
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu keluarga Faaz. Ya, hari ini keluarga Faaz telah mempersiapkan sebuah acara penyambutan untuk menyambut pengantin baru yaitu Zora dan Faaz.
Segala persiapan telah rampung dilakukan hanya tinggal menunggu Zora dan para rombongan tiba saja. Keluarga Faaz tampak begitu semringah. Seperti ingin menggambarkan suasana hati mereka yang tengah ceria saat ini, keluarga Faaz kompak meggunakan baju seragam keluarga berwarna pink muda.
Namun tetap saja, kegembiraan dan keceriaan hari itu seperti tidak sampai kehati ayahnya Faaz. Ayah Faaz hanya terlihat duduk saja sembari sesekali mengobrol dengan beberapa orang yang menghampiri posisi duduknya.
Sudah jam 09.00 tepat. Dan sesuai dengan jadwal terencana sejak awal, iring-iringan pengantin pun sampai di kediaman keluarga Faaz.
Menyambut kedatangan Zora dan Faaz beserta rombongan, secara serentak petasan di hidupkan. Dan musik rebana pun mulai terdengar mengiringi kedatangan pasangan pengantin baru yang tengah berbahagia itu.
"Selamat datang bu, senang rasanya kita bisa bertemu lagi masih dalam suasana yang bahagia ini" sambut ibu Faaz yang langsung memeluk hangat tubuh mungil Nurma besan nya.
"Terimakasih atas segala kebaikan dan keringanan ibu hingga sudi berbuat repot-repot menyiapkan semua ini untuk kami terutama untuk pasangan pengantin baru kita ini" Nurma membalas dengan mengucapkan terimakasih dan juga memuji atas acara meriah yang tersaji begitu apik untuk menyambut Zora dan Faaz.
Setelah serangkaian berbasa-basi kini saat nya langsung menuju ke acara inti. Seluruh rombongan yang menghantarkan Zora dan Faaz langsung dipersilahkan memasuki tempat makan besan yang telah disiapkan.
Acara ramah tamah bersama besan berjalan begitu hangat. Ibu Faaz, ibu Zaki dan Nurma ibu si kembar terlihat tak henti-hentinya mengobrol dan berbagi canda tawa bersama. Kedua adik perempuan Faaz pun terlihat begitu senang dan mengagumi sosok kakak iparnya yanh sangat cantik.
"MasyaAllah. Kak Zora cantik banget deh!" decak kagum Lita memuji kecantikan Zora.
"He'eh bener! Cantik banget. Nanti kalau aku menikah juga, aku mau didandani persis seperti kak Zora deh! uda kayak barbie!" sahut Dita adik Faaz yang lain yang ikut memuji kakak iparnya itu.
"Waaahhh. Terimakasih loh pujiannya. Tapi kalian berdua itu jauh lebih cantik dari pada aku loh!" balas Zora memuji adik-adik iparnya itu sembari menyentuh pipi mereka dengan lembut.
Akhirnya rangkaian acara pun selesi. Nurma bersama rombongan berpamitan kepada pemilik rumah ayah dan ibu Faaz untuk pulang meninggalkan Faaz dan Zora karena mereka pun harus kembali bersiap untuk acara penyambutan di rumah Zaki besok.
~
Malam hari di rumah keluarga Faaz.
Seperti biasa di ruang makan kediaman keluarga Faaz seluruh keluarga sudah berkumpul untuk makan malam bersama. Dan yang membuat spesial makan malam hari ini adalah hadir nya Zora ditengah-tengah keluarga Faaz sebagai anggota keluarga yang baru.
"Waah. Malam ini beda ya buk. Kita jadi lebih rame karena kak Zora dan abang Faaz sudah kembali tinggal di sini" celoteh Lita adik nya Faaz memulai percakapan malam itu.
"Iyaaa. Sekarang anggota keluarga kita sudah bertambag satu orang. Dan nanti sebentar lagi semoga akan bertambah lagi satu anggita keluarga baru kita" sambung ibu Faaz dengan senyum semringah yang tak putus tersunggi di sudut bibirnya sejak pagi tadi.
Zora dan Faaz melempar pandangan satu sama lain sembari tersenyum sedikir tersipu malu. Zora mulai mengisi piring Faaz dengan makanan yang telah tersaji. Zora juga bergantian saling mengoper menu yang ada di atas meja kepada adik-adik Faaz dan ibu Faaz.
