
"Ya ampun Zoy lu apa-apaan sih?! Muncul tiba-tiba udah kayak setan aja ih!" kaya Zora langsung memarahi Zoya yang membuatnya terkejut bukan main.
"Hahahah.... ya lagiab elu sih! ngendap-ngendap di rumah sendiri! Udah kayak maling aja lu!" kata Zoya menjawab Zora sambil tertawa.
Zora langsung mengambil sate nya dan membawa nya ke atas meja majan untuk langsung menyantap makanan favoritnya itu.
"Tadi ada tamu ya Ra?"
Zora terdiam. Zora tercengang mendengar pertanyaan Zora. "Tamu siapa?" tanya Zora gugup.
"Ya nggak tau sih. Gue nanyak aja soalnya gue liat ada sisa potongan kue di kulkas. Kali- kali aja tadi lu ada tamu?!" Zoya berkata sambil memakan kue yang tersisa dikulkas.
"Oh itu. Itu kue tadi gue potong buat gue cemilin. Laper banget gue tadi. Mana hujan lagi, gue jadi malas mau keluar cari makanan" Zora langsung menjawab panjang lebar menjelaskan kepada Zoya.
"Oh. Sorry ya gue kelamaan pulang. Soalnya tadi mama nya Zaki banyak banget cerita sama gue. Gue jadi enggak enak mau motong pembicaraannya" tutur Zoya.
"Eh iya lupa. Gimana tadi makan malam lu? Lancar? Mama Zaki asik nggak orangnya?!" Zora langsung memanfaatkan makan malam Zoya untuk menggalihkan topik pembicaraan mereka.
"Ya asik sih. Mama nya baik banget Ra nggak nyangka gue. Dia bisa nerima gue. Dan yang paling gue kaget adalag rumah si Zaki yang ternyata gedeeeeeek banget Ra! Kalau kata gue itu tu lebih pantes disebut istana! Gedek banget, mewah banget. Gue ngeri tersesat deh kalau nanti gue tinggal di rumah itu Ra" Zoya bercerita dengab semangat menceritakan perihal makan malam nya kepada Zora.
"Alhamdulillah. Gue ikut senang Zoy dengarnya. Terus gimana? Ada siapa aja di rumah itu Zoy?" Zora meminta Zoya melanjutkan ceritanya untuk menemani nya menyantap habis sate nya.
"Zaki cuma punya satu adik laki-laki. Adik nya cakep juga sih, yah wajah nya nggak beda jauhlah sama Zaki. Cuma penampilan dan cara mereka berpakaian aja yang beda jauh"
"Oh ya? Emang adik nya lebih rapi dari Zaki?" tanya Zora.
"Enggak. Malah kebalikan nya Ra. Adiknya itu kalau dilihat dari pakaiannya seperti anak-anak yang bergaul di jalanan, beda banget sama Zaki yang dari pagi sampek pagi lagi selalu aja pakai jaz atau paling santai kemeja. Nah si Faro adiknya itu cuma pakai celana jeans yang sobek sobek, kaos oblong biasa dan sepatu juga sepatu santai sepatu sport" tutur Zoya menceritakan tentang calon adik iparnya.
"Oh ya? Berarti mereka seperti kita dong Zoy. Kita aja meski kembar tapi selera pakaian, setelan rambut sampe cara kita make up semua nya beda. Nggak ada yang sama" kata Zora menjelaskan kepada Zoya.
"Iya sih Ra. Dan yang lucu nya tadi begitu mamahya Zaki bilang ke Faro kalau gue ini kembar. Dia langsung keliatan kek penasaran banget. Dia sampai nanyak ke gue alamat rumah gue karena dia pengen ketemu sama lu. Dia pengen liat langsung seperti apa penampakan wajah anak kembar katanya. Soal nya dia belum pernah ketemu sama anak kembar secara langsung kata nya" Zoya bercerita dengan raut wajah yang terlihat begitu riang gembira.
