
Apa yang bisa dikatakan oleh dua gadis malang ini? Sementara mereka sendiri tidak mengetahui sebab apa dan bagaimana mereka hadir kedunia hingga di terlantarkan begitu saja oleh ibu kandung nya di masa lalu.
Zora yang memang berhati lembut tak kuasa menahan sedihnya hingga langsung berderaian air mata dan terisak-isak sedih dihadapan Faaz dan kedua orang tuanya. Zoya menggenggam erat tangan Zora.
"Zora kamu jangan nangis ya. Aku yakin kabar-kabar ini semua nggak benar kok. Aku yakin ini semua cuma kesalah pahaman aja kok" Faaz langsung berbicara menenangkan hati Zora.
Tiba-tiba pintu kamar tempat Marni berada dibuka.....
Marni berjalan perlahan dengan membawa sebuah amplob berwarna cokelat berukuran sedang ditangannya.
"Maaaf, apa saya boleh berbicara?!" kata Nurma tiba-tiba menyela percakapan antara Zora dan orang tua Faaz yang sontak membuat tatapan mata semua orang beralih menatap kearah nya.
"Anda ini siapa memangnya?" tanya Ayah Faaz
Nurma meletakan sepasang buku nikah berwarna hijau gelap dan jugs cokelat tua dengan lambang burung garuda di sampul depannya.
"Silahkan anda melihat dulu buku ini. Dan nanti anda akan mengetahui siapa saya" Nurma berkata dengan gaya berbicara yang elegan dan berwibawa.
Bahkan Nurma tiba-tiba muncul di tengah-tengah percakapanpun dengan tampilan yang terlihat sangan rapi dan mengesankan. Stelan baju jaz berwarna putih dipadukan dengan hils setinggi 5cm di kakinya menambah sempurna penampilannya.
Setelah melihat isi buku nikah yang diletakan Nurma. Ayah Faaz terkihat menurunkan alis nya yang sejak tadi berkerut. Ayah Faaz menarik nafaz dalam-dalam lalu membuangnya lagi perlahan.
"Bagaimana? Apakah buku itu sudah cukup memberikan jawaban yang anda inginkan?" tanya Nurma sambil menopangkan kedua tanganya.
"Jadi anda adalah istri ke dua yang SAH?"
"Ya. Seperti yang anda lihat pernikahan saya memeperoleh buku. Itu berarti pernikahan saya SAH dimata agama dan SAH tercatat secara hukum. Dan satu hal lagi. Silahkan kamu bandingkan tahun pernikahan saya dengan tahun kelahiran Zora dan Zoya! Anak ku bukanlah anak haram!" Kata Nurma dengan tegas.
Bukti yang di tunjukan Nurma dihadapan ayah Faaz membuatnya langsung terdiam. Faaz dan ibunya terlihat lega dan langsung biss tersenyum kembali. Bahkan ibu Faaz langsung memeluk hangat Zora sebagai tanda rasa bahagia nya.
"Apakah saya terlambat?"
Entah bagaimana tiba-tiba Zaki bersama mama nya muncul di depan pintu rumah. Kali ini Zoya yang terceng terkejut melihat calon suami beserta calon mertua nya tiba-tiba berada di rumah nya tanpa pemberitahuan sama sekali.
"Tan... Eh mama?!" kata Zoya yang kikkuk hingga hampir salah menyebut tante dihadapan mama Zaki, padahal setelah makan malam bersama kemarin Zoya sudah sepakat untuk memanggil mama nya Zaki dengan sebutan mama.
"Anda orang tua calon suami Zoya?" kata Nurma bertanya kepada mama Zaki dengan santai dan sopan.
"Ya, Saya Karisma mama nya Zaki"
"Saya Nurma bunda nya Zoya dan Zora. Atau lebih tepatnya saya adalah ibu kandung mereka" Nurma dan Karisma berjabat tangan.
Nurma tanpa ragu dan dengan lantangnya memperkenalkan siapa dirinya kepada semua orang yang ada di sana. Zoya dan Zora terlihat tersenyum melihat Nurma dengan lantang berani mengatakab bahwa ia adalah ibu kandung dari Zoya dan Zora.
Nurma mempersilahkan Zaki dan mama nya untuk duduk di tempat yang tersedia. Tanpa di sengaja kedua besan nya berkumpul di rumahnya.
Nurma memutuskan untuk memanfaat momen ini untuk langsung berbicara kepada mereka menjelaskan tentang hal-hal yang perlu mereka ketahui. Agar kejadian salah pengertian seperti yang terjadi pada ayah Faaz tidak terulang lagi.
Hal itu wajar, karena Nurma memang bukan wanita sembarangan. Nurma adalah wanita ningrat berdarah biru. Nurma pun seorang wanita karir yang sukses bukan seorang ibu rumah tangga biasa seperti alm.Marni.
"Silahkan...." jawab mama Faaz.
