JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
25



"Terimakasih atas tumpangannya Ibu."


"Terimakasih"


"Sama-sama Aji, Ibu sekeluarga sangat senang bisa membantu kamu Ji."


"Terimakasih Ibu."


"Ibu, Bapak dan Tari ndak (tidak) akan melupakan jasamu Le, jadi kalau kamu dan keluargamu butuh bantuan jangan segan-segan bilang ke Ibu ya Ji."


"Terimakasih Ibu, tapi sejujurnya saya ikhlas membantu dan sejujurnya Ibu dan Bapak telah banyak membantu saya dan keluarga saya. Bahkan sekarang Bapak saya bisa mendapat pekerjaan yang baik berkat Ibu dan Bapak."


"Itu belum sepadan dengan apa yang telah kamu lakukan untuk kelurga kami, jadi Ibu mohon bila kalian butuh bantuan, ijinkan Ibu dan Bapak untuk menolong kamu dan keluargamu Le."


"Terimakasih Ibu."


"Ya sudah sana masuk sekolah, nanti kalian telat lagi."


"Sekali lagi terimakasih Ibu atas tumpangannya."


"Terimakasih."


"Sama-sama Le. Kalian berdua juga. Ibu pergi dulu ya."


"Injeh (iya) Ibu."


Mobil SUV keluaran terbaru itupun melesat meninggalkan mereka yang masih asik memperlihatkan laju mobil tersebut.


"Ibu dan Bapak Jayadri itu baik ya."


"Iya, meskipun mereka berasal dari kawasan Dusun Elit mereka ndak (tidak) pernah sombong bahkan sebelum kejadian Aji menolong putri bungsu mereka seingat ku mereka sudah sangat baik pada warga dusun kita."


"Benar itu dan kau teman terbaik ku Kaliaji, masa depanmu telah terjamin."


"Maksudmu Dung?"


"Salah Dung yang benar sangat-sangat terjamin."


"Maksud kalian apa coba?"


"Aji, apa kamu ndak (tidak) pernah berfikir kalau kau nanti akan menjadi menantu salah satu Panglima tertinggi di negara kita."


"Benar, nanti kanya di drama-drama yang ada di TV. Sebagai ucapan terimakasih karena kamu telah menyelamatkan putri kami, kamu harus menjadi menantu kami Le."


"Kalian edan (gila) sudah ayo masuk ke kelas nanti keburu bel masuk bunyi."


"Ndak (tidak) usah mengalihkan pembicaraan Ji, kita akan mendukungmu seratus persen. Lagian lihat tadi Tari sekarang sudah tambah cantik, sudah bukan anak-anak lagi."


"Benar, sebelum banyak saingan pepet dulu Ji."


"Kalian bisa berhenti ndak (tidak) atau ndak (tidak) aku pinjami PR nanti."


"Jangan, ampun Ji. Kita diam damai oke."


"Pis damai kawanku. Masak kamu tega lihat kita berdiri satu kaki selama 2 jam."


"Makanya jangan banyak ngomong ayo masuk kelas, bentar lagi bel masuk dan bukannya PR kita untuk pelajaran jam pertama."


"Matilah kita Dung."


"Iya Pri, aku lupa PR nya buat jam pertama sebaiknya kita lari kawan sebelum segalanya terlambat."


"Ya sudah sana lari cepat tar ndak (tidak) selesai lho."


"Iya ayo Pri lari."


"Tunggu-tunggu kalau aku sama Dudung berdua lari kita bisa cepet sampai kelas cepet bisa nyalin, tapi kalau kamu ndak (tidak) ikutan lari ya percuma Aji kan kita nyalin PR kamu."


"O iya ya, ayo Ji kita lari sekarang tar ndak (tidak) selesai."


"Wahaha.."


"Malah ketawa ni anak."


"Ayo dong Ji cepetan."


"Iya iya ayo, makannya jangan kebanyakan ngomong lupa segalanya kan."


"Injeh (iya) Master Kaliaji."


"Sendiko Dawuh Master."


"Wahahaha... "


SMP Damarpadi adalah SMP negeri yang Dusun Waring yang terletak di selatan Dusun Undayan. Sekolah yang menjadi pilihan utama bagi seluruh warga Dusun Undayan, sebuah sekolah sederhana yang terdiri dari beberapa kelas saja tiap tingkatan. Biaya yang terjangkau menjadikan sekolah sekolah bagi anak-anak kurang mampu. Walaupun sekolah negeri yang minim sarana dan fasilitas tapi tidak dapat di pungkiri bahwa banyak orang-orang sukses di JAWANAKARTA berasal dari sekolah tersebut. Meski tidak semegah dan semewah SMP yang berada di sekitarnya, seluruh murid SMP Damarpadi tetap bersemangat dan ceria menjalani aktivitas belajar mengajar di sekolah mereka dan untuk prestasi murid-murid SMP Damarpadi tidak dapat diragukan lagi, banyak penghargaan yang diperoleh sekolah dari murid-murid berprestasi di sana. Salah satunya adalah Kaliaji, anak laki-laki pintar, cerdas dan pemberani. Dia telah banyak menyumbang prestasi bagi SMP Damarpadi, seorang anak sederhana biasa yang nantinya akan menjadi luar biasa di JAWANAKARTA.


