JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
53



"Semuanya dengarkan! Kalian datangi warga Dusun dan bilang bahwa Yang Mulia Kanjeng Ratu telah datang ke Dusun Undayan, semua warga harus datang ke balai Dusun sekarang. Bila ada yang keberatan paksa bahkan ancam mereka dengan pidana penghianatan sekarang menyebar lah."


"SIAP PAK JAPRI"


Seluruh prajurit kelas 5 kerajaan menyebar membawa kabar tentang ke datangan Yang Mulia Kanjeng Ratu Sekarurip. Mereka mendatangi satu persatu rumah warga dan meminta bahkan memaksa warga untuk segera pergi ke balai Dusun Undayan. Warga Dusun Undayan kaget dengan berita kedatang Yang Mulia Kanjeng Ratu. Mereka berpikir bahwa terompet kerajaan yang dibunyikan berasal dari Dusun atas. Mereka tidak menyangka bahwa Yang Mulia Kanjeng Ratu datang ke Dusun kumuh milik mereka.


"Apa benar Yang Mulia Kanjeng Ratu datang ke sini pak prajurit?"


"Benar Ibu, jadi sebaiknya anda segera ke Balai Dusun sekarang atau anda akan dimasukan ke dalam daftar penghianat kerajaan."


"Tunggu mana saya tahu kalau Yang Mulia Kanjeng Ratu mau datang ke Dusun kami. Jangan asal masukan dalam daftar penghianat kerajaan. Enak saja!"


"Maka dari itu sekarang ibu segera bergegas lah pergi ke balai Dusun."


Di tempat lain.


"Demi Sang Pencipta Alam Semesta, jadi benar bahwa Yang Mulia Kanjeng Ratu datang ke Dusun Undayan. Tunggu saya harus dandan yang cantik, pak prajurit bisa tolong ini masakan saya di aduk-aduk sebentar dan kalau sudah mendidih blekutuk-blekutuk tinggal matikan kompornya."


"Maaf bu saya disini hanya memberi kabar, jadi segera matikan kompor dan silahkan datang ke balai Dusun."


"Ayolah pak prajurit sebentar saja, sini-sini masuk ingat diaduk terus perlahan-lahan sampai mendidik. Jangan berhenti nanti gosong. Saya tinggal sebentar, pak prajurit."


Tanpa menunggu jawaban dari prajurit sang ibu memberikan sendok sayurnya kepada salah satu prajurit, kemudian dengan segera pergi masuk kedalam kamar begitu saja.


"Bagaimana ini Jo?"


"Kamu aduk saja hingga mendidih lalu matikan, setelah itu susul aku ke rumah penduduk yang lain."


"Apa kita matikan saja terus kita pergi Man?"


"Paijo kamu emang ndak (tidak) ingat waktu kita di pasar baru dulu, urusan sama Ibu-Ibu itu ndak (tidak) gampang. Salah-salah tar malah kita yang kena masalah."


"Kamu benar juga Man, aku ndak (tidak) mau kayak Bujang dulu. Habis di keroyok emak-emak, kalau ingat aku masih ngeri Man."


"Makanya kamu disini dulu selesaikan ini baru tar nyusul."


"Oke Man, tar ini sayur mendidih tak susul kamu."


"Sip aku pergi dulu."


Ditempat yang lain juga.


"Pak prajurit Yang Mulia Kanjeng Ratu kesini dalam rangka apa ya?"


"Maaf Ibu saya hanya ditugaskan untuk menyampaikan kabar saja bahwa beliau sudah ada di balai Dusun."


"Jangan-jangan bagi-bagi bantuan sembako."


"Bisa jadi, kan bentar lagi Yang Mulia Kanjeng Pangeran naik tahta. Sapa tahu perayaannya mau bagi-bagi sembako."


"Mari Ibu semua diharap segera datang ke Balai Dusun secepatnya."


"Iya pak prajurit tenang saja kalau soal bagi-bagi sembako saya mah pasti datang."


"Jum kamu bantu Mak copot semua kalung emas ini Nduk sekalian gelang-gelang ini terus kamu simpan sampai Mamak balek mengerti!"


"Mengerti Mak, tapi Mak mang kenapa semua dicopot?"


"Biar nanti sembakonya dapat banyak Nduk, Mak juga mau ganti baju daster dulu."


"Ibu ndak (tidak) perlu ganti baju, lebih baik segera ke Balai Dusun putrinya juga harus ikut."


"Iya pak prajurit tunggu sebentar saya pasti ke Balai Dusun kok."


Di kediaman Pak Kastiar.


"Mak, Aji, Asih ini Bapak buka pintunya!"


Segera setelah mendengar itu sang suami Ratna berlari membukakan pintu.


"Kangmas. Yang Mulia Kanjeng Ratu ada di Dusun, bagaimana dengan anak-anak kita. Kita harus segera pergi dari Dusun membawa anak-anak."


"Dek tenanglah, kita bicara di dalam. Mari masuk pak Juan."


"Kangmas ini beliau siapa?"


"Utusan Panglima Jayadri Dek, beliau datang menjemput Mas di sekolah dan memberitahu bahwa Yang Mulia Kanjeng Ratu akan datang ke Dusun kita. Dimana anak-anak Dek?"


