
"Bapak belum pulang Mamak?"
"Mungkin sebentar lagi Nduk. Ada apa memangnya?"
"Ndak (tidak) apa-apa Mak, Asih cuma nanya hehehehe."
"Kamu itu, oya Nduk tadi kamu pulang awal dari sekolah kenapa Nduk?"
"Sebenarnya Mak, sekolah Asih sementara akan diliburkan dulu. Tadi kepala sekolah bilang begitu. Jadi mulai besok Asih ndak (tidak) masuk sekolah dulu."
"Kenapa Nduk?"
"Ndak (tidak) tahu Mak, tapi tadi ada beberapa orang pakai baju jas yang datang ke sekolah Asih."
"Baju berjas Nduk?"
"Iya Mak bapak-bapak yang gagah terus rapi-rapi gitu kayak yang sering kita lihat di TV itu Mak. Setelah itu kepala sekolah bilang ke kita semua kalau sementara sekolah diliburkan dulu gitu Mak."
"Jadi gitu Nduk. Ya sudah nanti kita tanya Bapakmu nek (kalau) Bapakmu sudah pulang sapa tahu Bapak tahu kenapa sekolah kamu diliburkan."
"Itu juga yang mau Asih tanya ke Bapak Mak."
"O jadi karena itu kamu nanya Bapak dah pulang belum Nduk?"
"Iya Mak, soalnya Asih masih bingung kenapa sekolah diliburkan kan bukan habis terima rapot Mak, kita juga belum tes akhir semester."
"Ya sudah kita tunggu Bapak dulu saja sapa tahu Bapak tahu jawaban kebingungan kamu Nduk."
"Injeh (iya) Mak."
"Aji pulang Mak, Adek. Lho tumben kamu di rumah Dek biasanya dah kelayapan?"
"Ih Mas Aji, Asih kan mau istirahat di rumah mang ndak (tidak) boleh HAH."
"Tumben?"
"Sudah-sudah, Aji Le kamu bersih-bersih dulu sana. Ndak (tidak) usah ganggu-ganggu Adekmu dulu."
"Injeh (iya) Mak. Oya Mak, untuk acara Pesta Budaya Aji diminta untuk ikut mengisi acara."
"Oya Le, kamu mau ikut apa Le?"
"Tadi Aji ketemu PakLek Gani, Aji diminta ikut kelompok pencak silat Mak."
"Wah bagus Le, kamu bilang apa sama PakLek Gani Le?"
"Aji bilang mau ijin Bapak sama Mamak dulu."
"Kalau Mamak memberi ijin kamu Le, dan Mamak yakin Bapak juga pasti mengijinkan kamu ikut Le. Tapi kamu tetap harus bilang Bapakmu dulu ya Le."
"Injeh (iya) Mak."
"Ya sudah sana kamu bersih-bersih dulu."
Hari beranjak sore semburat oren terlihat diujung langit Dusun Undayan pertanda bahwa siang akan segera berakhir. Namun tidak dengan aktivitas masyarakat Dusun Undayan, saat malam datang dusun padat penduduk itu masih akan terlihat kesibukan dan kepadatannya. Saat orang-orang dewasa kembali dari bekerja, anak-anak yang asik bermain dan para pemuda yang berkumpul di balai-balai untuk saling mengobrol, menjadi puncak aktivitas masyarakat Dusun Undayan. Lahan yang sempit menjadikan tepat tersebut sangat padat dikala sore hingga malam hari, seluruh aktivitas warga hanya berkutat pada lahan sempit tersebut, padahal itu tidak sebanding dengan banyaknya rumah dan warga itu sendiri.
"Bapak pulang."
"Bapak, Bapak kok pulangnya sore banget sih, ndak (tidak) kayak biasanya?"
"Iya tadi sekolah elit ada acara sampai sore Nduk, jadi Bapak harus nunggu acara selesai baru bisa beres-beres."
"O alah."
"Sudah Nduk, biar Bapak bersih-bersih dulu, terus kita bisa segera makan malam. Kamu bantu Mamak menyiapkan makan malam ya Nduk."
"Injeh (iya) Mak."
"Aji, kamu bantu Bapakmu bongkar gerobak ya Le. Biar Bapakmu bisa segera bersih-bersih."
"Injeh (iya) Mak."
"Bapak."
"Iya Le?"
"Tadi Aji ketemu sama PakLek Gani, Aji diminta ikut mengisi acara Pesta Budaya Dusun kita."
