Izora

Izora
episode 34. Sisi lembut seorang Zoya



"Haaaah.... Apa-apan ni buk!" seru ibu-ibu yang mendadak kuyup karena diguyur oleh Nurma tanpa ampun.


"Itu air bersih untuk membersihkan hati dan mulut kalian yang kotor. Heran deh, pagi-pagi kok ya mulutnya udah pada kotor aja. Sampah deh kalian!" cecar Nurma terhadap ibu-ibu rempong yang minim akhlak dan etika.


"Kok masih bertahan di sini? Kurang airnya? Apa saya perlu semprot kalian dengan air keran? Biar lebih berasa sensasi seger nya?!" sambung Nurma lagi mengancam rombongan ibu-ibu rombeng itu agar segera berlalu dari depan rumah Nurma.


Ibu-ibu itupun pergi dengan perasaan dongkol terhadap Nurma. Namun di sisi lain Zora terlihat tertawa lepas saat menyaksikan perseteruan sengit antara Nurma dan ibu-ibu rempong itu.


Nurmapun kembali menghampiri Zora. "Kok kami malah keliatan bahagia gitu sih di kata-katain sama mereka?! Harus nya kamu lawan dong, marahin mereka yang udah lancang berbicara sok tau tentang kehidupan kamu" kata Nurma yang gantian ngedumel terhadap Zora.


Zora tertawa "Nggak ah bund. Ngapain jugak aku repot-repot marah atau ngejelasin sesuatu tentang hal-hal yang nggak penting sama orang-orang yang nggak penting jugak bund!" Zora menjawan dengan santai sambil mengguyon Nurma yang terlihat kesal.


"Nggak penting apanya?! Mereka sudah berani-berani ngatain kamu dan Zora anak haram! Itu bukan hal spele sayang!" kata Nurma lagi.


"Tapi apa yang mereka bilang nggak benar kan bund?" tanya Zora.


Nurma menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Yaudah selesai. Menurut ku tengang hidup kita ya cukup kita yang memahami segalanya. Nggak penting dengan penilaian orang luar. karena menurut ku kita nggak hidup berdasarkan apa kata orang kok bund. Jadi i'ts oke. Tapi bund sekarang setelah melihat bunda barusan, aku jadi tau satu hal deh" kata Zora.


Kening Nurma sedikit berkerut "Tau apa?!"


"Sekarang aku tau dari mana Zora mendapat sifat bar-bar nya. ternyata itu nurun langsung dari bunda!" celetuk Zora sambil tertawa riang.


Nurma langsung menarik telinga Zora. "Ada-ada aja deh kamu! Yauda sekarang kita masuk yuk. Kita masak untuk sarapan. Bunda lihat isi dikulkas lengkap banget soalnya. Jadi gatel deh tangan bunda pengen langsung masak-masak" kata Nurma sambil menggandeng Zora masuk ke dalam rumah nya dan melupakan kejadian tidak mengenakan tadi.


Nurma dan Zora langsung mengeluarkan bahan makanan yang akan mereka masak. Suasana diantara kedua nya terlihat begitu akrab seakan mereka sudah lama bersama. Mungkin itu yang dinamakan dengan ikatan batin ibu dan anak yang begitu erat.


Aroma sedap dan gurih dari masakan panas diatas wajan mulai menyebar keseluruh bagian rumah hingga ke kamar Zoya. "Hmmmmm.... Buset kok berasa enak banget ni aroma masakan si Zora pagi ini?!" gumaman Zoya dengan mata yang masih terpejam.


Aroma lezat dan gurih dari masakan Nurma dan Zora terus menari-nari di penciuman Zoya yang masih mempertahankan mata nya agar tetap terpejam.


"Wah gilak betul ni aroma masakan si Zora! Nggak bisa ni nggak bisa! Nggak tahan lagi gue. Gue harus bangun, mandi dan setelah itu langsung makan! Lapar banget gue gara-gara aroma sedep masakan si Zora!"?! Kata Zoya yang langsung bangun dari tidurnya.


