
Hanya saja Zaki yang cendrung lebih sering menunjukan semua rasa itu dibandingkan dengan Faro yang cendrung gengsi.
Hingga saat ini jika ada kesempatan, Zaki atau ibu nya sering menasehati Faro dan memintanya untuk berubah dan kembali ikut bergabung bersama mereka untuk meneruskan mengurus bisnis keluarga bersama-sama dari pada ia terus menyia-nyikan hidup nya untuk hal yang tidak berguna.
Namun hingga kini pula tak pernah ada jawaban dari Faro untuk segala usaha bujuk rayu dari Zaki atau ibu nya. Faro masih enggan untuk melakukan semua itu, bahkan Faro masih jarang pulang ke rumah karena ia lebih suka tinggal menyendiri di sebuah apartemen milik keluarga mereka.
Terkadang untuk menghentikan segala kekonyolan sikap Faro, Zaki ingin menghentikan segala fasilitas yang Faro miliki terutama atm nya, agar Faro tidak ada pilihan lain selain kembali kepada keluarga nya.
Namun lagi-lagi kasih ibu sepanjang masalah yang pada akhir nya menghentikan niat Zaki. Karena sudah pernah Zaki membekukan atm milik Faro, namun ternyata dibelakangnya secara diam-diam sang ibu memberikan segala nya lagi kepada Faro.
Dan malam ini terlihat saat Zaki baru tiba di rumah nya, di garasi terparkir sepeda motor berwarna merah milik Faro dan ini berarti Faro berada di rumah malam ini.
Zaki langsung masuk kedalam rumah. Ketika Zaki akan menaiki tangga menuju ke kamar nya di lantai dua tiba-tiba saja sang ibu menghentikan langkah nya sejenak.
"Kamu dari mana Ki? Ngurusin Zoya lagi?" Tanya sang ibu menghentikan langkah Zaki pada anak tangga yang ke tiga.
"Hmmm..... iya ma! Kasihan dia harus ngerawat adik nya yang sedang sakit karena sedikit terguncang dengan kepergian mami nya yang mendadak dan begitu cepat" jawab Faaz dengan santay.
"Okey mama mengerti, tapi mama minta tolong sama kamu jangan sampai gara-gara itu kamu terus-terusan mengabaikan urusan kantor hanya karena kamu terlalu sibuk membantu Zoya mu itu" jawab mama nya memberikan peringatakan kepada Zaki dengan santai.
"Yaaaahh okey mam! Sory untuk beberapa hari ini mam, aku janji besok aku akan kembali ke kantor dan menyelesaikan semua kerjaan yang tertunda dan mama nggak akan dapat lagi keluhan apapun untuk itu" jawab Zaki untuk menenangkan hati mama nya itu.
Selesai berbincang-bincang ringan dengan mama nya, Zakipun kembali berjalan menaiki anak tangga ke atas untuk menuju kamar nya.
Terasa terlalu panjang hari yang dilalui oleh Zoya hari ini. Belum sempat kering gundukan tanah yang mengubur tubuh sang mami, kini Zora saudari satu-satu nya yang ia miliki malah bertingkah diluar nalar dengan melakukan percobaan bunuh diri.
Tubuh yang lelah membuat mata Zoya begitu mudah tertidur. Entah sejak kapan dan bagaimana tapi tiba-tiba saja kini Zoya tertidur tepat di samping tubuh Zora sambil terus memegangi tangan Zora.
Zoya tertidur begitu pulas hingga ia tidak menyadari bahwa waktu berlalu bergitu cepat dan kini malam telah berganti pagi.
Zora mulai terbangun dari tidur nya secara perlahan. Mata nya melihat sekeliling tempat ia berbaring saat ini, lalu Zora melihat selang infus yang mencancap di tangan nya.
Kini Zora sadar bahwa ia belum mencapai akhirat, namun ia masih berada di dunia tepat nya di rumah sakit.
Zora perlahan menggerakan tangannya, namun ia menyentuh sesuatu dengan tangan nya. Zora menoleh dan ternyata itu adalah helaian rambut Zoya yang masih membungkuk tertidur di samping nya.
"Zoy...Zoy...." Zora memanggil Zoya perlahan sambil membelai lembut rambut Zoya.
Perlahan belaian Zora mulai di rasakan oleh Zoya dan berhasil membangunkan Zoya dari tidur nyenyak nya. Zoya langsung bangun dan melihat sekitar ruangan yang ternyata sudah terlihat terang benderang disinari oleh cahaya mentari yang masuk menembus kaca-kaca jendela yang ada di ruangan rumah sakit.
"Lu uda bangun? Butuh sesuatu?" Tanya Zoya kepada Zora.
"Yaudah kalau gitu gue ke toilet sebentar ya" kata Zoya kepada Zora.
Zoya meninggalkam Zora sejenak ke toilet untuk membasuh wajah nya. Ketika Zoya berada di dalam toilet dokter yang menangani Zorapun datang.
Zora di periksa tekanan darah dan lain-lain. Setelah di pastikan hasil pemeriksaan semua menunjukan keadaan Zora sudah baik-baik saja dan hanya menunggu pulih, maka dokter memerintahkan perawat untuk melepaskan infus nya dan Zora diizinkan untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Saat Zoya keluar dari toilet Zoya melihat Zora sudah duduk di atas tempat tidur nya sedang mengikat rambut panjang nya. Tidak terlihat lagi ada selang infus yang menghiasi tangan nya.
"Infus lu mana?" Zoya langsung bertanya kepada Zora saat melihat selang infus sudah tercabut dari tangan Zora.
"Uda di cabut tadi, dan kata dokter nya gue uda dibolehin pulang" jawab Zora.
Zoya hanya diam tidak lagi menjawab perkataan Zora. Zoya langsung mengkemas barang-barang pribadi milik nya dan juga Zora dan langsung berjalan menuju pintu.
"Lu mau kemana Zoy?" Tanya Zora heran melihat Zoya melengos pergi tanpa berbicara apapun kepada nya.
"Ya mau pulang lah! Terus mau kemana lagi gue? Lu nggak pulang?! Jawab Zoya dengan ketus.
"Ya pulang dong" jawab Zora yang sedikit heran melihat sikap Zoya yang mendadak jutek dan dingin kepada nya.
Zora langsung berjalan mengikuti Zoya dari belakang menuju lobi rumah sakit. Dari rumah sakit menuju rumah Zoya dan Zora menggunakan taxi sebagai alat transportasi.
Sepanjang perjalanan Zoya tidak sekalipun menegur Zora. Jangankan untuk menegur bahkan Zoya tak memandang nya sama sekali.
Zora hanya menunduk diam sambil sesekali menatap ke arah jalan dari kaca jendela mobil.
Saat sudah sampai dipertigaan jalan menuju rumah nya, secara tiba-tiba Zoya meminta kepada supir untuk merubah arah tujuan mereka.
Bukan nya membawa Zora pulang ke rumah, Zoya malah membawa Zora menuju ke TPU tempat alm.Marni di makamkan.
"Loh kok ke pemekaman?" Tanya Zora yang terkejut melihat arah dan tujuan yang membawa nya kini telah merubah arah begitu saja.