
Di meja makan raut wajah Nurma terlihat bergitu berseri-seri sepanjang waktu berjalan. "Bund kok seperti nya bunda happy sekali sih? Ada apa bund? Apakah hari ini ada tamu istimewa yang datang yang kami nggak ketahui?" Zora langsung mempertanyakan alasan apa yang membuat terlihat begitu semringah.
"Ya jelas bunda semringah. Bagaimana tidak?! Dalam sehari saja bunda mendapatkan dua orang menantu sekaligus" tutur Nurma dengan senyum manis yang terus tersunggi di bibirnya.
"Alhamdulillah jika kehadiran kami bisa memberikan kebahagian seperti itu untuk bunda" Zaki menjawab perkataan Nurma dengan ramah nya.
"Oh ya. Setelah nanti acara di rumah Faaz dan Zaki. Kalian rencana nya akan tinggal dimana ? Menetap di sana atau akan kembali tinggal di sini?" tanya Nurma lagi.
Pertanyaan sederhana dari Nurma namun terasa sulit untuk anak- anaknya menjawab. Zora, Zoya, Faaz dan Zaki saling menatap satu sama lain. Berharap salah satu dari mereka ada yang memiliki jawaban untuk dikatakan kepada Nurma tanpa membuat Nurma sedih atau tersinggung.
"Loh?! Ditanyain sama bunda nya, bukan nya menjawab kok kalian malah celingak celinguk saling lempar pandangan begitu?" Nurma menyela aksi saling tatap dan saling pandang diantara anak mantunya itu.
"Begini bund. Kita belum memutuskan dengan pasti dimana kita akan tinggal untuk menetap. Tapi yang jelas selama beberapa waktu dekat ini kita akan sering bolak balik antara rumah ini dan rumah suami sih bund" Zora langsung menjawab dengan mengambil jalan tengah.
Zoya, Zaki dan Faaz langsung menganggukan kepala mereka tanda bahwa mereka seiya sekata sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Zora barusan.
"Hmmmm sepertinya jawaban itu dikatakan untuk menjaga agar bunda nggak tersinggung atau sedih ya?" kata Nurma lagi sambil menatapi satu persatu anak mantu nya itu.
Lagi-lagi Zora, Zoya, Faaz dan Zaki terdiam dan hanya dapat saling pandang satu sama lain saja. Bagaimanapun mereka tidak mau membuat Nurma merasa sedih karena berfikir jika setelah pernikahan Zora dan Zoya dirinya akan ditinggalkan seorang diri. Padahal merek baru saja bisa berkumpul bersama lagi setelah puluhan tahun terpisah.
"Kalian harus tahu ya. Bunda nggak mempermasalahkan dimana pun kalian akan tinggal dan menetap. Yang terpenting bagi bunda adalah memastikan meski dimana pun kalian berada kalian harus tetap bahagia tetap happy. Itu saja! Kalo bunda jangan dipikirin. Sudah sejak puluhan tahun bunda terbiasa hidup sendiri. Jadi kalian kunjungi bunda dalam sesekali waktu saja itu sudah cukup membuat bunda bahagia sekali" tutur Nurma lagi memberikan penjelasan untuk menghilangkan perasaan sungkan dan tidak enak dari benak anak mantunya itu.
"Bund......kami semua akan berusaha melakukan yang terbaik semampu kami bund kedepannya" jawab Zoya sambil meraih dan menggenggam erat tangan Nurma.
*
Dirumah Zak.
Waktu makan malam telah berlalu. Karisma kembali menilik jam yang melingkar indah di tangan kanannya. "Kemana anak ini?! Sudah jam segini belum juga muncul!" gumam Karisma yang geram lantaran Faro tidak kunjung muncul di meja makan.
Geram dengan tingkah putra bungsunya ini, Karisma pun memutuskan untuk menyusulnya saja ke kamarnya. Karisma langsung berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Faro.