Di dapur sangking asik memasak sambil mengobrol Zora dan Nurma sampai melupakan bahwa Zoya sedang berada di rumah saat itu dan Nurma hingga lupa jika keberadaan dirinya di rumah itu masih sembunyi-sembunyi dari Zoya.


Zoya sudah selesai mandi dan suda selesai berpakaian. Sebelum keluar kamar Zoya membuka jendela kamarnya "Lah si Zora nyuci sendiri? Tumben amat! kesambet apaan tu anak?!" gumam Zoya saat melihat jemuran yang sudah terisi penuh dengan cucian.


Zoya langsung keluar kamar untuk menghampiri Zora di dapur. Namun begitu keluar kamar dari arah dapur terdengar suara Zora yang sedang mengobrol dengan seseorang.


Begitu sampai di dapur Zoya langsung terdiam. Matanya terbelalak terkejut melihat Nurma yang sedang asik memasak dengan Zora. Dan Zora pula terlihat seakan dirinya begitu sudah begitu dekat dan akrab dengan Nurma.


"Ra....." kata Zoya lembut.


"Eh Zoy lu udah bangun?" Zora menjawab dengan santai seakan tidak terjadi sesuatu. Zora lupa jika Zoya belum mengetahui perihal keberadaan Nurma di rumah mereka.


"Dia siapa Ra?!" tanya Zoya dengan mata yang menatap tajam ke arah Nurma.


Nurma langsung mematikan api kompornya. Zora berjalan mendekati Zoya. Tanpa berkata apa-apa di hadapan Nurma. Zora langsung menarik tangan Zoya menuju kamar tidur nya.


Di dalam kamar Zora langsung memeluk erat tubuh Zoya. "Sorry gue nggak cerita. Sorry gue uda nggak jujur sama lu Zoy" kata nya sambil memeluk erat tubuh Zoya.


Zoya hanya berdiri diam mematung dalam pelukan Zora." Dia wanita itu kan?" tanya Zoya datar.


"Iya...."


"Terus kenapa dia di sini? Sejak kapan dia di sini? Dan kenapa lu sepertinya sudah begitu dekat dan akrab sama dia?" kata Zoya lagi.


"Tenang ya Zoy. Dia uda dirumah ini dari semalam. Tapi Ini semua ternyata nggak seburuk yang kita pikiran selama ini kok Zoy. Gue udah tau cerita sebenarnya Zoy. Gue bisa jelasin semua nya sama lu" kata Zora dengan perasaan yang penuh debar.


"Oke gue mau dengar semua nya. Jelasin sekarang juga ke gue!" kata Zoya dengan tegas.


"Oke...."


Zoya mulai menceritakan segalanya kepada Zoya dari awal hingga akhir tanpa melebihkan atau mengurangi isi cerita yang sesungguhnya.


Terlihat setelah mendengar cerita Zora raut wajah Zoya perlahan berubah. Rasa marah dan kesal dalam hatinya perlahan menghilang.


"Jadi selama ini mami sengaja merahasiakan semua nya dari kita agar kita membenci ibu kandung kita sendiri? Dan itu dia anggap sebagai cara membalas dendam?" kata Zoya bertanya memperjelas apa yang di dapatnya dari menyimak cerita dari Zora.


"Hmmmm iya Zoy. Gue juga nggak nyangka mami akan setega itu menggunakan perasaan kita sebagai alat membalaskan rasa sakitnya!" jawab Zora.


"Sebenarnya gue juga uda lama curiga gimana cara nya mami biayain sekolah kita dan dari mana mami bisa biayai segala kebutuhan kita hingga membelikan kita mobil sementara gue tau betul alm.papi nggak ninggalin harta warisan apapun untuk kita kecuali rumah ini" kata Zoya.


"Iya Zoy. Semua itu bunda yang biayain. Hanya saja mami merahasiakan nya dari kita" sambung Zora lagi.


"Terus sekarang gue harus gimana Ra sama wanita itu?!" tanya Zoya lagi.