
Zora terdiam sejenak "Ya lu dan gue, kita berdua nggak harus gimana-gimana Zoy. Kita cuma harus belajar untuk bisa terbiasa menerima kehadiran bunda di dalam hidup kit" kata Zora sambil memegang pundak Zoya.
Zoya mengehelan nafas dalam-dalam dan membuangnya perlaha. " Tapi itupun nggak akan semudah ngebalik telapak tangan Ra bagi gue!" jawab Zoya lagi sambil menatap kearah jendela kamarnya.
Tiba-tiba Nurma membuka pintu kamar dan langsung masuk......
"Maaf boleh bunda berbicara juga sama kalian, terutama sama kamu Zoy?!" Nurma bertanya dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian.
Zora langsung terseyum kepada Nurma "Iya bund nggak apa-apa kok. Bunda mau bicara apa sama kita berdua?" kata Zora lembut.
"Zoya kamu nggak harus menerima aku saat ini juga kok. Aku tahu apa yang ku lakukan dimasa lalu terhadap kalian nggak bisa di maafkan apapun alasanya. Dan selesai memasak aku akan pergi dari di sini dan nggak akan mengusik kalian lagi. Aku nggak akan egois dengan memaksa kalian harus bisa menerima kehadiran ku"
Nurma langsung berpaling dan keluar dari kamar itu. "Tunggu!" kata Zoya.
Langkah Nurma terhenti....
"Nggak perlu ada yang pergi dari rumah ini. Kita bisa hidup bareng-bareng disini. Dan aku cuma minta waktu sampai aku bisa nerima semua dan terbiasa dengan segalanya" tutur Zoya dengan nada berbicara yang begitu lembut.
Zora langsung menghadiahi pelukan hangat untuk Zoya.
"Thank you Zoy! Gue tau kalau lu emang sebaik ini kok! Lu kan cuma sangar di casing aja, tapi hati lu beautifull!!!" celoteh Zora kegirangan.
Nurma memandang Zoya dengan tatapan mata yang terlihat berkaca-kaca "Terimakasih Zoy" Nurma begitu terharu hingga tak mampu berkata-kata lagi dihadapan kedua putri kembarnya.
Suasana pun menjadi hangat kembali. Kini rumah yang sempat terasa sunyi dan hampa kembali terasa lengkap dan hangat.
*
Di rumah Faaz.
Terlihat ibu Faaz dan ayah Faaz sedang berada di teras rumah. Jika melihat ekspresi wajah kedua nya, jelas kedua orang tua Faaz sedang dalam pembahasan yang sangat serius.
"Kamu yakin?" ayah Faaz bertanya kepada sang istri.
"Iya. Aku mendengar langsung dari tukang sayur yang biasa berkeliling di kampung ini dan kampung nya Zor" kata ibu Faaz menjawab.
"Tapi bukankah Faaz cuma bilang kalau Zora itu adalah anak angkat nya Alm.Marni dan suami nya?! Terus kenapa sekarang malah ada yang bilang kalau Zora adalah anak haram dari perempuan simpanan alm.ayahnya?" ayah Faaz tidak bisa menerima isu yang dibawa oleh suaminya.
"Itulah yang saya juga bingung. Dari mana isu ini berasal? Rasa nya nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api toh pak?" Ibu Faaz ikut dibuat penasaran dengan isu yang di dengarnya saat sedang berbelanja tadi.
Kedua orang tua Faaz itu sama-sama teridiam dengan tatapan mata yang kosong. Mereka terkejut saat mendengar rumor yang beredar di kampung mereka tentang Zora.
Karena kejadian yang terjadi di rumah Zora pagi itu. Ibu-ibu rempong yang merasa tidak puas hati terhadap tindakan Nurma, malah nekat menyebarkan rumor dengan mengatakan bahwa Zora dan Zoya adalah anak haram dari wanita simpanan mendiang ayahnya.
Sebagai orang tua tentu ibu dan ayah Faaz merasa terganggu dengan rumor tentang calon menantu nya yang mereka dengar. "Anak Haram" adalah sebuah image yang terlalu buruk untuk seorang gadis.
"Lalu bagaimana cara kita menikahkan gadis itu dengab Faaz jika benar dia adalah anak haram?" kata ayah Faaz dengan tegas.
