
Zora diam sejenak. Melihat situasi amarah Zoya saat ini rasa nya berdebat dengan nya bukanlah solusi untuk mencari jalan keluar masalah. Karena tidak akan cara membuat Zoya luluh jika amarahnya tengah berapi-api.
"Faaz kamu pulanglah dulu, saat ini aku benar-benar butuh waktu untuk berfikir dan mengambil keputusan ku sendiri tanpa ada desakan dari siapapun" kata Zora kepada Faaz dengan lembut.
Melihat situasi yang tengah dihadapi saat ini. Faaz tidak membantah perkataan Zora karena Faaz tidak ingin memperkeruh suasana. Faaz langsung berpamitan untuk pulang dan ia berjanji akan menghubungi Zora nanti.
Zora dan Zoya duduk di kursi kayu di teras rumah mereka. Tidak saling berbicara satu sama lain. Bahkan mereka tidak saling menatap. Zora dan Zoya sama-sama diam untuk merenung sejenak dengan tenang.
Semilir angin berhembus menyentuh wajah mereka membuat helaian-helaian rambut mereka bergerak dan membawa suasana tenang untuk mereka yang tengah semraut kala itu.
"Kamu sudah tau siapa wanita itu dan bagaimana wajah nya?" Zora mencoba memulai lagi percakapan ini dengan berhati-hati dan tenang bersama Zoya.
"Liontin berisi foto itu ada di dalam kotak itu. Tapi gue nggak tertarik sama sekali untuk melihat foto itu" Zoya menjawab dengan ketus dan datar.
Zora langsung membuka kotak merah yang kini ada dipangkuan nya. Zora mengambil liontin berbentuk hati itu. Perlahan Zora langsung membuka dan melihat foto yang ada di dalamnya.
"Cantik" Zora berdecak kagum begitu melihat sosok yang ada di foto itu.
Zoya sedikit terkejut dan menoleh menatap kearah Zora. Mata nya memandang aneh kearah Zora saat mendengar pujian keluar dari mulut Zora. Perkataan Zora benar-benar membuat kening Zoya berkerut tak henti.
"Wajah nya sejuk. Melihat senyumnya saja meski hanya dari foto bisa buat hati ngerasa damai. Pasti ini alasan yang buat alm.papi akhirnya jatuh hati kepada wanita ini" sambung Zora lagi yang terus memuji sosok wanita yang ada di dalam foto itu dihadapan Zoya yang sudah terlihat kesal dan tak senang hati.
"Gue nggak salah dengar Zor? Lu memuji dia?" Zoya semakin geram mendengar pujian yang terus terucap dari mulut Zora.
"Zoy! Lu sendirikan yang bilang sama gue kalau kita harus melupakan masa lalu, mencoba belajar untuk berdamai dengan keadaan dan berusaha menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi" tutur Zora kepada Zoya mencoba untuk menyentuh hati Zoya perlahan.
"Oke kalau memang gitu. Gue mau bahas soal ini lagi dan mencoba mencari wanita itu untuk bertemu dengan nya, asalkan dengan satu syarat!"
Jawab Zoya mencoba membuat sebuah kesepakatan dengan sedikit bernegosiasi dengan Zora memanfaatkan situasi yang ada.
"Dengan syarat?!" Kening Zora berkerut saat mendengar kata syarat dari Zoya. Zoya menjawab "iya syarat! Gimana?"
Berfikir sejenak, dengan menghelan nafas Zora mengiyakan perkataan Zoya "oke, apa syaratnya?!" Tanya Zoya dengan lantang.
"Gue mau mencari tau tentang wanita itu dan gue akan mencoba bertemu dengan dia, tapi setelah lu menikah sama Faaz!" Zoya langsung mengatakan persyaratannya dengan lantang dan tanpa ragu sama sekali.
Tercengang dengan persyaratan yang diberikan oleh Zoya "kenapa jadi bawa-bawa pernikahan gue dan Faaz?" Gumam nya sambil menatap sinis sang kembaran.
