
"Ingat anak-anak hati-hati dijalan, dan jangan lupa PR nya dikerjakan. Ibu tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian bila besok kalian tidak mengerjakan PR siap-siap saja. Ibu sudah meminta Mang Asan untuk tidak membersihkan toilet-toilet di sekolah. Jadi ingat kerjakan PR kalian bila tidak mau membersihkan seluruh toilet sekolah, mengerti?"
"MENGERTI BU NARTI."
"Baik kalau begitu kalian boleh pulang, ingat hati-hati dijalan."
"BAIK BU."
"Kaliaji. Bisa ikut ibu sebentar?"
"Injeh (iya) bisa Bu Narti."
"Kalian tunggu sebentar aku dipanggil Bu Narti."
"Oke Ji."
"Sip."
Kaliaji segera bergegas menuju ke ruang guru untuk menemui Ibu Guru Narti. Dalam perjalan Kaliaji bertanya-tanya kenapa Ibu Guru Narti memanggilnya, karena biasanya Ibu Guru Narti bila ada informasi beliau akan menyampaikan di kelas. Segera Kaliaji sampai di ruang guru dan bergegas menghadap Ibu Guru Narti."
"Nyuwun sewu Bu Narti, Ibu tadi memanggil saya."
"Oya Kaliaji duduk dulu Le."
"Injeh (iya) Bu."
"Jadi gini Le kemarin ada perwakilan dari beberapa SMA di JAWANAKARTA sedang mencari murid-murid yang berprestasi untuk diberi beasiswa untuk dapat bersekolah di sekolah mereka. Kemarin Ibu dan Bapak Kepala Sekolah juga sudah berunding Le. Karena kamu anak yang paling pintar di sekolah kita, kami ingin memberikan kesempatan pertama kepada kamu Le untuk memilih beasiswa yang kamu mau. Karena jujur saja Le tahu ini sekolah kita mendapat banyak tawaran beasiswa dari banyak SMA karena prestasi mu Le."
"Tapi saya belum ujian Bu dan saya juga belum memikirkan mau masuk SMA mana karena saya mau fokus ujian dulu."
"Ibu tahu Le, makannya Ibu mau memberikan kamu brosur sekolah-sekolah yang menawarkan beasiswa kepadamu. Kamu bisa lihat-lihat dulu, dan Ndak (tidak) usah khawatir karena mereka tidak memberi batas waktu pengumpulan berkas Le. Mereka tahu bahwa sekarang kita sedang fokus pada ujian. Jadi kamu terima dulu ya brosur-brosur ini."
"Injeh (iya) Bu Narti."
"Dan Le, Ibu cuma mau bilang Kaliaji kamu anak hebat dan akan menjadi semakin hebat nantinya Ibu percaya itu. Pesan Ibu Le jangan berubah ya tetaplah jadi Kaliaji yang ibu kenal dan banggakan. Apapun yang terjadi sekarang maupun nanti ingat kamu ndak (tidak) sendiri Le ada banyak orang baik yang akan membantumu. Dan tentu saja Ibu salah satunya, jadi kalau kamu butuh bantuan atau apapun jangan ragu untuk ketempat Ibu. Mengerti Le?"
"Injeh (iya) mengerti Bu Narti, tersuwun (terimakasih)"
"Oya Le satu lagi ibu punya buku bagus buat kamu."
"Buku buat saya Bu Narti?"
"Iya ini buat kamu, ibu yakin kamu bakalan suka tunggu sebentar."
Bu Narti mengambil sebuah buku dan menyerahkannya kepada Kaliaji.
"Ini untukmu Le."
"Tersuwun (terimakasih) Bu."
Kaliaji menerima buku itu dan melihat keseluruhan buku.
"Ini buku dongeng Bu Narti."
"Benar Le, buku dongeng pengantar tidur. Dongeng yang menceritakan anak laki-laki yang sangat hebat dalam melindungi keluarganya. Ibu akan memberikannya kepadamu Le, buku itu bisa kamu baca di saat kamu rehat belajar. Kamu juga butuh rehat Le jangan belajar terus mengerti, Ibu yakin kamu pasti suka."
"Sekali lagi terimakasih Bu Narti saya akan membacanya nanti."
"Ya sudah kamu boleh pulang Le, pasti Japri dan Dudung sudah menunggu kamu Le."
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu Narti, terimakasih saya akan lihat-lihat brosurnya juga."
