JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
55



Di balai Dusun Undayan, satu persatu warga Dusun Undayan mulai berdatangan. Mereka berbondong-bondong dengan antusias datang ke balai dusun karena mengira Yang Mulia Kanjeng Ratu beserta rombongan datang hendak memberi mereka bantuan. Maklum lah Dusun Undayan termasuk Dusun dengan perekonomian yang cukup rendah di kawasan Kota Lor walaupun letaknya masuk dalam kawasan utama Kota Lor. Bahkan sebenarnya banyak yang tidak tahu menahu tentang Dusun Undayan, di karenakan tempat ini terkenal karena adanya kawasan elit, dengan nama Dusun Elit. Posisi Dusun yang berada tepat di tengah Dusun Elit ditambah letaknya yang berada di bawah semakin membuat Dusun ini tidak di kenal oleh banyak orang. Maka dengan kedatangan Yang Mulia Kanjeng Ratu mengunjungi Dusun Undayan menjadi sebuah kehormatan bagi warga Dusun Undayan dan tanpa menaruh curiga akan apapun mereka antusias untuk segera bertemu dengan Yang Mulia Kanjeng Ratu dan rombongan.


"Yan gimana Nduk? Ibu dah rapi belum?"


"Sampun (sudah) Ibu."


"Bapakmu belum pulang juga dari kantor Kesultanan Lor, jadi Ibu yang harus nyambut Yang Mulia Kanjeng Ratu. Ibu bener-bener ndak (tidak) tahu harus bilang apa Nduk gimana ini? Ibu takut salah ngomong."


"Emang ndak (tidak) ada bapak-bapak pengurus Dusun yang lagi di Dusun Bu?"


"Ibu ndak (tidak) tahu Nduk. Mbah Jum ndak (tidak) kelihatan dari tadi mungkin pergi mancing, kalau yang lain mungkin masih pada kerja. Gimana Nduk Ibu takut sama bingung."


"Ibu tenang saja, nanti kalau ketemu Yang Mulia Kanjeng Ratu jangan lupa kasih hormat dulu. Nanti Dian bakalan minta tolong orang lain buat membantu Ibu menghadap Yang Mulia Kanjeng Ratu."


"Aduh siapa yang bakalan kamu mintain tolong, di sini ndak (tidak) ada yang bakalan mau, kamu tahu Nduk rata-rata orang di Dusun kita itu cuma lulusan SD Nduk. Mereka ndak (tidak) akan mau bantu Ibu buat menyambut Yang Mulia Kanjeng Ratu."


"Ibu tenang saja masih ada Bulek Ratna, Mamaknya Asih bu. Bulek Ratna pasti mau bantu Ibu buat menyambut Yang Mulia Kanjeng Ratu."


"Kamu bener juga Nduk, sekarang kamu cepetan cari Bulek Ratna gih. Biar nanti Ibu segera bisa menghadap Yang Mulia Kanjeng Ratu, Ibu ndak (tidak) mau Dusun kita kena masalah karena kurang ajar sama keluarga kerajaan."


"Injeh (iya) Ibu Dian cari Asih sama Mamaknya dulu. Pokoknya Ibu tenang dulu ya, nanti kalau keburu dipanggil ingat Bu jangan lupa hormat dulu sama Yang Mulia Kanjeng Ratu."


"Iya Nduk, Ibu bakalan ingat sekarang cepat gih cari Bulek Ratna"


"Siap Ibu."


Segera Dian pergi menuju rumah Asih yang berjarak 2 gang dari balai dusun, saat melewati rumah Kasep, Dian berhenti karena merasa dirinya dipanggil oleh seseorang. Saat dia berbalik dilihatnya sang Bapak bersama beberapa orang yang Dian tidak mengenalnya kecuali Mang Kasep.


"Bapak. Bapak dah pulang?"


"Sudah Nduk, kamu mau kemana?"


"Ke rumah Asih Pak, Ibu mau minta tolong Bulek Ratna buat menemani Ibu menghadap Yang Mulia Kanjeng Ratu. Ibu bingung sama takut menghadap Yang Mulia Kanjeng Ratu sendiri Pak."


"Ibumu di mana Nduk?"


"Sudah di Balai Pak, tadi para prajurit memaksa kami buat datang ke balai dusun cepat-cepat."


"Keluarga Asih belum ada di balai dusun Diah?"


"Belum Mang Kasep, makanya Dian mau ke rumah Asih sekarang."