"Okey kalau gitu. Gue juga bisa kasih persyaratan untuk itu! gimana?!" Zora balik memberikan syarat kepada Zoya.
Merasa tidak akan ada yang memberatkan nya Zoya langsung mensetujui persyaratan yang di berikan Zoya "Oke nggak masalah! Apapun persyaratan lu akan gue lakuin!" Ucap Zoya dengan lantangnya.
Tersenyum riang Zora girang medengar ucapan Zoya "serius? Yakin?" Tanya Zora memastikan. Tanpa berfikir dua kali Zoya langsung menjawab "Iya!"
"Oke, gue akan nikah kalau lu juga menikah dengan Zaki. Kita lahir dihari yang samakan? Jadi gue mau kita menikah di hari yang sama juga!" Zora mengatakan persyaratannya sambil tersenyum lebar kepada Zoya.
Kini giliran Zoya yang dibuat terperanjat dengan persyaratan Zora. Kali ini bagaikan skakmat pada permainan catur. Senjata makan tuan, Zoya termakan oleh permainannya sendiri.
"Gimana? Kita deal adikku sayang?" Zora langsung menjurlurkan tangan nya kepada Zoya untuk berjabat tangan sebagai tanda deal nya kesepakatan mereka.
Terdiam dan seakan mati kutu, Zoya tak tahu harus memberikan jawaban apa. Ingin menolak, tapi itu sama saja artinya jika ia menjilat ludah nya sendiri. Zoya tidak bisa seperti itu.
"Hnmm...." Zoya sedikit bergumam. "Gimana? Sepakat atau kita lupakan saja perihal pernikahan dan mari hidup bersama berdua saja hingga tua dan ajal memisahkan kita?" Zora mendesak saudari kembarnya yang kini terlihat gentar dengan persyaratan yang ia berikan.
"Oke! Nggak masalah. Malam ini kita suruh mereka ke sini dan kita akan bahas pernikahan ini bareng-barang" Zoya langsung menyanggupi persyaratan yang diberikan Zora sambil melengos masuk ke dalam rumah meninggalakan Zora seorang diri di teras rumah nya.
Di dalam kamar Zoya langsung kebingungan "Duh gimana ni?! Kenapa gue ceroboh banget sih pakek acara nagsih syarat segala ke Zora?! Kalau ginikan jadi gue kemakan omongan gue sendiri jadinya! Duh Zoya kok bego banget sih?!!" Zoya memukul-mukul kepala nya karena merasa geram sendiri.
Zoya terus mondar mandir di kamar nya karena perasaan nya kini sedang bingung bercampur panik. Terang saja Zoya panik, baru beberapa hari yang lalu ia menolak ketika Zaki menyatakan cinta nya.
Dan kini ia pula yang akan membahas perihal pernikagan dengan Faaz "waah gimana cara nya gue ngomong ke Faaz! Bangs*t! Mampus deh gue!" Zora terus menggumam kebingungan sendiri di dalam kamar nya.
"Sekarang gue baru faham ni arti kata jika mulut mu adalah harimau mu! Dan kali ini fix gue kemakan dengan omongan gue sendiri ni!" Sambung Zoya lagi bergumam sendiri di kamarnya.
*
Malam hari tiba, Faaz dan Zaki telah menerima pesan dari Zora dan Zoya yang meminta mereka untuk datang ke rumah mereka malam ini jam 08.00 malam.
Berdegub kencang jantung para jejaka ini saat membaca pesan undangan untuk bertemu dengan pujaan hati nya. Dengan semangat yang menggebu baik Faaz ataupun Zaki langsung bersiap dan segera meluncur menuju rumah Zoya dan Zora.
Sebelum jam 08.00 malam sudah terdengar ada suara klakson mobil yang tiba di deoan rumah Zora dan Zoya "Tin....."
Zoya dan Zora yang sama-sama sedang menunggu kehadiran Faaz dan Zakipun langsung keluar dari kamar masing-masing dan berjalan menuju pintu bersama-sama.