"Memang nya kenapa pak?" Faaz tiba-tiba menyahuti percakapan kedua orang tuanya.
"Memang nya kamu nggak ngaji Faaz? Anak haram atau anak yang dihasilkan sebelum adanya pernikahan adalah anak yang tidak bernasab ke ayahnya namun ke ibu nya. Anak itu mutlak milik ibunya. Lantas siapa ibu kandung Zora? Apa kamu mengenalnya? Apa Zora sendiri mengenali siapa ibu kandungnya Faaz?" ayah Faaz begitu tegas mencecar putra nya itu.
"Jangan pergi sendiri. Ibuk dan bapak akan ikut bersama kamu. Kita pergi bersama" ayah Faaz tegas dengan perkataannya.
Faaz dan kedua orang tuanya langsung bergegas bersiap untuk mengunjungi kediaman Zora saat itu juga.
*
Kembali di rumah Zora.
Zora, Zoya dan Nurma sedang menikmati sarapan pagi pertama mereka bersama-sama. Antara Zora dan Nurma terlihat begitu akrab dan hangat. Sedangkan Zoya masih terlihat sedang berusaha membiasakan diri menerima kehadirab Nurma.
Ting....(Sebuah pesan masuk di hp Zor)
"Dari Faaz : Sayang kamu siap-siap ya. Aku bersama ibu dan bapak akan ke rumah kamu sebentar lagi. Jangan tanya ada apa. Aku akan jelasin semuanya nanti begitu aku sampai"
Kening Zora berkerut mata nya menatap layar hp nya tanpa berkedip. "Ada apa Ra?" Zoya menyadari perubahan ekspresi Zora setelah membaca pesan yang masuk di hpnya.
Zoya menyodorkan hpnya kepada Faaz. "Loh emang ada apa Ra?" Zoya dan Zora sama-sama merasa ada sesuatu setelah membaca pesan dari Faaz.
"Ada apa Ra? Apa bunda boleh tahu?" Nurma bertanya dengan penuh kehati-hatian.
"Ini buk" Zora menunjukan isi pesan Faaz kepada Nurma juga.
"Hmmmm. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Sebaik nya bunda menunggu di kamar dulu. Lagi pula mereka belum mengenal bunda kan?!" kata Nurma kepada Zora.
Zoya dan Zora saling menatap dan mereka pun mengangguk. Nurma langsung masuk ke dalam kamar. Di kamar perasaan Nurma terasa sangat tidak tenang karena khawatir memikirkan apa yang menyebabkan calon besan nya datang begitu mendadak tanpa janji temu atau pemberitahuan.
Tidak berselang lama Faaz dan kedua orang tuanya tiba di rumah Zora. Zora di dampingi Zoya langsung menyambut kehadiran mereka dan membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Zoya langsung mengambil sebuah nampan dari dapur yang berisi gelas minuman dan sepiring kue kering. Zoya langsung menyajikannya di atas meja.
"Silahkan diminum buk, pak" kata Zora dengan santunnya.
"Terimakasih nak" ibu Faaz langsung menyeruput gelas teh miliknya.
"Langsung saja. Bapak dan ibu datang ke sini bukan untuk minum teh" kata ayah Faaz tiba-tiba tanpa berbasa-basi dan sangat datar.
Nurma menjadi tegang di dalam kamar saat mendengar perkataan ayah Faaz. Ibu Faaz dan Faaz sendiri langsung menundukan kepala nya karena merasa segan dengan sikap ayahnya.
Zoya dan Zora saling menatap satu sama lain. " Maaf pak, kenapa sepertinya ada sesuatu yang sangat serius?! Apa Zora ada melakukan kesalahan pak?" tanya Zora perlahan dengan santun kepada ayah Faaz.
Ayah Faaz menghelan nafas panjang sejenak.
"Begini. Entah apa sebab, dan entah dari mana asalnya. Tapi dari kampung mu ini hingga ke kampung kami telah tersebar rumor berita tentang kalian berdua yang mengatakan jika kalian adalah anak haram!"
Jedeeeerrrr......
Zoya dan Zora terbelalak terkejut hingga tak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan oleh ayah Faaz dengan lantang.