JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
30



"Apa ndak (tidak) apa-apa kita memancing ikan di sana Pri? Di situ bukanya terlalu dekat dengan wilayah Dusun Elit Wetan, nanti kalau ada yang liat kita disangka mau nerobos wilayah mereka lagi."


"Ndak (tidak) apa-apa Dung, nanti kita posisinya dibawah ndak (tidak) bakal kelihatan."


"Tapi justru karena kita dibawah Pri ini berbahaya, kita bisa hanyut kalau ada arus deras dari wilayah Dusun Elit."


"Tenang saja Ji, di sana itu aman soalnya dekat dengan pintu kanal utara jadi jarang di gunakan. Kemari Mas Asdi karo (sama) teman-temannya mancing disini dapat banyak ikan gede-gede (besar-besar). Lumayan kan Ji buat bakar-bakar kita."


"Mereka sering mancing di sana Pri?"


"Sering Ji, soalnya di sana itu sepi, terus dekat sama pintu kanal utara katanya jadi banyak ikan gede-gede."


"Ya sudah kita mancing di sana tapi ingat harus hati-hati dan waspada walau jarang digunakan daerah itu tetap berbahaya."


"Siap Ji, di sekitar sana juga ada goa kecil yang bisa buat kita beristirahat, katanya gua itu bisa untuk berlindung saat pasang musim hujan. Jadi kalau ada apa-apa kita bisa berlindung di goa itu."


"Oke ya sudah mari kita berangkat memancing teman-teman katanya kalau kita mau dapat ikan yang gede-gede kita harus memancing dari pagi."


"Apa iya Dung kata siapa terus emang kenapa harus dari pagi?"


"Kata Mbahkung ku Pri, karena kalau pagi itu ikannya pasti pada laper."


"Kok Mbahkungmu bisa tahu kalau pagi ikan-ikan pada laper Dung?"


"Iya Pri, soalnya ibu-ibunya pasti lagi belanja di tukang sayur terus pasti sama ngerumpi jadi lama belanjanya, kayak ibu-ibu di dusun kita. Jadi bisa dipastikan ikan-ikannya pada laper kalau pagi kayak kita-kita kalau hari libur, sarapan merangkap makan siang jadinya hehehe"


"Kamu ada-ada saja Dudung Mardung binti Kasdung."


"Sudah ayo berangkat keburu ikannya sarapan merangkap makan siang."


"Kamu malah ikut-ikutan Aji."


Mereka pun berangkat menuju muara sungai kecil di barat Dusun Undayan, sungai yang tidak memiliki nama karena hanya dipergunakan untuk saluran pembuangan air dari dusun-dusun disekitarnya. Walaupun kecil tapi sungai ini memiliki kedalaman yang lumayan sehingga terdapat beberapa spesies ikan yang bisa hidup di sungai ini. Letaknya yang berbatasan langsung dengan pesisir laut utara menjadikan sungai ini memiliki hasil ikan yang lumayan beragam. Beberapa warga Dusun Undayan sering memancing di sungai kecil ini, letaknya yang tepat berada di sisi barat Dusun Undayan menjadi lokasi favorit memancing warga Dusun Undayan. Berbeda dengan Dusun Elit yang tidak begitu tertarik dengan keberadaan sungai tersebut, Dusun Undayan sangat menghargai sungai tersebut. Warga Dusun Undayan sangat menjaga dan merawat sungai kecil seperti mereka merawat alam yang lain. Karena mereka percaya bahwa segalanya yang ada di Alam Semesta ini pasti memiliki makna dan keistimewaan dari Sang Pencipta Alam semesta begitupun sebuah sungai yang kecil sekalipun.


Tepat di atas muara sungai sedang digelar perhelatan peresmian proyek gorong-gorong Dusun Elit. Segala persiapan telah selesai dan acara akan segera dimulai, terlihat para tamu undangan telah hadir didalam acara. Terlihat beberapa orang pejabat kerajaan yang turut hadir dalam acara tersebut, setelan jas mahal dan aksesoris yang mahal pula memperlihatkan bahwa mereka bukanlah orang sembarangan. Nuansa keglamoran terlihat di acara, tidak ada yang dapat menandingi pesta atau perayaan yang digelar oleh Dusun Elit. Semua yang ada di JAWANAKARTA telah tahu siapa orang-orang yang tinggal di Dusun Elit. Semua orang-orang terpandang, berpengaruh dan tentunya kaya raya, pengusaha, penjabat bahkan keluarga kerajaan semua adalah warga dari Dusun Elit. Jadi tidak dapat dipungkiri pesta atau perayaan di Dusun Elit akan selalu megah. Hidangan yang disajikan bukan hidangan biasa semua harus kualitas no. 1, pengisi acaranya pun artis dari luar negara dengan panggung megah di tepi pintu kanal utara.


