
Suasana diatas kasur Zora dan Faaz menjadi hening sesaat. Zora perlahan bangkit dari tidurnga dan duduk di samping tubuh Faaz.
"Kenapa?" tanya Zora dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya.
"Yah. Aku ingin kita menikmati masa-masa kebersamaan kita ini berdua sebelum kita punya baby tu bener-bener intens berdua aja" tutur Faaz menjawab dengan lembut sembari menggenggam erat tangan Zora.
"Kamu yakin itu alasannya?" Zora kembali bertanya meyakinkan Faaz akan keputusan yang hendak diambilnya.
Faaz mengangguk penuh yakin dihadapan Zora. "Besok aku akan ambil cuti di kantor selama satu minggu. Dan setelah itu kita langsung cari tempat yang cocok dan sesuai kemampuan kita" ujar Faaz lagi.
Zora menghelan nafas dalam-dalam. "Hhhmmmmm.... Terus keluarga kamu gimana? Terutama ibu dan bapak kamu? Apa mereka nggak akan tersinggung kalau kita tiba-tiba langsung pindah begitu saja ?! Padahal mereka semangat banget kemarin nyambut kita balik ke sini?" tanya Zora kepada sang suami yang sudah sangat kukuh dengan keputusannya.
"Nggak masalah. Lagian dalam pernikahan kita aku imamnya, aku kepala rumah tangganya. Jsdi ya sudah menjadi hak ku sepenuhnya untuk mengambil keputusan apapun untuk kita. Dan masalah ibu dan bapak, aku uda omongin ke ibu dan setuju malah mendukung. Kalau bapak biar menjadi urusan ibuk sajalah yang bicara. Aku malas" tutur Faaz lagi menjawab kebimbangan Zora.
"Hmmmm yasudah kalau memang seperti itu kata kamu. Aku sebagai makmum nya tentu akan menuruti imam ku" jawab Zora sembari kembali merebahkan tubuhnya di dalam dekapan Faaz.
Sebenarnya Zora tahu jika alasan sebenarnya Faaz ingin tinggal terpisah rumah dari keluarganya adalah karena sikap ayahnya. Faaz ingin menjaga hati Zora agar tidak selalu menghadapi sikap ayahnya yang terkadang seperti kekanakan.
"Oh ya besok kamu mau ke rumah bunda nggak?" tanya Faaz lagi sebelum matanya terpejam.
"Hmmmm boleh deh. Kangen juga sama bunda" jawab Zora bersemangat.
"Yaudah, besok sekalian jalan aku berangkat ngantor. Aku antar kamu dulu ke rumah bunda ya?!"
"Oke beb" Zora memeluk erat tubuh Faaz. Pasangan suami istri inipun mengakhiri percakapan mereka dan langsung tidur.
🍒
Di rumah Zaki. Semua orang sudah tertidur di kamar masing-masing. Semua orang tidur lebih awal lantaran lelah setelah melewati serangkaian acara hari ini.
Zoya yang tengah lelap tertidur tiba-tiba terbangun lantaran haus. Dengan mata yang tertutup Zoya meraba kearah meja nakas yang berada tepat disamping tempat tidur nya.
Lama ia meraba-raba dengan mata tertutup namun tak ia temukan botol minum yang di carinya. Zoya pun membuka kedua matanya dan ia baru sadar kembali bahwa saat ini ia berada di rumah Zaki. Sudah pasti botol minumnya tidak ada karena ia meninggalkan nya di rumah nya.
"Kamu mau kemana?" tanya Zaki yang meraskan pergerakan Zoya.
"Aku haus. Nggak ada air disini" jawab Zoya"
"Yaudah tunggu disini saja. Biar aku yang turun ambilkan air minum untuk kamu" kata Zaki menawarkan bantuan nya kepada sang istri.
"Nggak usah. Nggak perlu. Uda seperti anak kecil aja sih pakai diambilin segala. Udah kamu istirahat saja lagi" Zoya langsung menolak karena dirinya tidak biasa bergantung kepada siapa-siapa selama ini.
Akhirnya Zaki menuruti saja perkataan Zoya dan ia langsung kembali melanjutkan tidurnya. Zoya keluar kamar dan langsung menuruni anak tangga satu persatu menuju dapur.
Zoya langsung menuangkan segelas air. Selesai minum Zoya kembali mematikan lampu dapur dan kembali berjalan menuju kamarnya.
"Kamu cantik ya" tiba-tiba muncul Faro dari arah belakang memuji Zoya.
Tentu Zoya terkejut saat tiba-tiba saja Faro muncul dan bersuara di belakangnya. Zoya langsung berbalik kearah Faro.
"Kamu? Sejak kapan kamu di situ? Ya ampun kaget kakak" kata Zoya terkejut. Zoya mengabaikan kata-kata pujian Faro tadi dan menganggap Faro hanya asal berbicara.
"Yaudah kakak naik dulu takutnya nanti abang kamu mencari kakak kalau kakak kelamaan disini" tutur Zoya dengan sopan.
Namun entah apa yang terbesit di dalam benak Faro. Tiba-tiba Faro meraih tangan Zoya dan menahannya agar tidak pergi. Zoya terkejut dan langsung menatap tajam kearah tangan Faro yang sudah berani menyentuhnya tanpa izin.
Zoya langsung menarik tangan nya dengan keras. Faro tidak tahu bahwa Zoya memiliki jiwa tomboy sebelum menikah dengan Zaki. Jadi sudah pasti Zoya memiliki tenaga yang lumayan kuat jika hanya untuk melepaskan genggaman tangan Faro.
"Jaga batasan mu! Aku adalah kakak ipar mu dan kamu adalah adik ipar ku. Ini adalah peringatan pertama dan terakhir dari ku. Jangan sampai sikap kurang ajar mu ini terulang lagi. Karena aku nggak mentoleransi orang yang kurang ajar sama aku" Zoya berbicara tegas sambil menunjuk wajah Faro.
Faro terperanjat. Mata nya terbelalak kaget. Kakinya langsung mundur dua langkag. Faro tidak menyangka sama sekali jika Zoya akan bereaksi sekeras ini terhadap sikap nya barusan.
Zoya langsung meninggalkan Faro dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dari sudut rumah ternyata diam-diam Kariama menyaksikan yang terjadi barusan.
"Syukurlah Zoya bisa mengatasi sikap Faro" batin Karism. Namun demikian tetap saja ada rasa khawatir dalam benak Karisma. Karisma khawatir jika sampai Zaki menyadari sikap Faro yang diam-diam menaruh hati kepada Zoya, istrinya.