
Hujan mulai mengguyur wilayah pintu kanal utara, hujan gerimis yang cukup deras mengawalinya. Acara tetap di lanjutkan dengan penampilan artis ibu kota, banyak sekali audiens yang tetap mau maju ke depan tanpa menghiraukan hujan yang sedang mengguyur. Saat melihat sang artis ibu kota naik keatas panggung serentak hampir semua audiens antusias maju ke depan untuk melihat penyanyi favorit mereka beraksi di atas panggung.
"Tari ndak (tidak) usah ikut ke depan nduk. Di sini sama Ibu dan Ayah saja juga kelihatan kan nduk, didepan terlalu ramai nduk berbahaya."
"Tapi ndak (tidak) kelihatan muka nya Ibu kalau nonton dari sini."
"Diakan penyanyi cukup dengar suaranya kan cukup nduk."
"Tapi Ibu."
"Sudahlah Bu biar Tari maju ke depan nonton sama Ayah, Bu."
"Tapi lihat hujannya makin deras juga Yah, nanti sakit di sana ndak (tidak) ada tempat berlindung."
"Lodan, apa kita punya jas hujan yang lebih?"
"Siap Panglima, saya akan carikan mohon tunggu sebentar."
"Tunggu dulu ya nduk, nanti kalau ada jas hujan kamu nonton ke depan sama Ayah."
"Kangmas kebiasaan selalu memanjakan Tari."
"Sudah ndak (tidak) apa-apa dek, biar mas yang jaga Tari. Kamu duduk sini saja ya, paling juga Tari sebentar saja nontonnya kamu tahu anak kita satu ini gampang bosen nya."
"Ingat ya nduk, kamu ndak (tidak) boleh lama-lama diguyur hujan nanti kamu sakit. Nonton sebentar habis itu kembali lagi ke sini mengerti."
"Injeh (iya) Ibu."
"Lapor komandan masih ada jas hujan tersisa akan tetapi semua ukuran dewasa maaf saya tidak menemukan jas hujan ukuran nona Tari."
"Tidak apa-apa Lodan. Tari sini nduk Ayah pakaikan jas hujannya, ini di ikat begini kan masih bisa menutup kepala sama badannya."
"Ingat nduk, sebentar saja nonton didepannya ya, lihat hujannya tambah deras. Lalu nanti setelah Tari selesai nonton kita langsung pulang saja ya Yah perasaan Ibu ndak (tidak) enak."
"Iya Bu, habis Tari selesai nonton kita langsung pulang, kalau dilihat awan dan anginnya sebentar lagi akan badai."
"Iya Yah, Ibu ndak (tidak) suka dengan awan itu, terlalu hitam seolah mereka membawa peringatan akan sesuatu yang buruk."
"Ya sudah ayo Tari kita ke depan dulu, setelah nonton sebentar kita langsung pulang ya."
"Iya Ayah, tari cuma mau lihat muka penyanyi favorit Tari itu saja."
"Ya sudah ayo."
Lagu sudah mulai dinyanyikan, artis ibu kota yang di panggil memanglah penyanyi favorit hampir seluruh anak dan remaja di JAWANAKARTA. Tidak ayal saat musik intro mulai terdengar sudah banyak anak dan remaja yang maju berjejer hanya untuk melihat dari dekat sang penyanyi favorit mereka. Tanpa menghiraukan hujan yang sudah mengguyur dan semakin lebat.
"Apa para orang tua mereka tidak takut bila anak mereka sakit. Lihat hujan semakin deras dan mereka tetap dibiarkan maju ke depan panggung yang jelas-jelas tidak ada pelindung hujan di sana."
"Biarkan saja Kasep, mereka berbeda dengan kita. Mereka memiliki banyak uang jadi tidak masalah bila anak mereka sakit mereka tetap dapat membawa mereka kepada dokter terhebat dan termahal. Tidak seperti kita yang hanya mengandalkan puskesmas pembantu kalau bukan orang pintar."
"Tapi tidak semua penyakit dapat sembuh dengan uang Pak Juan."
"Memang ada Sultan?"
"Banyak, intinya tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang. Ada banyak hal yang tidak bisa dibandingkan dengan uang, dan ingatlah alam pun tidak dapat dikendalikan dengan uang kan?"
"Benar, alam milik Sang Pencipta tidak dapat dikendalikan oleh manusia apalagi uang."
"Maka tidak semua hal dapat diatasi dengan uang Pak Kasep, termasuk ini. Mari kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan hari ini. Biarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, kita tidak perlu ikut campur lagi."
"Benar Pak Juan dan Pak Kasep anda berdua hanya cukup melihat mereka saat ini, sehebat apa uang yang mereka banggakan akan menyelamatkan mereka dari musibah yang mereka buat sendiri."
"Sebaiknya kita tetap disini untuk saat ini, apapun alat yang di banggakan mereka itu tidak akan bisa mengatasi pintu kanal utara. Ada baiknya kita bersiap untuk resiko terbesarnya."
"Baik Sultan."
"Sendiko dawuh Sultan."
