Izora

Izora
episode 42.Malam pertama part-2



Bukan maksud hati Zoya tidak mau menerima sepenuhnya Zaki sebagai suaminya. Tetapi Zoya butuh sedikit waktu untuk terbiasa belajar menganggan sahabat lamanya itu sebagai suaminya. Kisah yang sempurma dari kisah persahabatan menjadi kisah cinta.


Di kamar Zora terjadi hal yang serupa. Zora telah selesai bersiap mengganti pakaian nya menjadi pakaian tidur. Kini giliran Zora untuk membantu Faaz suami nya menyiapkan pakaian ganti untuk nya.


"Dimana koper mu?" Zora menanyakan letak koper Faaz yang dibawa Faaz dari rumahnya untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Faaz.


"Ada di dekat pintu, mungkin tertutup tumpukan kado" jawab Faaz dari dalam kamar mandi.


Zora bergerak mendekati pintu. Disekitaran tumpukan kado, Zora mulai membiak pelan memindahkan tumpukan kado yang menumpuk tinggi untuk melihat koper Faaz.


Ternyata benar adanya. Koper Faaz telah tertimbun dengan tumpukan kado yang melimpah ruah. Padahal tidak banyak tamu undangan di acara akad yang sederhana tadi. Namun hampir semua yang hadir membawakan kado untuk pengantin kembar ini.


Bahkan diluar dugaan, beberapa rekan atau kerabat yang tak terundangpun ikut mengiripka kado sebagai ucapan selamat untuk pasangan Zora dan Zoya.


"Di sini toh! Pantes aja nggak kelihatan dari tadi. Ternyata sudah tertimbun tumpukan kado" Zora menggumam seorang diri sambil menarik koper nya keluar dari tumpukan kado pernikahannya.


"Kreeeek" pintu kamar mandi di buka.


Faaz sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna krem saja yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Zora terkejut melihat kemunculan Faaz dengan tampilan fullhlgarnya.


"Ada apa?" tanya Faaz melihat mata Zora yang terbelalak menatap ke arah tubuhnya.


"Iiiiihhh! Kok kamu nggak pakai baju sih?!" Zoya sedikit menyentak Faaz sambil memalingkan wajahnya dari Faaz.


Faaz tersenyum tipis dibibir nya. Faaz melangkah berjalan mendekati Zora. Seketika Faaz langsung memeluk tubuh mungil wanita yang baru saja sah menjadi isterinya itu.


"Bagaimana aku mau pakai baju, kamu saja belum memberikan baju untuk ku sayang" Faaz berbisik ditelinga Zora sembari tangannya memeluk erat tubuh mungil Zora .


"Faaaaazz......" Zora mulai merasakan sesuatu pada detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak beraturan.


"Lagi pula memang nya kenapa kalau aku tidak pakai baju? Bukankah ini malam pertama kita?" Faaz meneruskan aksinya membuat Zora salting.


"Malu? Kenapa malu? Bukankah saat kita di rumah kosong waktu itu kamu begitu menikmati segelanya sayang? Lalu saat ini, apa yang membuat mu malu?" Jawab Faaz lagi atas sikap malu yang dijadikan alasan oleh Zora saat ini untuk tidak mau menatap Faaz yang tengah bertelanjang dada di hadapannya.


"Faaaaaaaz! Hentikan! Jangan mengungkit yang terjadi dihari itu lagi. Aku semakin malu Faaz!" semakin lirih suara Zora berbicara.


Faaz mencengkram kedua bahu Zora dengan erat lalu membalikan tubuh Zora menghadap ke arahnya. Perlahan tangan Faaz menyentuh dagu Zora untuk mengangkat wajah Zora yang hanya tertunduk saja sejak tadi.


"Kenapa kau tidak manatap ku?!" Faaz berbisik lagi bertanya di hadapan Zora yang masih memejamkan matanya dihadapan suami nya itu.


Perlahan Faaz mendekatkan wajahnya dengan wajah Zora. Jantung Zora berdegub semakin kencang. Kedua tangannga meremas erat ujung bajunya. Tangan dan kaki menjadi dingin seketika. "Perasaan apa ini Tuhan? Kenapa aku seperti akan meleleh saat ini juga" Zora berteriak dalam benaknya.


Semakin dekat wajah Faaz pada wakah Zora. "Tok....tok....tok" tiba pintu kamar Zora dan Faaz diketuk seseorang dan byaaaaaaar..... Moment diantara keduanya langsung ambyar berantakan begitu saja.


"Ra... Yuk makan. Bunda sudah nunggu tuh!" ternyata itu Zoya yang memanggil Zora untuk makan malam bersama.


"I...iyaaa. Lu luan aja. Gue sama Faaz nyusul" gugup sekali Zora menjawab Zoya dari dalam kamarnya.


"Oke. Jangan lama! Gue uda lapar parah nih!" sambung Zoya lagi sambil melengos pergi dari depan pintu kamar Zora.


"Huuuuuft..." Faaz membuang nafas nya sembari mengambil baju nya dan langsung menuju ke dalam kamar mandi untuk memakai bajunya.


Zora tertawa kecil dibelakang punggung Faaz yang terlihat sedikit kesal karena ada yang mengganggu adegan mesra diantara mereka tadi.


Tidak butuh waktu lama. Faaz selesai memakai pakaiannya. Faaz berjalan dengan wajah yang masih cemberut melengos begitu saja melewati Zora.


Zora segera menyusul sang suami. "Eh mau kemana? Kok nggak ngajak-ngajak sih kamu!" tanya Zora sambil cengingisan menertawakan kekesalan Faaz.


Faaz tidak menggubris ocehan Zora yang mengolok dirinya. Faaz langsung membuka pintu kamar dan keluar menuju ruang makan, menyusul semua orang yang tengah menunggu dirinya dan Zora untuk makan malam bersama-sama untuk pertama kali setelah mereka menikah dan resmi menjadi pasangan suami isteri.