Izora

Izora
episode.12 perasaan bersalah



Waktu bergulir dan haripun mulai gelap, suara jangkrik mulai terdengar bersaut-sautan mengisi suasana dimalam hari yang terasa dingin dan sunyi.


Di meja makan Zora telah meletakan semua hidangan makan malam yang baru ia masak sedari tadi. Tak lama Zoya datang menghampiri Zora ke meja makan untuk makan malam bersama seperti biasa.


Sebelum memulai makan malam, Zora meminta Zoya untuk memanggil Marni yang sejak tadi siang masih mengurung dirinya di dalam kamar nya.


Zora sengaja meminta Zoya yang memanggilkan mami nya, karena Zora sadar diri, bahwa yang membuat suasana di rumah menjadi seperti ini adalah diri nya.


Zoya langsung menuju kamar Marni. Ternyata pintu kamar nya masih terkunci rapat. Zoya langsung mengetuk-ngetuk pintu sambil terus memanggil-manggil mami nya. Hampir 10menit mengetuk dan memanggil, namun tidak ada jawaban sama sekali dari Marni.


Zoya menempelkan telinga nya ke pintu kamar dan ia tidak mendengar ada suara apapun dari dalam. Zoya mulai merasa tak enak hati, tak biasa mami nya bersikap seperti ini.


Insting Zoya mengatakan pasti terjadi sesuatu di dalam kamar mami nya dan ia harus segera melakukan sesuatu untuk membuka pintu.


Zoya langsung berlari ke ruang makan untuk mengatakan hal itu kepada Zora. Zora langsung panik mendengar apa yang dikatakan Zoya.


Tanpa berfikir panjang Zoya langsung menghubungi Zaki untuk meminta bantuan. Zoya langsung menceritakan segala nya kepada Zaki dan meminta Zaki untuk segera datang ke rumah nya.


Tidak menunggu terlalu lama, suara klakson mobil Zaki terdengar di depan rumah. Zoya dan Zora langsung berlari menghampiri Zaki ke depan rumah.


Zaki turun dari mobil nya dan mengeluarkan sebilah linggis dari bagasi mobil jazz nya. Setelah itu Zaki bersama Zoya dan Zora langsung menuju kamar Marni.


Saat sampai di depan pintu kamar Marni, Zaki dengan seizin Zoya dan Zora langsung mencoba membuka pintu kamar Marni dengan menggunakan linggis yang dibawa nya.


Setelah terus berusaha selama beberapa saat, akhir nya pintu kamarpun berhasil terbuka. Terlihat Marni sedang terbaring di tempat tidur nya.


Zoya dan Zora mendekati tubuh Marni yang terlihat sedang tertidur sangat pulas nya. Zoya memanggil mami nya sambil menggoyang-goyangkan tubuh mami nya. Berulang kali mencoba menggugah mami nya namun tetap tak ada tanda-tanda mami nya merespon.


Zora duduk di samping kepala mami nya. Zora mengangkat kepala mami nya dan memangku nya. Namun ketika dipangku oleh Zora tiba-tiba saja dari mulut mami nya menyemburkan darah segar.


Seketika Zaki, Zora dan Zoya terkejut hingga panik bukan main. Zora langsung berteriak histeris memangil-manggil mami nya.


Zoya dan Zaki langsung bersama-sama mengangkat tubuh Marni untuk segera melarikan nya ke rumah sakit.


Saat sampai di rumah sakit, tubuh Marni langsung di bawa masuk ke dalam ruang IGD untuk mendapat penanganan gawat darurat.


Tubuh Zora gemetar, detak jantung begitu berdebar tak beraturan hingga nafas nya tersengal-sengal sangking panik nya.


Melihat kondisi Zora yang sangat terguncang, Zoya langsung menghampiri Zora dan langsung memeluk saudari kembar nya itu erat-erat untuk menenangkan Zora.


"Ini semua salah aku Faaz! Mami jadi seperti ini semua gara-gara aku Faaz! Aku yang salah Faaz! Aku anak yang jahat Faaz!"  Kata Zora menangis histeris di dalam pelukan Faaz.


