
"Setelah melewati semua ini mami jadi sadar akan satu hal, bahwa selama ini keegoisan mami yang hanya ingin kalian selalu bersama mamilah yang pada akhir nya menyakiti mamil dan juga kalian berdua!" Kata Marni.
"Enggak mam! Itu bukan keegoisan mami, tapi itu karena mami terlalu sayang sama aku dan Zoya!" Jawab Zora mematahkan perkataan mami nya.
"Dengarkan mami, di dalam lemari yang ada di kamar mami, ada sebuah laci yang kunci nya mami letakan di vas bunga yang ada di meja rias mami, di dalam laci itu ada kotak merah yang berisikan barang-barang yang ditinggalkan orang tua kandung kalian ketika dia meletakan kalian di depan rumah mami waktu itu" tutur Marni.
Zora dan Zoya hanya saling pandang satu sama lain karena kebingungan mendengar perkataan Marni. Mereka tidak mengerti maksud dan tujuan Marni mengatakan semua itu kepada mereka.
"Kalau begitu, itu arti nya selama ini mami sudah tahu siapa orang tua kandung kami?" Tanya Zora kepada Marni.
"Saat mami dan alm.papi menggendong kalian pertama kali, ternyata didalam kain yang membalut tubuh Zoya ada sebuah liontin berbentuk hati yang di dalam nya ada sebuah foto seorang wanita muda dan cantik yang jika dilihat-lihat persis seperti kalian saat ini paras wajah nya, dan selain itu ada sebuah kertas dengan tulisan tangan yang berisi tentang nama kalian berdua beserta waktu kalian lahir" jelas Marni lagi sambil meneteskan air mata nya sembari bercerita kepada kedua putri kembar nya.
"Lantas apa tante mengenali siapa wanita yang ada di foto di dalam liontin itu?" Sahut Zaki tiba-tiba.
"Tidak! Tante tidak mengenali siapa dia, dan karena tidak ingin papi kalian mencari tahu tentang wanita itu karena mami takut kalau ayah akan menyerahkan kalian kepada nya kembali. mami langsung menyimpan semua itu diam-diam hingga hari ini, dan saat ini mami rasa sudah saat nya Zoya dan Zora mengetahui segala nya!" Jelas Marni lagi menjawab pertanyaan Zaki.
"Enggak! Aku nggak mau tahu apapun tentang manusia kejam yang sudah dengan tega ngebuang aku gitu aja!" Kata Zoya dengan tegas dan raut wajah yang dipenuhi amarah.
"Hussst, jangan bicara seperti itu Zoya, mami dan Alm.papi tidak pernah mendidik kalian untuk jadi manusia yang pendendam. Cobalah cari tahu siapa dia dan dengarkan dulu alasan dari tindakan nya itu! Karena kita tidak tahu keadaan apa yang memaksa nya harus meninggalkan kalian begitu saja" tutur Marni lagi mencoba meredam amarah Zoya yang memang terkenal berwatak keras dan emosian.
"Iya, kali ini aku setuju sama tante! Karena kalau tante aja bisa sesayang dan setakut itu kehilangan anak yang bukan dilahirkan nya sendiri, aku rasa nggak ada satu ibupun yang sudah melahirkan anak nya dengan susah payah tega meninggalkan nya begitu saja tanpa sebab yang pasti" tutur Zaki lagi mencoba menjelaskan kepada Zoya.
"Iya Zoy, apa nggak sebaiknya kita cari tahu dulu tentang siapa dia dan kita tanya ke dia, apa alasan dia sampai tega ngebuang kita gitu aja?!" Kata Zora menyahuti perkataan Zaki.
Zoya terlihat semakin kesal mendengar perkataan Zora yang tidak memihak kepada nya. Zora, Marni dan yang lain menjadi takut saat melihat betapa marah nya Zoya saat itu.
"Sudahlah! Mami baru siuman dan keadaan nya belum stabil betul, ada baik nya kita berikan waktu mami untuk istirahat dulu sekarang dan kita bisa menunggu diluar sejenak" kata Faaz.
