Izora

Izora
episode 38. Menghitung waktu



"Tidak ada habis nya bapak mengungkit-ngungkit itu saja. Setiap ada kesempatan bapak selalu mengungkit masalah perjodohan itu" tegas Faaz yang mulai terpancing emosi nya menghadapi ayahnya.


Tidak ingin perdebatan ini semakin merumit dan membuat pertengkaran yang akan merusak moment bahagia Faaz yang hanya tinggal menghitung jam, ibu Faaz langsung menarik Faaz masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ayahnya diteras rumah.


"Istigfar Faaz! Kamu jangan sampai terpancing oleh bapak mu! Biarkan saja dia mau berkata apa?! toh bapak mu memang begitu cara berbicaranya. Maklumi saja orang sudah tua memang begitu Faaz. Jadi jangan kamu ambil hati. Biarkan saja" tutur ibu Faaz menasehati Faaz.


Faaz menundukan kepalan nya sembari menghelan nafas nya dalam-dalam dan membuang nya perlahan.


"Astagfirullahhalazim" Faaz istigfar menenangkan hati nya yang kadung terbawa emosi tadi.


"Maafkan Faaz ya buk karena sudah terpancing tadi" Faaz merasa bersalah dan meminta maaf kepada ibunya.


"Yasudah. Kamu istirahat saja di sini. Ibuk akan keluar lagi untuk berbaur bersama para tetangga dan kerabat kita di luar ya"


Ibu Faaz meninggalkan Faaz seorang diri di kamarnya untuk beristirahat. Dan Faaz langsung mengambil air wudhu lalu ia mengaji untuk mengisi waktu luangnya.


Diluar ibu Faaz kembali berpapasan dengan suami nya. Namun sang suami terlihat mengacuhkan dirinya dan langsung berjalan menuju ke kamar.


Ibu Faaz langsung menyusul suami nya itu ke kamar. "Pak ada apa toh pak? Kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini sikapnya? Padahal besok itu adalah hari bahagia untuk anak kita Faaz pak. Apa bapak nggak ikut bahagia?" berkata dengan penuh kehati-hatian dihadapan suaminya.


"Memang nya aku ini kenapa toh buk? Apa yang salah dengan ku?" ayah Faaz menjawab dengan kesal.


"Ya bukan gimana-mana pak. Hanya saja untuk apa membahas perihal sesuatu yang sudah lewat pak? Dewi memang bukan jodoh nya Faaz. Jadi nggak perlu mengungkit-ngungkit masalah itu lagi pak yang ada nanti malah membuat Faaz tersinggung atau sedih pak" tutur ibu Faaz mencoba memberikan pengertian kepada suaminya.


"Bukan nggak jodoh, tapi memang Faaz yang menolak! Lagi pula apa hebatnya si Zora itu sih? Kamu lihat kemarin bagaimana cara perempuan yang mengaku-ngaku sebagai ibu kandung nya itu berbicara dan bersikap dihadapan kita? Angkuh sekali!" kata ayah Faaz yang semakin merembet kemana-mana celotehannya.


*


Di rumah Zora. Segala persiapan rampung dilakukan dan hanya tinggal bersantai menunggu hari esok. Di kamar Zora dan Zoya tangah melakukan perbincangan serius berdua.


"Kita sama-sama nggak mungkin membawa bunda untuk tinggal bersama salah satu dari kita. Karena kita pasti masih tinggal di rumah orang tua Faaz dan Zaki. Lalu gimana bunda? Kasian banget nggak sih bunda sendirian di sini?" Zora begitu mengkhawatirkan Nurma.


"Iya lu bener Ra. Tapi ntar gue coba omongin lagi sama Zaki, mana tau dia punya rumah pribadi untuk kami tinggali berdua saja. Jadi bunda bisa tinggal bareng gue" tutur Zoya mencoba memberikan solusi atas permasalahan yang sedang mereka hadapi ini.


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk oleh seseorang.


"Masuk" Kata Zoya.


"Boleh bunda masuk?" Nurma menghampiri kedua putri kembar nya ke kamar mereka.


"Bunda boleh mengatakan sesuatu kepada kalian?" Nurma bertanya dengan lembut.


Zoya dan Zora mengangguk.


"Bunda mendengar apa yang kalian bahas sejak tadi. Bunda ingin kalian tahu, kalian nggak perlu mengkhawatirkan bunda sayang. Bunda sudah sejak lama terbiasa hidup sendiri dengan segala kesibukan yang bunda miliki. Yang bunda mau hanyalah kalian memastikan diri bahwa kalian akan mampu menjadi istri yang baik dan menantu yang berbakti. Bunda ingin kalian hidup dengan bahagia sayang"


Seketika air mata jatuh menetes dari mata kedua gadis kembar yang akan segera menjadi pengantin sebentar lagi.


"Bund maaf ya. Kebersamaan kita yang baru beberapa hari saja harus berakhir lagi karena kita akan berpisah. Aku dan Zoya akan ikut bersama suami dan meninggalkan bunda sendiri lagi" Zora yang memang berwatak lemah lembut langsung memeluk erat tubuh Nurma.