JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
48



"Panglima Jayadri bagaimana anda bisa mengetahui tentang Ruwatan Babadjagad?"


"Sultan bagaimana ini, bukankah kita tidak boleh sampai ketahuan oleh pihak kerajaan."


"Betul Sultan bukankah Mbah Ageng sudah mewanti-wanti agar pihak kerajaan tidak mengetahuinya."


"Pihak kerajaan belum mengetahuinya Pak Kasep lebih tepatnya Yang Mulia Ratu dan Raden Suryabagus tidak mengetahui tentang Sang Tiang Pancang dan para Kesatria."


"Maksud anda bagaimana Panglima?"


"Nyuwun Sewu Sultan Lor, saya akan menjelaskan semuanya nanti tapi sekarang lebih baik kita semua terutama anda Sultan Lor, mari segera ke Dusun Undayan."


"Tunggu Panglima ini tidak bisa di tinggalkan begitu saja saya harus tahu bagaimana anda bisa tahu tentang Ruwatan Babadjagad dan tentunya Tiang Pancang dan Kesatria? Sungguh kita perlu bicara saat ini juga."


Pintu ruang Kesultanan Lor kembali di buka dengan paksa kali ini sang sekertaris masuk dengan beberapa petugas Kesultanan.


"Ada apa Sari?"


"Pak Trisno ada utusan dari Petugas Dawin yang ingin bertemu dengan anda segera. Ada hal penting yang ingin di laporkan."


"Oke kamu segera melapor ada apa di Dusun Undayan?"


"Nyuwun sewu Sultan, Kalasih mengatakan bahwa akan ada orang jahat yang datang ke Dusun Undayan sekarang dan orang jahat tersebut memiliki Konco Borok bersamanya."


"Konco Borok?"


"Benar Sultan Ibu Kastiar mengatakan bahwa Kalasih sangat ketakutan dan mengatakan bahwa orang jahat tersebut ingin menyakiti warga Dusun Undayan."


"Itu adalah Yang Mulia Ratu dan Raden Surabagus Sultan. Saya sudah bilang bahwa kita tidak punya waktu lagi, saya bersumpah bahwa saya tidak berada di bawah kendali Ibu Ratu."


"Sultan sebaiknya kita segera bergegas saya tidak ingin terjadi sesuatu pada warga Dusun saya."


"Baik Pak Kasep kita akan segera berangkat ke Dusun Undayan. Dan untuk anda Panglima saya akan pegang Sumpah anda, seluruh alam akan menjadi saksi apa yang anda ucapkan barusan."


"Tentu Sultan."


"Baik semua mari kita segera berangkat saya juga khawatir dengan apa yang akan di lakukan Yang Mulia Ratu kepada Dusun Undayan. Walaupun saya tidak dapat melawan kehendak kerajaan saya berjanji kepada warga Dusun Undayan akan membantu hingga mereka mendapat hak mereka."


"Terimakasih Sultan Lor. Saya tidak berharap banyak hanya saja bila saya boleh meminta, saya ingin menghabiskan sisa hidup saya di Dusun Undayan tanah dari nenek moyang saya."


"Semua akan ada jalan Pak Juan, ingat Sang Pencipta Alam Semesta selalu bersama kita. Beliau jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk semua hambanya. Mari semua berangkat."


"Sendiko dawuh Sultan Lor."


Kembali ke Dusun Undayan Kalasih masih meringkuk dalam dekapan sang Ibu. Dia benar-benar takut dengan apa yang barusan di dengar dari para angin.


"Tenang ya Nduk Mamak sudah bilang sama petugas yang jaga di luar. Mereka akan segera memberi tahu Sultan Lor dan Bapakmu."


"Asih takut Mak, katanya yang akan datang jahat sekali. Bagaimana bila mereka ingin menganggu dan berbuat jahat kepada Dusun kita Mak?"


"Sudah Nduk, kamu ndak (tidak) perlu khawatir itu. Sekarang dengarkan Mamak Kalasih! Kalasih ingat apa yang diminta oleh Sultan Lor dan para Kepala Dusun se Kota Lor kemarin?"


"Ingat Mak."


"Asih harus janji ndak (tidak) ada yang boleh tahu bahwa Asih Istimewa kamu harus benar-benar menjaga rahasia ini ya Nduk."


"Tapi Mak nanti kalau yang jahat itu benar-benar ingin mencelakai warga Dusun kita Mak."


"Tetap ndak (tidak) boleh, Asih ndak (tidak) boleh memperlihatkan keistimewaan walaupun Mamak atau Bapak dalam kondisi bahaya sekalipun mengerti!"


"Mamak..."


"Berjanjilah nduk kepada Mamak."


"Tapi Mak..."


"Hisk hisk baik Mak Asih berjanji."


"Anak pintar, kamu perlu tahu bahwa Bapak sama Mamak sangat sayang dan bangga punya anak seperti kamu dan mas Aji. Terlepas kalian memang anak istimewa, kalian selalu dan akan jadi istimewa untuk Bapak dan Mamak."