"Kamu ndak (tidak) perlu ke rumah Asih Nduk. Kamu ikut Bapak kembali ke balai dusun. Bapak dah pulang jadi nanti yang menghadap Yang Mulia Kanjeng Ratu biar Bapak saja. Kasep kamu antar Panglima dan Sultan Lor ke rumah Kastiar, urusan di balai biar saya yang atasi. Saya mohon pastikan saja semua rencana berjalan lancar, saya benar-benar berharap semua baik pada akhirnya."


"Tentu Pak Juan, saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk semua."


"Saya percaya dengan Panglima dan Sultan Lor. Ayo Nduk kita ke balai dusun sekarang, Bapak tebak Ibumu sudah gemetaran di sana sendirian."


"Injeh (iya) Bapak."


Mereka segera berpisah arah Juan yang merupakan kepala Dusun Undayan menuju arah balai dusun untuk menghadap dan menyambut Yang Mulia Kanjeng Ratu. Sebagai pemimpin sudah sepatutnya dia berada di garis depan dalam keadaan seperti ini. Juan percaya bahwa segalanya akan berjalan baik seperti doa-doa yang dipanjatkan oleh orang-orang baik yang bersamanya tadi.


"Wahai Sang Pencipta Alam Semesta, berikan segala yang terbaik untuk seluruh warga Dusun Undayan."


"Berhenti sebentar semua."


"Ada apa Tris?"


"Sepertinya di rumah keluarga Pak Kastiar sedang ada beberapa prajurit Sultan. Beberapa prajurit kita memberi kode bahwa kita belum dapat ke sana."


"Bagaimana ini sudah tidak ada waktu lagi, kita harus segera memberi tahu rencana kita kepada Asih dan Aji."


"Sebentar Panglima, kita tidak boleh menampakan diri ingat. Akan sangat berbahaya untuk Asih dan Aji."


"Lalu bagaimana Sultan."


"Pak Kasep, apakah kita bisa menunggu ditempat aman yang akan dilalui oleh keluarga Kastiar saat mereka pergi ke balai dusun?"


"Maksud anda kita akan menunggu mereka menuju balai dusun Sultan?"


"Iya benar sekali ini terlalu beresiko bila kita ke rumah keluarga Kastiar. Lihat rumah mereka berada di bagian ujung setelah itu tidak banyak rumah yang dapat dijumpai. Setelah selesai melakukan memeriksa beberapa rumah tersebut pasti mereka akan kembali lagi melewati rumah keluarga Kastir. Bila terlalu banyak orang di sana itu akan menimbulkan kecurigaan."


"Sultan benar juga, kita tidak bisa melumpuhkan mereka juga karena itu dapat menarik perhatian seluruh prajurit."


"Ada Sultan, rumah Pakwo saya. Keluarga Kastiar akan melewati rumah Pakwo saya bila mereka akan pergi ke balai dusun. Karena itu satu-satunya jalan masuk ke gang rumah Pak Kastiar."


"Baik alangkah lebih baik kita segera menunggu mereka di sana."


"Baik Sultan mari ikut saya."


Di dalam kediaman keluarga Kastiar.


"Asih takut Pak, Asih ndak (tidak) mau ke balai dusun."


"Nduk kamu harus ikut ke sana, ayuk. Tenang ada Bapak, Mamak, Mas Aji dan teman Bapak Pak Junedi."


"Apa sebaiknya Asih di rumah saja sama Mamak Pak?"


"Ndak (tidak) bisa Mak. Kita sudah sepakat bukan ini demi Asih dan Aji."


"Tapi Pak, Mamak ndak (tidak)... "


"Dek, dengerin Mas. Kita harus ikut ke balai dusun, kita ndak (tidak) boleh takut pada apapun. Ingat kita punya Sang Pencipta Alam Semesta bersama kita. Jadi jangan takut Mas akan selalu jagain Dek Asih, percaya sama Mas."


"Asih takut Mas."


"Dek Asih anak yang pemberani ingat, kamu pasti bisa."


"Iya Nduk, Bapak, Mamak sama Pak Junedi juga ke sana sama Asih. Asih ndak (tidak) sendiri, Bapak yang akan jagain Asih. Ndak (tidak) akan ada yang bisa menyakiti anak-anak Bapak selama Bapak masih ada."


"Ibu juga akan selalu menjaga kalian, kamu ndak (tidak) perlu takut ya Nduk."


Bersambung..