
Suara kokokan ayam mulai terdengar. Matahari mulai naik perlahan untuk kembali bertugas menerangi dunia.
Kini di rumah Zora dan Zoya semua mulai bergegas menyelesaikan segala persiapan. Akad nikah akan dilakukan pagi ini jam 09.00 pagi. Zora dan dan Zoya sudah mulai berhias di bantu oleh MUA mereka masing-masing.
"Tok.... Tok.... Tok...." Tiba-tiba ada yang mengetuk kamar tempat kedua calon pengantin dirias.
"Masuk" Kata Zoya
Ternyata itu adalah Nurma. "Beritahukan kepada kedua calon mempelai laki-laki untuk dapat hadir di sini jam setengah 9. Agar semua tidak terburu-buru" kata Nurma kepada kedua calon pengantin yang tengah bermakeup.
"Oke bund siap!" Zoya langsung menjawab dengan sigap perkataan Nurma.
Nurma tersenyum "Oke. Yasudah kalau begitu bunda keluar lagi untuk memastikan segala nya beres dan tidak ada yang kurang" tutur Nurma.
"Bund! Bunda cantik banget deh hari ini" Zora langsung memuji penampilan Nurma yang terlihat begitu anggun dengan balutan baju kebaya berwarna gold berpadau dengan rok batik berwarna gelap bermotifkan bunga anggrek yang indah.
"Oh ya? Terimakasih sayang. Tapi bagi bunda kalian berdua jauh lebih cantik dari bunda!" Nurma membalas kembali memuji Kedua putri kembarnya itu.
*
Dikediaman Zaki semua persiapan sudag beres. Rombongan yang akan mengiringi mempelai laki-laki menuju rumah mempelai wanitapun sudah siap semua hanya tinggal menunggu kesiapan tuan rumah untuk berangkat saja.
Dikamar Karisma terlihat tengah duduk di tepi kasurnya dengan raut wajah sedih menahan tangis. Karena merasa khawatir Zaki langsung berjalan menghampiri mama nya dan bertanya alasan apa yang membuat Karisma begitu bersedih padahal ini adalah hari bahagia untuk Zaki.
"Ma! Ada apa?" Zaki bertanya sambil menyentuh lembut bahu mama nya.
"Adik mu. Sudah di hari-H pernikahan mu. Tetapi dia malah menolak untuk ikut hadir menyaksikan sekaligus menjadi saksi dihari bahagia mu ini. Mama sedih. Kalian hanya dua bersaudara tapi kok susah sekali untuk akur-aku. Coba saja alm.papa masih ada, pasti kalian tidak akan jadi seperti ini" tutur Karisma dengan suara bergetar menahan tangisnya agar tidak pecah dihadapan Zaki yang sedang berbahagia.
Zaki menghelan nafas sejenak. "Kalau masalah itu mama jangan khawatir. Mama sekarang lanjut saja berisiap-siap dan tunggu dibawah ya?! Aku janji Faro akan ikut bersama kita dan akan mendampingi mama menggantikan alm.papa" ucap Zaki sambil mencium tangan mama nya.
Karisma menatap Zaki dan langsung menganggukan kepalanya. Karisma selalu percaya pada setiap perkataan yang keluar dari mulut Zaki. Karena Zaki selalu menepati setiap perkataan dan janjinya kepada Karisma. Dan untuk itu Karisma belum pernah merasa kecewa jika berharap sesuatu kepada Zaki.
Setelah Karisma berjalan menuruni tangga menuju kelantai bawah. Zaki dengan langkah kaki yang cepat langsung berjalan menuju kamar Faro. Zaki selalu punya cara untuk membuat Faro melakukan sesuatu hal yang dia inginkan.
Zaki langsung membuka pintu kamar Faro dan masuk ke dalam. Zaki menyingkirkan hordeng yang menutupi kaca jendela kamar Faro agar cahaya matahari yang terang benderang dapat masuk ke kamar Faro.
