Izora

Izora
Episode 30. Tamu tak terduga



Zora terus memandangi wajah wanita itu. Hingga akhirnya mata Zora terpaku pada sebuah tai lalat yang ada di dagu wanita paruh baya itu. "Wanita dengan tai lalat di dagunya?! Seperti tidak asing rasanya, tapi dimana aku pernah melihatnya?!" pertanyaan itulah yang kini bersarang di benak Zora.


"Hmmm..... Maaf! Tapi apa kamu tidak berniat mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah mu Zora?!" wanita itu berkata menyela lamunan Zora yang panjang kala itu.


"Eh i....iya! maaf saya sampai lupa tante. Silahkan masuk tant" Zora langsung tersentak dan langsung mempersilahkan wanit itu masuk ke dalam rumah nya.


Wanita itu tersenyum sembari melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah itu. Wanita itu duduk di sofa berwarna cokelat yanh ada di ruang tamu rumah dan mata nya terus menatapi sebuah foto yang ada di dinding rumah itu.


Zora memperhatikan arah pandangan mata wanita itu. Ketika Zora melihat ke arah foto keluarga nya itu, seketika Zora langsung teringat akan foto wanita yang ada di dalam liontin itu "Eh iya aku baru ingat! inikan wanita yang ada di dalam foto itu?! Berarti dia....." Zora menggumam sembari mata nya terbelalak menatap wanita itu terkejut.


"kenapa sayang? Apa sekarang kamu sudah bisa mengenali siapa aku?!" wanita itu bertanya lembut kepada Zora. Zora tak menjawab pertanyaan wanita itu, ia hanya terdiam melongo menatapi wanita itu. Pandangan mata nya hingga tam berkedip sama sekali.


"Kamu..."


"Iya, saya Nurma sepupu ibu kamu" wanita itu langsung menjawab kalimat Zora yang tak selesaikan di ucapkannya.


"Ada keperluan apa kamu datang ke sini malam-malam?" Zora bertanya perlahan dengan penuh kehati-hatian agar wanita itu tidak tersinggung dengan pertanyaan atau ucapannya.


"Kenapa kamu begitu canggung berbicara kepada ku saat kamu mengetehaui siapa aku?" Nurma bertanya akan sikap Zora yang langsung terlihat canggung dan kaku terhadap dirinya.


"Kenapa kamu sendirian? Dimana saudari kembar mu Zoya?!" tanya wanita itu lagi kepada Zora di saat Zora bahkan belum menjawab satu pertanyaan nya yang tadi.


"Zoya? Zoya sedang ada acara makan malam bersama calon mertuanya. Dan aku rasa jika Zoya melihat kamu, dia nggak akan senang melihat kedatangan kamu ke rumah ini" tutur Zora sambil tertunduk dihadapan Nurma ibu kandung nya yang baru pertama kali di temui nya ini.


"Lalu kamu" tanya Nurma. Zora tercengang menatap Nurma. "Yah lalu kamu bagaimana? Apakah kamu bisa menerima kehadiran ku saat ini?!" Nurma menyambung pertanyaan nya lagi.


"Nggak ada alasan untuk aku membenci kehadiran kamukan?" Zora menjawab dengan lembut pertanyaan Nurma. "Zora. Bisa kita berbicara lebih intens berdua?" kata Nurma meraih tangan Zora yang sedang tergenggam.


"Mau berbicara apa dengan saya?" tanya Zora lagi sambil menatap Nurma dengan tumpukan air mata yang terlihat memenuhi mata nya.


"Jangan sebut panggil aku begitu, apa kamu nggak mau memanggilku bunda?" Nurma bergetar bertanya kepada gadis cantiknya yang berdiri dihadapannya dengan wajah tertunduk menatap nya.


"Kenapa aku harus panggil kamu bunda? Apa kamu nggak merasa jika aku ini aib yang harus kamu jauhi?" Zora berkata dengan air mata yang mulai jatuh menetes.


"Percayalah, aku tidak pernah ingin dengan sengaja meninggalkan kalian meskipun itu dengan ayah kandung kalian. Dah bahkan meski aku meninggalkan kalian bersama ayah kandung kalian tapi aku tidak pernah melewati sedetikpun waktu yang ku lewati tanpa aku mengingat dan merindukan kedua putri kembar ku yang malang yang tidak bersalah namun harus menjadi korban keadaan!" tangis Nurma pecah bersamaan dengan cerita yang ia sampaikan kepada Zora.


