Izora

Izora
episode 24. ada apa lagi ini??



Mata Faaz melotot memandang kearah Zora setelah mendegar perkataan Zora. Zora mengatakan hal yang sulit untuk dipercaya dengan begitu mudahnya.


"Apa Ra? Ada masalah apa lagi sekarang Ra?" tanya Faaz langsung sambil menggapai tangan Zora yang terasa dingin saat di sentuh.


"kamu ada beban apa lagi sekarang? Kenapa setelah semua kesabaran yang kita lewati selama ini untuk mendapatkan restu alm.mami mu malah kamu akhiri begitu saja?" tanya Faaz lagi yang langsung mencecar Zora.


Sejenak Zora tak mampu menjawab dan menatap wajah kekasih hati nya yang sejatinya sangat ia cintai itu. Faaz meneteskan air mata kesedihan karena tak kuasa menahan sakit akibat pernyataan Zora.


"Itu dia sebab nya Faaz, selama ini aku udah terlalu egois sama mami sampai aku mendesak mami agar mami tidak memiliki pilihan lain selain merestui kita! Aku sampai tidak memikirkan perasaan mami dan dampak apa yang akan terjadi kepada mami ku" kata Zora sambil terisak dalam tangisnya.


"Terus apa hubungannya sama hubungan kita saat ini?" tanya Faaz lagi yang masih merasa bingung dan tak menemukan jawaban atas pertanyaan nya dari kata-kata yang baru di ucapkan oleh Zora.


"kamu sadar nggak sih Faaz, kalau gara-gara aku desak terus akhir nya mami mau nggak mau menginzinkan kita menikah dan hal itu yang membuat mami harus mengungkapka segala nya tentang aku dan Zoya" kata Zora lagi.


"Terus kenapa kita harus mengakhiri hubungan ini begitu saja? Kasih aku satu alasan yang masuk akal" kata Faaz lagi yang mulai merasa kesal kepada Zora yang terus menerus bersikap kekanakan sejak beberapa hari ini.


"Ya karena aku rasa hanya dengan cara itu aku bisa mengurangi sedikit rasa bersalah ku atas meninggal nya mami" kata Zora lagi yang tetap masih ngotot dengan keputusannya.


"Jangan konyol kamu Ra! Terus dengan kita mengakhiri hubungan ini begitu saja apa akan mengembalikan lagi mami kamu ke dunia ini? Apa itu akan membuat kamu bahagia?" kali ini Faaz langsung mencecar Zora dengan kekesalannya.


Zora terdiam tak bisa berkata-kata lagi. Zora hanya bisa menangis tersedu-sedu di hadapan Faaz. Faaz yang melihat deraian air mata di wajah kekasihnya pun akhir nya tak lagi mampu membendung air mata nya.


"Faaz benar Ra! semua itu nggak akan merubah apapun yang sudah terjadi! Mami nggak akan bisa hidup lagi Ra! Lagian kalau lu mau tau, seben"arnya yang buat mami sakit hingga meninggal bukan lu! Tapi kepahitan kehidupannya di masa lalu yang terus menerus mami pendam sendiri yang pada akhir nya menjadi sebuah kesakitan sendiri untuk mami!"


Zoya yang mendengar pertengkaran antara Faaz dan Zora dari dalam akhir nya memutuskan untuk keluar dan menejalskan segala nya kepada Zora. Zora terlihat membawa kotak merag milik alm.mami mereka.


"Maksud lu apa Zoy?" tanya Zora penasaran dengan maksud dari perkataan Zoya yang baru saja ia katakan.


"Itu apa? Itu kotak merah yang waktu itu mami bilang waktu kita di rumah sakit?" tanya Zora lagi sambik menunjuk kotak merah yang ada ditangan Zoya.


"Iya. Ini kotak merah yang mami bicarain seblum mami meninggal waktu di rumah sakit. Dari kotak inilah gue tau segala nya! Gue tau rasa sakit apa yang selama ini udah menyiksa batin mami begitu parah" kata Zoya lagi sambil meyerahkan kotak merah itu ketangan Zora.


"Silahkan lu buka dan lu baca sendiri apa yang mami ceritakan melalui surat itu kepada kita. Agar lu paham Zora kalau apapun yang terjadi bukan salah lu atau siapapun. Tapi memang sudah menjadi takdir kita untuk melewati segalanya dalam hidup yang lu dan gue jalani selama ini" kata Zoya lagi menjelaskan kepada Zora.


Zora duduk di kursi kayu teras nya sambil membaca isi dari surat-surat yang ditinggalkan oleh alm.Marni untuk mereka. Faaz berdiri di samping Zora ikut membaca isi surat itu


Saat sudah membaca hampir dari setenag isi surat itu barulah Zora mulai kembali meneteskam air mata nya. Zora mulai memahami rasa sakit yang dipendam oleh Marni selama ini secara diam-diam.


Tidak butuh waktu lama kini Zora sudah menyelesaikan membaca isi surat itu. Zora terdiam, ia tak pernah membayangkan sama sekali bahwa mami nya menerima penghianatan yang begitu menyakitkan bagi diri nya namun ia tetap kuat dan tegar.


Bahkan ia tetap mampu meberikan limpahan kasih sayang nya kepada Zora dan Zoya. Zora mulai merasa jika apa yang dihadapi nya saat ini bukan sesuatu yang berat jika dibandingkan dengan apa yang Marni terima dan rasakan semasa hidupnya selama ini


"Zoy sejak kapan lu tau semua ini? Dan kenapa baru hari ini lu kasih tahu gue tentang semua ini Zoy?" kata Zora bertanya kepada Zoya.


"Memang nya kapan gue punya kesempatan untuk bisa bicarain semua ini sama lu? Bukan nya dari kamarin sampai dengan hari ini lu masih begitu sibuk untuk menyalahkan diri lu sendiri atas apa yang terjadi?" jawab Zoya dengan tegas kepada Zora.


Zora terdiam lagi dan hanya bisa menangis sambil menyesali kebodohan serta kekonyolan sikap nya selama beberapa hari ini.


"Terus kita harus gimana Zoy setelah ini?" tanya Zora lagi kepada Zoya.


"Nggak ada yang harus lu atau gue lakuin lagi. Semua uda jelas, mami udah tenang di syurga nya Allah bersama alm.Papi. Tinggal lu dan gue di sini yang harus berjuang untuk melanjutkan hidup kita dengan baik" kata Zoya.


"Terus tentang wanita itu gimana?" tanya Zora lagi.


"Wanita siapa maksud lu? Gue nggak ngerti" kata Zoya dengan nada berbicara yang ketus.


"Ya sepupu alm.mami yang kata nya ibu kandung kita. Apa menurud lu kita nggak perlu ketemu sama dia?" kata Zora.


"Terus kalau udah ketemu sama dia, lu mau apa? Mau bersujud di kaki nya memohon agar dia mau menerima lu sebagai anaknya?" kata Zoya kepada Zora dengan ketus nya.


"Ya nggak seperti itu Zoy, mungkin aja ada alasan dari dia kenapa dia nyerahin kita ke mami dan papi gitu aja?!" kata Zora lagi sedikit membujuk saudari kembarnya itu.


"Alasan apa lagi? Bukannya uda jelas dia bilang sama mami, kalau dia kasih kita ke mami dan papi sebagai penebusan rasa bersalah dia sama mami dan papi! Masih belum paham juga lu apa arti lu bagi dia? Kita ini cuma dianggap sebagi barang yang bisa dia kasih kesiapa aja sebagai kado atau permintaan maaf!" kata Zoya lagi yang semakin kesal kepada Zora.