
Sampai dipelataran TPU Zoya meminta supir taxi yang mengantarkannya untuk menunggu nya sejenak karena ia tidak akan lama disana.
Zoya turun dari taxi dan berjalan menuju arah makam alm.Marni. Zora terheran-heran dengan sikap Zoya, namun ia tidak ada pilihan lain selain mengikuti saudari kembar nya itu.
"Zoy kita mau apa ke sini?" Tanya Zora kepada Zoya begitu mereka sampai dimakam alm.mami mereka.
"Zor coba deh lu perhatikan sekeliling lu ini! Disini ada puluhan dan bahkan mungkin ratusan makam yang isinya jasad seorang ibu yang meninggal dan memiliki anak yang harus ditinggalin di dunia ini" kata Zoya kepada Zora sambil menatap nya dengan tatapan mata yang tajam.
"Terus apa hubungan nya sama gue Zoy?" Tanya Zora merasa heran.
"Gue mau lu paham kalau di dunia seluas ini banyak Zor ibu yang meninggal dan harus ninggalin anak nya dan begitu juga sebaliknya, banyak banget Zor anak yang ditinggalin ibunya meninggal begitu aja. Ntah itu ditinggal meninggal ataupun di tinggalin begitu aja sama ibu yang nggak bertanggung jawab seperti kita pasti banyak kok yang ngalamin hal seperti itu di dunia ini! Bukan cuma lu aja atau gue aja!" kata Zoya lagi dengan lantang.
"Tapi Zoy, pasti cuma gue kan anak yang udah jadi penyebab ibu nya sampai sakit dan meninggal?! Pasti cuma guekan?!" Jawab Zora lagi.
"Ra lu jangan naif deh jadi manusia! hidup dan mati kita di dunia ini bukan kita Ra yang tentuin! Semua itu urusan Tuhan! Dan kalau memang udah waktu nya bisa aja kan pulang dari sini gue mati gitu aja tanpa sebab apapun! Terus lu mau salahin siapa?" Jawab Zoya yang dibuat semakin kesal dengan perkataan Zora yang terus menerus menyalahkan diri nya atas apa yang terjadi.
"Zoy! Lu jangan pernah mempermainkan kata kematian Zoy! Itu bukan sebuah mainan!" Kata Zora.
"Gue mempermainkan kematian? Nggak salah lu? Gue atau lu yang sedang mencoba mempermainkan kematian sekarang ini?" Tanya Zoya dengan nada berbicara yang terdengar semakin lantang.
Kali ini Zora terdiam dan tak bergeming dihadapan Zoya. Kepala nya kini tertunduk malu di hadapan saudari kembar nya itu mengingat apa yang dilakukan nya tadi malam.
"Kenapa lu diam Ra? Apa gue salah? Atau emang lu uda kehabisan kata-kata karena emang apa yang gue omongin barusan itu udah nampar diri lu?" Kata Zoya lagi.
Zora tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Zoya kepada nya kali ini. Bibir nya seakan kaku tak mampu berbicara. Dan kini hanya linangan air mata yang terlihat di wajah Zora sebagai jawaban untuk pertanyaan Zoya kepada nya.
"Gue salah Zoy, gue emang salah. Tapi gue harus gimana lagi? Setiap kali gue ingat mami rasa bersalah itu muncul gitu aja. Rasa nya sakit banget Zoy ketika lu sadar kalau lu adalah penyebab yang udah buat mami lu sakit dan akhir nya hingga meninggal. Semua itu karena gue Zoy!" Kata Zora sambil terduduk memeluk nisan yang bertuliskan naman alm.Marni.
"Kalau lu emang punya rasa bersalah sebesar itu, seharus nya lu perbaikin semua nya Ra, lu jalani hidup dengan baik biar mami dan papi senang liat lu sama gue ternyata bisa baik-baik aja meski harus jalani hidup tanpa mereka. Yang itu arti nya segala didikan baik yang mereka berikan sama kita itu nyata hasil nya!"
Kata Zoya lagi memberikan pengertian kepada Zora agar Zora bisa belajar menerima kenyataan yang sedang mereka hadapi.
Zoya berharap setelah ini Zora akan menjadi lebih dewasa dan tenang dalam menghadapi segala macam masalah dan cobaan yang datang menyapa kehidupan mereka nanti nya.
Seketika tangisan Zora pecah diatas nisan mendiang sang mami. Zora menangisi mengingat segala sesuatu yang telah terjadi diluar kendali nya.
Zoya membiarkan Zora meluapkan segenap perasaan nya di atas nisan alm.mami mereka dengan harapan setelah itu segala kesedihan dan rasa bersalah Zora hilang dan ia bisa melanjutkan kembali kehidupannya sebagaimana biasa nya.
Kini Zora dab Zoya kembali menuju rumah. Zoya lega karena diri nya telah mengatakan segala nya kepada Zora dan berhasil membuat Zora bisa mengerti dan menerima keadaan.
Yang paling penting bagi Zoya adalah Zora dapat berdamai dengan keadaan dan melupakan segala rasa bersalah nya.
"Zoy maafin gue ya, disaat berduka gini bukannya kita saling menguatkan satu sama lain, gue malah nambahin kesedihan dan jadi beban buat lu" kata Zora yang tiba-tiba menyandarka kepala nya dibahu Zoya.