"Oh ya? Lucu banget sih adik ipar lu itu. Ya lu suru aja dia ke sini. Biar dia lihat kita secara langsung depan mata kepala dia sendiri" kata Zora sambil ikut tertawa.
Zora memperhatikan mood Zoya saat itu. Zoya terlihat sedang gembira saat itu. Sudah pasti dia mood nya sedang bagus saat ini. Memanfaatkan situasi yang sedang terlihat baik Zora mulai perlahan mengobrol perihal Nurma dengan Zoya.
"Eh Zoy btw gue uda nemu alamat ibu kita" celetuk Zora perlahan.
"Ibu? Ibu siapa?"
"Oh dia. Terus mau gimana?"
"Ya gue uda nemu juga nomer telfon dia. Baru rencana sih. Gue pengen ngundang dia ke sini" tutur Zora lagi dengan hati yang mulai dag dig dug memikirkan reaksi Zoya.
Zoya terdiam.....
Deg
Deg
Deg
Deg
Detak jantung Zora berdebar tak menentu menantikan reaksi dan tanggapan Zoya.
"Apaan sih?! Ya kalau lu emang pengen ketemu sama dia. Kan lu bisa ketemuan di luar aja. Ngapain nyuruh-nyuruh dia datang ke sini sih?! Ada-ada aja deh!" kata Zoya yang langsung menolak rencana Zora.
Reaksi Zoya datar. Berarti aman menurut Zora. Zoya menolak jika Nurma datang ke rumah. Tapi Zoya tidak melaranag niat Zora untuk bertemu langsung dengan Nurma. Itu berarti Zoya sudah mulai meredam amarahnya terhadap Nurma dan ia telah mulai mencoba untuk menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan yang tercipta tanpa mereka kehendaki jalan ceritanya.
"Eh Zoy. Tapi gimana kalau seandainya tiba-tiba si ibu Nurma yang datang sendiri kesini buat nemuin kita? Lu bakal terima dia nggak?" kata Zora dengan sangat berhati-hati dalam setiap perkataan yang diucapkan nya dihadapan Zoya saudari kembarnya yang berwatak keras dan pemberontak.
"Kok lu nanya nya gitu?" tanya Zoya kepada Zora dengan tatapan mata yang tajam menakutkan.
"Ya kan gue bilang seandainya. Soalnya waktu itu aja yang udah-udah dia suka muncul tiba-tiba. Seperti waktu dipemakaman mami?!" kata Zora menjawab dengan gugup.
"Sebenarnya sih kalau soal itu Ra, gue saat ini uda siap untuk ketemu sama dia. Gue juga mau dengar penjelasan versi dia langsung dari mulut dia Ra. Cuma gue cuma masih mikir aja, gimana cara gue berhadapan sama dia tanpa harus nyakitin dia dengan sikap dan emosi gue yang mungkin nggak kekontrol oleh gue" tutur Zoya dengan nada berbicara yang terdengar melembut.
Perkataan Zoya itu sontak membuat Zora tercengang. Tidak terbayangkan oleh Zora jika Zoya akan berkata selembut itu ketika membahas perihal Nurma.
Ternyata secara pemikiran dan cara menyikapi hal-hal di dalam kehidupan Zoya lebih dewasa dan bijak dibanding Zora. Terbukti dari Zoya yang secepat ini sudah mulai bisa mencoba berdamai dengan keadaan dan menerima kenyataan.
Ternyata diam-diam sejak tadi Nurma menyimak percakapan antar Zora dan Zoya. Air mata nya menetes mendengar perkataan Zoya. Rasa haru menyelimuti perasaan Nurma mendengar perkataan Zoya.
"Udah deh udah malam. Lu uda selesaikan? gue masuk kamar duluan ya. Capek banget gue dan besok gue kayak nya pengen bangun bangkong deh Ra. Udah lama nggal bangkong!" Zoya langsung mengakhiri perbincangannya dengan Zora dan melengos pergi ke kamar nya meninggalkan Zora seorang diri di meja makan begitu saja.