Disisi barat jauh dari SMP Damarpadi berdiri dengan megah sebuah gedung perkantoran. Gedung pusat adminsitrasi Kota Lor dan kantor dari Sultan Lor yang merupakan pemimpin kota Lor.


"Bagaimana apa ada kemajuan dari para kepala Desa, Trisno?"


"Nyuwun sewu, ada sedikit petunjuk Sultan."


"Lalu?"


"Beberapa kepala Desa kemarin berkunjung ke Dusun Tanggul, kita tahu bahwa dari Dusun tersebut Sang ANDARA terakhir lahir. Di sana mereka dapat bertemu dengan ke turunan dari Sang DARANI LOR, sang pelindung dan penjaga Sang Tiang penyangga atau Sang ANDARA LOR."


"Betulkah itu? Bagaimana selama ini kita tidak tahu bahwa ke turunan dari Sang DARANI LOR masih ada."


"Karena kita tidak tahu Sultan siapa gerangan Sang DARANI LOR, dan bila anda tahu anda pun akan terkejut."


"Siapa Tris? Apa kita mengenalnya?"


"Sangat mengenal Sultan seluruh masyarakat JAWANAKARTA tahu beliau."


"Siapakah gerangan Tris?"


"Gardapati Brataya Kreasto, Sang Panglima Mburu Nyowo. Panglima paling ditakuti di seluruh JAWANAKARTA satu dari 4 Panglima terbaik dan terhebat di JAWANAKARTA."


"Nyuwun sewu (maaf) Sultan, tidak hanya anda yang terkejut para kepala Desa juga sama terkejutnya. Di negara kita tidak ada yang tidak mengenal Panglima Gardapati namanya telah tercatat dalam sejarah JAWANAKARTA."


"Trisno kita semua tahu siapa beliau bukan. Sejarah mencatat segalanya, saat beliau kecil hingga perjalanan hidup beliau semua ada di dalam buku sejarah negara kita. Lalu bagaimana bisa Sang DARANI tidak pernah disebutkan dalam sejarah."


"Menurut para kepala Desa, Mbah Etos ke turunan terakhir dari Sang Panglima menjelaskan bahwa baik Sang DARANI ataupun Sang ANDARA tidak akan pernah dimasukkan dalam sejarah negara kita Sultan."


"Kenapa Tris?"


"Beliau matur (bilang) bahwa Sang ANDARA ada karena kegagalan dan kehancuran sebuah kepemimpinan, JAWANAKARTA akan hancur karena ketamakan, keegoisan, dan ke tidak adillan dari pemimpinya. Jadi dalam kata lain Sang ANDARA ada karena penderitaan rakyat JAWANAKARTA, itulah yang membuat Sang ANDARA tidak akan pernah masuk sejarah negara kita. Karena sejarah dibuat oleh Kerajaan jadi tidak mungkin bagi Kerajaan untuk mengumbar aib mereka sendiri."


"Ya sejarah itu hanya diisi oleh kebaikan dari pendahulu kita perjuangan hingga pencapaian yang telah di lakukan oleh pendahulu kita. Dan jelas kerajaan tidak akan pernah mau menampilkan keburukan mereka."


"Sendiko dawuh Sultan. Itulah alasan juga kenapa para pendahulu menjadikan kisah Para Tiang Pancang Penyangga sebagai dongeng Sultan, agar generasi yang akan datang tetap tahu kebenaran tentang Sang Tiang Pancang."


"Tapi sayang Tris jaman semakin maju banyak yang sudah tidak percaya dongeng bukan. Maka makin terlupakan lah para Sang Tiang Pancang."


"Benar Sultan mungkin ini juga salah satu alasan kenapa JAWANAKARTA perlu untuk dibenahi."


"Lalu ada petunjuk lagi Tris?"


"Sendiko dawuh Sultan. Para kepala Desa menerima beberapa hadian peninggalan Sang Panglima dari Mbah Etos."


"Apa itu? Dapatkah membantu kita?"


"Nyuwun sewu (maaf) Sultan untuk saat ini saya belum tahu apa hadian dari Mbah Etos. Para kepala Desa sedang mendalaminya dan segera akan mengantarkan ke sini Sultan."


"Bagus ini termasuk langkah awal yang baik, semoga itu dapat membantu kita menemuka Sang ANDARA sebelum pihak kerajaan tahu."


"Semoga saja Sultan Lor, kita hanya bisa berdoa dan meminta bantuan kepada Sang Pencipta Alam Semesta."