"Iya Le sama-sama, hati-hati pulang langsung pulang ya jangan kelayapan."
"Injeh (iya) Bu Narti."
Setelah perginya Kaliaji, Ibu Guru Narti menatap punggu Kaliaji dengan tatapan sedih sambil lirih berkata.
"Semoga segalanya dapat kamu hadapi dengan baik Le, walaupun itu tidak mudah dan akan selalu membekas dalam hidupmu. Takdirmu sungguh berat Le tapi kamu akan menjadi orang hebat, orang yang ditakuti dan disegani. Ibu akan selalu mendoakan mu Le, terus majulah hingga mencapai kemuliaan."
Jauh di utara dari SMP Damarpadi, di lereng gunung Mprau terlihat sekelompok orang sedang berdiskusi. Dilihat dari suasananya sepertinya apa yang mereka diskusikan sangatlah penting semua orang tampak serius dalam diskusi tersebut.
"Bagaimana apa kalian sudah mendapat petunjuk tentang Sang Andarani Lor?"
"Ada beberapa petunjuk yang bisa kita jadikan acuan untuk mencari mereka."
"Mereka?"
"Benar Kepala Dusun Anang."
"Injeh (iya) saestu (benar) Kepala Dusun Barjan."
"Lalu berapa orang kah yang sedang kita cari sebenarnya, karena seingat saya Sultan Lor meminta kita mencari Sang Andarani Lor saja bukan?"
"Benar Kepala Dusun Banjar, tapi dari informasi yang kita dapat bahwa bila kita ingin mencari Sang Andarani Lor kita juga harus mencari Sang Darani Lor."
"Sang Darani Lor? Siapa dia Kepala Desa Tanggul?"
"Singkatnya Sang Darani Lor adalah penjaga dan pelindung dari Sang Andarani Lor. Dan bila kita melihat petunjuk dari buku harian ini akan lebih mudah menemukan Sang Darani Lor dulu dari pada Sang Andarani Lor."
"Oya bagaimana bisa? Apa mereka bersaudara begitu?"
"Benar Kepala Dusun Undayan, dari apa yang saya baca setiap periodenya mereka akan terlahir dari ayah dan ibu yang sama dan yang tertulis disini Sang Darani Lor adalah anak yang hebat dan menonjol. Dan akan menjadi orang yang hebat dan sangat disegani."
"Sangat hebat dan disegani? Apakah kita mengenal Sang Darani Lor Kepala Dusun Tanggul?"
"Bagaimana mungkin kita mengenalnya kepala Dusun Mbaru, kejadian itu terjadi 1000 tahun yang lalu. Kita belum lahir pastinya."
"Kita mengetahuinya Kepala Dusun Anang."
"Kita mengenalnya?"
"Benar sekali bahkan banyak diantara kita mengidolakannya."
"Siapa gerangan Sang Darani Lor itu Kepala Dusun Midang?"
"Gardapa Brataya Kreasto, 1 dari 5 panglima tertinggi di JAWANAKARTA."
"Sang Panglima Mburu Nyowo? Bagaimana bisa? Maksudnya bagaimana bisa kita tidak tahu menahu bahwa Sang Panglima berhubungan dengan Sang Andarani Lor?"
"Kami pun juga terkejut saat mengetahuinya Kepala Dusun Barjan. Tapi memang betul itulah adanya bahwa Sang Panglima adalah kakak dari Sang Tiang Pancang Lor."
"Lalu kenapa tidak ada satupun informasi mengenai Sang Tiang Pancang Lor di sejarah Sang Panglima. Semua orang di JAWANAKARTA tahu sejarah dari Sang Panglima bahkan sedari beliau masih kecil."
"Ingatlah bahwa Sang Panglima memiliki adik perempuan yang beliau bawa ke gunung Puser untuk bersembunyi dari pihak kerajaan. Apakah itu Sang Andarani Lor Kepala Dusun Tanggul?"
"Benar Kepala Dusun Anang, dialah Gayatri Pameswari adalah Sang Andarani Lor."
"Apa yang sebenarnya terjadi selama ini apa kita telah ditipu oleh Kerajaan, bagaimana mungkin mereka tidak menyantumkan ini dalam sejarah?"
"Kerajaan tidak akan pernah memasukan ini kedalam sejarah Kepala Dusun Mbaru, tidak mungkin seorang akan mengumbar aib mereka sendiri."