"Nggak perlu. Saya bisa sendiri" ketus sekali jawaban ayah Faaz terhadap tawaran hangat yang diberikan oleh Zora.
Faaz dan ibu nya saling pandang satu sama lain. "Ra cepat selesaikan saja makan malam mu. Setelah itu kita istirahat. Aku sangat lelah" imbuh Faaz langsung mencoba mengalihkan suasana yang tiba-tiba agak canggung.
Zora mengangguk lembut kepada Faaz "Iya...." jawabnya dengan sangat pelan.
Zora mulai menyendoki makanan nya. Namun pikirannya tetap bertanya-tanya akan sikap ayah Faaz yang begitu dingin terhadap nya.
"Ayah Faaz kenapa ya? Kok kelihatan nya ayah Faaz ru nggak begitu suka dengan kehadiran ku ya?! Ah sudahlah mungkin dia lelah karena acara hari ini. Dan nanti coba aku tanya Faaz deh!" batin Zora sembari melahap habis makanan di piringnya.
Ibu Faaz merasa tidak enak kepada Zora. Ibu Faaz takut Zora akan merasa kurang nyaman dengan sikap dingin yang ditunjukan suaminya itu.
"Bapak ini!! Mau nya apa sih?! Bisa-bisa nya di bersikap seperti itu kepada Zora. Padahal inikan hari pertama nya Zora bergabung dengan keluarga!" batin ibu Faaz ssmbil menatap suami nya dengan tatapan penuh marah.
Selesai makan malam adik-adik Faaz bersama Zora langsung membereskan meja makan dan mencuci piring kotor di dapur sembari mengobrol ringan antar ipar.
Ayah Faaz seperti baisa. Setelah makan malam ia akan langsung lanjut duduk di teras rumah dengan segelas kopi di tengannya menikmati dinginnya angin malam sambil mengisap sebatang rokok ditangannya.
Faaz bersama ibu nya datang menghampiri ayah Faaz di teras rumah. "Pak" ibu Faaz menegurnya lembut sambil meletakan bokongnya di kursi yang berada tepat di samping suaminya itu.
"Hhmmmmm" sahut ayah Faaz sembari menarik lagi rokoknya dan menghembuskan asap nya kearah atas. Faaz duduk tepat di hadapan kedua orang tua nya.
"Pak. Ibuk sama Faaz mau bicara sedikit sama bapak" lembut ibu Faaz berkata sembari menyentuh dengkul suaminya itu dan menatap wajah nya.
"Bicara apa? Langsung saja seperti biasa. Nggak perlu ada protokol kok" masih tetap terdengar ketus sekali cara berbicara ayah Faaz. Faaz menarik nafas dan memnuangnya perlahan untuk menetralkan emosinya agar tidak terpancing.
"Kalau kamu memang belum bisa menerima Zora tidak apa-apa pak. Tapi tolong jangan tunjukan langsung kepadanya dengan sikap yang tidak enak seperti tadi. Kasihan dia. Baru hitungan jam dia tinggal di rumah kita. Kok ya kamu tega gituin dia?!" ibu Faaz berkata dengan sangat hati-hati agar suaminya itu tidak tersinggung dan malah terpancing emosi dan menimbulkan perdebatan yang akan didengar oleh Zora.
"Terus aku harus gimana toh? Kok ya jadi nya serba disalahkan sih gara-gara menantu kesayangan mu itu?!" jawabnya dengan ketus lagi.
Kali ini Faaz terpancing amarahnya dengan sikap sang ayah yang tak jelas itu. "Kalau memang bapak tidak menyukai kehadiran Zora di sini, nggak masalah kok! Biar besok saya bawa Zora keluar dari rumah ini. Karena memang tugas saya untuk melindungi isteri saya dari pandangan buruk orang yang tidak suka padanya!" Faaz berkata dengan tegas dan dengan nada berbicara yang terdengar tinggi.
"Faaz......" Zora tiba-tiba menyela perkataan Faaz dari depan pintu rumah. Sontak Faaz, ibunya dan juga ayah nya langsung melihat kearah Zora dengan tatapan penuh terkejut.
"Ayo kita masuk ke kamar Faaz. Aku sudah selesai di dapur dan mau istirahat sekarang" sambung Zora mengajak suaminya masuk ke dalam kamar dari pada harus melanjutkan berdebat dengan ayahnya hanya karena dirinya. Faaz langsung bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam sambil merangkul bahu Zora.