Terlihat Faro masih tertidur pulas dalam keadaan telungkup. Kepala nya bersembunyi dibawah bantal. Zaki langsung menepuk bokong Faro dengan keras beberapa kali hingga Faro terbangun dari tidurnya dan langsung membuka kedua matanya.
"Faro anak baik, Faro anak sholeh, Faro anak papa dan mama, Faro janji kepada papa apapun yang terjadi Faro akan menjadikan keluarga yang nomor satu. Faro akan jadi sukses seperi papa. Faro akan membantu melindungi mama. Faro akan selalu menuruti perkataan abang Zaki. Faro berjanji kepada Papa!" suara yang keluar dari rekaman itu ternyata suara ketika Faro berusia 13 tahun sedang membuat janji kepada alm.papa nya tercinta.
Faro begitu mencintai sosok alm.papa nya. Faro tidak pernah bisa ingkar jika itu menyangkut tengang alm.papanya. Dan seperti biasa rekaman itu lagi-lagi membuat Faro luluh tak berkutik dan langsung menuruti setiap perkataan Zaki dan memenuhi keingan mamanya untuk ikut hadir dalam pernikahan abang semata wayangnya.
Zaki menunggu Faro bersiap sambil bersiul dan melihat-lihat hpnya untuk memantau bisnisnya. Setelah Faro selesai bersiap, bersama-sama Zaki dan Faro langsung menyusul mama nya ke lantai bawah dan segera berangkat menuju rumah Zoya agar mereka tidak terlambat.
*
Di rumah Faaz setelah segala persiapan selesai dilakukan. Maka selanjutnya pihak keluarga dan para rombongan bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Zora.
Tidak ada kendala yang terjadi di kediaman Faaz. Hanya saja ayah Faaz yang sempat membuat sedikit drama dengan menolak ikut untuk menghadiri pernikahan Faaz. Namun ibu Faaz cepat bertindak hingga akhrinya ayah Faaz menyerah dan bersedi ikut dengan rombongan.
*
Akhirnya iring-iringan kedua mempelai laki-laki tiba dan memasuki pelarangan rumah Zora dan Zoya yang sudah di sulap menjadi tempat yang indah untuk pelaksanaab akad nikah.
Zoya dan Zora saling bergandengan tangan satu sama lain di dalam kamar untuk saling menguatkan satu sama lain. Mereka berdua sama gugup dan tegang saat ini.
Di luar tepay nya di meja tempat akad nikah akan dilangsungkan. Terlihat kedua mempelai sudah duduk dimeja berasama wali hakim yang akan menjadi wali untuk menikahkan Zora dan Zoya karena Zora dan Zoya tidak memiliki saudara laki-laki kandung. Dan Alm.papi mereka pun anak tunggal. Jadi untuk menikahkan mereka dilakukan oleh wali hakim.
"Saya terima nikahnya Izora Hana binti Hariadi dengan maharnya seperangkat alat shola dan sebuah cincin emas seberat 6 gram dibayar tunaaai"
"Saya terima nikahnya Izoya Hana binti Hariadi dengan maharnya seperangkat alat shola dan sebuah cincin emas seberat 6 gram dibayar tunaaai"
"Bagaimana para saksi?" kata penghulu.
""Saaaaah"
"Alhamdulillah" seluruh saksi dan tamu undangan yang hadir menyaksikan akad nikah berjalan lancar langsung berseru haru mengucapkan sukur dan disambung berdoa bersama untuk kedua pasangan pengantin dan dipimpin langsung oleh imam yang hadir di sana.
Zoya dan Zora yang menyimak dari dalam kamar pun turut merasa bahagia dan haru mendengar suami mereka mengucap ijab qabul dengan lancar dan sekali tarikan nafas saja. Kedua saudari kembar ini saling berpelukan untuk berbagi kebahagiaan satu sama lain.
Setelah akad selesai dilakukan. Maka selanjutnya penghulu meminta Zora dan Zoya dipanggil dan dibawa bertemu dengan suami mereka masing-masing untuk pemasangan cincin pernikahan dan menandatangani buku nikah mereka masing-masing.