kesultanan mengevakuasi daerah terdekat dengan pintu kanal.


"Mohon lapor Pak Petruk."


"Ya silahkan."


"Bila dilihat dari kekacauan dan lamanya pintu kanal telah terbuka, saya yakin berton-ton air laut utara telah masuk kawasan di luar Dusun Undayan dan Dusun Elit. Tidak perlu menunggu lama kemungkinan banjir akan melanda 5 Dusun terdekat dengan pesisir utara."


"Baik, segera hubungi pihak damkar bilang bahwa kita sedang di landa musibah karena kebodohan manusia terhormat. Segera urus segala kekacauan di sini juga."


"Baik Pak Petrok."


"Sebelumnya kami minta maaf Sultan Lor karena datang sedikit terlambat. Kami membutuhkan beberapa kendaraan yang tahan menghadapi arus air. Dan anda tahu kendaraan itu sangat lambat bukan."


"Tidak masalah Pak Petrok, saya justru berterimakasih kepada anda dan seluruh petugas tata ruang kota. Berkat kalian kami dapat mengatasi masalah ini. Dan untuk beberapa Dusun yang terkena imbas, bukan salah kalian ada pihak yang harus bertanggung jawab dengan semua ini. Benar bukan Pak Hasta."


"…"


"Saya harap setelah masalah ini selesai anda dapat mempertanggung jawabkan apa yang terjadi saat ini. Karena anda yang memberi izin pintu kanal di buka pada acara ini."


"Jadi karena anda pintu kanal utara dibuka. Dengar saga tidak perduli anda siapa, kerabat siapa atau punya uang banyak. Saya akan membuat anda membayar atas apa yang telah anda lakukan. Kantor tata ruang kota akan menuntut anda atas ke lancangan ini. Asal anda tahu seorang raja saja bila membuka pintu kanal ini tanpa mendapat izin kantor tata ruang pun akan kami tuntut sesuai pelanggaran hukum kerajaan. Jadi tunggu saja anda, saya akan membuat semua yang terlibat dalam masalah ini mendapatkan hukuman."


"…"


"Itu akan segera diurus Pak Petrok, sekarang bagaimana kita fokus pada korban saja. Kita mulai sisir beberapa lokasi salah satunya di sekitar sungai kecil. Hati-hati kemungkinan sungai kecil sedang meluap. Setelah tim damkar datang kita langsung mulai penyisiran."


"Baik Sultan Lor."


"Oya bagaimana korban yang ada di sini Trisno?"


"Sendiko dawuh Sultan, terdapat 8 korban 3 masih belum sadarkan diri kami sedang berusaha melakukan pertolongan pertama dan 5 orang dinyatakan meninggal dunia. Rata-rata anak-anak dan remaja Sultan."


"Seharusnya aku lebih berusaha untuk menghentikan ini, sejujurnya aku tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini."


"Ini bukan salah anda Sultan, sekeras apapun anda melarang itu tidak akan pernah didengar oleh mereka. Dengan begini kita bisa memberi mereka pelajaran atas apa yang telah mereka perbuat."


"Sekarang aku harap semua fokus pada penyelamatan ini, kita juga perlu membantu tim damkar ini bisa jadi akan menjadi tidak mudah bila sungai kecil benar meluap."


"Sendiko dawuh Sultan."


Suara sirine tanda tim evakuasi telah datang semua berkumpul melakukan pertemuan singkat. Tim dibagi menjadi 3, tim pertama melakukan evakuasi korban yang telah ditemukan, tim kedua melakukan monitoring air laut yang masuk ke beberapa dusun di sekitar pesisir utara. Dan tim terakhir dibantu oleh prajurit Panglima Jayadri untuk menyisir beberapa sungai untuk mencari korban salah satunya Tari putri sang Panglima.


Bersambung...