"Tentu Tris."


Tok tok tok (pintu diketuk)


Bergegas Trisno asisten dari Sultan Lor membuka pintu.


"Ada apa?"


"Maaf Pak Tris menganggu anda dan Sultan, saya benar-benar tidak dapat menghadapi mereka Pak Tris."


"Ada apa dan siapa yang kamu maksud Sari?"


"Perwakilan Dusun Elit memaksa untuk bertemu Sultan Pak, saya sudah bilang bahwa mereka harus membuat janji terlebih dahulu tapi mereka tidak mau mendengarkan dan tetap memaksa Pak Tris. Saya tidak tahu lagi bagaimana menghadapi mereka."


"Bukankah kita sudah menjadwalkan mediasi sengketa antara Dusun Elit dan Dusun Undayan adalah minggu depan?"


"Benar Pak Tris, tapi mereka tetap memaksa. Bagaimana ini Pak?"


"Tunggu sebentar saya akan memberi tahu Sultan terlebih dahulu, dan kamu sebaiknya disini saja dulu. Nanti kamu kembali ke lobi bersama saya, saya tahu kamu tidak akan dapat menghadapi orang-orang sombong karena banyak uang seperti mereka."


"Baik Pak Tris."


"Ada apa Tris?"


"Nyuwun sewu (maaf) Sultan, orang-orang dari Dusun Elit memaksa ingin bertemu dengan Sultan."


"Mau apa lagi mereka, bukankah kita telah membuat kesepakatan mediasi dengan Dusun Undayan minggu depan?"


"Benar Sultan tapi mereka memaksa ingin bertemu anda."


"Apa lagi rencana mereka untuk mengusir warga Dusun Undayan."


"Semoga saja bukan sesuatu yang berhubungan dengan Kerajaan Sultan."


"Benar Tris, aku juga berharap begitu. Bila mereka mendapat persetujuan Kerajaan maka warga Dusun Undayan mau tidak mau harus pergi dari Dusun mereka. Dan kita tidak akan bisa menolong mereka."


"Lalu bagaimana Sultan apakah anda ingin menemui mereka?"


"Apa ada cara aku untuk menolak mereka Tris?"


"Saya rasa tidak ada Sultan."


"Maka bawalah mereka masuk."


"Sendiko Dawuh Sultan."


Trisno pun meninggalkan ruang Sultan, Sultan Lor termenung dan berkata


"Sang Pencipta Alam Semesta, saya mohon lindungilah mereka yang butuh perlindunganmu dari ketidak adilan dunia ini."


Dilobi kantor Kesultanan Lor terlihat beberapa orang berpakaian rapi menunggu diruang tunggu. Bila dilihat dari ekspresi wajah mereka, terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk dapat menghadap Sultan Lor. Orang-orang yang berjas, berdasi dan bersepatu mengkilat duduk sembari terus tidak sabar menunggu sesuatu.


"Kenapa sekertaris tadi lama sekali Bang?"


"Iya lama sekali orang itu, kenapa kita ndak (tidak) langsung trobos saja tadi."


"Apa trobos? Apa seorang yang bermartabat dan berpendidikan akan melakukan itu?"


"Maaf Bang Japri, saya hanya tidak sabar untuk memperlihatkan ini kepada Sultan keras kepala itu."


"Lalu apa dengan itu membenarkan kita sebagai manusia yang bermartabat dan berpendidikan untuk melakukan hal rendah itu."


"Tidak Bang Japri."


"Sudahlah Japri, ndak (tidak) usah kamu memarahi Gunawan dia hanya terlalu bersemangat."


"Tidak bisa begitu Bang Hasta. Tidak hanya dia yang bersemangat saat ini, tapi kita juga tidak boleh lupa asal kita. Kita adalah warga Dusun Elit, Dusun tempat tinggal kalangan bermartabat dan berpendidikan jangan membuat malu Dusun Elit dengan sikap rendahan mu Gunawan."


"Maaf Bang Japri, saya tidak akan mengulanginya."


"Sudah-sudah, kalian tenang saja apa yang kita bawa tidak akan bisa ditolak oleh Sultan keras kepala itu. Kita telah memiliki kartu AS, hanya tinggal menghitung hari kita bisa mengusir kaum-kaum rendahan itu dari kawasan kita. Jadi jangan rusak kebahagiaan ini dengan pertengkaran kecil kalian. Kita lihat bila Sultan Lor telah melihat surat ini apa yang akan dilakukannya untuk menolong kaum rendahan itu."


Manusia adalah satu-satunya mahkluk yang suka menilai manusia lainnya tanpa melihat diri manusia itu sendiri. Meremehkan, merendahkan bahkan menghina hanya akan dapat dilakukan oleh manusia. Karena itulah manusia adalah mahkluk yang paling patut untuk di antisipasi karena mereka tidak akan pernah puas untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan atau memandang manusia lainnya.


Bersambung...