Di sekolah Dusun Elit, Pak Kastiar sedang duduk di ruang pantry sambil sibuk membaca sebuah buku usang yang bisa di lihat dari kertasnya yang sudah tidak putih lagi melainkan berubah menjadi warna coklat. Pak Kastiar membaca setiap kalimat dengan penuh konsentrasi, dia tidak ingin ada satu hal pun yang tertinggal dia baca. Pak Kastiar ingin tahu semua yang tertulis dalam buku dengan sesegera mungkin, dia berharap bahwa buku ini dapat membantu anak-anak istimewanya kelak. Di saat Pak Kastiar ingin membalik kertas berikutnya terdengar suara langkah kaki mendekat. Segera dia memasukan kembali buku usang tersebut kedalam tas yang dia bawa dari rumah.


"Permisi anda yang bernama Pak Kastiar?"


"Benar, maaf anda siapa ya? Dan ada perlu apa dengan saya?"


"Saya diutus oleh Panglima Jayadri untuk mengantar anda kembali ke rumah anda, beliau berpesan bahwa akan ada sesuatu yang buruk terjadi di Dusun anda."


"Sesuatu yang buruk?"


"Benar Pak, lebih baik anda segera mengikuti saya sekarang karena bila kita terlambat sedikit saja kemungkinan anda akan susah masuk kedalam Dusun anda."


"Maaf maksudnya bagaimana? Kenapa saya tidak bisa masuk Dusun saya?"


"Anda pernah melihat iring-iringan keluarga kerajaan Pak Kastiar. Itu sangat banyak dan panjang ditambah penjagaan akan sangat ketat karena Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota Raden Suryabagus akan ada dalam iring-iringan tersebut. Jadi mari sebaiknya anda segera mengikuti saya."


"Bagaimana dengan pekerjaan saya, saya tidak bisa asal meninggalkan pekerjaan saya. Ini termasuk tanggung jawab saya."


"Panglima Jayadri telah mengurus ijin anda Pak Kastiar dan pihak sekolah telah memberi ijin anda untuk tidak bekerja hari ini, ini buktinya."


Sebuah kertas dikeluarkan dari saku laki-laki Asing tersebut dan di serahkan kepada Pak Kastiar. Masih dengan bingung dia mengetahui bahwa itu surat dari pihak sekolah bahwa mereka memberi ijin dia untuk tidak bekerja hari ini.


"Baiklah saya akan ikut dengan anda tapi sebelumnya bolehkah saya tahu siapa anda?"


"Perkenalkan saya Junedi, saya ditugaskan mengantar dan menjaga anda serta keluarga anda hingga Panglima Jayadri datang nantinya."


"Sebenarnya ada apa ini Pak Junedi? Apakah keluarga Kerajaan akan datang ke Dusun Undayan?"


"Benar Pak Kastiar dan keluarga Kerajaan itu adalah Yang Mulia Ratu Mehwadani dan Yang Mulia Putra Mahkota Raden Suryabagus."


"Maaf ada perlu apa sampai Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota datang ke Dusun kecil seperti Undayan."


"Sepertinya mereka ada hubungannya dengan proyek dari Dusun Elit Pak Kastiar, tapi bukan itu yang harus di khawatirkan sekarang. Melainkan anak-anak anda."


"Anak-anak saya? Apa maksud anda Pak Junedi? Kenapa dengan anak-anak saya?"


"Putri bungsu anda adalah Sang Tiang Pancang dan putra sulung anda adalah salah satu Kesatria JAWANAKARTA. Ada kemungkinan hari ini adalah hari Panjurung Sang Tiang Pancang Lor."


"Panjurung? Hari dimana seluruh kekuatan Sang Tiang Pancang terlepas dari segel?"


"Benar Pak Kastiar dalam kata lain Panjurung adalah awal mula Sang Tiang Pancang menerima seluruh kekuatannya. Ada tahu bukan proses apa saja yang akan di lalui Sang Tiang Pancang agar seluruh kekuatannya dapat terbuka."


"Seluruh penderitaan, kesedihan, kehilangan, ketidak adilan,..."


"Benar ada telah mengetahui banyak hal tentang keistimewaan anak-anak anda Pak Kastiar. Anda juga tidak lupa bahwa putri anda adalah Sang Tiang Pancang pertama yang ditemukan masih ada 3 lainnya Kidul, Wetan, dan Kulon. Maka dari itu kami semua akan menjaga anda dan keluarga anda dari keluarga kerajaan."


"Tapi bila Yang Mulia Ratu datang ke Dusun Undayan dan Panjurung terjadi sekarang bukankah akan membuat pihak kerajaan tahu tentang putri saya? Apa sebaiknya saya dan keluarga saya pergi dulu dari Dusun Undayan?"


"Tidak bisa Pak Kastiar, ingat Panjurung membutuhkan kejadian yang memilukan sehingga putri anda akan merasakan semua penderitaan yang ada di alam semesta ini. Istilahnya Panjurung membutuhkan seseorang yang sangat hitam dan jahat dan hari ini orang tersebut akan datang ke Dusun Undayan dan sudah takdir putri bungsu anda untuk bertemu dengannya."


"Lalu bagaimana bila kerajaan tahu Pak Junedi?"


"Itulah yang sedang diurus oleh Panglima Jayadri Pak Kastiar. Saya rasa sekarang beliau juga sedang menuju Dusun anda bersama Sultan Lor. Jadi mari segera kita bergegas menuju Dusun Undayan."


"Saya tahu jalan pintas menuju Dusun Undayan Pak Junedi, jadi kita ndak (tidak) perlu melewati jalan utama. Mari ikut saya Pak Junedi."


"Baik Pak Kastiar."


Bersambung...