"Saya adalah istri kedua alm.papi nya Zora dan Zoya. Tentang bagaimana bisa saya dan almarhum bisa menikah biarlah menjadi urusan pribadi antara saya dan almarhum" Nurma berbicara sambil memandangi wajah-wajah calon besan nya satu persatu bergantian.
Semua yang mendengar mengangguk mendengar perkataan Nurma yang jelas dan lugas.
Nurma melanjutkan lagi perkataannya "Tapi ada satu hal yang saya ingin kalian pahami adalah bahwa pernikahan saya dan almarhum itu SAH secara agama dan tercatat di negera. Dan kedua putri kembar ku ini lahir setelah pernikahan kami berusia 2 tahun. Jadi mereka bukanlah anak haram" Nurma memperjelas inti tujuan penjelasannya.
"Saya setuju" mama Zaki menyela tiba-tiba.
"Maksud nya?" Tanya Nurma tidak memahami maksud perkataan Karisma.
"Aku setuju bahwa tidak ada anak haram. Bagi saya terlepas dari menikah atau tidaknya orang tua si anak, bukanlah sebuah alasan untuk menyebut anak nya sebagai anak haram. Karena tidak ada anak yang haram. Justru perbuatan kedua orang tua nyalah yang haram. Bukan anaknya!" lanjut mama Zaki.
Mama Zaki memperjelas lagi pandangannya bahwasannya sejak awal apapun yang terjadi dirinya tidak pernah menganggap Zoya bersalah atau menganggap Zoya hina. Karisma sejak bertemu dengan Zoya telah menerima Zoya dengan hati yang lapang dan terbuka tanpa memperdulikan tentang masalah keluarga ataupun masa lalunya.
Semua orang terdiam sejenak. Suasanapun menghening.
"Kalau begitu saya mohon maaf atas pertanyaan saya yang mungkin telah menyinggung Zora dan anda" ayah Faaz dengan lantang tanpa ragu langsung menyampaikan permintaan maafnya setelah mendapati kejelasan dari segala kabar yang buruk yang di dengarnya.
"It's oke. Nggak jadi masalah. Yang terpenting bagi saya adalah pada akhir nya kalian semua mengetahui kebenaran tentang kedua putri ku. Dan kalian bisa menerima mereka dan menganggap mereka sebagai putri kalian sendiri bukan hanya sekedar seorang menantu nantinya" jawab Nurma dengan nada berbicara yang terdengar sedikit haru bergetar menahan tangis.
Semua orang mengangguk memahami maksud perkataan Nurma yang tulus. Zoya dan Zora terlihat dapat tersenyum lega setelah semua nya jelas.
"Oke kalau begitu saya rasa selagi kita sedang berkumpul sebaiknya kita bicarakan saja langsung perihal pernikahan anak-anak kita ini. Dan saya datang bersama anak saya Zaki ke sini sejak awal dengan tujuan ingin meminta Zoya agar bersedia menikah di hari jumat ini saja" celetuk mama Zaki dengan penuh semangat dan antusias.
Semua orang terkejut. Bahkan Zaki sendiri langsung melotot memandangi mama nya. Zoya dan Zora hingga melongo tidak bisa berkata-kata.
"Saya setuju. Nggak ada masalah. Menyegerakan sesuatu yang baik adalah hal yang seharusnya. Lagi pula saya pikir ini adalah jalan baik untuk menghindari fitnah dan menghindari anak-anak kita dari perbuatan Zinah" ayah Faaz memberikan respon nya diiringi dengan senyuman semringah dari ibu Faaz.
"Oke kalau keluaga pihal laki-laki sudah meminta. Maka kami pihak wanita tidak baik menolak. Saya setuju!" jawab Nurma dengan tegas.
Zoya dan Zora terbelalak. Jantung mereka berdebar seakan ingin meledak. Zaki dan Faaz tak putus terus memandangi pujaan hati mereka masing-masing.
"Hmmmm... Baiklah segala persiapan dan kebutuhan biar saya yang urus" timpal mama Zaki lagi.
"No! Nggak perlu. Inilah pernikahan putri-putri semata wayang ku. Jadi akan ku lakukan tugas ku sebagai seorang ibu untuk mereka secara langsung untuk pertama kalinya. Akan ku persiapkan segalanya" Nurma langsung membantah niat baik Karisma namun tetap dengan cara yang baik.
Karisma dan kedua orang tua Faaz pun mengerti akan maksud dan tujuan Nurma. Tanpa membantah atau berdebat mereka pun langsung saja menyetujui keinginan Nurma.
Akhirnya kesepakatan di dapati. Semua nya pun kini permisi kepada tuan rumah untuk pulang ke rumah masing-masing. Pernikahan akan dilakukan dalam 5 hari kedepan.
Maka dengan itu sudah diputuskan bahwa selama 5 hari kedepan kedua pasangan calon suami istri itu akan dipingit. Kedua nya tidak boleh bertemu atapun berkomunikasi apapun alasanya.