
Ceklek.....
Zora membuka pintu kamar mereka yang telah dihias begitu apik dan rapih. Nuansa warna merah maroon dipadukan dengan warna putih membuat penampakan kamar pengantin itu begitu indah. Ditambah lagi dengan cahaya-cahaya dari lilin aroma terapi yang indah menambah kesempurnaan di dalam kamar pengantin Zora dan Faaz.
Faaz berjalan kekasur dan langsung berbaring miring membelakangi Zora. Zora tertegun melihat sikap Faaz. Zora tahu, ini pasti lantaran Faaz merasa tidak enak hati lantaran kepada nya perihal ucapan ayah nya tadi yang didengar langsung oleh Zora tadi.
Padahal Zora sama sekali tidak menyalahkan Faaz atas sikap ayahnya itu. "Kamu langsung tidur beb?" Zora bertanya lembut sambil menatap punggung Faaz.
"Hmmmm... Kalau kamu sudah mau tidur, janga lupa matikan lampu nya" jawab Faaz dengan sangat datar sekali.
Zora berjalan mendekati saklar lampu dan mematikan lampu kamarnya. Zora berbaring dan langsung memeluk tubuh Faaz dari belakang.
"Nggakpapa kok beb! Aku nggak masukin ke hati kok perihal sikap ayah tadi. Mungkin ayah memiliki suatu bebannya terhadap aku, maka nya dia begitu. Nanti perlahan kita dekati ayah, dan coba cari cara meluluhkan ayah ya beb. Kamu jangan seperti ini. Aku malah lebih sedih melihat kamu seperti ini" kata Zora lembut sambil memeluk erat tubuh Faaz.
Tiba-tiba linangan air mata jatuh dari sudut mata Faaz. Faaz langsung membalikan badan nya kearah Zora. Faaz mengecup kening Zora dan langsung memeluk Zora dengan erat.
"Sudah cukup bicaranya. Tidur" kata Faaz sambil mebelai rambut Zora dalam pelukannya.
*
Ketak...ketuk..ketak....ketuk
Di rumah Nurma. Zoya dan Zaki terlihat tengah sibuk masing-masing. Zoya tengah sibuk menyusun pakaian-pakaian yang akan dibawa nya besok ke rumah Zaki. Sedangkan Zaki tengah sibuk mempersiapkan tempat tidur beserta pembatas area tidurnya.
"Ki! Stop deh! Kayak nya kamu terlalu berlebihan deh sama ini semua!" kata Zoya sambil menunjuki susunan bantal yang dibuat oleh Faaz di atas tempat tidur mereka.
"Loh Zoy?! Tapi kamu sendiri yang bilang kalau kamu belum siap untuk itu? Aku hanya mau mastiin kamu nyaman saja saat seranjang dengan ku Zoy!" seru Zaki sambil tersenyum riang.
"Hmm......" Zoya menghelan nafasnya.
Zoya berjalan menghampiri Zaki ditepi tempat tidur mereka. "Ki maaf ya kalau perkataan ku kemarin udah nyusahin kamu sampai sebegini. Ki aku memang kaget karena tiba-tiba aku menikah dengan sahabat ku sendiri. Tapi bukan berarti aku nggak bisa nerima kamu. Dan itu hanya masalah waktu saja. Sampai waktu membiasakan ku menganggap mu sebagai suami, kamu bantu aku dengan terus perlakukan aku sebagai seorang istri" tutur Zoya lembut sambil menggenggam erat tangan Zaki.
Terlihat kening Zaki mulai berkerut. "Ma-maksud kamu gimana Zoy?" tanya nya sedikit gagok karena genggaman tangan Zoya dan tatapan mata Zoya terhadapnya yang begitu dalam untuk pertama kali nya.
Zoya menghelan nafas lagi. " Iya. Kita nggak butuh semua batasan ini Ki. Aku belum siap untuk berhubungan badan. Tapi kita bisa kan memulai nya dengan saling pegangan tangan atau saling memeluk satu sama lain. Hingga nanti aku dan kamu, kita berdua siap berbagi segala nya sebagai suami istri" lanjut Zoya menjelaskan kepada Zaki dengan lembut.