"Semua sudah siap?"


"Siap Pak Direktur, semua sudah standby ditempat masing-masing acara sudah dapat dimulai."


"Baiklah mari kita mulai acara ini, ingat acara ini tidak boleh gagal ini proyek gemilang untuk perusahaan kita jadi kita harus memberi kesan yang baik agar mereka terkesan dengan perusahaan kita. Untung proyek ini bisa membuat kita kaya 7 turunan mengerti dan ingat itu."


"Mengerti Pak Direktur, kami telah mengatur segala yang terbaik untuk acara ini."


"Semua keamanan aman bukan?"


"Aman Pak, saya sudah menyiapkan teknisi kanal terbaik dari negara biru. Pak Direktur tenang saja dan fokus pada acara ini."


"Baik aku percayakan kepadamu Lanang, aku akan menyambut beberapa tamu penting terlebih dahulu setelah itu aku akan menuju panggung kehormatan jadi siapkan semua dengan baik."


"Baik Pak Direktur."


(Percakapan di HT)


"Semua standby, acara akan dimulai 10 menit lagi. Semua lakukan dengan baik jangan ada kesalahan mengerti."


serempak menjawab


"Siap mengerti Pak"


Disisi lain sang kepala direktur tengah asik menyapa para tamu undangan yang telah hadir, dengan keramahan yang luar biasa sang direktur sangat disanjung oleh warga Dusun Elit yang hadir.


"Anda sungguh luar biaya Pak Doni, proyek ini sangat luar biasa kita tidak lagi akan berurusan dengan banjir rop pasang laut lagi."


"Benar itu, tidak disangka ide cemerlang anda dapat direalisasikan untuk Dusun kita."


"Tentu Pak saya juga sangat senang bila dapat membantu semua warga Dusun Elit, karena sejujurnya saya juga sudah jengah dengan banjir rop pasang laut yang hampir 5 tahun sekali melanda Dusun kita."


"Kita benar-benar tidak dapat mengandalkan pemerintah Kota Lor, lihat mereka bahkan tidak berbuat apapun untuk mencegah banjir. Mereka pikir dengan membangun tanggul dan pintu kanal ini dapat membantu kita terbebas dari banjir. Kita tetap saja kebanjiran."


"Tapi maaf bukankah tanggul dan pintu kanal itu juga telah membantu kita dari serangan banjir tahunan. Kita hanya kebanjiran sekitar 5 tahun sekali itupun bila pasang laut sangat tinggi selebihnya kita telah aman dari banjir bukan."


"Iya anda benar Pak Jayadri, tapi bila kita bisa terhindar dari semua banjir bukannya lebih baik untuk kita."


"Betul Pak Buan, tapi banjir rop bukalah banjir yang bisa dengan mudah diatasi. Siapa yang bisa mengatasi air laut lihatlah di sana seberapa besar laut utara kita. Hitung saja kita bisa mengatasi masalah ini sekarang tapi apa itu dapat diatasi dikemudian hari, ingat Pak Buan yang kita atasi adalah bagian dari Alam Semesta."


"Lalu apa kita harus diam saja Pak Jayadri, padahal kita tahu saat ini ada solusi akan masalah ini."


"Semala solusi itu baik dan dapat dipertanggungjawabkan dikemudian hari kita patut untuk mencoba, tapi ingat semua yang ada di Alam Semesta ini hidup dan berhak atas Alam Semesta ini. Jadi bila dikemudian hari cara ini tidak dapat lagi digunakan atau malah berdampak buruk untuk semua saya harap semua harus saling mengerti dan mau bertanggungjawab karena proyek ini telah disepakati bersama."


"Tentu Pak Doni, saya sangat menantikan hasil terbaik dari proyek ini."


"Kalau begitu saya undur diri dulu, karena acara ini akan segera saya mulai."


"Silahkan Pak Doni."


"Tentu silahkan Pak Doni, saya sudah sangat menantikan acara ini."


"Baik saya mohon diri semua, selamat menikmati acara kami."


Sepeninggalan Pak Doni, Pak Jayadri didatangi oleh ajudannya.


"Maaf Panglima apa anda akan tetap membiarkan proyek ini dilaksanakan? Bukanlah ini berbahaya Panglima?"


"Lalu apa yang dapat aku perbuat Lodan, semua perijinan terpenuhi bahkan mereka mendapat dukungan penuh dari kerajaan."


