
Disebuah rumah sederhana di Dusun Undayan duduk berhadapan sepasang suami istri dengan segala pikiran mereka masing-masing.
"Apa ini semua nyata Kangmas?"
"Dari apa yang kita alami hari ini sepertinya nyata Dek."
"Ratna masih ndak (tidak) percaya Kangmas."
"Tapi bukankah kita sudah tahu Dek kalau Asih adalah anak Istimewa ndak (tidak) seperti anak lainnya bukan."
"Iya Kangmas tapi bukankah Asih masih terlalu kecil untuk menanggung semua ini Mas."
"Kangmas juga ndak (tidak) mau Asih kenapa-napa Dek, tapi kita selalu diajarkan bahwa segala hal yang ada di Alam Semesta memiliki tujuan masing-masing. Bila Sang Pencipta Alam Semesta berkehendak kita hanya perlu menerima dan menjalankannya buka. Itu salah satu ilmu peninggalan leluhur kita yang ndak (tidak) boleh kita lupa Dek Ikhlas Nerimo ing Pandum (Ikhlas menerima apapun)."
"Lalu kita harus bagaimana Kangmas, Ratna belum mau pisah sama anak-anak, mereka anak-anak kita."
"Kangmas juga ndak (tidak) mau pisah sama mereka Dek. Tapi ingatlah bahwa Sultan Lor tidak akan mengambil mereka dari kita, lebih tepatnya bukan Sultan yang akan mengambil mereka. Tapi Alam Semesta lah yang akan mengambil mereka untuk menyelamatkan semua yang ada di JAWANAKRTA. Untuk saat ini Mas akan membaca seluruh isi buku peninggalan ayah Sang Andarani Lor terdahulu ini, kamu pun juga harus membacanya Dek. Dengan ini Mas berharap kita akan dapat memahami dan melindungi anak-anak kita yang istimewa."
"Injeh (iya) Kangmas."
Tanpa mereka sadari putra sulung mereka juga tengah terjaga mendengarkan obrolan mereka. Dalam diam Kaliaji kembali mengingat kejadian yang baru saja dia alami di kantor Kesultanan Lor. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia sama istimewanya dengan sang adik. Sedari kecil Kaliaji tahu bahwa Kalasih sang adik adalah anak istimewa. Asih bisa menggerakkan air hanya dengan tangannya belum lagi Asih juga bisa berkomunikasi dengan alam. Ada banyak kejadian yang membuktikan bahwa keistimewaan sang adik adalah nyata. Dia percaya bahwa sang adik istimewa sedang dia, Kaliaji tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Mengetahui keris dan busur panah itu bercahaya saat dia pegang masih menjadi tanda tanya di dalam pikirannya saat ini.
"Mas Aji juga istimewa percayalah, Asih sudah Tahu."
"Adek kamu belum tidur?"
"Asih kebangun mau ke kamar mandi. Percayalah Mas, Mas Aji juga istimewa sama seperti Asih."
"Dari mana kamu tahu Dek?"
"Angin Gunung Waruh yang bilang sama Asih, katanya Mas Aji adalah kesatria sewu langit (seribu langit). Dimana pun Mas berdiri langit itu milik Mas Aji."
"Angin Gunung Waruh? Gunung dekat rumah Mbah Uti?"
"Iya yang dulu kita pernah daki bareng-bareng."
"Kamu yakin Dek?"
"Yakin Mas, yang bilang gitu bukan cuma Angin Gunung Waruh. Sungai kecil juga bilang terus menerus, Mas Aji tahu kalau Mas Aji berada di pinggir sungai kecil, dia akan terus bilang Kesatria Sewu Langit, Kesatria Sewu Langit, berisik pokoknya Mas."
"Kamu ada-ada saja Dek."
"Beneran Mas Asih ndak (tidak) bohong."
"Kamu ndak (tidak) jadi ke kamar mandi Dek?"
"Oya Lupa, aduh Asih harus ke kamar mandi dulu Asih dah ndak (tidak) tahan."
"Sana ndak (tidak) usah lari, hati-hati nanti jatuh."
"Iya Mas."
Kaliaji hanya tersenyum melihat tingkah sang adik, selama ini Asih tidak pernah sekalipun berbohong. Dia tahu apa yang dikatakan sang Adik adalah benar walaupun itu diluar nalar manusia. Kembali Kaliaji tenggelam dalam pikirannya, tentang segala hal yang nyatanya baru dia tahu beberapa saat lalu. Dan itu yang mengganggu pikirannya hingga tidak bisa tidur malam ini.
