Izora

Izora
episode 9. Kabar yang selalu ditunggu



"Jadi gimana Marni?" Tanya ibu Faaz mengawali percakapan nya dengan calon besan nya.


"Maaf, gimana apa nya ya mbak?"


"Ya gimana keadaan perasaan kamu sekarang setelah kejadian yang saya dengar semalam dari Faaz?" Tanya ibu Faaz lagi.


"Oh itu, kalau mengenai itu saya rasa sekarang hati saya sedikit lebih lega karena akhir nya tidak ada lagi rahasia yang saya simpan dari kedua putri saya, namun disisi lain ada perasaan takut yang sekarang mulai membelenggu perasaan saya mbak"


"Rasa takut? Takut apa Mar?" Ibu Faaz bertanya lagi.


"Ya saat ini saya takut jika Zora dan Zoya akan mencari orang tua kandung nya, dan begitu mereka menemukan nya mereka akan memilih untuk meninggalkan saya sendiri mbak, rasa nya jika hal itu terjadi tidak ada yang bisa saya lakukan lagi mbak" tutur Marni sambil menitihkan lagi air mata kesedihan nya perlahan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Marni, ibu nya Faaz langsung tersenyum. Setidak nya kali ini dia tahu bahwa kelemahan Marni adalah rasa takut nya akan kehilangan kedua putri kembar nya Zora dan Zoya.


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata, ibu Faaz menggunakan kesempatan itu untuk sedikit memberikan tekanan kepada Marni agar ia segera memberikan restu nya untuk Faaz menikahi Zora.


Sebenar nya ibu Faaz tidak tega memanfaatkan kesedihan yang di alami Marni untuk memperoleh restu bagi Faaz, namun bagi ibu nya Faaz tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain kebahagiaan Faaz.


Dan satu-satu nya hal yang bisa membahagiakan Faaz adalah ketika ia bisa menikahi Zora sang pujaan hati nya sejak lama. Untuk itu ibu Faaz terpaksa mengambil kesempatan dalam kesedihan yang menimpah Marni.


"Kalau masalah itu bisa kita atur kan Mar?" Kata ibu Faaz.


"Atur bagaimana maksud mbak?"


"Ya kamu tinggal setejui saja lamaran Faaz untuk menikahi Zora, jadi nanti Faaz dan saya bisa awasi Zora dan mencegah nya agar tidak mencari orang tua kandung nya, nah kamu tinggal mengawasi Zoya! Jika kamu mengawasi kedua nya sekaligus pasti akan sangat sulit" kata ibu Faaz.


"Lagi pula, dengan latar belakang Zora yang hanya seorang anak angkat yang nggak jelas asal usul keluarga nya, tentu jika keluarga lain belum tentu akan bisa menerima Zora?!" Sambung ibu Faaz sedikit mendesak Marni yang tengah semraut pikiran nya kala itu.


"Iya memang benar apa yang mbak katakan, tapi rasa nya saya masih belum siap melepaskan Zora mbak" jawab Marni perlahan.


"Yah kalau masalah itu sepenuh nya terserah kamu, keputusan ada di tangan kamu! Tapi jika menunggu terlalu lama dan tanpa kepastian, rasa nya saya tidak akan membiarkan Faaz begitu saja, masih banyak anak gadis yang sudah siap menikah di luar sana, iya toh?" Kata ibu Faaz lagi semakin menekan Marni.


Marni terkejut mendengar perkataan ibu nya Faaz, air mata nya berlinang tak terbendung. Marni tidak bisa mengatakan apapun lagi kepada ibu Faaz saat itu.


Zora memanggil Lita dan Dita yang tengah asyik duduk di ayunan di halaman untuk meminum teh bersama. Zora mengisi semua gelas-gelas dengan teh yang telah di sedu nya.


Suasana terasa hangat, perbincangan ringan beriringan canda dan tawa membalut hangat suasana kebersamaan mereka. Namun tiba-tiba Marni membuat semua orang terkejut.


"Zora, Faaz, apa kalian masih berencana untuk menikah?" Tanya Marni tiba-tiba menyela percakapan mereka.


Semua mata kini tertuju kearah Marni. Faaz dan Zora terkejut sekaligus bahagia mendengar pertanyaan Marni barusan. Dengan perasaan gugup karena terlalu bahagia Faaz langsung mengiyakan pertanyaan Marni.


"Baiklah kalau begitu, mami rasa sudah tidak ada lagi alasan mami untuk tidak mengizinkan kalian menikah, jadi ibu memberikan kalian izin menikah" kata Marni dengan senyuman tipis di bibir nya.


"Alhamdulillah akhir nya Marni mengizinkan pernikahan ini, walaupun aku harus sedikit memberi nya tekanan" kata ibu Faaz berbicara di dalam hati nya mendengar keputusan yang diberikan Marni.


Zora, Faaz dan seisi ruangan yang mendengar perkataan Marni merasa bahagia. Lita dan Dita langsung memeluk erat Zora calon kakak ipar yang telah lama mereka nantikan kehadiran nya di tengah-tengah mereka.


"Aaaaahh... selamat kak, akhir nya otw jadi kakak ipar juga setalah sekian purnama kami menanti" kata Dita.


"Terimakasih ya Mar, aku nggak menyangka kalau kamu akan memberikan keputusan mu secepat ini" kata ibu Faaz sambil memeluk Marni yang kini resmi menjadi calon besan nya.


"Yasudah kalau begitu, kami izin pulang dulu, aku harus memberitahukan kabar baik ini kepada ayah nya Faaz, dia pasti senang, karena memang sudah terlalu lama ia ingin mantu" kata ibu Faaz berpamitan kepada Marni.


Setelah menghantarkan kepulangan Faaz dan keluarga nya, Zora dan Marni masuk kembali ke dalam rumah. Marni membereskan gelas-gelas kotor dan makanan sisa lalu membawa nya ke dapur.


Zora mengikuti Marni sambil membantu membawakan sisa makanan yang ada di atas meja. Setelah semua yang dikatakan nya dihadapan Faaz dan keluarga nya tadi, kini Marni  hanya diam saja tak berkata satu patah kata pun ke pada Zora.


Marni langsung mencuci semua piring dan gelas kotor sendirian. Melihat sikap Marni ini Zora langsung memahami ada sesuatu yag sedang Marni coba untuk sembunyikan dari diri nya.


"Mam!"


"Hmmm ada apa?" Jawab Marni sangat datar.


"Ada apa mam? Kok aku ngerasa ada sesuatu yang mami sedang coba sembunyikan dari aku ya?"  Kata Zora kepada sang mami dengan nada bicara yang sangat lembut.