JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
38



Di dalam goa.


"Air, dek Asih, air naik, tangan diangkat air naik tolong..."


Dudung gelisah dalam tidur pingsannya, dia mengigau dan melambai-lambaikan tangan meminta tolong. Jupri berdiri dan berusaha membangunkan Dudung.


"Ya Dung bangun dasar kebo tukang tidur, bangun woy!"


"AIR MELAYANG."


Segera Dudung membuka mata dan panik melihat sekitar. Dia mencoba mengatur nafasnya, dan segera menetralkan matanya. Saat melihat Jupri Dudung segera menarik lengan Jupri dan mulai berbicara.


"Dek Asih Pri, adiknya Aji. Dia bisa bikin air melayang ngumpulin air ke atas melayang banyak air tangan gerak ikut gerak air banyak..."


"Heh Dung bangun jangan tidur terus kamu. Mending kamu cepat bangun Dung biar ndak (tidak) ngelantur?"


"Tidur?"


"Iya kamu ketiduran, dasar kebo tukang tidur. Lihat semua pada panik nunggu surut air sungai kamu malah bisa-bisanya ketiduran."


"Aku tidur Pri tadi?"


"Iya kalau ndak (tidak) percaya tanya saja sana Aji, dek Asih, sama dek Tari."


"Ya. Ndak (tidak) tahu orang lagi pada bakar singkong, kamu tiba-tiba tidur."


"Jadi aku tidur, berarti cuman mimpi hehehehe. Syukurlah."


"Syukurlah kenapa Dung?"


"Syukurlah tadi aku cuma mimpi, habis mimpiku aneh kayak nyata banget lagi. Tapi ndak (tidak) mungkin juga kalau itu nyata wa hahaha."


"Mang kamu mimpi apa Dung?"


"Aku mimpi Pri, dek Asih jadi kayak itu lo temennya avatar yang bisa mengendalikan air siapa namanya?"


"O pacarnya avatar ang itu?"


"Katara, bukan pacarnya temennya mas Jupri."


"Nanti bakalan jadi istrinya dek Tari."


"Kok mas tahu?"


"Bisa ditebak jalan ceritanya, kan di episode kemarin ang sempet cemburu sama zuko."


"Apa iya mas Jupri, Tari belum nonton episode kemarin."


"Lihat saja Tari nanti pasti si Katara bakalan nikah sama avatar ang."


"Kamu itu kayak sutradaranya saja Pri sudah tahu jalan ceritanya."


"Insting Aji, kamu tahu kalau aku suka nonton film. Jadi aku dah hapal beberapa jalan ceritanya."


"Kalau kamu beneran bisa nebak jalan cerita coba tebak nanti yang menang tim siapa kapten tsubasa apa hyuga coba? Masih minggu depan tayang nya episode itu."


"Gampang Dung, yang menang kapten tsubasa."


"Kamu yakin?"


"Yakinlah Dung iya ndak (tidak) Ji?"


"Kalau itu ndak (tidak) usah pakai insting buat nebak semua orang juga bakalan tahu yang menang kapten tsubasa."


"Bagaimana kamu juga bisa tahu Ji?"


"Judul kartunya apa Dung?"


"Kapten Tsubasa Ji."


"Nama judulnya saja sudah kapten tsubasa ya pasti dia yang menang lah kalau yang menang hyuga pasti judulnya kapten hyuga Dung."


"Hehehe iya juga ya."


"Sudah sini kamu jangan di situ nanti tidur lagi kamu. Kita bakar singkong yang tersisa saja dari pada ndak (tidak) tahu harus ngapain. Semoga saja warga desa ada yang menyadari kita hilang terus mereka mau nyariin kita."


"Pasti seluruh warga dusun sudah panik sekarang Pri, kita belum balik ke dusun tapi tenang saja aku tadi sudah ijin sama Mamak mau mancing di hulu sungai, aku yakin bentar lagi pasti ada yang nyariin kita ke sini."


"Semoga mereka bisa menemukan kita disini. Aku dah kedinginan juga lapar."


"…."


"Dek Asih kok kamu diem aja tumben?"


"Ndak (tidak) apa-apa mas Dung."


"Kamu ingat Mamak mu ya dek. Makannya lain kali kalau mau pergi pamit Mamak mu dulu dek, nanti pulang kamu pasti dimarahi hehehe."


"Sudah jangan diganggu dek Asih, dia mungkin sedang bersiap-siap kenal omel Mamaknya hehehe."


"Sudah jangan digoda lagi, bolak balik singkongnya biar ndak gosong."


