
Lor (Utara)
SANG DARANI LOR
"Kamu nanti akan tahu Le, sebaiknya kalian segera istirahat dulu jadi nanti saat kita sudah harus berangkat kalian sudah segar lagi."
"Masuklah ke tenda Gardapati bawa adekmu juga di sana lebih nyaman untuk beristirahat."
"Terimakasih tuan."
"Sebaiknya kamu juga istirahat dek Sari, mas yakin kamu juga akan menempuh perjalanan yang panjang."
"Terimakasih mas Parjo, perjalanan Sari tidak sepanjang anak-anak itu, mereka harapan negara kita."
"Ya dek mas yakin anak-anak seperti mereka nantinya yang akan merubah dunia."
"Benar mas Parjo."
"Istirahatlah dek Sari, malam semakin larut."
"Terimakasih mas Parjo."
Dingin kian terasa dikala malam semakin larut. Hujan yang tak kunjung berhenti semakin menambah hawa dingin terasa. Dalam dingin malam tersebut Gardapati mengingat kembali kedua orang tuanya. Bapak dan Mamaknya mereka adalah orang yang paling dia sayangi seperti adek Giyanta. Saat mengingat bahwa sang ayah dan ibunya telah tiada membuat dadanya menjadi sesak. Kenangan pagi tadi masih teringat dengan jelas mereka masih baik-baik saja, masih bergurau bahkan suara dari sang ibu yang membangunkannya tadi pagi masih terpatri jelas dalam pikirannya. Kenyataan bahwa dia tidak akan lagi mendengar suara sang ibu membuat dadanya kian sesak. Air mata tidak terasa menetes dari matanya, dia sudah tidak dapat menahannya lagi semakin dia tahan semakin sesak dadanya. Dalam tangis diamnya dia berjanji bahwa dia akan menjaga dan mengantar adeknya Giayanta ketempat semestinya dan akan membalas atas apa yang menimpa orang tua dan desanya. Sekarang dia akan lebih fokus pada Giyanta, tugas utamanya sekarang adalah menjaga dan mengantar adeknya ke Gunung Puser secepat mungkin.
"Tidur yang nyenyak adek, Mas janji akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga dan akan mengantarkan mu ke tempat yang tepat untukmu."
"Bagaimana keadaan desa Yustar?"
"Mulai sedikit terkendali Parjo karena Yang Mulia Ibu Suri telah meninggalkan desa."
"Puji Sang Penguasa Alam Semesta, itu berita bagus Yustar."
"Tidak begitu bagus Parjo, Yang Mulia Ibu Suri memanglah telah kembali dan beliau kembali dengan surat kontrak penyerahan tanah seluruh desa Saeedah terlebih lagi..."
"Terlebih lagi apa Mas Yustar."
"Beliau segera kembali ke istana karena dua anak tersebut yang bersamamu dek Sari."
"Maksud Mas Yustar?"
"Maksudnya Gardapati dan Giyanta akan ditetapkan sebagai buronan kerajaan. Keputusan itu perlu ijin dari Yang Mulia Raja maka beliau segera pulang untuk meminta Yang Mulia Raja mengeluarkan perintah kerajaan."
"Panglima Dronota"
"Dimana anak-anak?
"Di dalam tenda Panglima mereka sedang beristirahat."
"Bisa tolong bangunkan Gardapati Parjo?"
"Saya sudah bangun Panglima."
"Kemarilah Le, ada yang ingin aku tunjukan kepadamu."
"Sediko dawuh Panglima Dronota."
"Sari kamu disini saja jaga Giyanta, biarkan dia istirahat dulu."
"Sendiko dawuh Panglima."
"Ayo Gardapati ikutlah denganku."
Gelap malam mengiringi Panglima Dronota dan Gardapati menapaki tebing gunung Mprau. Hujan masih belum berhenti walau badai telah berlalu, gerimis masih terjadi membuat hawa sekitar gunung Mprau menjadi dingin. Mereka berjalan dalam diam, perlahan-lahan menaiki celah tebing untuk sampai di padang rumput di kaki gunung Mprau. Di kejauhan terlihat 5 orang laki-laki dewasa telah menunggu dibawah pohon beringin yang besar. Semakin dekat siluet 5 orang tersebut semakin jelas, Gardapati mengenali satu diantara yang lainnya.