"Oya, kamu mau ikut pencak silat Le?"
"Iya Bapak kalau Bapak memberi ijin."
"Tentu Bapak memberi ijin Le, pencak silat adalah seni beladiri asli dari negara kita warisan dari leluhur kita. Bapak sangat bangga karena generasi muda-muda seperti kalian masih menjaga dan melestarikan warisan leluhur kita."
"Kalau begitu Aji boleh mulai ikut latihan malam ini Bapak?"
"Iya boleh, pergilah ikut latihan Le. Latihannya di lapangan dekat balai Le?"
"Injeh (iya) Pak tadi PakLek Gani bilang kumpul di lapangan jam 7 malam."
"Ya sudah kalau begitu kita harus bergegas kamu ndak (tidak) mau telat kan. Dan Mamak mu ndak (tidak) akan mengijinkan kamu berangkat latihan tanpa makan malam bukan. Jadi ayo segera bongkar jadi Bapak bisa segera bersih-bersih dan kita bisa langsung makan malam."
"Injeh (iya) Pak."
Aktivitas rutin keluarga Kastiar dikala sore menjelang malam, sang ibu bersama anak perempuannya sibuk berkutat dengan peralatan dapur demi makan malam lezat yang akan disantap seluruh keluarga Kastiar. Dan sang kepala keluarga dan anak laki-lakinya membongkar dan membersihkan gerobak sarana mencari uang kepala keluarga mereka. Kegiatan yang sangat harmonis untuk keluarga sederhana di Dusun Undayan. Keluarga yang dikenal sangat baik dan tekun dalam menjunjung kepercayaan, budaya dan warisan leluhur. Keluarga yang sangat dikenal dan disegani di seluruh Dusun Undayan.
"Makan malam sudah siap?"
"Sudah Bapak."
"Ya sudah ayo kita makan malam, supaya Kalaji bisa segera berangkat untuk latihan pencak silat."
"Injeh Bapak."
"Bapak, Asih boleh tanya?"
"Ndak (tidak) nanti saja Nduk sehabis kita makan."
"Memang Asih mau tanya apa Nduk?"
"Itu Pak, Bapak tahu ndak (tidak) kenapa sekolah Asih diliburkan mulai besok?"
"Sekolah kamu diliburkan Dek?"
"Iya Mas hari ini saja Asih pulang awal, asih hanya belajar sampai jam 9 terus disuruh pulang dan kepala sekolah bilang kalau sekolah diliburkan sementara waktu gitu."
"Oya Nduk, Bapak malah belum tahu tentang itu Nduk."
"Bapak ndak (tidak) tahu tentang sekolah Asih?"
"Belum tahu Nduk, nanti coba pas rapat Bapak tanya sama Pak Januar soal sekolah kamu yang diliburkan."
"Jadi Rapat RT Pak?"
"Jadi Mak, tapi bukan hanya rapat RT. Tapi rapat satu Dusun."
"Satu Dusun? Memang ada apa sebenarnya Pak. Kok diadakan rapat Dusun bukannya kemarin Tarno cuma memberi undangan untuk rapat RT?"
"Tadi Bapak ketemu Pak RT kita, kata beliau acara dirubah rapat kali ini di balai Dusun dan seluruh pengurus RT di Dusun Undayan diminta hadir."
"Ada apa sebenarnya Pak?"
"Bapak juga belum tahu Mak."
"Semoga bukan pertanda buruk."
"Kita berdoa saja kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Sudah-sudah ayo kita makan malam karena habis ini kita masih memiliki kegiatan lain bukan."
"Injeh (iya) Bapak."
"Ayo semua kita mulai makan."
"Ayo Le kamu berangkat bareng Bapak saja, kamu juga latihan di lapangan samping balai Dusun kan?"
"Injeh (iya) Pak."
"Injeh (iya) Pak. Kamu hati-hati pas latihannya ya Le."
"Injeh (iya) Mak. Aji berangkat latihan dulu Mak."
"Iya Le."
"Asih boleh ikut ndak Mas?"
"Mau ngapain Adek ikut? Emang Adek ndak (tidak) ada latihan tari?"
"Kan setiap kamis latihan tarinya ini baru hari senin Mas. Ya boleh ya nanti Asih nonton doang kok dipinggir lapangan. Boleh ya Mas."
"Ijin Mamak sama Bapak dulu Dek."