"Dikamar Asih, Kangmas. Asih sedari tadi ketakutan, dia bilang bahwa orang jahat akan datang ke Dusun kita bersama Konco Boroknya."


"Konco Borok?"


"Benar Pak..?"


"Junedi Bu, anda bisa memanggil saya pak Junedi."


"Bagaimana Asih bisa tahu Konco Borok akan datang Ibu?"


"Anda percaya Konco Borok itu ada pak Junedi?"


"Tentu pak Kastiar, mungkin banyak yang hanya menganggapnya semua dongeng. Tapi satu hal yang selalu saya percaya bahwa dongeng itu dibuat oleh leluhur kita untuk memperingatkan kita akan sesuatu bukan. Jadi saya percaya bahwa Konco Borok itu ada pak Kastiar."


"Putri kami istimewa pak Junedi, dia tahu banyak hal lebih dari orang lain."


"Saya tahu itu pak Kastiar, itulah kenapa Panglima Jayadri meminta saya untuk menjemput dan melindungi anda."


"Lalu bagaimana ini Kangmas, tidak bisakah kita segera pergi dari Dusun kita?"


"Itu ndak (tidak) bisa Dek."


"Kenapa ndak (tidak) bisa Kangmas, kita harus menyelamatkan anak-anak kita."


"Ndak (tidak) bisa Dek, kalau kita membawa mereka pergi dari Dusun ini sekarang. Kita hanya akan menghalangi takdir mereka."


"Takdir? Takdir apa Kangmas?"


"Takdir Asih Dek, Panjurungan."


"Panjurungan?"


"Panjurungan adalah awal dari takdir Sang Tiang Pancang Penyangga Dek, awal pembuka segel kekuatan yang dimiliki Sang Pancang atau Sang Andarani. Asih harus melewati Panjurungan itu Dek dan sepertinya sekarang adalah waktunya."


"Apa yang akan terjadi saat Panjurungan Kangmas?"


"Kita bahas nanti sekarang lebih baik kita masuk dulu Dek, akan jauh lebih aman bila kita membicarakan ini di dalam rumah. Mari pak Junedi silahkan masuk kedalam rumah saya maaf kalau tempatnya kecil."


"Tidak masalah pak Kastiar, rumah anda boleh lebih kecil dari rumah-rumah kawasan Dusun Elit tapi percayalah bahwa rumah anda ini jauh lebih nyaman untuk dikunjungi."


"Terimakasih pak Junedi, silahkan duduk."


"Terimakasih pak Kastiar."


"Dek tolong buatkan minuman dan sekalian panggil anak-anak ke sini."


"Injeh (iya) Kangmas, sekedap (sebentar) saya kebelakang dulu pak Junedi."


"Monggo silahkan ibu Kastiar."


"Pak Junedi boleh saya bertanya?"


"Silahkan pak Kastiar."


"Bagaimana Panglima Junedi tahu soal anak-anak saya?"


"Beliau tahu dari Raden Bastur pak Kastiar."


"Raden Bastur? Ini bukan hal baik bila Raden Bastur tahu soal anak-anak saya. Benar kata istri saya lebih baik saya segera membawa pergi anak-anak saya sekarang."


"Pak Kastiar saya mohon tenanglah, memang benar Raden Bastur tahu tentang Ruwatan ini. Tapi percayalah bahwa tidak ada satupun dari kelurga kerajaan kecuali Raden Bastur yang tahu akan hal ini."


"Maksud anda apa pak Junedi?"


"Pak Kastiar, di dalam istana masih banyak orang-orang yang masih mempertahankan apa yang menjadi jati diri kita, tidak semua orang dari kerajaan telah berubah pak."


"Jadi pihak keluarga kerajaan tidak tahu menahu tentang anak-anak saya?"


"Tidak lebih tepatnya belum."


"Maksud anda dengan belum pak Junedi?"


"Belum untuk saat ini tapi cepat atau lambat mereka tetap akan tahu pak, karena Panjurungan akan selalu melibatkan pihak kerajaan."


"Panjurungan putri saya melibatkan pihak kerajaan."


"Ya pak Kastiar, lebih tepatnya melibatkan Konco Borok. Dan seperti yang dikatakan oleh putri anda Konco Borok bersama orang jahat datang ke Dusun ini bisa dipastikan bahwa salah satu dari keluarga kerajaan yang memilikinya."


"Pak Junedi.... "


Tok tok tok (suara pintu diketuk)


"Ya, sebentar pak Junedi."


Pak Kastiar segera membuka pintu.


"Permisi, kami dari prajurit kerajaan ingin memberi tahu bahwa seluruh warga Dusun Undayan diminta untuk segera hadir di Balai Dusun dikarenakan Yang Mulia Kanjeng Ratu telah menunggu, kami minta segera ke Balai Dusun. Bila menolak kami akan memasukan nama kalian ke daftar orang yang berkhianat. Jadi saya sarankan untuk segera ke Balai Dusun segera."


"Baik pak, kami akan segera ke Balai Dusun, terimakasih atas pemberitahuannya."


Bersambung....