Lantaran terlalu geram dan jengkel oleh sikap Faro yang selalu seenaknya saja, Karisma langsung membuka pintu kamar Faro tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Karena Faro tidak berada di kamarnya, Karisma pun hanya memebereska kasur yang berantalan dan berlalu pergi dari kamar itu. Namun saat Karisma akan meninggalkan kamar Faro tiba-tiba saja mata nya terpaku pada sebuah camera yang terletak di meja nakas disamping tempat tidur Faro.
Karisma mengambil camera itu sembari mulutnya berbisik "Ternyata selain begitu menyayangi alm.papa nya. Faro pun menuruni hoby alm juga. Dia juga sepertinya tertarik pada dunia fotohraphi" kata Karisma sambil mulai mengotak-ngatik camera lantaran dirinya ingin melihat isi yang ada di dalam camera itu.
"Astagfirullah" ucap Karisma sambil menyentuh bagian dada nya.
Karisma terlihat begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya pada galeri camera milik Fafo itu. "Jangan bilang anak ini......"
"Mama......" tiba-tiba Faro menyela sebelum Karisma sempat menyelesaikan grutuannya.
"Faro! Apa ini? Coba jelaskan pada mama dengan jujur! Apa arti ini semua?" karisma membanting camera Faro keatas kasurnya.
Faro menatap Karisma dengan rasa takut. Kakinya melangkah perlahan mendekati kasurnya untuk mengambil camera miliknya. Faro melihat galeri di camernya. "F*ck! Aku lupa mengeluarkan memory card nya!" batin Faro yang kini menjadi takut dihadapan Karisma.
"Jangan bilang kalau kamu menyukai isteri abang kamu sendiri!" karisma berbicara dengan nada yang tinggi lantaran ia begitu marah saat mendapati Faro yang secara diam-diam memotreti wajah Zoya. Bahkan camera itu isinya hanya wajah Zoya saja.
"Mama kok geledah-geledah barang pribadi aku sih mam? Itukan privasi aku mam? Aku uda dewasa mam!" kata Faro mengelak dari pertanyaan Nurma.
"Nggak penting itu semua! Yang mama mau dengar sekarang adalah, tolong kamu jelaskan apa maksud dari poto-poto Zoya yang kau simpan itu?" Karisma kembali mendesak Faro untuk menjelaskan segalanya kepadanya.
Faro menunduk dihadapan Karisma sambil mengepalkan kedua tangannya. "Ya. Aku memang mengagumi wanita itu. Tapi aku tidak tertarik atau menaruh hati padanya. Aku hanya menyukai wajahnya sebagai objek foto saja !" Faro langsung menjawab dengan alibi nya agar Karisma tenang.
"Kamu jangan beralasan lagi Faro. Katakan jujur kepada mama. Jangan sampai ini semua menimbulka permasalahan diantara kamu dan Zaki nantiny!" kata Karisma lagi dengan tegasnya.
"Apa sih ma?!. Kan aku uda bilang, kalau aku tidak menyukai wanita seperti yang mama fikirkan! Aku hanya menjadikan nya sebagai objek gambar ku saja ma!" Faro mempertahankan alibi nya dihadapan Karisma yang terus menerus mendesak seakan sedang mengintrogasi dirinya.
"Benarkah itu Faro? Apakah kau jujur dengan jawaban mu itu Faro? Aku tidak sedang memberikan alibi mu saja kepada mama kan?" Karisma masih tetap mencoba meyakinkan jawaban Faro lagi.
Faro tidak menjawab. Namun ia menganggukan kepala nya dengan penuh keyakinan di hadapan Karisma. "Udah deh. Uda selesaikan kecurigaan mama terhadap aku? Apa bisa mama tinggalin aku sekarang? Aku mau istirahat karena aku lelah sekali sehabis mengambil barang-barang ku di apartemen" kata Faro yang langsung dengan segera menghentikan percakapan mereka.
"Oke mama pegang kata-kata mu hari ini. Tapi ingat! Mama akan selalu memantau kamu Faro setelah hari ini" kata Karisma lagi memberi peringatan kepada Faro sebelum dirinya berlalu dari kamar Faro.