"Boleh Bapak? Asih boleh nonton Mas Aji latihan Mak?"
"Boleh saja kalau Bapak."
"Kalau Mamak?"
"Mamak boleh asal, Asih janji ndak (tidak) menganggu Mas Aji latihan dan... "
"Dan... "
"Asih ndak (tidak) boleh kelayapan karena ini sudah malam mengerti. Jadi nanti kalau Mas mu selesai duluan kamu langsung pulang sama Mas Aji begitupun dengan Bapak, kalau Bapak selesai duluan Asih harus langsung pulang dengan Bapak. Jadi Asih ndak (tidak) boleh jauh-jauh dari balai Dusun ingat itu Nduk."
"Injeh (iya) siap Mamak, Asih janji."
"Kalau gitu kamu boleh ikut Bapak sama Mas mu."
"Kalau begitu kita berangkat dulu Mak."
"Iya Pak, hati-hati."
Jalanan sempit mengiringi mereka menuju balai Dusun Undayan, terlihat disepanjang jalan terdapat banyak warga sedang melakukan aktivitas mereka tak jarang juga terlihat sekelompok warga yang sedang bercakap-cakap dan mengobrol bersama. Bila dilihat sekilas Dusun Undayan memanglah sangat berbeda dengan Dusun Elit yang ada di sekelilingnya akan tetapi bila dilihat lebih seksama akan terlihat bahwa sejatinya Dusun yang hidup adalah Dusun Undayan.
"Kamu ndak (tidak) boleh nakal ya Nduk nurut apa kata Mas mu ya."
"Injeh (iya) Bapak."
"Ya sudah Bapak masuk dulu ya, Aji jaga adekmu ya dan jangan bertengkar mengerti kalian berdua."
"Injeh (iya) Pak."
"Injeh (iya) Bapak."
"Ya sudah segera sana kalian kelapangan dan jangan lupa hati-hati anak-anak. Bapak masuk balai dulu."
"Injeh (iya) Bapak."
"Injeh (iya) Pak."
"Mas latihannya itu sama siapa saja nanti?"
"Mas juga belum tahu Dek, kan Mas udah ndak (tidak) ikut latihan sejak Mas mau ujian sekolah."
"O iya, jangan-jangan Mas nanti ketinggalan banyak gerakan. Nanti Mas jangan menghambat latihannya, Mas harus cepat mengikuti lho."
"Iya Adek Mas yang cerewet."
"Ih Asih kan cuma mengingatkan, kita dah lama ndak (tidak) mengadakan Pesta Budaya kan Mas semenjak negara kita kedapatan Virus dari negeri utara. Jadi Pesta ini harus benar-benar meriah jadi bisa buat mengganti 3 tahun kita yang ndak (tidak) bisa ngadain Pesta Budaya."
"Iya Dek, Mas akan berusaha untuk bisa mengejar ketertinggalannya. Sudah ayo Mas pasti sudah ditunggu PakLek Gani."
"Iya Mas, ayo."
Sementara itu di Balai Dusun Undayan telah banyak datang kepala-kepala keluarga dari warga setempat.
"Apa itu benar Tarno, bagaimana bisa kerajaan memberi ijin begitu saja tanpa mengkoordinasikan dulu dengan warga Dusun Undayan."
"Benar ini sungguh ketidak adilan, kerajaan benar-benar sudah tidak berpihak dengan kita yang notabennya warga asli tempat ini."
"Benar tanah ini adalah tempat tinggal sedari leluhur kita masih hidup, dan lihat warga Dusun Elit mereka adalah pendatang dari berbagai Dusun di negara kita. Hanya karena mereka memiliki uang dan jabatan tinggi bisa-bisanya mengusir kita yang warga asli wilayah ini."
"Ini tidak dapat dibiarkan, kita harus melawan."
"SEMUA HARAP TENANG, KITA AKAN MEMULAI RAPAT WARGA DUSUN UNDAYAN. Waktu dan tempat saya persilahkan kepada Mang Kasep selaku wakil Kepala Dusun Undayan."
"Tunggu kemana Juan, kenapa Kasep yang memimpin rapat ini."
"Kang Juan sedang ada di Dusun Tanggul menghadiri rapat kepala Dusun atas perintah Sultan Lor."
"Perintah Sultan Lor?"
"Benar Kang Kastiar, sudah sejak beberapa bulan yang lalu Sultan Lor sering memanggil para kepala Dusun se Kota Lor."
