Izora

Izora
episode 13. masa kritis berlalu



"Gimana kalau kalian istirahat saja di rumah?! biar aku sama Faaz yang stay di sini menjaga mami, ntar kalau ada perkembangan apapun aku langsung kabarin kalian" kata Zaki kepada si kembar Zoya dan Zora.


"Apaan sih?! nggak! Aku nggak akan pergi selangkahpun dari sini sebelum mami bisa membuka mata nya!" Tolak Zoya dengan tegas.


"Iya! Aku juga sama, aku nggak akan bisa istirahat dengan tenang selama mami masih terbaring disini berjuang untuk hidup sendirian!" Kata Zora yang satu pemikiran dengan Zoya.


Zaki tidak ingin berdebat dengan Zoya atau Zora dalam keadaan ini. Zaki akhir nya membiarkan kedua nya terus berada di sana untuk menantikan perkembangan baik dari mami nya.


Faaz kembali dengan membawa empat cup minuman cokelat hangat untuk Zoya dana Zora. Faaz sengaja membelikan minuman cokelat hangat untuk mereka agar dapat sedikit memperbaiki suasana hati mereka yang sedang gundah gulana tak karuan.


Malam semakin larut, kini jarum pendek yang ada pada jam sudah mengarah pada angka 3 dan jarum panjang nya berada pada angka 6 yang artinya bahwa waktu sudah hampir memasuki waktu subuh.


Meski sudah sayup-sayup namun mata Zoya dan Zora terus memandangi Marni yang masih tergeletak tak berdaya dengan berbagai macam selang yang terpasang di tubuh nya.


Karena mata nya terasa mulai sedikit berat untuk tetap terbuka, Zoya memutuskan untuk pergi ke toilet sejenak untuk membasuh wajah nya agar menghilangkan rasa kantuk yang kini bersarang di mata nya.


"Kamu mau kemana ?!" Tanya Zaki


"Aku mau ketoilet sebentar" jawab Zoya.


Saat Zoya akan melangkahkan kaki nya menuju toilet, secara kebetulan Zoya menoleh sejenak kearah mami nya, yang ternyata tampaklah jika mami nya sudah membuka kedua mata nya tanpa mereka sadari.


"Hey mam! Zora lihatlah mami sudah membuka mata nya Ra!" Teriak Zoya tiba-tiba memecah keheningan suasana saat itu.


Zora, Faaz dan Zaki langsung berdiri dan melihat kearah Marni melalui kaca ruangan tempat Marni terbaring. Zaki langsung berlari memanggil dokter yang bertugas untuk memberitahukan perkembangan yang terjadi kepada Marni saat ini.


Dokter dan tim langsung masuk ke ruangan dan melakukan pemeriksaan terhadap Marni untuk mengetahui sejauh mana perkembangan nya. Tidak begitu lama memeriksa dokter pun keluar meninggalkan ruangan.


"Syukurlah kabar baik, saat ini pasien sudah berhasil melewati masa kritis nya, dan pasien akan dipindahkan keruang rawat untuk pemulihan kondisi pasien, setelah itu baru pasien boleh ditemui" kata dokter memberikan kabar baik kepada Zoya dan yang lain.


"Alhamdulillah ya Allah! Dok terimakasih banyak dok!" Kata Zora sambil menangis bahagia menyentuh tangan sang dokter muda yang cantik itu.


Zoya dan yang lain langsung bergegas menuju ruang rawat untuk menemui Marni.


Zoya dan Zora begitu bersyukur atas kesadaran Marni, karena mereka tak ingin setelah menerima kenyataan menjadi anak yang terbuang, mereka juga harus menjadi anak yatim piatu yang tak memiliki tempat untuk menyandarkan kasih sayang mereka.


"Hey mam! Gimana keadaan mami? Apa yang mami rasain sekarang? Atau mami mau sesuatu?!" Kata Zoya kepada mami nya sambil menggenggam erat tangan mami nya.