Selesai menyanyikan satu lagu, angin kencang menerpa lokasi acara. Tenda-tenda mewah yang berjajar rapi mulai ambruk dan tidak berbentuk. Saat warga Dusun Elit ingin pergi dari tempat acara tersebut, Pak Doni segera mengumumkan bahwa akan ada demo singkat alay yang mereka beli dari negara biru. Seketika seluruh warga Dusun Elit yang berniat untuk meninggalkan acara tertarik dengan demo tersebut.
"Para hadirin yang terhormat pada kesempatan siang ini kita akan segera melihat alat penyedot tercanggih ter mutakhir dari negara biru. Dengan alat ini kita akan dapat mengatasi segala masalah banjir. Maka tanpa banyak bicara lagi saya akan segera mempraktekan penggunaan dan cara kerjanya."
"Apa benar bisa dipraktekkan sekarang, itu alat bukannya hanya bekerja saat banjir sudah datang. Sekarang sedang tidak banjir bagaimana kalian akan melakukan demonya?"
"Benar, tidak bisakah nanti saja demo alat itu saat banjir datang. Tapi itu bukan demo namanya ya?"
"Sudahlah cepat kalau mau demo, hujan semakin deras angin juga semakin besar. Jadi demo atau tidak bila tidak aku akan kembali ke rumah."
"Jadi tenang saja Bapak-bapak kita telah melakukan beberapa kesepakatan dengan sesepuh Dusun Elit, mereka telah setuju bahwa pintu kanal akan dibuka sedikit agar air dapat menggenang dan kita dapat memulai demo alat ini."
"APA KALIAN GILA HAH, MEMBUKA PINTU KANAL?"
"Maaf pak Doni atas ijin siapa pintu kanal utara akan dibuka, saya sebagai Sultan Lor tidak pernah memberi ijin untuk itu."
"Maaf Sultan Lor hanya sedikit saja untuk demo alat ini, percayalah itu tidak akan berbahaya."
"Dari mana anda tahu itu tidak berbahaya, asal anda tahu bukan kami tidak dapat mengatasi banjir di Dusun Elit yang selalu anda keluhkan alasan utama karena pihak Kesultanan Lor belum dapat mengendalikan pintu kanal utara. Ini buka masalah sepele, ini masalah serius sekali pintu kanal di buka baik kecil atau besar air laut akan masuk ke darat tanpa bisa dibendung lagi. Ingat pak Doni itu laut lapas bukan sungai atau terusan seperti di negara biru."
"Maaf Sultan Lor, tapi percayalah bahwa kami telah membawa teknisi terbaik dari negara biru. Mereka handal dalam urusan pintu kanal, jadi anda tidak perlu khawatir akan hal apapun."
"Kalian benar-benar..."
"Sudah Trisno, kita tidak akan bisa membuat mereka berubah pikiran. Saat ini fokus kita adalah warga Dusun Undayan, kirim utusan ke Dusun Undayan dan minta mereka segera evakuasi warga Dusun Undayan ke tempat yang lebih tinggi. Dan ingat saat pintu kanal utara terbuka Dusun Elitlah yang pertama terjang air laut utara. Dan kirim satu utusan juga ke kantor tata ruang Kesultanan Lor bilang bahwa warga Dusun Elit akan membuka pintu kanal utara, aku yakin kantor tata ruang akan segera mengirim teknisi asli pintu kanal utara."
"Sendiko dawuh Sultan, saya akan segera mengutus para utusan."
"Benar kenapa tidak ada teknisi pintu kanal dari kantor tata ruang Kesultanan Lor di sini. Mereka adalah yang tahu dan ahli dalam menangani pintu kanal utara."
"Karena mereka jelas tidak melaporkan acara ini kepada kantor tata ruang Kesultanan Lor. Karena bila mereka melapor tetang acara ini yang menjadi pihak pertama menentang adalah kantor tata ruang. Mereka jelas tahu seberapa berbahayanya pintu kanal utara kita."
"Apa hanya aku yang menganggap mereka adalah orang-orang paling bodoh yang pernah aku temui."
"Jaga cara bicaramu didepan Sultan Kasep."
"Maaf Mang Juan, maaf Sultan Lor."
"Tidak apa-apa pak Kasep, karena saat ini saya juga akan setuju dengan apa yang anda ucapkan tadi."
"Apa sebenarnya yang ada dipikiran mereka, apa mereka terlaku percaya dengan alat itu. Alat itu hanya buatan manusia bukan? Tidak akan bisa melawan alam semesta kita. Sungguh mereka adalah orang-orang bodoh yang sombong."
"Itu benar pak Juan, maka mari kita lihat alat yang sangat mereka banggakan itu dapatkah menyelamatkan mereka dari musibah yang mereka ciptakan sendiri."
Tidak ada yang dapat menghentikan para sesepuh warga Dusun Elit untu melakukan apa yang mereka inginkan. Karena kesombongan dan ke arogan nan mereka itulah awal dari sebuah bencana yang tidak akan pernah dapat dilupakan. Tidak hanya kehilangan apa yang mereka inginkan tapi juga kehilangan kepercayaan warga Dusun Elit. Alam bukanlah hal yang dapat di aja negosiasi, karena alam bukanlah milik kita. Karena manusia adalah bagian dari alam semesta status dan kepemilikan manusia sama dengan yang ada di seluruh alam semesta yaitu milik Sang Pencipta Alam Semesta.
Bersambung...