JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
37



Badai telah pergi beberapa pasukan dan warga desa segera melakukan penyisiran di tepian sungai kecil. Sungai kecil yang meluap membuat sekelilingnya terendam air dan menjadi banjir. Segera mereka mencari korban yang hilang, beberapa warga dusun Undayan juga ikut menyisir, setelah diketahui 4 anak dusun Undayan tidak dapat ditemukan saat evakuasi warga dilakukan. Dua diantaranya adalah anak-anak dari pak Kastiar, salah satu warga yang ada di dusun Undayan.


"Mereka pamit hendak mancing kang mas di dekat pintu kanal. Aji bersama Dudung dan Jupri, tapi Asih. Dia tidak bilang hendak kemana kang mas bagaimana ini?"


"Kamu tenang saja dulu dek, mas juga akan ikut mencari mereka kamu tetap disini ikuti protokol yang ada mengerti!"


"Tenang budhe bila memang mereka memancing didekat pintu kanal mereka akan aman."


"Dari mana kamu tahu mereka aman Di?"


"Di atas tempat itu terdapat goa yang aman buat berlindung kang, aku dan anak-anak dusun sering mancing juga di sana. Dan goa itu dijamin aman karena ada batu besar yang menutup sebagian pintu goa air luapan sungai kecil tidak akan bisa masuk kedalam. Dan setahuku Jupri tahu soal goa itu, kemarin dia sempat tanya-tanya saya kang."


"Iya kang saya juga bisa jami goa itu aman, dan lagi di sana ada Aji bukan. Aji anak paling pintar dan berani di dusun kita. Aku yakin Aji pasti bisa menjaga seluruh temannya untuk tetap aman."


"Dimana lokasi goa tersebut?"


"Panglima Jayadri dan Sultan Lor."


"Maaf atas kekacauan ini, kita akan segera melakukan evakuasi secepat mungkin."


"Sultan sebenarnya ada apa ini sebenarnya? Apa benar tanggul kanal utara jebol?"


"Tapi bila jebol ndak (tidak) mungkin air bah sudah berhenti sekarang ini. Apa yang terjadi mang Kasep?"


"Orang-orang atas sana bermain-main dengan pintu kanal utara dan inilah yang terjadi kita diterjang banjir air laut utara."


"Apa? Aku pikir mereka minimal pintar walau sombongnya ndak (tidak) ketulungan, e ternyata yang benar bodohnya yang ndak (tidak) ketulungan. Mereka membuka pintu kanal sama dengan bunuh diri."


"Benar itu aduh kasihan sekali orang-orang atas sana, sudah capek-capek keluar duit banyak buat bangun dusun yang katanya mewah malah di hancurkan sama mereka sendiri."


"Biar tahu rasa mereka, apa dengan ini mereka masih bisa sombong nanti."


"Sudah bapak-bapak, ada yang lebih penting lagi untuk kita urus saat ini. Terdapat beberapa orang yang hanyut karena insiden ini. Kita perlu segera mencari mereka secepatnya, sebelum terlambat."


"Apa sudah ada korban jiwa Sultan?"


"Maaf saya harus memberi tahu kabar buruk ini, memang benar sudah ada korban jiwa."


"Berapa….?"


"8 orang."


"Semoga mereka diterima disisi Sang Pencipta Alam Semesta."


"Baik kalau boleh saya tahu dimana letak goa yang tadi kalian bicarakan..."


"Asdi Sultan, di bawah pintu kanal utara, lebih tepatnya sekitar 300 meter dari pintu kanal. Letak goa nya ada bagian atas hampir sejajar dengan daerah dusun Elit Sultan."


"Dan lagi Sultan lokasi itu adalah hulu sungai kecil jadi seluruh yang hanyut terbawa oleh sungai kecil akan bermuara di sana. Kemungkinan bila masih ada korban yang belum ditemukan bisa jadi mereka berada di sana."


"Apa ada yang bisa mengantarkan kami menuju sana? Kami tidak tahu jalur dan medan di sekitar sungai kecil. Kami butuh pemandu."


"Bisa Panglima, saya akan menjadi pemandunya."


"Benar Panglima, Asdi dan Muntar yang akan memandu pasukan anda ke hulu sungai kecil. Saya berdoa untuk putri anda agar di lindungi oleh Sang Pencipta Alam Semesta."


"Terimakasih pak Juan, pasukan bersiap kita berangkat."


"Saya juga akan ikut Panglima."


"Apa Sultan yakin?"