"Aib? Maksud anda apa Kepala Desa Tanggul?"
"Jika Sang Andarani muncul maka sama artinya bahwa kegagalan dari Kepemimpinan Kerajaan atas tanah JAWANAKARTA. Jadi tidak lah mungkin untuk memasukan sebuah kesalahan dan aib dalam sejarah bukan."
"Itulah kenapa di JAWANAKARTA terdapat banyak dongeng-dongeng pengantar tidur bukan, agar apa yang tidak tercatat dalam sejarah tetap diketahui oleh semua orang."
"Benar Kepala Dusun Anang. Tapi sayang semakin berkembangnya JAWANAKARTA semakin sedikit yang mengetahui dongeng-dongeng tersebut."
"Lalu apa hanya itu petunjuk yang kita dapat Kepala Dusun Tanggul?"
"Ada beberapa informasi lagi tapi informasi ini menurut saya masih terlalu umum jadi sedikit kurang membantu."
"Memang apalagi informasinya Kepala Dusun Tanggul?"
"Seperti mereka dibesarkan oleh orang tua yang sangat taat akan kepercayaan, budaya dan tradisi JAWANAKARTA. Dari keluarga sederhana dan selalu menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Dan terutama mereka berasal dari daerah yang akan dirugikan oleh Kerajaan dan akan menimbulkan penderitaan serta kesengsaraan."
"Kalau itu memang terlalu umum, pada saat ini ada banyak Dusun dan Desa yang diperlakukan semena-mena oleh kerajaan. Itu akan cukup sulit untuk menjadi acuan petunjuk, apa tidak ada lagi yang lain Kepala Dusun Tanggul."
"Dalam buku yang ditinggalkan hanya menyebutkan hal-hal secara umum, tapi ada yang cukup menarik dari buku ini."
"Apa itu Kepala Dusun Tanggul, bila itu dapat membantu maka katakanlah."
"Sosok Sang Darani adalah sosok paling menonjol, dia sangatlah cerdas,pintar dan jujur, dewasa melebihi umurnya, terlihat berwibawa sedari kecil dan sekali kita melihat dia, kita akan tahu bahwa dia akan menjadi orang hebat dikemudian hari. Tertulis di sini sosok Sang Darani sangat menonjol dan beda dari yang lainnya. Lalu Sang Andarani adalah sosok anak perempuan polos yang cerdas, pintar dan jujur. Dia juga pemberani dan berjiwa pemimpin, ditambah di sini tertulis bila kita bertatapan mata dengan Sang Andarani kita akan melihat semesta di matanya jernih, indah dan menawan."
"Tunggu Kepala Dusun Tanggul, kalau saya tidak salah tanggap tentang informasi yang kita dapat hari ini. Pertama keluarga Sang Andarani Lor terdiri dari ayah, ibu dan kakak laki-laki yang tak lain adalah Sang Darani penjaga dan pelindung Sang Andarani. Kedua mereka adalah keluarga yang taat akan Kepercayaan, Budaya dan Tardisi. Ketiga Sang Darani adalah sosok anak yang menonjol bahkan sedari kecil, hingga orang dewasa pun segan kepadanya. Yang keempat mereka tinggal di Dusun yang diperlakukan semena-mena oleh kerajaan. Benar kan semua informasi yang kita dapat hari ini?"
"Benar Kepala Dusun Anang, itu informasi sementara yang saya dapat dari buku ini, jujur saja bahasa yang digunakan adalah bahasa jaman dulu terlalu halus jadi saya juga butuh waktu untuk mengartikan semuanya."
Seketika salah seorang Kepala Dusun diam terpaku, ingatannya berkelana pada sosok keluarga harmonis yang selalu mengutamakan kepercayaan dalam segala langkah mereka, selalu menjalankan budaya dalam hidup mereka dan selalu memegang teguh tradisi warisan leluhur mereka. Keluarga yang terdiri dari Bapak, Mamak, 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Anak sulung laki-laki sangat menonjol bahkan hampir seluruh Dusun menghormati anak tersebut. Dan anak bungsu mereka anak perempuan yang sama cerdasnya dengan sang kakak dan memiliki mata yang sangat indah. Saat itu seluruh pikiran nya hanya tertuju kepada keluarga tersebut dan tanpa sadar menyebutkan nama keluarga tersebut.
"Kastiar, KELUARGA KASTIAR."
Bersambung...