"Iya Ra, kedepannya kita hadapi semua nya bareng-bareng ya! Lu punya gue dan gue punya lu!" Kata Zoya sambil menggenggam tangan Zoya.
"Kita sekarang nggak punya apa-apa lagi ya Zoy selain kasih sayang diantara kita berdua aja" kata Zora lagi.
Dilain sisi terlihat di halaman rumah mereka ada kain-kain yang terjemur rapi di jemuran. Zoya dan Zora saling menatap satu sama lain karena merasa heran akan siapa yang melakukan semua kegiatan di rumah nya sedangkan mereka sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi dalam anggota keluarga mereka saat ini.
Turun dari taxi Zoya dan Zora langsung berjalan bersama masuk ke dalam rumah. Dan begitu mereka masuk ke dalam rumah dari arah dapur tercium aroma sedap masakan.
Merasa penasaran sikembar pun langsung bergegas berlarian menuju dapur untuk melihat siapa gerangan yang menghidupkan suasana rumah mereka pagi ini.
"Loh kok kalian sudah pada pulang? Ibuk baru saja hampir selesai memasak dan mau menyuruh Faaz untuk mengantarkan makanan ini ke rumah sakit untuk kalian berdua" kata Ibu Faaz begitu melihat kehadiran Zoya dan Zora di dapur.
"Ibuk, kita kirain siapa loh yang pagi-pagi udah ngeberesin seisi rumah kita dan masak di dapur kita" kata Zora sambil langsung memeluk ibu nya Faaz dengan sebuah pelukan hangat.
"Ibu kok pagi banget udah ke sini? Bapak dan adik-adik gimana bu?" Kata Zoya bertanya.
"Loh memang nya kalian berdua nggak tahu ya? Faaz nggak ngabarin kalian? Ibuk dan adik-adik memang tidur di sini semalam, karena ibuk pikir ndak baik toh rumah yang sedang dalam masa duka ditinggalkan kosong. Jadi ibu dan adik-adik nginap di sini. Maaf ya karena ibu ndak meminta izin dulu sama kalian" tutur ibu Faaz menjelaskan kepada si kembar.
"Eh nggak apa-apa buk. Malah aku sama Zora yang berterima kasih banget sama ibu karena udah mau repot-repot mikirin kita dan bahkan sampai mau bantu-bantu kita ngurusin segala nya" kata Zoya langsung menepis permintaan maaf ibu Faaz yang dirasanya tak perlu.
"Yasudah kalau begitu kalian mandi dan berganti pakaianlah dulu sambil menunggu Faaz datang, dan nanti setelah itu kita sarapan bersama. Oh ya adik-adik numpang tidur di kamar kamu Zora semalam dan mungkin mereka belum bangun" kata ibu Faaz lagi.
"Oh nggak masalah buk, aku bisa pakai kamar Zoya dulu kok untuk mandi dan ganti baju. Jadi nggak perlu ganggu mereka biarin aja mereka istirahat" kata Zora.
Zoya dan Zora langsung bergegas menuju kamar untuk bergantian mandi dan ganti pakaian. Sedangkan ibu Faaz kembali melanjutkan perkejaan dapur nya dan menghidangkan sajian untuk sarapan.
Setelah selang beberapa saat, Faazpun tiba di rumah Zora. Sikembar dan kedua adik Faaz pun sudah berkumpul di meja makan.
Tanpa menunggu lagi mereka langsung saja memulai sarapan bersama. Suasana terasa begitu akrab dan hangat. Hingga santapan sarapan selesai pun obrolan serta canda tawa diantara mereka masih berlanjut.
Hingga tak terasa hari mulai siang, ibu Faaz dan kedua adik nya memutuskan untuk berpamitan pulang karena mereka juga masuh memiliki perkerjaan rumah yang harus mereka selesaikan.
Ibu faaz dan kedua adiknya pulang menggunakan mobil sendiri. Faaz tetap tinggal di rumah Zora karena ia masih ingin mengobrol empat mata dengan Zora.
Sudah lama sejak kejadian alm.Marni masuk rumah sakit hingga akhirnya meninggal dan sampai hari ini belum ada percakapan atau obrolan intens antara Zora dan Faaz.
Setelah mobil yang membawa ibu Faaz tak lagi terlihat, Zoya berpamitan masuk ke dalam rumah untuk beristirahat meninggalkan Zora dan Faaz di teras rumah berdua.
"Gimana kabar kamu sayang?" Tanya Faaz kepada Zora mengawali percakapan mereka.
"Aku baik Faaz, kamu gimana?" Zora kembali bertanya kepada Faaz.
"Aku juga baik. Hmmmm...... rasa nya sudah lama banget ya kita nggak ngobrol berdua gini" kata Faaz.
"Iya, dan kebetulan kita lagi bicara gini Faaz. Aku juga ada hal penting yang mau aku bicarain nih sama kamu" kata Zora lagi.
"Oh ya? Ada apa sayang?" Tanya Faaz terdengar antusias ingin mendengar hal yang ingin dikatakan oleh calon istri nya itu.
"Faaz, maaf sebelum nya. Tapi seperti nya aku nggak bisa deh lanjutin hubungan ini" kata Zora tiba-tiba mengejutkan Faaz saat mendengarnya.