Izora

Izora
episode 6. ada luka di atas luka



Makan malam pun berjalan dengan hening berkat pertanda cinta yang tertinggal di leher Faaz tanpa ia sadari. Merasa kurang nyaman, Faaz langsung secepat kilat menyantap habis makanan di piring nya dan langsung meninggalkan meja makan menuju kamar.


"Faaz  sudah selesai buk, pak, permisi ke kamar duluan ya" Faaz langsung masuk ke kamar nya.


"Ya Tuhan Zoraaa!" Faaz menggumam di hadapan cermin saat melihat kissmark yang ditinggalkan Zora.


Faaz kembali mengingat perselisihan yang terjadi antara dirinya dan Zora tadi. Faaz terduduk di tepi kasur nya sambil memandangi potret dirinya dan Zora yang menjadi walpaper di hp nya. Seketika mata Faaz terlihat berkaca-kaca.


"Tok...tok...tok..." tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Faaz.


"Masuk aja, nggak dikunci" Kata Faaz mempersilahkan masuk.


Pintu dibuka seseorang dari arah luar, dan ternyata itu adalah sang ibu. Faaz terkejut melihat ibu nya mendatangi nya malam-malam ke kamar.


"Eh ibuk, sudah selesai makan malam nya buk?" Tanya Faaz menyapa kehadiran ibu nya di kamar tidur nya.


"Sudah Faaz, Kamu sedang apa Faaz? Apa ibu mengganggu?" Tanya lembut sang ibu sambil duduk di samping putra sulung nya.


"Enggak dong buk, ada apa buk?" Jawab Faaz.


"Kamu gimana sama Zora?" Tanya ibu Faaz perlahan.


"Gimana? Gimana apa nya ya buk?"


"Kamu sama Zora kan sudah terlalu lama bersama-sama, apa nggak lebih baik kalau di seriuskan? Untuk menghindari fitnah Faaz" tutur ibu nya perlahan.


"Iya buk, kalau soal itu sejujur nya seperti yang ibu tahu,Faaz dan Zora juga sebenar nya udah punya pemikiran kesitu sejak lama buk, tapi..." kata-kata Faaz terputus tak selesai.


"Apa Marni belum juga menginzinkan kalian menikah?" Tanya ibu Faaz lagi.


"Ya begitulah buk, Faaz juga bingung buk harus bagaimana lagi?! Di satu sisi ibu nya Zora tetap kekeh banget nggak mengizinkan kami untuk menikah, dan di sisi lain Zora sudah marah buk sama Faaz karena Zora berfikir jika Faaz tidak mau memperjuangkan hubungan kami buk, waaah pokok nya ruwet buk!" Kata Faaz dengan nada bicara yang terdengar gundah gulana.


"Ya coba lagi Faaz, kan nggak ada salah nya toh?! Coba sampaikan lagi niat baik kamu untuk Zora kepada ibu nya, kitakan tidak tahu Faaz kapan manusia akan berubah, kali-kali aja jika kamu datangi ibu nya sekali lagi, itu akan membuka pintu hati nya dan merubah keputusan nya untuk mengizinkan kamu dan Zora menikah" kata ibu Faaz menasehati anak bungsu nya.


"Iya ya buk, nanti coba Faaz pikirkan lagi buk"


"Huusss jangan kelamaan mikir! Kamu kan sudah lama suka sama Zora, mau mikir apa lagi? Sekarang waktu nya kamu memperjuangkan nya, bukan waktu nya untuk mikir lagi Faaz! Yauda ibuk mau ke bapak mu dulu, sudah waktu nya bapak minum teh sebelum tidur"


Faaz terdiam mendengar apa yang dikatakan ibu nya. Faaz berfikir lagi dalam-dalam dan merenungi apa yang dikatakan ibu nya barusan. Faaz menarik nafas nya dalam-dalam dan akhir nya Faaz memutuskan untuk pergi menemui ibu nya Zora malam ini juga.


Faaz mengambil jaket kulit berwarna hitam milik nya yang tergantung di kamar nya. Faaz keluar kamar sambil membawa kunci mobil untuk pergi ke rumah Zora karna masih hujan deras di luar.


****


Di rumah Zora, karena mendengar suara Zoya yang terlalu memekik dari kamar Zora membuat Marni merasa ada yang terjadi dan ia langsung masuk ke kamar untuk memastikan apa yang terjadi.


Mirna terkejut saat melihat kedua anak perempuan nya sudah bersaut saling tangis. Ini adalah kali pertama Mirna melihat kedua putri kembar nya itu bertengkar hingga menangis.


"Ting nung....ting nung....ting nung....."