"Huuuuuhh...." Zaki membuang nafas lega. "Aku senang Zoy mendengar perkataan kamu. Thanks ya Zoy uda mau ngasih kesempatan untuk hubungan kita yang baru ini. Aku janji akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu, untuk pernikahan kita" Zaki langsung memberikan sebuah ciuman hangat di kening Zoya dan kemudian memeluk Zoya erat.
"Hmmmm udah deh! Sekarang tidur yuk. Besok kita harus bangun-bangun pagi-pagi banget kan?!" Zoya langsung mengakhiri percakapan seriusnya bersama Zaki dan mengajak Zaki untuk tidur.
Zakki merebahkan tubuh nya diatas kasur. Zoya mematikan lampu kamar dan langsung menyusul Zaki berbaring tepat di samping Zaki. Zaki memiringkan tubuhnya kearah Zoya. Zoya pun membalas dengan melakukan hal yang sama.
"Hmmmm..... Kisah kita ini kalau dijadiin film menurut kamu bagusnya dikasi judul apa ya Ki?" kata Zoya berbicara lirih menahan kantuk sebelum memejamkan matanya.
"Hhhhmmm... Sahabat tapi menikah" kata Zaki sambil tercengir dihadapan Zoya.
Zoya pun hanya tertawa kecil saja mendengar ucapan Zaki yang selalu saja bisa membuat nya merasa terhibur saat berbicara dengan nya. Perlahan kedua mata Zoya terpejam dan Zoya terlelap. Zaki memandangi wajah cantik Zoya yang sudah tertidur dihadapannya.
"Cantik banget kamu Zoy!" celetuk Zaki berbisik sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Zoya.
*
Di Rumah Zaki.
Tok.... Tok.... Tok.....
Karisma mengetuk kamar Faro anak bujangnya dengan lembut. "Masuk" kata Faro singkat.
Faro terlihat sedang sibuk menyusubi bebeapa pakaian nya ke dalam lemari. Tidak hanya itu, di dalam kamarnya juga terlihat ada beberapa kotak tergeletak. Kotak-kotak itu berisi beberapa barang pribadi milik nya yang ia boyong dari apartemennya.
"Ini barang-barang kamu semua Faro?" tanya Karisma sambil memperhatikan setiap sudut dan barang yang ada di dalam kamar Faro saat itu.
"Iya" singkat Faro menjawab sambil terus mebereskan semua barang miliknya yang berantakan.
"Kamu serius akan tinggal di sini lagi? Karisma melanjutkan tindakan introgasinya kepada anak bujangnya itu.
"Iya. Kenapa? Apa mama keberatan?" kandas sekali gaya berbicara Faro terhadap Karisma ibu kandunnya sendiri.
Faro memang tidak begitu dekat dengan Karisma. Karena memang sejak mereka kecil, meskipun Faro adalah anak terkecil. Namun Karisma lebih menyayangi Zaki dan lebih sering menghabiskan waktunya bersama Zaki. Sedangkan Faro besar dan tumbuh dibawah asuhan seorang baby sister saja.
Ditambah lagi Faro selalu beranggapan bahwa alm papa nya meninggal gara-gara Karisma. Karisma lah yang selalu mengutus alm. papa nya untuk melakukan perjalan bisnis keluar kota hingga keluar negeri.
"Loh kok kamu gitu sih ngomong nya?" Karisma terperanjat mendengar perkataan Faro yang begitu ketus dan ceplas ceplos.
"Ini sudah malam. Tidur lah sana. Bukan nya besok kita harus bangun pagi-pagi banget untuk acara Zaki?" kata Zaki lagi.
"Yasudah kalau begitu. Mama permisi dulum kamu juga pergilah istirahat. Semua ini biarkan saja begini. Besok mama akan minta mbak untuk membereskannya" kata Karisma dan lalu berlalu pergi meninggalkan kamar Faro.
Karisma menutup kembali pintu kamar Faro. "Kenapa anak ini mendadak pulang ke rumah ini?" batin Karisma merasa janggal dengan kepulangan Faro yang tiba-tiba.