"PakLe Karsan."
"Le Gardapati, kamu ndak (tidak) apa-apa Le?"
"Gardapati ndak (tidak) apa-apa PakLek."
"Adek baik PakLek cuma masih kaget saja, sekarang sedang istirahat."
"Gardapati."
"MbahWo Juman."
"Le dengarkan MbahWo yo Le, saiki (sekarang) kita akan mengistirahatkan Bapak sama Mamak beserta pak Kades. MbahWo sama Paklekmu senang kamu belum pergi jauh setidaknya kamu bisa mengantarkan Bapak sama Mamakmu dulu sebelum mengantar adekmu."
"Bapak sama Mamak pundhi (mana) MbahWo Juman."
"Neng kono (di sana) Le, lihatlah kami telah membersihkan mereka kamu bisa lihat."
Gardapati berjalan dengan perlahan seakan tidak ingin melihat apa yang ada dibawah pohon beringin. Semakin dekat semakin terlihat 3 orang yang sedang terbaring dibawah pohon beringin, dengan berat hati Gardapati berjalan mendekat. Terlihat 3 orang tersebut dua di antaranya adalah orang yang paling dia sayang. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi seperti ini, dia ingat bahwa tadi pagi mereka masih sarapan bersama sambil bersenda gurau. Dia masih ingat suara dari sang Ayah dan senyuman dari sang ibu, tapi sekarang dihadapannya dia hanya melihat kedua orang tuanya telah memejamkan mata untuk selama-lamanya.
"Bapak, Mamak.. "
"Ikhlaskan Le, ingatlah Bapak lan (dan) Mamakmu itu orang baik. Mereka pasti ditempatkan ditempat yang terbaik oleh Sang Pencipta Alam Semesta."
"MbahWo Juman benar Le, ikhlaskan Bapak Mamakmu PakLek yakin mereka sudah tenang Le."
"PakLek, Mbah Uti bagaimana?"
"Mbah Uti baik Le, Mbah Uti sama BuLekmu ndak (tidak) bisa ikut kesini. Dan Mbah Uti juga sudah ikhlas Le."
"Gardapati juga Ikhlas PakLek, Bapak sama Mamak orang baik. Gardapati yakin sekarang mereka telah damai disisi Sang Pencipta Alam Semesta, tapi..."
"Kita teruskan nanti Le, sebaiknya kita istirahatkan mereka dulu hujan mulai datang lagi."
"Benar Gardapati mari kita istirahatkan Bapak, Mamakmu berserta Bapak Kepala Desa."
Dalam diam semua orang yang hadir mulai menggali lunang untuk mengistirahatkan 3 jasad orang yang mereka hormati dan sayangi. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan akan apa yang terjadi di desa mereka hari ini, pagi yang indah berubah menjadi bencana hanya karena ketamakan orang-orang yang memiliki kuasa. Saat ini yang tersisa hanya rasa sedih dan kehilangan desa yang hangat dan indah akan segera berubah menjadi tempat yang asing oleh warganya sendiri. Tidak ada yang bisa dirubah semua sudah suratan takdir dari Sang Pencipta Alam Semesta, mereka hanya bisa menerima dan menjalaninya untuk bertahan hidup. Tapi mereka akan terus percaya bahwa kesabaran akan selalu dibalas dengan kebaikan karena itu salah satu janji dari Sang Pencipta Alam Semesta.
"Mari kita berdoa kepada Sang Pencipta Alam Semesta untuk mereka yang telah berkorban dalam kebaikan. Kita percayakan kepada Sang Pencipta Alam Semesta mereka kepadaNya. Mereka orang-orang baik, orang-orang yang kita sayangi terimalah mereka dengan wahai Sang Pencipta Alam Semesta tempatkan lah mereka ditempat terindah mu jagalah mereka untuk kami. Amin."
"Amin."
"Amin"
"Amin"
"Amin"
"Le Gardapati apakah ada yang ingin kamu sampaikan kepada mereka Le, percayalah bahwa sebenarnya mereka tetap bersama kita jadi apapun yang kamu lakukan aku yakin mereka akan melihat dan mendengar mu."
"Gardapati bingung MbahWo Juman. Gardapati ndak (tidak) tahu."