Belum sempat Zora atau Zoya menjawab pertanyaan Mirna, tiba-tiba terdengar suara bel rumah yang dibunyikan seseorang berulang kali.


"Siapa yang datang di jam segini sih?!" Kata Mirna sambil melihat jam tangan nya.


Mirna meninggalkan sejenak kedua putri kembar nya dan langsung membuka pintu rumah nya untuk melihat siapa gerangan yang menyambangi rumah nya di jam malam seperti ini.


Ketika pintu dibuka ternyata sosok Faaz yang sedang berdiri di depan pintu rumah nya. Mirna sedikit terkejut karena melihat Faaz berkunjung kerumah nya di jam malam begini.


Namun Mirna tetap mempersilahkan Faaz untuk masuk ke dalam rumah nya dan mempersilahkan nya untuk duduk di sofa berwarna coklat tua di ruang tamu rumah nya.


Mirna hendak meninggalkan Faaz untuk mengambilkan nya segelas air minum sejenak, namun Faaz mencegah nya dengan mengatakan bahwa tujuan nya datang malam-malam begini bukanlah untuk minum.


Faaz mengatakan bahwa tujuan nya datang di jam seperti ini karna ia memiliki satu hal yang teramat sangat penting untuk dibahas sehingg ia tak bisa menunggu hari esok lagi untuk datang.


"Ada apa Faaz? Kelihatannya sangat penting, tante jadi penasaran" kata Mirna.


"Begini tan, saya minta maaf sebelum nya karena saya datang di jam begini, tapi saya rasa saya nggak punya pilihan lain, tan saya datang menemui tante untuk memohon agar tante memberikan izin untuk saya menikahi Zora tan, saya memohon dengan sangat kepada tante" kata Faaz berbicara dengan mata yang berkaca-kaca dihadapan Mirna.


Mirna terduduk di hadapan Faaz dengan mata yang menunjukan rasa iba melihat rasa sedih yang di tunjukan Faaz saat berbicara. Namun seperti ada sesuatu yang menahan nya, Mirna terdiam tak bisa berkata apa-apa saat itu.


Melihat kebungkaman Mirna, Faaz langsung mulai menjelaskan kepada Mirna tentang mengapa ia datang malam-malam begini hanya untuk kembali melamar Zora.


Faaz langsung menceritakan semua hal yang terjadi antara diri nya dan Zora di rumah kosong tadi sore kepada Mirna tanpa mengurangi atau menambahkan suatu kejadian pada cerita nya.


Jantung Mirna seketika lemas mendengar apa yang dikatakan oleh Faaz. Air mata nya mulai menghujani pipi nya. Tangan nya menggenggam menahan rasa marah nya.


"Zoraaaaa....." teriak Mirna sambil menahan tangis nya.


"Bahkan asal tente tau aja, Zora sudah berulang kali memohon agar Faaz mau membuat nya hamil, dan itu semata-mata agar tante tidak memiliki pilihan lagi selain menikahkan kami" sambung Faaz lagi.


"Zoraaaaaaa......!!!" Menggelegar suara Mirna memanggil nama Zora saat itu hingga mengalahkan suara gemuruh dari deras nya hujan.


Faaz terkejut melihat Mirna yang tiba-tiba berteriak memekik memanggil Zora. Begitu pula Zora dan Zoya yang terkejut mendengar suara teriakan mami nya dari dalam kamar, karna ini adalah kali pertama mereka mendengar ibu nya berteriak.


Zoya dan Zora langsung menghampiri Mirna ke ruang tamu. Mereka terkejut saat melihat Faaz sedang duduk dihadapan mami mereka. Zora menatap kearah Faaz dengan tatapan mata yang masih dipenuhi amarah.


"Kamu begitu ingin menikah Zora hingga kamu tidak berfikir panjang dan ingin menghancurkan kehormatan mu dan menghancurkan nama baik keluarga kita?!" Tanya Mirna kepada Zora sangat murka.


Zora tertunduk tak berani menjawab pertanyaan Mirna karna ia tau bahwa Mirna benar-benar marah terhadap nya kali ini. Dan ia sadar jika memang ia salah besar karna memiliki pikiran seperti itu.


"Tadi nya mami berusaha menahan semua nya dalam diam karena mami tidak ingin membuat kamu dan Zoya terluka, tapi seperti nya kamu semakin melewati batas! Maka dengarkan ini, mami tidak bisa menikahkan mu karna mami tidak mau kalian mengetahui hal yang sebenar nya tentang kamu, tengang Zoya!" Kata Mirna dengan kepala tertunduk sambil terisak-isak menangis.