"Iya saya juga harus bertanggung jawab atas semua ini bukan. Saya tidak dapat hanya dia menunggu sementara banyak warga yang belum ditemukan. Trisno kamu juga ikut dengan ku."


"Sendiko dawuh Sultan Lor."


"Baik mari kita berangkat."


"Tolong carikan juga anak-anak saya Panglima."


"Tenang pak Kastiar saya akan mencari anak-anak dusun Undayan juga. Itu memanglah tugas saya, kalian jangan khawatir."


"Terimakasih."


Segera rombongan menyusuri sekitaran sungai kecil, dipandu oleh Asdi dan Muntar dua pemuda dusun Undayan yang telah hafal seluruh daerah pinggiran sungai kecil. Mereka tidak susah mencari jalan menuju hulu sungai hanya saja meluapnya sungai kecil menjadi hambatan karena terjadi banjir di sekitar pinggiran sungai kecil. Dalam perjalanan mereka menuju hulu sungai terjadi sesuatu yang aneh dengan air sungai kecil. Seketika air yang menggenangi pinggiran sungai kecil surut secara tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang menyedotnya ke kawasan hulu sungai. Seluruh orang yang melakukan penyisiran di buat bingung akan apa yang terjadi. Tidak hanya air yang menggenangi pinggiran sungai yang surut tapi beberapa debit air sungai juga surut. Sultan meminta untuk berhenti sebentar dia merasa ada yang tidak beres dengan air sungai kecil.


"Kita berhenti dulu. Kita naik ke beberapa bukit itu sekarang."


"Ada apa Sultan Lor, apa ada yang ndak (tidak) beres."


"Saya juga kurang tahu Panglima, hanya saja saya merasa ada yang salah dengan surutnya sungai kecil ini. Bukankah terlalu aneh bila dalam sekejap air sungai yang meluap dapat surut dengan seketika."


"Anda benar Sultan, ini tidak seperti biasannya. Sungai kecil biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk surut karena muara sungai ini berbatasan dengan tembok tanggul kanal utara."


"Lalu pergi kemana air-air tadi?"


"Tentu tidak mudah mengurangi debit air dengan cepat bukan, entah apa yang ada di hulu sungai. Tapi apapun itu sepetinya dialah yang menyedot air sungai kecil."


"Tapi bila disedot tanpa ada tempat keluarnya maka akan kembali menerjang daerah pinggiran sungai kecil Sultan."


"Itulah kenapa kita sebaiknya menuju daerah yang lebih tinggi dulu, jadi saat air kembali menerjang kita akan lebih aman berada di atas. Kita tidak akan mudah hanyut terbawa air yang meluap lagi."


"Anda benar, semua menuju daerah yang lebih tinggi sekarang."


Benar saja baru saja perintah di ucapkan oleh sang Panglima, segera terdengar suara air yang mengalir sangat deras. Air sungai kecil yang tadi surut kembali menerjang daerah pinggiran sungai kecil kembali dihantam oleh gelombang air. Dan setelah gelombang air pergi ke arah yang lain, daerah pinggiran sungai kembali tergenang air. Semua merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebenarnya ada apa di hulu sungai Sultan?"


"Aku juga tidak tahu Tris, mungkin memang alam yang sedang bertindak."


"Maksud anda Sultan?"


"Maksud saya Panglima, kita manusia tidak akan pernah memahami seluruh alam. Alam punya cara mereka sendiri untuk bertindak, dan kita manusia cuma bagian dari alam semesta bukan. Banyak hal yang tidak dimengerti dan tidak diketahui oleh manusia, karena sejatinya alam semesta bukan milik manusia tapi milik sang Pencipta Alam semesta. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui di alam semesta ini bukan. Dan apapun itu yang berada di hulu, tidak perlu kita pikirkan dan kita cari tahu biarlah itu menjadi salah satu rahasia alam semesta. Baiklah air sudah mulai tenang saatnya kita melanjutkan perjalanan menuju hulu sungai."


"Baik Sultan Lor."


"Sendiko dawuh Sultan Lor."


Mereka bergegas menuju hulu sungai dengan tidak memikirkan apa yang barusan mereka lihat. Mereka harus fokus pada penyelamatan korban yang hanyut akibat banjir air laut utara. Benar yang di katakan Sultan Lor, tidak semua hal yang ada di alam semesta manusia harus tahu. Kadang sesuatu itu lebih baik menjadi misteri alam semesta untuk melindungi alam semesta itu sendiri. Seperti sekarang mereka percaya bahwa apa yang barusan terjadi bagian dari misteri alam semesta yang tidak perlu mereka cari tahu.


Bersambung..