"Siap Ji."


Tari memegang tangan Asih dan memberi senyumannya kepada Asih. Dia tahu Asih merasa bersalah kepada Dudung yang pingsan karena apa yang dia lakukan tadi. Tari pun berbisik kepada Asih.


"Ndak (tidak) apa-apa Asih, mas Dudung baik-baik saja bukan. Kamu ndak (tidak) usah merasa bersalah."


"Terimakasih Tari."


Saat sedang asik memakan singkong bakar di dalam goa. Sayup-sayup terdengar suara orang memanggil Tari. Aji yang pertama mendengarkannya panggilan tersebut disusul dengan namanya di panggil juga.


"Tunggu semua diam."


"Ada apa Ji?"


"Aku mendengar orang berteriak memanggil Tari dan aku. Semua diam dulu."


Benar, beberapa saat kemudian terdengar lagi panggilan untuk Tari dan disusul dengan nama anak-anak yang lain.


"Benar kamu Ji, ada yang memanggil kita. Warga mencari kita Ji. Ayo kita ke mulut goa biar mereka tahu kita disini."


Tanpa menunggu dua kali Aji, Jupri dan Dudung segera berlari ke mulut goa. Mereka berteriak memberi tahu bahwa mereka berada di dalam goa.


Saat itulah Asdi memberi tahu kepada Sultan Lor dan Panglima Jayadri bahwa anak dusun Undayan berada di dalam goa yang mereka maksudkan. Saat pasukan dan orang-orang yang mencapai hulu sungai kecil pemandangan menyedihkan yang pertama mereka lihat. Di hulu sungai terdapat sekitar 6 tubuh orang yang hanyut terbawa air bah laut utara tadi. Dari ke enam tubuh tersebut semuanya telah mengambang tanda mereka telah meninggal. Panglima segera turun ke hulu sungai ditemani para pasukan untuk mengevakuasi korban jiwa yang telah ditemukan sambil masih berharap bahwa sang putri bukan salah satu dari tubuh-tubuh tersebut, Panglima dan para prajurit sigap mengangkat tubuh-tubuh kaku tersebut. Ke enam jenasah itu telah berada di tepian sungai kecil, dan seluruh jenasah yang di evakuasi tidak ada yang mirip dengan putrinya. Antara lega dan juga khawatir Panglima segera memerintahkan seluruh pasukannya menyisir daerah hulu sungai kecil.


"Putriku tidak ada dalam ke enam jenasah ini Sultan."


"Syukurlah Panglima, bisa jadi putri anda dapat selamat."


"Tapi bila dia selamat, dimana keberadaannya sekarang. Apa ada hulu lain dari sungai kecil Asdi?"


"Tidak ada Panglima, hulu sungai kecil hanya di sini."


"Kita bagi menjadi dua tim Panglima, satu tim menyisir lagi daerah hulu dan satu tim mengevakuasi anak-anak dusun Undayan dari goa di atas."


"Panglima anda dapat ikut time evakuasi anak-anak dusun Undayan, biar kamu yang melakukan penyisiran hulu sungai kecil."


"Apa kamu yakin Lodan."


"Yakin Panglima serahkan pada kami."


"Baik, dan berhati-hatilah kalian tetap waspada ingat apa yang kita alami tadi saat perjalanan ke sini. Alam tidak bisa di tebak."


"SIAP PANGLIMA."


Mereka segera berpencar dalam dua tim seluruh pasukan Panglima kembali menyisir daerah hulu sedangkan Panglima Jayadri, Sultan Lor, Trisno serta Asdi dan Muntar segera naik menuju goa tempat anak-anak dusun Undayan berlindung. Tidak mudah mendaki bukit yang dipenuhi oleh rumput liar, jalanan juga tambah licin karena tersiram hujan badai yang sepat melanda daerah tersebut. Setelah dengan susah payah naik akhirnya mereka sampai di depan goa. Segera mereka bertanya keadaan mereka.


"Hei anak-anak kalian tidak apa-apa?"


"Mas Asdi, mas Muntar."


"Untunglah kalian selamat, Asih kamu juga di sini nduk, Mamak mu panik nyariin kamu."


"Iya mas, Muntar dek Asih ikut Aji memancing tanpa ijin Mamak dulu."


"Ya sudah yang penting kalian selamat Kaliaji, Kalasih, Jupri dan Dudung. Lengkap anak-anak dusun Undayan yang belum ketemu.


"Tunggu siapa gadis kecil di samping Asih itu Aji."


"Dia..."


"TARI."


"BAPAK."


Bersambung...