"Kenapa kamu ninggalin aku dan Zoya begitu saja? Apa alasan kamu menyia-nyiakan kehadiran kami di dunia ini? Apa kesalahan kami?" kata Zora lagi bertanya kepada Nurma dengan tatapam mata yang dihujani air mata.


"Aku terpaksa! Aku bingung. Aku merasa bersalah. Aku merasa berdosa. Aku nggak tau harus berbicara kepada siapa!!" kata Nurma terdengar histeris.


"Lantas apa salah kami?! Apa semua yang terjadi adalah kesalahan kami?!!" kata Zora yang ikut memekik berteriak kepada Nurma.


Suasana hening mulai berubah karena suara isakan tangis antara ibu dan anak. untuk sejenak tidak terdengar lagi suara merdu dari nyanyian jangkrik malam.


Seperti memahami isi hati dan kesedihan yang dirasakan oleh ibu dan anak yang akhir bertemu untuk pertama kali setelah sekian lama nya. Namun sayang pertemuan ini bukan nya menjadi ajang melepas rindu diatara kedua nya, tapi malah menjadi perdebatan diantara mereka.


"Aku salah! Aku berdosa! Dan untuk itupun aku sudah menerima hukuman ku dengan harus menanggung sakit nya haru berjauhan dari kamu dan Zoya. Tersiksa nya menahan rindu kepada kalian setiap saat. Aku hampir gila karena menahan semua itu! Tapi aku bisa apa?! Itu adalah satu-satu nya cara untuk ku menebus segala dosa ku kepada saudari ku atas penghianatan yang telah ku lakukan!" Nurma hingga jatuh bersimpun berlutut dikaki Zora.


"Sudahlah. Bagaimanapun segala nya sudah berlalu. 25thn sudah berlalu. Apapun yang kita perdebatkan nggak akan bisa mengulang waktu dan memperbaiki keadaan. Nyata nya aku dan Zoya akan tetap menjadi anak hasil penghianatan yang malang dan dibuang!" tutur Zora dengan nada berbicara yang terdengar kandas.


"Enngak nak enggak! Itu semua nggak benar! Aku nggak pernah berniat membuang kalian. Aku hanya terpaksa meninggalkan kalian kepada ayah kalian untuk mengobati luka saudari ku yang terhianati gara-gara kekurangan nya yang tidak bisa menjadi seorang ibu!" kata Nurma lagi mencoba meyakinkan Zora bahwa segala yang terjadi dimasa lalu adalah sebuah kesalahan dan ia menyesalinya.


"Tapi meskipun selama ini kalian tidak pernah melihat aku di dekat kalian. Tapi melalu mbak Marni aku selalu memantau dan mengikuti perkembangan kalian hingga didetik terakhir kehidupan mbak Marni. Dan aku juga tetap melakukan tugas ku sebagai seorang ibu yang ikut memastikan bahwa kalian mendapatkan kehidupan yang layak dan pendidikan yang memadai" tegas Nurma kepada Zora.


Kali ini apa yang dikatakan oleh Nurma membuat Zora tercengang menatap nya. Nurma bangkit dan berdiri tepat dihadapan Zora.


"Apa maksut perkataan kamu barusan?" tanya Zora penasaran.


"Untuk mengurangi rasa bersalah karena harus memberikan kalian kepada mbak Marni aku selalu berkomunikasi dengan mbak Marni untuk mengetahui perkembangan kalian. Aku juga sering mengirimi kalian susu, makanan hingga pakaian kalian. Dan sejak ayah kalian meninggal dunia, akulah yang menanggung segala kebutuhan kalian tanpa terkeculi" tutur Nurma melanjutkan memberikan penjelasannya kepada Zora.


Zora terdiam dan tubuh nya menjadi lemas seketika sangking ia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nurma. Ternyata selama ini Marni telah dengan sengaja menutupi segala nya dari dirinya dan juga Zoya. Marni telah dengan tega menyembunyikan fakta ini dari dirinya dan Zoya hingga membuat dirinya dan Zora menaruh rasa benci dan sakit hati terhadap Nurma ibu kandung mereka yang seakan seperti membuang mereka begitu saja.


"Pantas saja meskipun papi sudah tidak ada lagi, mami yang hanya bekerja menerima jahitan kampung mampu memberikan kami kehidupan yang cukup dan bahkan memberikan kami fasilitas mobil" Zora mengumam sambil menatap tajam ke arah wajah alm.Marni yang di dalam foto keluarga nya yang ada di dinding ruang tamu rumah nya itu.