
Zoya sudah dipastikan sudah masuk ke dalam kamarnya. Zora berjalan menuju kamar tempat Nurma berada. "Bund kayak nya aman deh. Pintunya nggak aku kunci lagi ya jadi bunda bisa leluasa kalau butuh sesuatu" tutur Zora berbisik-bisik kepada ibu nya.
"Tapi gimana kalau Zoya tiba-tiba bangun lagi terus ngeliat bunda di sini?"
"Nggak akan bund. Zoya kalau uda tidur kebo banget dia. Dan di dalam kamar dia sudah lengkap semua bund. Ada tv, kamar mandi dan dispenser. Jadi dia nggak akan keluar kamar tiba-tiba" Zora menjelaskan tentang Zoya dan kebiasaannya agar Nurma merasa sedikit tenang.
Nurma mengangguk sambil tersenyum. Zora memberikan pelukan hangat kepada Nurma sebagai pengantar tidur. "Yauda bunda aku istirahat dulu ya dan bunda juga istirahat. Hari ini kita anggap selesai. Dan untuk gimana besok kita lihat besok aja ya bund" tutur lembut Zora.
"Iya sayang. Terimakasih ya nak untuk kasih sayang dan pengertian kamu" kata Nurma sambil memerikan satu ciuman hangat di kening Zora. Zora tersenyum bahagia dan langsung keluar menuju ke kamar nya untuk beristirahat.
Malam yang dingin itu berlalu begitu saja tanpa terasa. Tubuh yang lelah membuat semua orang tertidur dengan pulas nya. Rasanya baru hitungan menit mata terpejam. Dan kini sudah terdengar suara Adzan subuh berkumandang membangunkan umat manusia untuk datang dan beribadah kepada sang pencipta kehidupan alam semesta.
Nurma yang memang tidak pernah meninggalkan ibadah sholatnya langsung bangun tepat waktu disaat adzan selesai berkumandang. Nurma langsung mengeluarkan handuk milik nya dari dalam koper.
Nurma juga mengeluarkan pakaian ganti serta satu set sajadah dan mukenah miliknya. Setelah itu Nurma langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan berwudhu sebelum ia menunaikan sholat subuhnya.
Selesai sholat subuh Nurma duduk ditepi kasur. Nurma telah merapikan tempat tidur dan seisi ruang kamar yang di tempatinya. Nurma tidak bisa tidur lagi seusai sholat karena itu memang diluar dari kebiasaan Nurma selama ini.
Melihat jam masih jam 06.00 pagi. Nurma pun memutuskan untuk memberanikan diri keluar kamar perlahan penuh kehati-hatian takut bertemu Zoya tiba-tiba.
Nurma menarik nafas dalam-dalam.....
"Duh di rumah anak sendiri kok ya mau keluar kamar aja harus mengendao-ngendap begini ya! Uda seperti maling saja nih aku" gumam Nurma di dalam hatinya.
Tidak tahu mau kemana di jam sepagi ini. Nurma memutuskan untuk membuka jendela-jendela rumah itu untuk merasakan sejuk nya udara pagi yang sejuk berembun.
Setelah itu Nurma menuju dapur dan disana terlihat tumpukan pakaian kotor si kembar yang terlihat sudah menggunung. "Hmmm pasti ini mau di bawa ke laundry deh! Mending aku cuciin aka deh" kata Nurma berbisik-bisik seorang diri di hadapan setumpuk kain kotor dan sebuah mesin cuci berwarna putoh yang ada di hadapannya.
Suara mesin cuci yang menyala terdengar hingga ke kamar si kembar. "Zora kok pagi amat sih nyucinya?!" gumam Zoya dari kamarnya dengan mata yang terpicing-picing melihat jam dinding yang ada di kamarnya dan melanjutkan lagi tidurnya.
Dan si kembar Zora pula berfikir jika Zoya lah yang mencuci pakaian di jam sepagi itu "Tumben amat Zoya bangun sepagi ini dan langsung nyuci. Kesambet apa tu anak semalam di rumah camer nya" kata Zora sambil melihat jam dari hpnya.