Marni hanya tersenyum kepada Zoya tak berkata sepatah katapun.Terlihat Mata Marni terus bergerak memandangi seisi ruangan seperti sedang mencari sesuatu.


"Apa apa mi? Apa mami butuh sesuatu?" Tanya Zoya kepada Marni.


"Eh iya ya! Aku baru sadar dehFaaz, Zora dimana ya?! Kok dia nggak ada?!"  Tanya Zoya kepada Faaz saat menyadari bahwa ternyata Zora memang tidak ada di ruangan itu.


"Zora diluar, dia nggak mau ikut masuk karena takut mami jadi nggak nyaman jika melihat kehadiran dirinya di sini" kata Faaz menjelaskan.


Mendengar yang dikatakan Faaz, air mata Marni jadi jatuh berlinang. Marni merasa sedih mendengar Zora yang merasa bersalah hingga seperti itu.


"Zoya, bawa masuk mbak mu! Mami mau lihat kalian berdua disini" kata Marni.


Zoya langsung berjalan keluar ruangan. Terlihat Zora sedang duduk di kursi tunggu di koridor depan ruangan. Zoya langsung berjalan menghampiri Zora.


"Lu ngapain disini sendirian? Mami nyarikin lu tu!" Kata Zoya.


"Mami nyarikin gue? Lu serius?" Kata Zora terbatah tak percaya.


"Iya! Ayok kita masuk, kasihan mami nanyain lu terus dari tadi" kata Zoya lagi.


Zora langsung bangun dari duduk nya dengan semangat. Kaki nya langsung melangkah menuju kamar tempat Marni terbaring saat ini.


Namun saat akan membuka pintu ruangan, tiba-tiba saja langkah kaki Zora terhenti. Badan nya seakan tiba-tiba mematung di tempat.


"Ada apa?" Tanya Zoya".


"Apa mami akan tetap baik-baik saja kalau lihat gue? Mami jadi beginikan pasti karena mami marah banget sama gue?!" Kata Zora yang masih dengan rasa bersalah nya.


"Apaan sih?! Jangan berlebihan deh! Orang tua marah sama anak itukan hal yang wajar, apa lagi kalau anak nya buat salah! Tapi nggak akan ada orang tua yang benci sama anak nya! Yang paling penting sekarang lu uda sadar dan paham dengan kesalahan lu! Itu saja sudah cukup"


Tutur Zoya memberikan penjelasan kepada Zora agar ia lebih tenang dan bisa berdamai dengan diri nya sendiri. Karena selama Zora belum bisa memaafkan diri nya sendiri, maka ia akan terus menyalahkan diri nya sendiri atas apa yang terjadi.


Mendengar perkataan Zoya, dengan linangan air mata Zora langsung memeluk erat tubuh saudari kembar nya itu. Hati nya yang sedang rapuh menjadi tenang setelah mendengar apa yang dikatakan Zoya.


Akhir nya Zoya berhasil membawa Zora masuk untuk menemui Marni. Air mata Marni langsung berlinangan tak terbendung saat melihat dua putri kesayangan nya berdiri dihadapan nya.


"Zora, kamu nggak salah apa-apa sayang! Apa yang terjadi ini bukan kesalahan kamu sama sekali, jadi kamu jangan lagi menyalahkan diri mu sendiri ya sayang!" Kata Marni terbatah lemas kepada Zora.


Tangis Zora langsung pecah mendengar perkataan Marni. Zora langsung memeluk tubuh mami nya itu. Perasaan bersalah nya kini berganti dengan rasa lega yang teramat besar.


"Mam maafin aku yang nakal ya mam! Aku sayang banget sama mami, aku nggak mau mami kenapa-kenapa gara-gara aku, lebih baik aku aja yang mati mi!" Kata Zora sambil menangis dalam pelukan mami nya.


"Hus ndak baik bicara seperti itu! Sudah-sudah lupakan semua nya! Sekarang ada hal yang lebih penting yang perlu mami sampaikan kepada kalian" kata Marni kepada sikembar Zora dan Zoya.