"Le ikhlaskan semua maka kamu pasti dapat lebih lega dan dapat berpikir jernih Le. Ini kesempatanmu untuk berbicara dengan mereka karena setelah ini tidak tahu kapan kamu bisa kembali melihat mereka. Ingat perjalanan hidup kita tidak pernah tahu tapi yang jelas tugasmu ada dan kamu harus menjalankannya bukan."
"Gardapati saat ini kamu pasti bingung, sedih, marah pada semua itu wajar Le setelah apa yang kamu alami hari ini. Tapi Le ini bukan akhir dari segalanya kita harus tetap melangkah dan maju untuk hari yang baru. Masih banyak hal untuk kita dapat lakukan percayalah bahwa segalanya telah diatur oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Kita hanya perlu menjalankannya karena bila kita tetap pada kebenaran Sang Pencipta Alam Semesta akan selalu bersama kita."
"Panglima, bisakah saya sedikit berbicara kepada mereka?"
"Tentu saja silahkan. Baiklah bapak-bapak sebaiknya kita sedikit menjauh kita beri ruang pribadi Gardapati untuk berbicara kepada orang-orang tersayangnya."
Mereka berjalan menjauh meninggalkan Gardapati didepan pusaran kedua orang tuanya.
"Mamak, Gardapati sayang Mamak. Mamak adalah ibu terbaik untuk Garda dan Adek. Terimakasih telah melahirkan dan merawat kami dengan penuh kasih sayang dan maaf bila Garda dan Adek sering nakal dan bertengkar. Garda akan selalu ingat janji Garda kepada Mamak untuk selalu menjada Adek dengan segenap jiwa raga Garda. Jadi Mamak ndak (tidak) usah khawatir lagi, Mamak tenang disisi Sang Pencipta Alam Semesta. Di sana pasti indah dan damai seperti yang selalu Mamak inginkan, karena Mamak orang baik."
"Bapak, Gardapati juga saya Bapak. Bapak adalah idola Garda, saat Garda dewasa nanti Garda ingin menjadi seperti Bapak. Bapak adalah Bapak yang luar biasa ndak (tidak) pernah marah, ndak (tidak) pernah memaksa selalu tahu apa yang terbaik untuk Garda dan Adek. Bapak selalu mengajarkan Garda untuk selalu menghormati siapapun, sayangi dan lindungi keluarga jaga kehormatan keluarga. Semua yang Bapak ajarkan Garda akan selalu ingat dan jaga jadi Bapak ndak (tidak) usah khawatir. Bapak selalu bilang bahwa seluruh warga desa adalah keluarga kita, Garda akan jaga mereka dengan sepenuh hati. Saat ini Garda memang memiliki tugas untuk menjaga dan mengantar adek ke tempat yang aman. Setelah Adek sampai ketempat yang aman Garda akan kembali ke desa kita Bapak. Garda akan melindungi dan menjaga seluruh desa Bapak. Itulah janji Garda pada Bapak."
"Kalau begitu kamu ndak (tidak) bisa lama-lama Gardapati, karena perjalananmu masih panjang. Bila kamu segera bergerak dan berusaha kamu bisa melaksanakan dua janjimu itu. Dan Panglima Dronota Abditara Kreasto akan berjanji membantumu untuk melaksanakan janjimu. Maka sekarang bila kamu sudah selesai mari kembali ke goa dan menyusun rencana tugas kita masih banyak. Dan Gardapati aku pernah bilang kau adalah anak yang cerdas dan pemberani bukan, asal kau tahu itu adalah permulaan untuk calon kesatria hebat dan aku yang akan menjadikanmu kesatria yang hebat dan akan selalu dikenal di JAWANAKARTA."
Kesatria yang hebat dengan sebutan Panglima Mburu Nyowo salah satu kesatria hebat dari 4 kesatria kebanggaan JAWANAKARTA. Kesatria yang bila namanya saja disebut telah membuat seluruh bulu kuduk berdiri tidak ada yang bisa menandinginya dan tidak ada juga yang bisa melawannya itulah yang tertulis dalam sejarah JAWANAKARTA. Ya mereka hanya mengenalnya sebagai Panglima Mburu Nyowo, mereka tidak tahu bahwa para Panglima yang tersohor dalam sejarah adalah Sang Prajurit Tanah JAWANKARTA mereka adalah SANG DARANI penjaga dan pelindung untuk Sang Tiang Penyangga Negara JAWANAKARTA.
Bersambung....