Selesai dengan mesin cuci Nurma lanjut dengan mengambil sapu dan langsung menyapu seaisi rumah hingga ke teras. Dan Zora yang sudah terbangun karena mendengar suara aktivitas mesin cucipun akhir nya kehilangan rasa kantuknya dan memutuskan untuk mandi.
Tidak terasa mesin cuci telah berhenti berkerja. Itu tandanya pakaian telah selesai di cuci dan siap di jemur. Nurma langsung mengeluarkan kain dan menjemur pakaian-pakaian itu.
Saat Nurma menjemur pakaian hari yang sudah mulai terang membuat para tetangga meliha sosok Nurma dengan jelas. Karena mereka tidak pernah melihat sosok Nurma selama ini membuat salah seorang tetanga di sana bertanya "Maaf, ibu ini kerabatnya si kembar ya?"
"Oh ya? Nggak pernah kelihatan ya selama ini?!" salah seorang tetangga menyaut lagi.
Nurma tersenyum lagi "Iya soal nya saya tinggalnya sangat jauh dari sini buk. Oh iya ibu-ibu ini mau kemana ya pagi-pagi begini?" kata Nurma balas bertanya kepada ibu-ibu rumpi yang super kepo sama urusan orang.
"Oh kita mau kedepan gang, mau belanja sayur. Ibu mau ikut?"
"Nurma menggeleng "Oh nggak buk terimakasih. Tapi persediaan bahan dapur masih banyak buk" Nurma menolak dengan halus.
"Oh gitu. Iya deh orang kaya mana level ya belanja di kampung!" celetuk salah seorang ibu-ibu bertubuh bulat.
"Iya dong. Orang kaya belanja nya di mall dong buk, itu pun karena berburu diskon dan promo kali!" salah seorang ikut menyela.
Nurma diam tak menggubris hanya melemparkan senyum tipis kearah ibu-ibu kepo itu.
Namun tiba-tiba dari arah pintu Zora memanggil Nurma "Bund. Masuk yu seperti matahari udah mulai keluar nih bund panas!" sindir Zora untuk komplotan ibu-ibu rempong itu.
Nurma mengangguk dan langsung berjalan menghampiri Zora meninggalkan ibu-ibu itu agar mengakhiri percakapan tidak berbobot dengan mereka.
"Eh kok ibu itu mirip banget ya sama si kembar? Coba kalian perhatikan deh!" celetuk seorang ibu-ibu lagi membuat semua orang terkejut dengan perkataannya. Termasuk Zora dan Nurma yang ikut terpelongoh dengan kata-katanya.
"Eh iya betul! Padahal selama ini kalau kita lihat-lihat si kembar ini nggak ada mirip-miripnya ya sama alm.Marni. Tapi kok sama ibu ini bisa mirip banget ya?!" sambung ibu julid yang semakin kepo dengan identitas Nurma yang sebenarnya.
"Atau jangan-jangan ibu ini istri simpanan alm.suami nya alm. buk Marni ya? Dan dia ini ibu kandungnya sikembar. Soal nya ada saudara ku yang pernah tinggal sekampung dulu sama alm.Marni dan kata nya dulu itu alm. Marni pernah depresi gara-gara dia mandul!" tutut seorang ibu-ibu lagi semakin membabi buta dengan perkataannya yang tak berdasar.
"Oh ya? Berarti si kembar anak istri simpanan dong?" semakin semangat membumbui pergosipan pagi-pagi.
"Hmmm kalau iya menikah? Biasa nya kalau yang di simpan-simpan itu ya kumpul kebo!" semakin pedas saja mulut-mulut jahil ini.
"Wah jangan-jangan si kembar ini anak haram?!"
Nurma dibuat mendidih kehilangan kesabaran mendengar cacian demi cacian perempuan-perempuan tidak beretika ini. Tidak mau meladeni Nurma melengos masuk ke dalam rumah dan keluar dengan sebuah ceret berisi air di tangannya.
Perlahan Nurma berjalan menghampiri ibu-ibu resek itu dan "Byaaaaaaar....." tanpa terduga tiba-tiba Nurma menyirami mereka semua dengan air itu.