
Melihat reaksi dari suaminya, ibu Faaz langsung menyela untuk membantu Faaz menjelasakan kepada bapak nya "justru itu pak, saat ini Zora dan Zoya sudah tidak memiliki orang tua. Jadi alangkah baiknya jika mereka segera menikah untuk menghindari fitnah dan menjauhkan dosa pak"
"Iya saya faham, memang benar jika perihal menikah di segerakan lebih baik memang. Tapi mengadakan perayaan saat kita baru saja mengalami kemmalangan tentu itu tidak akan baik dipandangan orang" kata bapak Faaz lagi.
"Nggak pak, aku dan Zora sudah sepakat kalau kami akan melakukan pernikahan yang sederhana. Bagi kami yang penting adalah pernikahan kami sah dimata agama dan Allah" jelas Faaz lagi kepada bapak nya.
Setelah mendengar yang dijelaskan oleh Faaz akhir nya bapak nyapun luluh dan menyetujui rencana pernikahan ini. Faaz dan ibu nya langsung tersenyum semringah dengan keputusan yang diberikan bapak nya.
*
Di rumah Zora dan Zoya, kedua saudari kembar ini terlihat sedang berada di kamar Marni karena mereka masih merindukan kehadiran Marni ditengah-tengah mereka. Zora kembali mengeluarkan kotak merah dari dalam lemari Marni.
Kali ini Zora membaca kertas yang berisikan informasi tentang kelahirab mereka. Zora juga melihat liontin berbentuk hati yang tersimpan di sana. Zora mengambil dan membuka nya untuk melihat seperti apa rupa wajah wanita yang telah berjuang melahirkannya namun dengan tega meninggalkannya begitu saja.
Zora memandangi foto yang sudah terlihat samar-samar memburam. Kening Zora terlihat sedikit berkerut "Zoy kok seperti nya wanita yang ada di foti ini kelihatan nggak asing banget ya?! Gue seperti pernah lihat dia, tapi dimana ya?!" Zoya berkata kepada Zoya dengan penasaran.
Namun Zoya terlihat tidak tertarik sama sekali untuk melihat wajah yang ada di foto itu. "lu salah orang mungkin Ra. Sekarang emang banyak banget wajah yang mirip-mirip gitu" Zoya merespon dengan sangat cuek.
"Enggak Zoy gue yakin kalau yang gue liat tu emang wanita ini soalnya gue tanda dengan tai lalat kecil yang ada di dagu nya ini" kata Zora lagi kepada Zoya.
"Dimana ya gue lihat wanit ini Zoy?! Zoy coba deh lu liat ini" Zora langsung memaksa Zoya untuk melihat foto yang dipegangnya. Meski merasa sedikit kesal namun Zota tak memiliki pilihan lain selain melihat foto itu juga.
Awalnya Zoya tak begitu merespon foti itu. Namun tiba-tinw Zoya teringat pada seseorang yang belum lama inu pernah dilihatnya ketika ia melihat foto itu "Eh tunggu deh, bukannya ini wanita yang ada dihari pemakaman mami waktu itu ya?!" kata Zoya tiba-tiba yang langsung mengenali wajah wanita yang ada di dalam foto itu.
"Hari pemakaman mami?" tanya Zora terkejut mendengarnya. Zoya dan Zora menjadi diam hening seketika. "Eh iya gue baru inget, gue libat wanita ini berdiri magrib-magrib saat hujan turun di depan rumah" setelah berusaha mengingat dan berfikir keras akhirnya Zora langsung mengingat dimana iya melihat sosok wanita yang ada di foto itu.
"Hah? Di depan rumah kita?! Kapan? Kok lu nggak bilang sama gue," Zoya terkejut mendengar yang dikatan Zora. "Iya wakuu itu lu ingatkan yang gue diam-diam kabru ke makam mami, nah saat gue mau keluar rumah, wanita itu berdiri di depan pagar rumah. Pas dia liat gue dan gue liat dia, dia langsung pergi dengan mobil hitamnya" kata Zora bercerita tentang dimana dan bagaimana ia bisa melihat wanita itu.
"Berarti selama ini dia tahu tentang alamat ini dan tau tentang kita. Maka nya dia bisa hadir di hari pemakaman mami karena dia tau tentang apa yang terjadi kepada mami?!" Zoya langsung menduga-duga.
"Zoy kayak nya gue pengen ketemu deh sama dia. Gue mau mendengar langsung dari dia apa alasan dia tega hianatin mami kita sepupunya sendiri dan kenapa dia sampai tega ninggalin kita gitu aja?!" kata Zora kepada Zoya.
Zoya diam saja mendengar yang dikatakan oleh Zora. Meski Zoya tidak menyukai wanita itu tapi tetap saja dia adalah wanita yang melahirkan diri nya dan Zora. Semua manusia berhak medapat kesempatan kedua dalam hidup.
*
Malam hari tiba, Zaki menjemput Zoya untuk makan malam bersama di rumahnya. Diluar dugaan Zaki, Zoya malam ini tampil cantik dan elegan sekali dengan balutan dres simple berwarna merah jambu bermotif bunga mawar indah.
"Waaaw, cantik banget Zoy! Thank you!" Zaki berdecak kagum dihadapan Zoya begitu melihat penampilan Zoya yang tampak anggun berbeda dari yang biasanya dilihat.
"Apaan sih, basih deh lo! Makasi buat apaan?" Zoya menepis pujian dan ucapan terimakasih dari Zali lantaran dirinya sedang gugup saat itu.
"Serius Zoy, kamu cantik banget! Ya terimakasih aja karena kamu udah mau berpenampilan secantik ini untuk makan malam ini" Zaki menjawab pertanyaan Zoya dengan penuh kelembutan.
"Udah deh nggak usah ngelantur lo ngomong nya, mending kita jalan sekarang biar nggak kelamaan. Gue takut kemalam nanti, kasian Zora sendirian di rumah" kata Zoya mengajak Zaki untuk langsung pergi.
"Oke, yuk! Eh tapi Zoy, please kalau bisa ntar pas di depan mami kita bicara nya aku, kamu ya?! Janga lo gue?! Ya kalau gue sih nggak masalah sebenarnya, hanya sajakan akan keliatan aneh aja, calon suami istri kok panggilannya lo, gue?! Harusnya sayang ku, cinta ku?!" tutur Zaki sambil sedikit membujuk Zoya.
"Hhmm....." Zoya menggumam sejenak. "Oke deh! Yauda ayok jalan. Kebanyakan ngomong nya nih!" kata Zoya langsung mengakhiri percakapan basa basi mereka yang terasa alot.
Zaki dan Zoya langsung menuju rumah Zaki dengan mobil hitam Zaki yang mewah. Tak begitu jauh Zaki dan Zoya sampai di komplek tempat tinggal Zaki yang mewah dan mentereng.
Mata Zoya seakan tak bisa berkedip saat melihat betapa mewah nya lingkungan perumaha tempat tinggal Zaki. "Ini sih gila bagus banget! Udah mirip dengan yang gue lihat di drma-drm korea ni kemewahannya!" Zoya menggumam berdecak kagum sendiri.
Mobil sampai di ujung komplek dan langsung berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat paling mewah dan metereng di komplek itu. Rumah berwarna serba putih berlantai tiga itu terlihat begitu besar dan megah bagi Zoya.
"Ini rumah lo ki?" tanya Zoya sambil melongo melihat kemewahan yang sedang terpampang nyata dihadapannya. "Bukan Zoy, ini rumah mami gue, gue juga numpang di sini" seperti biasa Zaki yang berjiwa humoris menjawab pertanyaan Zoya dengan candaannya.