"Lho Le kamu belum tidur?"
"Belum Mak, Aji ndak (tidak) bisa tidur."
"Tidur saja Le, besok kamu sekolah lo."
"Injeh (iya) Mak, Aji akan berusaha tidur."
"Le dengerin Mamak ya, ndak (tidak) usah mikirin yang ndak-ndak (tidak). Kamu masih kecil Le, masih tanggung jawab Mamak sama Bapak. Jadi biar Mamak sama Bapak yang mikirin ini mengerti."
"Injeh (iya) Mak."
"Sekarang tidur Le sudah malam banget ini besok kamu sekolah kan. Lho Asih juga belum tidur Nduk?"
"Sudah Mak, cuma kebangun karena mau pipis."
"Ya sudah tidur lagi ya Nduk ini masih malam. Kamu juga Le masuk kamar dan tidur ya."
"Injeh (iya) Mak."
"Injeh (iya) Mak."
"Cukup Ji, kamu harus tidur. Ndak (tidak) usah berpikir yang macam-macam serahkan semua kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Segalanya pasti beliau telah atur dengan baik dan kamu Ji tinggal menerima dan menjalankannya sekarang tidur Kaliaji."
Pagi menyapa warga Dusun Undayan dengan cuaca yang cerah dan berhawa sejuk. Masyarakat Dusun Undayan pun memulai aktivitas pagi mereka seperti biasa. Para Ibu sibuk mempersiapkan sarapan, sang para Ayah bersiap untuk berangkat bekerja begitu pula dengan anak-anak yang sedang bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Mulai hari ini Asih libur sekolah ya Pak?"
"Bukan libur Nduk, belajar di rumah."
"Iya Bapak sama saja."
"Beda Nduk, libur berarti Asih ndak (tidak) memiliki tanggung jawab belajar. Tapi kalau namanya belajar di rumah Asih wajib belajar walaupun di rumah."
"Tenang saja Pak nanti Asih belajar sama Mamak. Mamak ndak (tidak) akan membiarkan Asih malas-malassan selama belajar di rumah."
"Ah ndak (tidak) asyik belajar sama Mamak, Asih mending sekolah aja Pak."
"Kamu bilang apa Nduk?"
"Ndak (tidak) bilang apa-apa Mak, ya kan Pak."
"Sudah ayo kita sarapan dulu kasihan Kakakmu nanti telat berangkat sekolahnya."
"Panggil Kakakmu Nduk!"
"Injeh (iya) Mak."
"MAS AJI SARAPAN."
"Astaga demi Sang Pencipta Alam Semesta, kenapa kamu teriak Nduk."
"Katanya tadi suruh manggil Mas Aji Mak?"
"Iya tapi bukan teriak begitu Kalasih, kamu ke kamar Mas mu terus bilang sarapan dah siap. Kamu anak perempuan Asih bagaimana bisa teriak-teriak begitu."
"Hehehe maaf Mak, kirain manggil dari sini. Asih ke kamar Mas Aji dulu."
"Anak itu selalu saja tidak bisa ditebak."
"Namanya anak istimewa Dek."
"Lihat selama Asih belajar di rumah Mamak akan buat Asih jadi lebih lembut sebagaimana seorang wanita. Dia terlalu banyak bermain dengan anak laki-laki di sekolah."
"Bagaimana tidak bermain dengan laki-laki Dek, kalau anak perempuannya saja bisa dihitung dengan jari, di Dusun kita lebih banyak anak laki-lakinya bukan yang seumuran dengan Asih."
"Iya sih Kangmas, makannya selama Asih belajar di rumah Mamak akan latih dia jadi perempuan yang lembut."
"Bapak cuma mau bilang, selamat berjuang Mak."
"Bapak kok sudah pesimis duluan."
"Bukan pesimis Mak, cuma ingin menyemangati Mamak aja."
"Sama aja Bapak."
"Kamu sudah selesai bersiap Le?"
"Mpun (sudah) Pak."
"Ayo kita sarapan, supaya kamu ndak (tidak) telat masuk sekolahnya."
"Asih mah libur Mas, enak kan."
"Belajar di rumah bukan libur Nduk."
"Iya iya Pak, belajar di rumah."
"Belajar di rumah sama Mamak yang bener, ya kan Pak."
"Iya betul Mak."
"Aduh duh..."
Bersambung.