"Tapi bermain-main dengan Alam Semesta itu bukan hal yang baik Panglima."


"Aku tahu Lodan, kita tidak dapat bermain-main dengan hukum alam. Tapi lihatlah orang-orang ini apa mereka terlihat takut, tidak ada kata takut bagi manusia yang memiliki uang bukan. Itu hukum mutlak pada masa ini, karena saat ini uang adalah segalanya. Dan mereka lupa bahwa tidak semuanya dapat di taklukan oleh uang."


"Lalu bagaimana kedepannya Panglima, jujur saya juga merasa kasihan dengan Dusun Undayan bila proyek ini berhasil merekalah yang akan menerima akibatnya karena letak mereka yang hampir sejajar dengan sungai kecil itu."


"Aku berharap Sultan Lor memiliki solusi yang lebih baik dari pada proyek ini."


"Tapi apa Sultan Lor tahu akan proyek besar ini Panglima?"


"Aku tidak tahu Lodan, kamu tahu sendiri bagaimana watak dan perilaku dari warga Dusun Elit. Bila Sultan Lor tidak tahu akan proyek ini kita harus memakluminya. Kita tahu bahwa Sultan Lor selalu berlaku adil untuk Dusun-Dusun di Kota Lor, tapi itu tidak berlaku di Dusun Elit. Bisa dipastikan seluruh warga Dusun Elit tidak sependapat dengan itu, karena menurut Dusun Elit Sultan Lor terlalu perduli akan Dusun Undayan."


"Apa perlu saya mengirim utusan ke Kantor Kesultanan Lor Panglima agar mereka dapat tahu dan mencoba mencari solusi."


"Bukan ide yang baik Lodan, lihatlah orang-orang yang ada di acara ini. Mereka orang-orang berpengaruh jelas tidak mudah di hadapi meskipun kita seorang Sultan."


"Lalu sekarang kita harus bagaimana Panglima?"


"Kita lihat perkembangan proyek ini dulu Lodan, setidaknya saat ini mereka tidak akan bertindak gegabah dengan bermain-main dengan pintu kanal utara. Mereka tidak mungkin senekat itu, teknisi terbaik dunia pun belum tentu bisa mengatasi pintu kanal utara itu."


"Saya rasa benar Panglima, mereka tidak akan sebodoh itu menenggelamkan dusun mereka sendiri saat pembukaan proyek gemilang mereka."


"Jadi mari kita amati saja terlebih dahulu. Jangan berbuat gegabah tapi tetaplah waspada semua tetap pada posisi siaga mengerti."


"Sendiko Dawuh Panglima."


"AYAH"


"Tari jangan lari-lari nduk, nanti kamu jatuh."


"Ndalem (iya) anak Ayah seng ayu dewe (yang cantik sendiri)"


"Ayah ayo kita duduk didepan Tari mau lihat penyanyi favorit Tari."


"Kamu yang sabar nduk, Ayahmu masih ada urusan sama Mas Lodan."


"Sudah selesai kok Ibu, saya akan segera kembali ke posisi saya. Panglima mohon ijin kembali ke posisi."


"Laksanakan."


"Siap Laksanakan. Permisi Ibu."


"Ayo kita duduk di depan Ayah, nanti keburu ndak (tidak) dapat tempat duduk depan, Tari nanti jadi ndak (tidak) bisa lihat."


"Iya nduk, ayo kita duduk didepan."


"Tari ndak (tidak) boleh lari-lari."


"Sudahlah Bunda biarkan Tari, dia pasti seneng dapat melihat penyanyi favoritnya. Kita turuti saja ayo kita bergegas menyusul Tari."


"Kamu tu Mas selalu manjain Tari."


"Lha habis gimana siapa yang bisa mas Mas manjain selain Tari anak perempuan satu-satunya Mas kan Tari Dek. Kamu tau sendiri dua anak laki-laki kita sudah pada besar sudah pada punya urusan sendiri."


"Iya juga sih."


"Sudah ayo kita susul Tari, nanti dia protes terus kalau ndak (tidak) dapat kursi paling depan."


Pesta perayaan akan segera dibuka dengan meriahnya seluruh warga telah menunggu perhelatan acara ini dengan sangat antusias. Segala fokus tercurah pada acara tersebut, tidak ada yang menyadari awan hitam terlihat diujung laut utara pertanda sang badai akan datang. Satu hal yang perlu kita ingat, sehebat apapun rencana manusia sesungguhnya tidak sehebat rencana alam semesta. Karena manusia hanyalah salah satu bagian dari alam semesta. Jadi sehebat apapun manusia, tidak akan dapat menang melawan alam semesta.


Bersambung..