"Ssstttt.... jangan bicara seperti itu! Kamu nggak salah Ra, ini bukan salah siapa-siapa kok! Kita tunggu aja dulu apa kata dokter, mungkin mami cuma kelelahan saja" kata Faaz mencoba menenangkan Zora.


"Zoya terus memantau mami nya dari depan pintu kaca ruangan. Air mata nya menetes sesekali namun Zoya tetap berusaha terlihat tegar meski hati nya begitu rapuh.


Zaki mendekati Zoya dan menggenggam tangan Zoya seerat-erat nya. Sesekali tangan nya menghapus air mata yang membasahi pipi tembem Zoya. Dalam keadaan rapuh nya Zoya pun menyandarkan kepala nya pada pundak Zaki.


"Sabar, kita bantu do'a! Mami pasti baik-baik aja kok" kata Zaki menenangkan kegundahan hati Zoya.


"Aku takut Ki! Aku nggak bisa kehilangan siapapun lagi dalam hidup aku setelah aku kehilangan papi!" Kata Zoya dengan suara yang terdengar bergetar menahan tangis nya.


Setelah  hampir satu jam mendapatkan penanganan, akhir nya pintu ruangan di buka dan dokter yang menangani mami Zoya dan Zora keluar.


"Doc, gimana keadaan mami saya dok? Mami saya ngak apa-apakan dok? Nggak ada yang serius sama keadaan mami kan dok?" Zoya langsung mencecar dokter dengan pertanyaan-pertanyaan nya.


"Zoy, Zoy, sabar dulu ya?! Kalau kamu nanya-nanya terus gimana dokter nya mau kasih jawaban?!" Kata Zaki menenangkan Zoya yang semakin kalut melihat dokter yang menangani mami nya sudah keluar ruangan.


"Keadaan pasien memang sangat serius, ada pembulu darah yang rusak akibat ada nya reaksi overdosis, beruntung kalian cepat membawa nya ke sini, karena kalau telat sedikit lagi saja, maka saya tidak bisa menjamin keselamatan pasien" jelas dokter itu kepada Zoya dan yang lain.


"Apa dok? Overdosis? Maksud dokter overdosis apa ya?" Kata Zora langsung menyelah dokter yang sedang memberi penjelasan.


"Pasien mengkonsumsi obat tidur dalam jumlah yang berlebihan, dan akibat nya tubuh pasien yang tidak mampu menerima reaksi dari jumlah dosis yang berlebihan adalah bisa memicu kematian, beruntung dalam kasus ibu anda, beliau cepat mendapat penanganan, jadi saat ini kita hanya tinggal menunggu pasien melewati masa-masa kritis nya saja" jelas dokter nya lagi.


Zoya dan Zora terdiam mendengar penjelasan dari dokter yang menangani mami nya. Mereka tak habis fikir dengan apa yang dilakukan Marni, mereka bergikir apa yang mendorong ibu nya hingga melalukan hal yang sangat mengerikan ini.


"Baik dok terimakasih" kata Zaki kepada dokter.


"Baik saya permisi dulu, kalian silahkan jika ingin mengawasi pasien dari luar ruangan saja melalui kaca ruangan, karna pasien masih belum boleh di temui hingga pasien melewati masa kritisnya" jelas dokter lagi sembari ia pergi meninggalkan Zaki dan yang lain.


"Ki lo temenin Zoya dan Zora di sini ya, gue mau keluar sebentar untuk cari minuman dan makanan ringan untuk kita semua selama bermalam di sini nanti" kata Faaz kepada Zaki.


"Oke Faaz, lo hati-hati ya, ntar kalau ada perkembangan apa-apa gue langsung kabarin lo" kata Zaki.


Zora terus menangis dalam pelukan Zoya. Zora semakin merasa bersalah. Zora semakin meyakini jika sang mami melakukan hal yang berbahaya untuk nyawa nya itu karena mami nya sangat kecewa dan marah kepada nya.