Faaz langsung mengambil inisiatif cepat untuk menghentikan saja pembahasan ini. Faaz tidak ingin dalam kondisi seperti saat ini diperburuk lagi dengan terjadi nya pertengkaran antara anak dan ibu, atau pertengkaran antar saudari.
Mendengar saran yang dikatakan oleh Faaz, Zaki langsung merangkul Zoya dan membawa nya keluar untuk menenangkan diri nya sejenak.
"Tante istirahat dulu ya?! Jangan banyak berfikir dulu, semua nya akan baik-baik saja, aku dan Zora juga yang lain akan duduk di luar biar tante bisa istirahat dengan tenang ya tan" kata Faaz kepada Marni dengan lemah lembut penuh kasih sayang layak nya bahasa seorang putra kepada ibu kandung nya.
Di luar ruangan terlihat Zoya dan Zaki duduk bersama sambil saling menggenggam tangan satu sama lain.
Zora berjalan kearah Zoya dan langsung duduk tepat di samping Zoya. Zora meletakan kepala nya di bahu Zoya dan ia memejamkan mata nya.
"Sorry ya Zoy kalau perkataan gue tadi bikin lo sedih! Gue nggak ada niat sama sekali untuk itu!" Kata Zora kepada saudari nya itu.
"Gue nggak marah sama lu atau mami kok! Tadi itu gue cuma terlalu emosional setiap kali kita bahas masalah itu" jawab Zoya.
"Gue cuma berfikir bukan nya setiap manusia punya kesempatan keduakan?" Sambung Zora.
"Bahkan kucing sekalipun, nggak pernah ninggalin anak yang baru dilahirin nya kan?terus apa iya dia seorang manusia setelah dia tega ninggalin kita gitu aja? Salah kita apa Ra? Gue juga nggak minta buat dilahirinkan?" Jawab Zoya yang tetap tidak bisa mentoleransi perbuatan orang tua kandung nya yang telah tega membuang dirinya dan Zora.
"Sssttt.. udah deh! Kalian berdua istirahat aja dulu! Dan kita saat ini fokus aja dulu sama keadaan mami! Sampai mami sembuh total, baru kita akan bahas ini lagi pelan-pelan dengan kepala dan hati yang dingin" kata Faaz yang lagi-lagi langsung menengahi percakapan Zoya dan Zora.
Ditengah suasana hening yang tercipta di rumah sakit saat itu karena hari masih gelap, tiba-tiba terlihat dokter yang betugas jaga dan juga beberapa perawat berlarian masuk ke dalam ruangan tempat Marni dirawat.
"Loh ada apa? Kenapa mereka pada masuk ke ruangan mami gitu?" Tanya Zoya.
Zaki, Zoya dan yang lain langsung berlari kearah ruangan Marni dan mereka langsung bertanya kepada salah satu perawat yang ikut berlari dan akan masuk ke ruangan.
"Sus maaf! Ada apa ya?? Kenapa semua pada lari-lari ke ruangan mami saya ya?" Tanya Zoya khawatir.
"Alaram tanda keadaan darurat pada pasien tiba-tiba menyala pada monitor, jadi kami harus segera mengecek apa yang terjadi kepada pasien" jawab perawat itu.
"Ha? Keadaan darurat gimana ya maksud nya sus? Saya baru saja keluar dari ruangan, mami saya baik-baik saja kok sus! Mami sudah bisa banyak bercerita kok! Apa saya boleh ikut masuk untuk melihat kondisi mami saya juga sus?!" Kata Zoya kepada perawat itu.
"Maka dari itu kami perlu memastikan terlebih dahulu apa yang terjadi pada pasien, mbak dan yang lain mohon tunggu di sini saja, saya permisi masuk dulu mbak" kata perawat itu langsung masuk ke dalam ruangan meninggalkan Zoya dan yang lain.
Zora langsung merasa panik dan kembali menangis tersedu-sedu dalam pelukan Faaz. Faaz memeluk erat Zora untuk menenangkan nya. Semua orang menunggu dengan perasaan campur aduk di depan pintu ruangan Marni saat itu.