"Ada apa pula dengan Kesultanan Lor, tidak biasanya Sultan Lor langsung memanggil para Kepala Dusun."
"Apa ada hubungannya dengan beberapa musibah yang menimpa beberapa Dusun di Pegunungan Serayu. Kabarnya makin banyak terjadi longsor di sana."
"Sudah kita juga punya urusan yang jauh lebih penting sekarang. Sebaiknya kita kembali ke topik awal pertemuan kita ini."
"Benar sekali ini jauh lebih penting untuk kita karena ini menyangkut dengan tanah tempat tinggal kita sekarang. Mang Kasep silahkan dimulai."
"Terimakasih karena telah hadir dalam rapat Dusun Undayan kali ini, langsung saja seperti yang kalian dengar beberapa saat lalu bahwa pihak kerajaan telah memberi persetujuan ambil alih seluruh tanah Dusun Undayan kepada Dusun Elit. Dengan kompensasi yang telah di ajukan oleh Dusun Elit."
"Tunggu itu tidak sebanding Kasep, tanah rumah kita hanya beberapa petak walaupun seharga tanah kawasan Dusun Elit tetap saja itu tidak cukup untuk kita membangun atau mencari rumah baru."
"Benar itu."
"Benar."
"Ini sungguh tidak adil."
"SEMUA TENANG DULU, maka dari itu kita mengadakan rapat darurat Dusun Undaya sebagai upaya meminta keadilan untuk kita semua."
"Apa kalian sudah punya rencana Kasep?"
"Belum Kang Kastiar, sejujurnya kami bingung harus mulai dari mana. Karena Kang Juan baru akan kembali hari sabtu nanti."
"Apa kita ndak (tidak) bisa menghubungi Juan sama sekali?"
"Kami sudah mencoba menghubungi salah satu kerabat warga kita yang tinggal di Dusun Tanggul tapi masih belum ada jawaban karena kata mereka rapat para Kepala Dusun sangat tertutup dan rahasia bahkan dijaga oleh prajurit Kesultanan Lor. Jadi mereka belum bisa menyampaikan berita ini kepada Kang Juan."
"Apa yang sebenarnya terjadi saat ini, aku rasa ini bukan pertanda yang baik untuk Kota Lor."
"Benar seperti ada yang dirahasiakan Sultan Lor dan para Kepala Dusun di Kota Lor."
"Sudah kalau begitu kita harus segera mencari solusi sendiri dulu untuk menghadapi masalah ini."
"Apa anda memiliki ide Kang Kastiar?"
"Pertama alangkah lebih baik besok perwakilan Dusun datang ke kantor Kesultanan Lor. Untuk saat ini kita hanya bisa meminta bantuan kepada Sultan Lor sebagai pemimpin Kota Lor. Dan aku akan mencari informasi yang lain yang dapat membantu kita. Karena sejujurnya kita akan sangat susah melawan Dusun Elit bila mereka telah mendapat hak penuh dari kerajaan."
"Benar itu Kasep, besok kamu dan beberapa pengurus datanglah ke kantor Kesultanan Lor, jelaskan semua yang ada lalu cari informasi sebanyak mungkin. Dan usahakan untuk dapat bertemu dengan Sultan Lor Kasep. Ingat kita harus melawan demi tanah tempat tinggal kita ini."
"Benar itu."
"Kita harus melawan."
"Kita ndak (tidak) boleh menyerah begitu saja."
"SEMUA TENANG, baik kalau begitu saya, Jupri, dan Wandhi akan ke kantor Kesultanan Lor besok. Kami akan berusaha sekeras mungkin untuk dapat bertemu dengan Sultan Lor dan meminta bantuan kepada Kesultanan Lor."
"Dan jangan lupa untuk terus menghubungi Juan, dia kepala Dusun kita jadi kita benar-benar membutuhkan dia saat ini."
"Baik Mbah Bari, saya akan meminta warga kita untuk terus menghubungi kerabat mereka yang tinggal di Dusun Tanggul agar segera dapat menyampaikan informasi ini kepada Kang Juan. Baik rapat kita akhiri dulu sampai disini kita akan berkumpul lagi besok diwaktu yang sama dan tempat yang sama untuk mencari solusi lanjutan. Sekarang kita dapat membubarkan diri, terimakasih atas kehadirannya dan jangan lupa besok kita berkumpul kembali."
"BAIK."
Bersambung...